
Firlan mengetuk pintu kamar Hanin. Sejak pulang dari pesta ulang tahun, istrinya itu langsung mengurung dirinya di kamar. Setelah ketukan keempat, Hanin baru membukakan pintu. Matanya nampak merah, sepertinya baru saja habis menangis.
“Bisa kita bicara Han?”
Hanin mengangguk lalu mengikuti langkah Firlan menuju ruang tengah. Firlan menarik tangan Hanin supaya duduk di dekatnya. Dia mengubah posisi duduknya menyamping agar bisa berhadapan dengan sang istri ketika berbicara.
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Iya bang,” suara Hanin terdengar bindeng.
“Abang minta maaf, harusnya abang tidak meninggalkanmu tadi. Apa yang dikatakan Stevi tadi jangan kamu masukkan dalam hati.”
“Apa abang pernah akan dijodohkan dengannya?”
“Dia bilang begitu?”
Firlan menjawab pertanyaan Hanin dengan pertanyaan lagi. Hanin hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Abang ngga pernah dijodohin sama dia. Memang orang tuanya pernah mengusulkan untuk menjodohkan abang dengan Stevi. Tapi baik mami ataupun papi tidak pernah menyetujuinya, begitu juga abang.”
Dalam hati Hanin bersyukur karena apa yang dikatakan wanita itu tidak benar. Tapi sesungguhnya yang membuatnya bersedih bukan ucapan Stevi tapi kedekatan Firlan dan Ayunda di pesta tadi. Senyuman Firlan untuk Ayunda begitu mengiris hatinya.
“Lupakan tentang Stevi. Ada hal penting yang mau abang bicarakan.”
Firlan meraih kedua tangan Hanin lalu menggenggamnya dengan erat. Netranya menatap iris Hanin tanpa berkedip. Seketika degup jantung Hanin berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Han.. abang minta maaf kalau sudah bersikap tak baik di awal pernikahan kita. Sebulan kita hidup sebagai suami istri, abang sadar kalau sudah melakukan kesalahan. Pernikahan ini terjadi bukan karena kesalahanmu tapi memang Allah sudah menakdirkan kita untuk bersatu. Abang akui kalau saat ini abang masih belum bisa sepenuhnya mencintai dirimu tapi apa kamu mau membantu mengarahkan hati ini padamu?”
Firlan membawa tangan Hanin ke dadanya. Lidah Hanin serasa kelu, dia masih belum percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Hubungan kita tidak akan berhasil kalau hanya satu pihak saja yang berusaha. Jadi, mari kita lakukan bersama. Kita mulai semuanya dari awal. Apa kamu bersedia?”
Seakan kehilangan kata-kata, Hanin hanya dapat menganggukkan kepalanya saja. Rasa bahagia sekaligus haru menyeruak dari dalam hatinya. Matanya mulai tergenang lalu butiran bening lolos begitu saja membasahi pipinya ketika Firlan mengecup punggung tangannya.
“Maaf kalau abang sudah membuatmu kecewa dan sakit hati. Abang akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, mengganti semua airmatamu dengan senyuman dan kebahagiaan,” Firlan mengusap airmata yang membasahi pipi istrinya.
“Aku juga minta maaf. Bukan maksudku menolak uang yang abang kasih. Tapi aku masih sungkan menggunakannya.”
“Abang memang marah dan kecewa, kamu tidak menggunakan uang yang abang kasih. Tapi bukan pada dirimu, tapi marah pada diri sendiri karena abang tahu kalau abang sendiri yang telah membuatmu bersikap seperti itu. Maafin abang.. sekali lagi maafin abang.”
Hanin lagi-lagi mengangguk, airmatanya kembali berjatuhan. Firlan merengkuh tubuh Hanin ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggung sang istri. Hanin memberanikan diri memeluk pinggang Firlan. Sungguh dekapan suaminya terasa begitu hangat dan nyaman.
“Abang...”
__ADS_1
“Hmm..”
“Abang ngga malu punya istri kaya Hanin?”
Firlan mengurai pelukannya. Ditatapnya wajah Hanin yang terlihat sendu. Tangan Firlan bergerak mengusap puncak kepala Hanin lalu mendaratkan kecupan di keningnya. Kemudian Firlan menurunkan bibirnya, menabrakan bibirnya ke bibir tipis Hanin. Hanya sebuah kecupan yang diberikan oleh Firlan namun mampu membuat jantung Hanin seperti hendak melompat keluar.
“Itu jawaban abang.”
Hanin menundukkan kepalanya, wajahnya terasa panas dan sudah dipastikan warnanya sudah seperti tomat busuk. Firlan tersenyum melihat tingkah malu-malu istrinya.
“Oh iya hampir lupa. Abang harus kasih pelajaran sama orang yang udah buat istri abang sedih.”
Firlan mengambil ponselnya dari atas meja kemudian segera mendial nomor Gara. Panggilan terhubung namun sahabatnya itu belum mengangkat panggilannya. Dengan kesal Firlan kembali menghubungi Gara. Di deringan terakhir Gara menerima panggilannya. Nafasnya terdengar tersengal.
“Ha..lo..”
“Ck.. lagi ngapain sih lo! Lama banget ngangkatnya.”
“Elo tuh yang ganggu gue, kaga tau orang lagi olahraga apa. Awas aja kalau ngga penting!” sembur Gara.
“Batalin semua kerjasama dengan Miracle Group.. semuanya tanpa bersisa!”
“Kenapa? Barusan gue juga terima kabar kalau Rey sama Liam batalin kerjasama. Emang ada apa?”
“Istri lo?” Untuk sesaat pikiran Gara menjadi blank ketika Firlan menyebut kata istri. Mungkin efek olahraga malam yang belum tuntas dilakukannya.
“Adik elo bego!” kesal Firlan.
“What???!!! Tuh pemain lenong ngomong apa soal adek gue?”
“Besok aja gue ceritain. Sekarang mending lo olahraga lagi sebelum Nara tutup warung.”
“Bangke!!!”
Firlan tergelak seraya memutuskan panggilan begitu saja. Dia masih tertawa membayangkan wajah keki Gara.
“Abang batalin kerjasama dengan Miracle Group?”
“Hmm.. abang ngga sudi kerjasama dengan orang yang udah menghina istri abang. Dan sepertinya bukan cuma abang yang melakukan itu. Rey dan Liam sudah membatalkan lebih dulu. Besok mungkin El, bang Deski sama om Andra menyusul.”
“Abang ngga kasihan sama dia?”
“Ngga.. biar dia tahu siapa orang yang sudah dia ganggu. Kamu itu berharga untuk abang dan orang-orang di sekeliling abang. Jadi jangan pernah merasa rendah diri. Kalau ada orang yang berani ganggu kamu, bilang sama abang hmm..”
__ADS_1
Hanin kembali mengangguk diiringi dengan senyum yang sedari tadi hilang dari wajah cantiknya. Firlan kembali memeluk Hanin seraya mencium puncak kepalanya. Tak dapat dipungkiri, menyentuh Hanin menghadirkan gelanyar aneh dalam dirinya dan membuatnya ingin terus menyentuh istrinya itu.
“Udah malem, tidur yuk.”
“Ayo,” Hanin berdiri dari duduknya, namun sebelum melangkahkan kakinya, Firlan sudah menahannya.
“Tidur sama abang mau?”
Hanin seperti orang linglung saja mendengar pertanyaan Firlan. Dia hanya diam mematung di tempatnya. Firlan yang gemas langsung membopongnya lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Karena terkejut, refleks Hanin mengalungkan lengannya di leher Firlan.
Dengan perlahan Firlan membaringkan Hanin di atas kasur. Tangan Hanin masih melingkar di leher suaminya. Suasana hening sesaat, mata keduanya saling memandang dan mengunci. Firlan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Hanin dengan mesra. Kali ini dia mulai memberikan sesapan dan lu**tan dalam ciumannya. Bibir Firlan membimbing Hanin untuk membalas ciumannya. Dia tahu ini pengalaman pertama sang istri berciuman.
Firlan mengakhiri ciuman ketika merasakan Hanin mulai kekurangan pasokan oksigen. Namun tak berlangsung lama karena dia kembali memagut bibir yang kini menjadi candu untuknya. Lidah Firlan mengetuk bibir Hanin, membuat istrinya itu membuka mulutnya. Dengan cepat lidah Firlan masuk dan bermain-main di rongga mulut Hanin.
Firlan mengakhiri ciumannya lalu mulai menelusuri leher Hanin. Sebuah de**han lolos dari bibir Hanin ketika Firlan menyesap lehernya sedikit kencang hingga meninggalkan bercak kemerahan. Tangan Firlan mulai membuka kancing piyama sang istri. Hanin yang terbuai dengan semua sentuhan Firlan hanya membiarkannya saja.
Seluruh kancing piyama Hanin terbuka, menampilkan bukit kembarnya yang terbalut kain berenda berwarna putih. Firlan meneguk ludahnya kasar, bagian bawahnya terasa mengeras seketika. Dia mulai menciumi dada sang istri.
Tangan Firlan menelusup ke punggung Hanin, jarinya bergerak melepaskan kaitan bra yang menutupi bukit kembar sang istri. Lagi-lagi Firlan menelan ludahnya kelat melihat dua gunung yang mencuat seolah menantangnya untuk didaki.
Hanin melenguh ketika tangan dan mulut Firlan bermain di bulatan kenyalnya. Tubuhnya seperti dikelilingi ribuan kupu-kupu, terasa geli sekaligus nikmat. Firlan semakin terbawa hasrat, saat kedua tangannya masih bermain dengan squishy sang istri, bibirnya terus turun menciumi setiap inci tubuh di bawahnya.
“Bang....”
“Hmm...” Firlan masih asik menciumi perut Hanin.
“A...ku la..gi ha..langan.”
“Hah??”
Firlan menghentikan ciumannya lalu memandang sang istri dengan wajah frustrasi. Di saat hasratnya sudah melambung tinggi, Hanin mengatakan hal yang membuat kepalanya pusing. Hanin menggigit bibir bawahnya, merasa menyesal sudah mengecewakan suaminya.
“Maaf bang.”
“Haaiisshh...”
Firlan mengangkat tubuhnya, untuk sesaat dia masih terdiam. Diliriknya kembali bukit kembar yang belum tertutup. Firlan kembali mengungkung Hanin kemudian melahap lagi bukit kembar tersebut. Setelah puas, dia pun bergegas menuju kamar mandi. Hanin buru-buru mengancingkan kembali piyamanya.
Setengah jam kemudian Firlan selesai dengan urusannya. Nampak Hanin sudah tertidur. Firlan merangkak naik ke atas kasur lalu membaringkan diri di samping Hanin yang tidur membelakanginya. Dipeluknya Hanin dari belakang, kemudian mulai memejamkan matanya.
🍁🍁🍁
**Yang sabar Lan, masih ada hari esok😂
__ADS_1
Awali Minggu yang cerah ini dengan secangkir kopi dan cerita Ilan & Hanin😎**