
Pintu ruang kerja Irzal terketuk. Zico masuk diikuti oleh Ega di belakangnya. Irzal yang sedang duduk di kursi kebesarannya hanya diam memandangi Ega yang berjalan ke arahnya. Ega menarik kursi di depan meja kerja Irzal lalu mendaratkan bokong di sana. Irzal memberi isyarat pada Zico untuk meninggalkannya. Sekretaris yang sudah bekerja bersamanya selama dua puluh tahunan itu pun undur diri.
“Ada perlu apa kemari? Sepertinya tidak ada pekerjaan yang harus dibahas hari ini,” seperti biasa Irzal selalu berbicara to the point.
“Aku ingin bicara soal Dimas.”
“Ada apa? Bukankah dia sudah memenuhi keinginan kalian untuk pergi jauh dari Ily.”
Ega tercekat mendengar nada suara Irzal yang terdengar begitu dingin. Sepertinya kemarahan masih belum sepenuhnya hilang dari lelaki itu.
“Aku minta maaf mas atas semua yang terjadi. Tapi tolong beritahu di mana Dimas berada. Aku perlu bertemu dengannya.”
“Untuk apa? Agar kalian bisa menghinanya lagi?”
“Mas, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku salah, tapi tolong mas. Aku harus bertemu dengan Dimas. Ini semua demi Ily.”
“Kenapa? Karena saat ini anakmu menderita?” Irzal menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.
“Apa kamu pikir Dimas itu obat pereda nyeri? Di saat anakmu sakit, dia dibutuhkan tetapi ketika anakmu dalam keadaan baik-baik saja dia disingkirkan layaknya hama yang merusak pertumbuhan putrimu.”
Sepertinya umur tidak menyurutkan kemampuan Irzal melontarkan kata-kata yang menusuk gendang telinga. Ega menarik nafas panjang, dia sudah mengira hal ini akan terjadi. Tapi demi Firly, dia sudah bertekad untuk menghadapi apapun yang terjadi.
“Tolong mas, biarkan aku bertemu dengan Dimas.”
“Maaf Ga, aku tidak bisa melakukannya. Seperti halnya Ily yang sangat berharga bagi kalian, Dimas pun sangat berharga untukku. Aku tidak akan membiarkan kalian menyakitinya lagi. Biarkanlah mereka menjalani kehidupan masing-masing, bukankah ini juga keinginan kalian?”
“Aku salah mas. Aku pikir apa yang kulakukan itu benar. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku, tapi aku salah. Sekarang aku sadar kalau orang yang bisa membuat Ily bahagia hanya Dimas.”
“Maaf, aku tetap tidak bisa memberitahumu. Kamu memutuskan menerima Dimas karena anakmu. Karena kamu ingin mengembalikan kebahagian putrimu lewat Dimas. Aku tidak bisa menerimanya. Aku ingin kamu menerima karena menyadari kalau dia lelaki yang layak dan pantas untuk putrimu, yang bisa membahagiakan, membimbing dan melindunginya. Menerimanya dengan tulus tanpa ada keterpaksaan. Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah dirimu sudah benar-benar bisa menerima Dimas atau hanya karena kamu membutuhkannya. Maaf, ada rapat yang harus kuhadiri.”
Irzal berdiri, mengambil jasnya yang tergantung di kapstok lalu memakainya. Dengan santai dia berjalan keluar ruangan, meninggalkan Ega yang masih terdiam merenungi ucapannya barusan.
🍁🍁🍁
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Dimas dan Ara kembali ke tanah air. Elang sudah menunggu kedatanganya di bandara Husein Sastranegara. Ara berlari ketika melihat kakak sepupunya, dia langsung meloncat dalam gendongan Elang.
“Mas El.”
“Ara, mas El kangen.”
“Ara juga. Mas El jahat, cuma sekali nengokin Ara,” Ara mengerucutkan bibirnya membuat Elang gemas sendiri.
“Maaf, mas El sibuk kuliah jadi belum sempat nengok Ara lagi. Tapi mas El janji kita jalan-jalan kemana Ara mau.”
“Beneran?” Elang mengangguk, Ara berteriak kegirangan. Dia memeluk leher Elang erat. Dimas tersenyum melihat kebahagiaan Ara.
__ADS_1
“Ara, turun nak. Kasihan mas El nya berat gendong kamu.”
Ara turun dari gendongan Elang. Elang mencium punggung tangan Dimas, lalu membantunya membawakan koper ke mobil. Tak lama roda kendaraan bergulir meninggalkan parkiran bandara.
Sepanjang perjalanan Ara tak berhenti mengoceh menceritakan pengalaman selama di Milan. Elang mendengarkan dengan serius apa saja yang terlontar dari bibir gadis cilik tersebut. Sesekali Elang menanggapi cerita adik sepupunya itu.
Tak terasa mereka telah sampai di kediaman Dimas. Bi Surti yang sudah tahu perihal kedatangan mereka segera menyambutnya. Elang sudah memberitahu Dimas sebelumnya tentang bi Surti yang bekerja di rumah Dimas.
“Selamat datang kembali pak Dimas, non Ara.”
“Bi Surti! Sekarang bi Surti di sini?”
“Iya non, sekarang bi Surti kerja di sini.”
Ara bersorak kegirangan. Semenjak bi Parmi pensiun, Ara cukup kesepian di rumah. Biasanya dulu bi Parmi selalu menemaninya main. Tapi sekarang ada bi Surti yang akan menemaninya. Bi Surti membawakan koper yang berisi pakaian Ara. Bersama anak cantik itu, dia masuk ke kamar Ara.
“Ily, apa baik-baik saja El?’
Dimas sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menanyakan keadaan gadis yang dicintainya itu. Akhir-akhir ini dia kerap bermimpi tentang Firly. Gadis itu selalu menangis seakan memintanya untuk datang dan menolongnya.
“Apa om percaya kalau aku bilang Ily baik-baik aja?” Elang mendaratkan bokongnya di sofa tepat di samping Dimas.
“Apa dia sehat?”
“Physically she’s ok, but mentally...” Elang hanya mengangkat bahunya.
“Ngga untuk sekarang El. Mungkin nanti saat hati om sudah benar-benar siap untuk melepasnya.”
“Kalau aku boleh kasih saran om. Bersikaplah egois kali ini aja om. Baik om, Ily maupun Ara, sama-sama terluka dan kecewa. Memperjuangkan Ily bukan hanya memperjuangkan cinta om, tapi juga kebahagiaan Ara.”
“Om ngga mau jadi jurang pemisah antara Ily dengan orang tuanya.”
“Om jadi jurang pemisah atau ngga, nyatanya hubungan Ily dengan orang tuanya ngga baik-baik aja om. Dan itu terjadi sebelum om menjalin hubungan dengan Ily.”
“Tapi kehadiran om memperburuk hubungan mereka.”
“Batu yang ditetesi air lama-lama akan bolong juga om. Kalau om Ega dan tante Al melihat Ily bahagia bersama om, hati mereka akan luluh juga nantinya.”
Dimas mengernyitkan keningnya mendengar panggilan Elang untuk Ega dan Alea. Tak ada kata mami dan papi yang tersemat di sana seperti biasanya pemuda itu memanggil mereka.
“Om? Tante?” Elang terkekeh, dia sudah menduga kalau Dimas akan bereaksi mendengar sebutan Elang untuk orang tua sahabatnya itu.
“Well, anggap aja itu hukuman dariku buat mereka karena sudah menyakiti hati om dan keponakanku.”
“Ck.. kamu tuh El, persis kaya ayahmu.”
__ADS_1
“Ya iyalah om, masa mau mirip papa Regan. Kan benihnya juga dari ayah.”
Keduanya tergelak mendengar ucapan nyeleneh Elang. Ara yang sudah selesai membersihkan diri kembali turun ke bawah. Dia masih ingin berlama-lama dengan kakak sepupunya itu yang kerap bersikap jutek pada lawan jenis namun begitu menyayanginya.
🍁🍁🍁
Sehari setelah kepulangannya dari Milan, Dimas langsung masuk kantor. Para karyawan menyambut kedatangan Dimas dengan suka cita. Mood booster mereka untuk bekerja telah kembali. Selama ini wajah tampan Dimas kerap dijadikan vitamin penambah semangat para karyawan wanita ditambah sikapnya yang ramah semakin membuatnya menjadi idola.
Ringgo dan Arini tak kalah senang, berarti pekerjaan mereka sedikit berkurang karena sang bos sudah mulai aktif lagi di perusahaan. Mereka langsung meeting untuk melaporkan hasil pekerjaan selama tiga bulan terakhir. Dalam waktu dua jam rapat berakhir. Dimas puas dengan kinerja Ringgo dan Arini yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.
“Thanks ya, berkat kalian perusahaan bisa berjalan dengan baik.”
“Kalau kita kerja ngga bener terus nih perusahaan bangkrut, gue mau kerja di mana bos. Kan ngga lucu, udah duda pengangguran pula,” Ringgo terkekeh seraya melirik Arini. Sahabatnya yang tak merestui hubungannya dengan sang putri.
“Makanya cepet nikah lagi biar kaga jadi duda terus,” sindir Arini.
“Pengennya cepet-cepet nikah tapi gimana dong, nyokapnya ngga ngerestuin gue. Gue bisa apa coba?”
“Cari mati lo!” sewot Arini yang tahu arah pembicaraan Ringgo. Dimas hanya senyum-senyum saja. Inilah yang dirindukannya selama di Milan. Melihat perdebatan unfaedah kedua sahabatnya.
Perdebatan keduanya terhenti ketika mendengar suara ketukan di pintu. Tak lama pintu terbuka dan mucullah sosok yang sangat Ringgo rindukan dua bulan belakangan ini. Sisil juga terkejut melihat Ringgo, selama ini dia selalu menghindari pria itu. Namun Sisil buru-buru menutupi keterkejutannya. Dia menghampiri mamanya untuk memberikan laporan penjualan di cafe yang ada di salah satu mall. Sisil memang bekerja paruh waktu di sana, untuk membantu pekerjaan mamanya.
“Bagaimana kabar kamu Sil?” sapa Dimas.
“Baik om. Kabar om sama Ara gimana?” Sisil mendudukkan dirinya di samping Arini. pada putri tunggalnya itu.
"Alhamdulillah baik."
"Syukurlah om. Sisil kangen sama Ara," gadis itu tersenyum. Namun ketika pandangannya bersiborok dengan Ringgo dia menundukkan pandangannya. Sisil sedikit grogi karena Ringgo terus menatapnya. Arini jengah sendiri melihat tatapan Ringgo
“Coba dijaga ya tuh mata. Belum pernah kelilipan gas melon ya,” sewot Arini.
“Kelilipan gadis cantik mah udah,” Ringgo mengedipkan matanya pada Sisil membuat wajah gadis itu merona.
Dimas tak dapat menahan tawanya melihat tingkah konyol sang sahabat. Arini yang sudah kesal segera menarik Ringgo keluar ruangan. Walaupun tak rela harus berpisah dengan sang pujaan hati, namun Ringgo hanya bisa pasrah mengikuti kemauan calon mertua gagal.
🍁🍁🍁
**Haaiii.. om Dimas pulang nih tapi maaf ya karena mendadak ngga sempet beli oleh2 buat kalian.
Kira2 gimana kelanjutan kisah om Dimas sama Ily ya? Udah ada lampu hijau dari papi. Sekarang tinggal mami nih. Enaknya mami diapain ya biar cepat sadar?
Sambil mikirin cara ngebujuk Alea, kasih penyemangat dulu buat mamake dong, like, comment and vote kalau masih ada.
Love you all😍😍
__ADS_1
Happy Thursday**...