
Hanin sibuk menuliskan sesuatu di sebuah kertas kosong. Terkadang dia terdiam untuk mengingat-ingat kemudian menulis lagi. Senyumnya mengembang ketika tulisannya selesai. Dibacanya lagi kertas yang di tangannya, takut ada yang tertinggal.
Hari ini Hanin tengah menunggu kepulangan Azkia. Sekeluarnya dari rumah sakit, Poppy langsung membawanya berlibur di vila. Baru hari ini mereka akan kembali dan nantinya Azkia juga Hanin akan tinggal bersama Dimas. Irzal tak mau ambil resiko membiarkan kedua gadis itu tinggal di apartemen.
Sebuah suara kendaraan berhenti di depan rumah. Hanin yang sedang berada di ruang tengah langsung berdiri untuk menyambut kedatangan sang kakak. Namun ternyata bukan Azkia yang datang, melainkan Farel dan Ayunda.
“Kenapa Han, mukanya kecewa gitu. Emangnya nunggu siapa?”
“Kak Kia.”
“Ooh.. Kia masih di jalan tapi langsung ke rumah om Dimas. Bentar lagi kita ke rumah om Dimas.”
Farel yang hendak ke lantai atas terhenti langkahnya saat Hanin memanggilnya. Gadis itu berjalan menuju Farel lalu menyerahkan kertas di tangannya. Kening Farel berkerut membaca tulisan dalam kertas tersebut. Ayunda yang penasaran ikut membacanya.
“Itu daftar hal-hal yang kak Kia suka dan ngga suka. Juga hal-hal yang kak Kia takutin. Tolong diingat ya bang Farel.”
“Terus kenapa dikasih ke abang?”
“Ish abang gimana sih. Kan abang bakal jadi suaminya kak Kia. Makanya aku kasih ini ke abang.”
“What???” seru Farel dan Ayunda bersamaan dan sedetik kemudian tawa mereka pecah. Hanin memandang bingung ke arah mereka.
Farel merangkul Hanin lalu membawa gadis itu ke depan foto keluarga. Kemudian dia menunjuk sosok Elang dengan jarinya seraya berkata.
“Yang bakal nikah sama kakak kamu itu dia, Elang namanya.”
“E.. Elang? Bukan bang Farel?”
“Iya.”
“Tunggu.. tunggu.. kak Kia juga lagi deket sama laki-laki yang namanya Elang. Apa ini Elang yang sama?”
Farel mengangguk. Hanin terkejut sekaligus senang melihat anggukan Elang. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Masih tak percaya akan apa yang didengarnya.
“Beneran yang bakal nikah sama kak Kia itu kak Elang? Oh My God, ternyata impian kak Kia jadi kenyataan. Terima kasih ya Allah sudah mengabulkan doa-doa kakak hamba.”
“Segitu senengnya.”
“Ya gimana ngga seneng. Kak Elang itu cinta pertamanya kak Kia. Dulu kak Elang pernah nolong kak Kia waktu lagi dikejar-kejar sama anak buah rentenir. Sejak saat itu kak Kia suka sama dia. Dan mereka ketemu lagi akhir-akhir ini, berarti jodoh namanya.”
“Terus kenapa kamu nyangkanya bang Farel yang bakalan nikah sama kak Kia?”
“Kak Kia yang bilang. Wah aku harus kasih tahu kak Kia nih biar dia ngga galau terus.”
“Jangan!!” teriak Farel dan Ayunda bersamaan.
“Jangan bilang-bilang ke Kia soal ini, ok? Ini biar jadi kejutan buat dia.”
“Oh.. ok.”
Hanin mengacungkan kedua jempolnya. Farel mengusak puncak kepalanya lalu melanjutkan niatnya kembali ke kamar. Dia perlu membersihkan diri terlebih dulu sebelum mengantar Hanin ke rumah Dimas.
Dimas dan Firly juga Ara menyambut kedatangan Hanin dengan hangat. Di saat yang bersamaan, Irzal, Poppy dan Azkia sampai. Ketiganya langsung bergabung. Dimas sudah menyiapkan beraneka hidangan untuk para tamunya. Ara yang hanya berbeda satu tahun dengan Hanin langsung akrab. Dia mengajak Hanin tidur satu kamar dengannya. Sedang Azkia akan tidur di kamar sebelah.
“Bagaimana keadaan kamu Kia?” Farel menghampiri Azkia.
“Alhamdulillah baik bang.”
“Kapan kamu mulai kuliah lagi?”
“Besok bang.”
“Kalau gitu besok aku yang antar jemput kamu.”
“Ngga usah bang, aku pergi sendiri aja.”
“Jangan ngebantah.”
__ADS_1
Azkia terdiam, dia hanya menjawab dengan anggukan. Ayunda mengajak Azkia ke kamar yang akan ditempatinya. Gadis itu memperhatikan wajah Azkia yang nampak murung. Beberapa kali Ayunda mengajaknya berbicara, terkadang melemparkan banyolan. Namun Azkia hanya menanggapi dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
🍁🍁🍁
Setelah seminggu absen, akhirnya Azkia menginjakkan lagi kakinya di kampus. Beruntung tidak banyak materi yang harus dikejar. Banyak temannya yang mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Daniar. Azkia sendiri bingung dari mana mereka tahu soal tersebut. Maklum saja di kampusnya Azkia memang gadis yang cukup tertutup untuk urusan pribadi.
Azkia menyusuri koridor kampus saat sesi kelas terakhirnya berakhir. Tanpa sengaja seorang pria muda menabraknya. Modul yang ada di tangannya jatuh ke lantai. Dengan sigap pria itu mengambilkan modul yang terjatuh lalu memberikannya pada gadis itu. Sejenak dia tertegun melihat wajah cantik Azkia.
“Maaf, ini.”
“Makasih,” Azkia mengambil modul tersebut lalu berlalu pergi. Tanpa diduga lelaki itu menarik lengannya membuat Azkia terkejut. Refleks dia melepaskan diri dan berjalan mundur.
“Jangan pegang-pegang!”
“Maaf.. maaf.. saya ngga bermaksud. Boleh kenalan? Nama saya Deski.”
Deski mengulurkan tangannya tapi Azkia hanya diam memandangi tangan lelaki itu. Sikapnya penuh dengan kewaspadaan. Baru saja Deski akan berkata, seseorang memanggil namanya.
“Pak Deski.”
Deski menoleh, tampak Budi, dekan Fakultas Ekonomi bersama seorang gadis cantik di sampingnya berjalan ke arah lelaki itu. Tahu perhatian Deski teralihkan, Azkia bergegas pergi. Gadis yang tak lain adalah Sandra langsung melemparkan senyuman manis ke arah Deski ketika telah sampai di dekatnya.
“Pak Deski, kenalkan ini Sandra Friska yang akan menjadi Duta Kampus untuk program beasiswa dari Mahameru Grup.”
Sandra mengulurkan tangannya seraya menyebutkan namanya. Deski menyambut uluran tangannya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Karena kehadiran dua orang di depannya, gadis yang menarik perhatiannya tadi sudah pergi.
“Duta Kampusnya hanya satu pak?”
“Ada dua, satu lagi laki-laki tapi dia masih kuliah. Kenapa? Apa bapak kurang puas dengan pilihan kami?”
“Oh bukan begitu. Kalau mau ditambah juga saya ngga keberatan. Hmm.. apa bapak tahu gadis yang tadi sedang bersama saya?”
“Siapa pak?”
“Kia maksudnya?” tukas Sandra.
“Oh Azkia memang salah satu mahasiswa terbaik di fakultas ekonomi. Dia juga kuliah di sini lewat jalur beasiswa. Tapi maaf, Azkia tidak bisa menjadi Duta dari Mahameru Group karena sudah menerima beasiswa dari perusahaan lain.”
“Oh begitu, sayang sekali.”
Nampak kekecewaan di wajah Deski. Sandra tersenyum kecut mendengar Deski begitu menginginkan Azkia menjadi Duta perusahaannya. Sejak peristiwa magang dulu, Sandra jadi membenci Azkia.
Azkia menghentikan langkahnya di depan gerbang. Sesekali dia menengok ke belakang, takut kalau Deski menyusulnya. Tiba-tiba terdengar suara klakson mengejutkannya. Farel sudah datang menjemputnya. Azkia buru-buru masuk ke dalam mobil.
“Kenapa? Kaya abis dikejar setan.”
“Ng.. ngga apa-apa bang.”
Farel tak bertanya lagi dan langsung melajukan kendaraannya. Dia harus segera mengantarkan Azkia ke rumah Dimas, sesudahnya harus menjemput Elang di bandara. Farel harus memastikan Elang dan Azkia tidak bertemu dulu sesuai instruksi Irzal.
Tiga puluh menit berlalu, kini mereka telah tiba di kediaman Dimas. Firly terlihat mondar-mandir di depan teras seraya memegangi perutnya yang buncit. Azkia segera menghampiri ibu hamil tersebut.
“Kak Ily lagi ngapain?”
“Biasa, jalan-jalan biar cepat lahirannya nanti.”
“Emang udah waktunya ya kak?”
“Ngga tau juga, cuma perut kakak dari tadi emang mules tapi hilang lagi. Terus... aaawww...”
Firly meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Sebelah tangannya mencengkeram tangan Azkia dengan kuat. Farel segera memanggil Dimas lalu menghampiri Firly.
“Ly, udah mau lahiran lo?”
“Kayanya... aaawwwww..”
“Aaaawwwww...”
__ADS_1
Firly dan Farel menjerit bersamaan. Saat merasakan kontraksi Firly menjambak rambut Farel dengan kencang. Dimas yang mendengar teriakan istrinya bergegas keluar dengan tas berisi pakaian di tangannya.
“Ly... lepas... sakit tau...” rintih Farel.
Firly melepaskan jambakannya ketika rasa sakitnya berkurang. Farel mengusap-ngusap kepalanya yang terasa sakit. Azkia tak bisa menahan senyumnya melihat rambut Farel yang acak-acakkan.
“Rel, ayo anter ke rumah sakit. Kamu yang nyetir.”
“Iya om.”
“Kia, kamu tunggu di rumah aja ya. Om titip Ara sama Gemma.”
“Iya om.”
Dimas segera menuntun Firly masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu lama Farel segera melajukan kendaraannya. Azkia masuk ke dalam rumah dan mendapati bi Surti sedang menggendong Gemma.
“Abang Gemma udah bangun tidur. Kak Kia mandi dulu ya, abis itu kita main ke taman.”
“Iya kak. Gemma au andi uga.”
“Kak Kia mandiin mau?”
“Auuu...”
Gemma menggandeng tangan Azkia lalu masuk ke kamarnya. Bi Surti kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal Gemma. Anak itu selalu membawa camilan jika bermain di taman. Gemma adalah anak yang mudah akrab, tak butuh waktu lama bagi anak itu mengakrabkan diri dengan Azkia ataupun Hanin.
🍁🍁🍁
Setelah mengantar Firly dan Dimas ke rumah sakit, Farel meneruskan perjalanan menuju bandara Husein Sastranegara untuk menjemput adiknya. Tak lupa dia mengabarkan pada Irzal dan Poppy perihal Firly.
Sesampainya di bandara, nampak Elang dan Virza sudah menunggu di depan pintu masuk. Farel menepikan kendaraan tak jauh dari mereka. Elang dan Virza segera menuju mobil. Tak berapa lama Land Cruisher silver tersebut kembali keluar dari area bandara.
“Gue anter Virza dulu terus kita ke rumah sakit.”
“Ngapain?”
“Si Ily mau lahiran.”
“Terus Gemma sama siapa? Anter gue ke rumah om Dimas aja. Kasihan Gemma kalau sama bi Surti doang, Ara pasti belum pulang sekolah.”
“Ng.. Gemma tadi diajak main sama Ilan.”
“Ooh.”
Farel menghembuskan nafas lega. Bisa kacau kalau Elang ngotot ke rumah Dimas lalu bertemu Azkia di sana. Mobil yang dikendarai Farel berhenti di lampu merah. Hal ini dimanfaatkan pemuda itu mengirim pesan pada Farel soal Gemma. Takut kalau Firlan ke rumah sakit lalu bertemu dengan Elang.
Elang dan Farel bergegas menuju lantai enam, tempat ruang bersalin. Di sana sudah ada Poppy, Irzal, Alea, Ega, Regan dan juga Sarah. Elang menghampiri para tetua dan mencium punggung tangan mereka. Tak lama terdengar tangisan bayi dari ruang bersalin. Ucapan syukur langsung terdengar dari semua orang.
Setengah jam kemudian Dimas keluar seraya menggenong bayi mungil di tangannya. Anak keduanya dari Firly lagi-lagi berjenis kelamin laki-laki. Alea menyambut cucu keduanya penuh sukacita. Diambilnya bayi mungil itu dari tangan Dimas.
“Ya ampun cucu oma ganteng banget. Mukanya mirip kamu sama Ily. Siapa namanya?”
“Gavin Habibi Saputra.”
“Kirain Gaung,” celetuk Farel yang langsung dibalas toyoran dari Dimas.
“Kapan nyusul mas? Emang ngga mau nimang cucu kaya kita?” Ega menaik turunkan alisnya seraya merangkul Regan. Tak ada jawaban dari Irzal, dia malah memeluk pinggang istrinya.
“Bukan cucu, kayanya bakal nimang anak lagi kita,” jawabnya asal.
“Mana ada!!!” seru Elang dan Farel bersamaan. Semua yang ada di sana tergelak melihatnya.
🍁🍁🍁
**Ngga kebayang kalau mas El punya adik lagi🙈 Ampun ayah Irzal ada² aja deh.
Hmm.. Deski siapa tuh? Wah saingan mas El nambah satu nih. Kira² neng Az kuat ngga ya nahan godaan dari Deski?
__ADS_1
Kasih dukungan yang kenceng ya, cause mamake udah up 3x hari ini. Like, comment and vote-nya please😉**