Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Analogi Ayam


__ADS_3

Tak ada pembicaraan antara Reyhan dan Ayunda selama dalam perjalanan. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Reyhan mengarahkan kendaraannya menuju salah satu cafe yang ada di daerah Dago atas. Dia yakin kalau gadis di sebelahnya belum makan apapun di acara tadi.


Ayunda yang menyadari Reyhan mengajaknya ke sebuah cafe, bersorak gembira dalam hati. Perutnya memang sudah keroncongan. Sepulang dari kantor Firlan tadi siang, dia memang belum makan apapun. Rasa kesal bin gondok telah membuat gadis itu kenyang hingga tak berselera makan.


Ayunda membuka pintu mobil, kemudian bersama dengan Reyhan memasuki cafe. Reyhan memilih makan di lantai dua, di bagian selasarnya. Udara malam yang cukup dingin berhembus dan menerpa kulit mereka. Reyhan menarik kursi untuk Ayunda lalu menarik kursi untuk dirinya di hadapan gadis itu. Seorang pelayan segera menghampiri mereka sambil membawa buku menu.


Keduanya sibuk melihat-lihat menu. Reyhan terlebih dulu menutup buku menu kemudian mulai memesan makanan. Berbeda dengan Ayunda yang masih sibuk berpikir. Perutnya lapar tapi tidak ingin makan nasi, akhirnya pilihannya jatuh pada spagheti carbonara dan lemon tea hangat.


“Ay.. kenapa akhir-akhir ini kamu kayanya menghindariku.”


“Ngga kok. Aku kan lagi sibuk magang aja kak. Terus sekarang juga lagi nyusun laporan, semester baru juga mau mulai minggu depan. Jadi emang lagi sibuk,” elak Ayunda.


“Atau jangan-jangan kamu menghindar gara-gara ucapanku waktu itu?”


“Hmm..”


“Ngga usah dipikirin. Anggap aja aku ngga pernah bilang itu, ok.”


“Ngga bisa gitu dong,” sergah Ayunda. Rasanya dia tak rela Reyhan mengatakan hal tersebut. Jujur saja mengetahui Reyhan mencintainya, ada kebanggan tersendiri dalam hati gadis itu.


“Kenapa?”


“Hmm.. karena komunikasi itu sifatnya irreversibel. Apa yang sudah kita katakan walaupun kita tarik kembali tetap saja kata-kata itu sudah terdengar oleh telinga, direkam oleh otak dan menyentuh hati jadi ngga ada istilah menarik ucapan karena itu hal yang sia-sia,” Ayunda beralasan.


“Oh jadi apa yang sudah kubilang waktu itu sudah didengar oleh telingamu, direkam oleh otakmu dan menyentuh perasaanmu, begitu?”


Wajah Ayunda langsung merona, sepertinya dia salah memberikan alasan karena alasan itu malah berbalik menyerangnya. Reyhan mengulum senyum tipis melihat sikap Ayunda yang menggemaskan. Sang pelayan datang membawakan pesanan, membuat Ayunda merasa terselamatkan. Keduanya langsung menikmati makanan.


Karena lapar, Ayunda langsung melahap spagheti di hadapannya. Dia memang bukan tipe perempuan jaim yang harus menjaga image ketika makan bersama dengan laki-laki. Saking semangatnya makan, saos putih dari spagheti menempel di bibirnya. Reyhan mengambil tisu lalu mengusap sudut bibir Ayunda yang terkena saos. Dada Ayunda berdebar keras.

__ADS_1


Selesai makan, Ayunda menyeruput lemon tea hangatnya. Reyhan kembali membuka buku menu untuk memesan dessert. Dia cukup tahu kalau kebiasaan Ayunda setelah makan pasti akan mencari yang manis-manis.


“Ay.. kamu mau creme brulee ngga?”


“Ish kak Rey pengen bikin badan Yunda gemuk ya?”


Reyhan tergelak mendengarnya, namun tak ayal lengannya melambai pada sang pelayan. Dia memesan dua creme brulee sebagai dessert.


“Makan satu creme brulee ngga akan bikin kamu gemuk Ay. Lagian badan kamu masih ideal, malah cenderung kurus. Kamu harus banyak makan biar kalau ketiup angin ngga akan terbang.”


“Tapi biasanya cowok itu kan sukanya sama cewek langsing, apalagi kalau punya bodi kaya gitar spanyol.”


Ayunda teringat bagaimana penampilan Salsa barusan yang terlihat begitu seksi. Tubuh Salsa yang tinggi semampai lengkap dengan bodi bak gitar spanyol, ditunjang dengan wajah cantiknya, membuat perempuan itu terlihat begitu sempurna. Membandingkan dengan dirinya, sudah pasti kalah jauh.


Tinggi Ayunda hanya 160 cm, bentuk tubuhnya juga terbilang lurus, tak ada lekukan bak biola. Ditambah kini dia kerap memakai pakaian longgar karena sudah berhijab, membuat penampilannya tidak terlihat menarik pastinya. Sebenarnya dia ingin seperti Salsa atau perempuan lain yang kerap berdandan modis. Namun apa daya, ayah dan kedua kakaknya selalu melarangnya.


“Maksud kamu sexy kaya Salsa?” Reyhan tahu kemana arah pembicaraan gadis di depannya ini.


“Hmm..”


“Salsa emang cantik dan seksi kan? Ayo ngaku, bohong kalau kak Rey ngga tertarik lihat penampilan Salsa tadi. Hampir semua cowok di ruangan lihatin dia terus. Bang Ilan pasti seneng banget tuh ditemplokin cewek seksi model Salsa.”


Lagi-lagi Reyhan tergelak. Ayunda cuek saja, dia asik memakan creme brulee yang tadi ditolaknya. Dasar Ayunda, bibir menolak tapi tangan menyuap.


“Ay.. kamu kalau disuruh milih, mau beli ayam di pasar yang dipajang di udara terbuka, terkena debu dan dikerubungi lalat atau ayam di swalayan yang disimpan di chiler dan dibungkus rapi?”


“Ya mending beli ayam di swalayan lah. Udah jelas kebersihannya, lebih bagus juga kemasannya.”


“Salsa itu ibarat ayam yang dijual di pasar. Dia membiarkan bagian tubuhnya terbuka dan laki-laki yang menikmati keindahan tubuhnya itu ibarat lalat yang mengerubungi ayam tadi. Memang benar semua orang yang ada di ruangan tadi pasti melihat Salsa, termasuk aku, ayah dan kedua kakakmu karena kita semua masih memiliki mata yang normal. Tapi apa semua orang yang melihat berarti menyukainya? Belum tentu Ay. Setiap orang punya standar masing-masing tentang wanita yang disukainya. Se-bejat-bejatnya laki-laki, dia pasti ingin mendapatkan wanita yang baik untuk pendamping hidupnya.”

__ADS_1


Reyhan menjeda ucapannya sejenak, ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu. Tapi Ayunda hanya diam mendengarkan sambil melahap creme brulee-nya yang hampir habis.


“Dan kamu, dengan penampilanmu yang sekarang itu ibarat ayam yang di jual di swalayan. Terbungkus rapih dan tersimpan di tempat yang aman. Tidak sembarang orang bisa meraba atau mengambilnya. Dan aku lebih suka ayam di swalayan.”


Reyhan memandang lekat wajah gadis itu yang merona mendengar ucapannya barusan. Reyhan melirik mangkok creme brulee milik Ayunda yang sudah licin. Dia pun menyodorkan miliknya ke hadapan gadis itu.


“Nih makan yang punyaku juga.”


“Ish.. kak Rey beneran mau bikin Yunda gendut ya?”


“Dua mangkok creme brulee ngga akan bikin kamu gendut Ay. Lagian biarpun kamu gendut, aku tetap sayang kok sama kamu.”


BLUSH


Wajah Ayunda kembali merona. Untuk menutupi kegugupannya, Ayunda mengambil creme brulee milik Reyhan lalu memakannya.


“Kalau Yunda gendut kak Rey tanggung jawab ya.”


“Iya.. tenang aja. Kalau kamu gendut dan ngga ada laki-laki yang mau sama kamu, aku yang bakal nikahin kamu.”


Uhuk.. uhuk..


Reyhan mengulum senyum melihat Ayunda terbatuk saking groginya. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya. Dia terus menunduk seraya menghabiskan dessert-nya. Setelah Ayunda selesai dengan dessert-nya, Reyhan mengajak gadis itu pergi. Sebelumnya dia membayar semua tagihan di kasir.


🍁🍁🍁


**Ayunda yang dirayu Ama Reyhan kenapa mamake yang senyum² ya. Kayanya bakat romantis papa Regan menitis ke Reyhan nih. Gass poll Rey..


Udah seneng kan lihat Reyhan yang mulai bisa basa basi cinta Ama Ayunda? Sekarang giliran senengin mamake dengan meninggalkan jejak kalian ya.

__ADS_1


Seperti biasa, ditunggu like, comment and vote nya. Tanpa dukungan kalian apalah artinya Marisol ini.


Love you my readers😍**


__ADS_2