
Rangkaian acara akad sampai resepsi telah selesai dijalani. Kini saatnya pasangan pengantin berisitirahat. Firly mengantar Rain sampai ke kamar pengantin yang telah dipersiapkan oleh papinya. Akhtar sendiri masih berada di lobi hotel, mengobrol dengan beberapa temannya.
Firly membukakan pintu untuk sahabatnya. President suite room yang akan menjadi saksi malam pertama pengantin baru tersebut. Setelah melepaskan semua akseosris serta gaun pengantin, Rain masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Firly memilih menunggu sahabatnya, dia mendudukkan diri di sofa. Sekilas ingatannya kembali pada malam pertamanya dengan Dimas yang juga di kamar ini dua tahun yang lalu. Percintaan panas mereka untuk pertama kalinya masih tersimpan dalam ingatannya. Bahkan setelah ada Gemma di tengah-tengah mereka, keganasan Dimas di atas ranjang tidak berkurang.
Lamunan Firly buyar ketika pintu kamar mandi terbuka. Rain keluar mengenakan bath robe. Dia membuka lemari, mencari baju tidurnya. Diambilnya piyama berbahan satin berwarna merah lalu kembali ke kamar mandi. Tak lama dia keluar kemudian duduk di samping Firly.
“Eh lo kok ngga pake baju jahanam?”
“Baju jahanam?”
“Lingerie maksudnya, yang kebanyakan bahannya kaya saringan tahu atau jaring laba-laba,” membuat Rain tergelak.
“Lo tahu sendiri kan Ly, pernikahan gue sama kak Akhtar kaya gimana? Jangan pernah ngebayangin malam pertama kita kaya malam pertama elo sama om Dimas.”
“Jangan pesimis gitu dong Rain. Namanya laki mah, lihat paha mulus sama susu kenceng langsung on.”
“Ya Allah sobat gue jadi mesum gini setelah nikah.”
“Ya gimana ngga mesum kalau dikasih yang enak-enak mulu ama laki gue,” Firly terkekeh.
“Eh gue penasaran, dulu gue mau nanya malu aja status masih jomblo. Tapi berhubung sekarang udah nikah, jadi gue nanya nih. Om Dimas gimana sih kalau di ranjang?”
“Beuuuh Rain jangan ditanya, hot banget pokoknya. Noh lo udah lihat sendiri hasilnya si Gemma. Nikah sama cowo dewasa itu sesuatu banget deh Rain. Dia lebih banyak ngalah buat gue yang akhirnya bikin gue malu dan berusaha untuk lebih dewasa. Dan yang pasti dia itu suka banget bikin gue basah dan mendesah.”
“Astaga Ily!!! Ya Allah kuping gue yang masih perawan ini ternoda.”
“Salah sendiri, kan lo yang nanya tadi.”
Gelak tawa keduanya terdengar memenuhi seisi kamar. Firly tahu sahabatnya ini sedang berusaha mengalihkan kecemasannya. Memulai hidup bersama dengan lelaki yang tidak mencintai kita bahkan di hatinya masih tersimpan nama wanita lain pastilah sulit.
“Rain, gue boleh tanya ngga?”
“Apa?”
“Seandainya... ini seandainya ya. Seandainya El punya perasaan lain sama elo gimana? Apa lo akan tetap bertahan dengan kak Akhtar atau membuka hati untuknya?”
“Papa pernah bilang, saat memutuskan sebuah lamaran, ada empat hal yang berkaitan dengan perasaan kita. Satu, orang yang kita cintai dan bisa untuk menikah, contohnya elo sama om Dimas. Kedua, orang yang kita cintai tapi tidak bisa menikah, contohnya kak Akhtar dan kak Lisa. Ketiga, lelaki yang tidak kita cintai tapi kita bisa atau hati kita mau menerima untuk menikah dengannya. Keempat, laki-laki yang tidak kita cintai dan kita ngga bisa menerimanya.”
“Kalau El masuk ketegori yang mana?”
“Mungkin yang ketiga. Walau gue ngga cinta sama dia, tapi gue tau dia laki-laki yang baik. Tapi sayangnya El ngga punya perasaan apa-apa sama gue. Hubungan kita murni cuma sahabat doang selain dia jadi pengganti kak Rakan juga buat gue.”
“Terus sekarang rencana lo gimana? Lo udah pikirin gimana caranya bikin kak Akhtar klepek-klepek sama elo?”
“Belum sih. Lo ada ide ngga?”
“Belum kepikiran. Tapi kalau saran gue mending lo langsung konsul sama suhu aja deh. Tokcer punya kalau ide-idenya suhu.”
“Suhu? Siapa?”
“Tante Rena. Lo tau kan om Dimas klepek-klepek sama gue gara-gara idenya tante Rena.”
“Hmm... boleh dicoba.”
Keduanya tergelak. Pembicaraan terus berlangsung, Firly banyak memberikan tips bagaimana cara memuaskan suami. Wajah Rain sampai memerah ketika mendengarnya karena bahasa Firly yang tanpa saringan. Sudah hampir satu jam kedua wanita itu bercengkerama namun belum ada tanda-tanda kedatangan Akhtar.
Terdengar suara bel. Firly langsung pamit karena menyangka Akhtar yang datang. Ketika Rain membuka pintu ternyata Dimas yang datang menjemput sang istri.
“Sayang, kamu ngapain di sini gangguin pengantin baru?”
__ADS_1
“Ganggu apaan orang kak Akhtarnya juga belum nongol.”
“Ayo ah, ngga baik kelamaan di kamar pengantin. Kasihan Gemma.”
“Cih... Gemma apa mas?”
“Dua-duanya sayang.”
Wajah Rain memerah mendengar pembicaraan suami istri itu. Dia dianggap seperti patung pancoran saja. Firly pun berpamitan pada Rain, sebelum pergi Dimas sempat-sempatnya menggoda keponakannya itu sampai wajahnya seperti udang rebus.
“Rain, jangan tidur dulu. Kasihan nanti Akhtar nganggur kalau kamu tidur. Cepetan kasih teman main buat Gemma ya.”
“Om Dimas iih..”
Dimas hanya tergelak, dipeluknya pinggang Firly mesra kemudian keduanya berjalan menuju kamar mereka. Rain masih berdiri di depan pintu memandang kemesraan suami istri itu. Dalam hatinya berdoa semoga saja hubungannya dengan Akhtar bisa semanis dan seromantis mereka.
Sepuluh menit berselang Akhtar masuk ke dalam kamar. Rain yang belum tidur membunuh waktu dengan bermain ponsel. Sesaat pandangan mereka bertemu, kecanggungan seketika menyeruak. Akhtar mendudukkan diri di sofa seraya melepas tuxido dan dasi kupu-kupunya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada panggilan dari nomor tidak dikenal. Akhtar mengabaikannya, namun ponselnya kembali bergetar. Akhirnya dia memilih untuk menjawabnya.
“Halo.”
“Halo, maaf apa bapak kenal dengan perempuan bernama Chalissa Jovanka Bagja?”
DEG
“Iya, ada apa dengannya?”
“Bu Chalissa mengalami kecelakaan tunggal, sekarang sedang berada di rumah sakit ibu Sina. Tadi sebelum pingsan, ibu minta menghubungi nomor bapak.”
“Saya ke sana sekarang.”
Dengan terburu-buru Akhtar pergi tanpa berpamitan dengan Rain. Pikirannya hanya tertuju pada Chalissa. Mendengar mantan kekasihnya itu kecelakaan membuat pikirannya kalut. Rain hanya bisa memandang kepergian Akhtar dengan tatapan sendu.
🍁🍁🍁
“Bapak tadi yang telepon saya?”
Lelaki itu menoleh kepada Akhtar, dia berdiri kemudian mengangguk. Lelaki itu menceritakan kalau mobil yang dikendarai Chalissa menabrak trotoar, untung saja cederanya tidak terlalu parah. Berhubung Akhtar sudah datang, lelaki itu pamit. Akhtar menarik kursi kemudian duduk di sisi blankar sambil memegang tangan Chalissa.
Perlahan Chalissa membuka matanya. Dia menolehkan kepalanya ke samping saat merasakan seseorang menggenggam tangannya. senyum tipis mengembang di wajahnya melihat Akhtar berada di sisinya.
“Akhtar...”
“Iya Lis ini aku. Kamu baik-baik aja? Ada yang sakit?”
Chalissa hanya menggeleng. Matanya berkaca-kaca, perlahan bulir bening itu rembes membasahi pipinya. Akhtar menghapus airmata di wajah wanita itu.
“Jangan menangis.”
“Jangan tinggalin aku.”
“Tidurlah, aku akan menjagamu di sini.”
Chalissa mengangguk kemudian memejamkan kembali matanya. Akhtar memandangi wajah wanita yang masih menempati hatinya. Melihat kondisi Chalissa membuatnya melupakan Rain yang ditinggalkannya begitu saja di malam pertama mereka.
🍁🍁🍁
Rain melipat sajadah dan mukenanya setelah selesai menunaikan ibadah shalat shubuh. Sejak semalam dia tak bisa memejamkan matanya menunggu kedatangan suaminya yang masih belum terdengar kabarnya sampai sekarang. Sepanjang malam Rain hanya tersungkur di atas sajadahnya, memohon kekuatan kepada sang Maha Penguasa untuk menguatkan hatinya.
Selesai mandi Rain membiarkan rambutnya tetap basah. Sebentar lagi dia akan bergabung dengan keluarga untuk sarapan bersama. Sambil terus melafalkan doa dalam hati, Rain berjalan menuju restoran. Semua sudah berkumpul di meja, mata mereka menatap kedatangan Rain yang tidak didampingi suaminya. Rain menarik kursi di samping papanya.
__ADS_1
“Akhtar mana?” tanya Regan.
“Kak Akhtar masih tidur pa.”
“Hmm.. pengantin baru main sampai shubuh ya, jadi langsung tepar nih,” goda Karin membuat yang lain memandang Rain dengan tatapan menggoda.
Gadis itu hanya tersenyum tipis. Berbeda dengan Nino yang menatapnya dengan tatapan sendu. Semalam dia memergoki Akhtar berlari keluar hotel. Berdasarkan laporan anak buahnya, Akhtar menuju rumah sakit Ibnu Sina untuk menemui Chalissa yang mengalami kecelakaan.
Selesai sarapan, Rain meminta pelayan mengantarkan sarapan ke kamar. Walaupun dia tak tahu jam berapa Akhtar akan kembali. Sebelum kembali ke kamarnya, dia mengantarkan Regan dan Sarah yang check out pagi itu juga. Rain masuk ke dalam kamarnya, saat akan memasuki kamar tidur, langkahnya tertahan mendengar pembicaraan Nino dengan Akhtar.
“Dari mana kamu semalam?”
“Hmm.. dari....”
“DARI MANA??!! Menemui Lissa, iya?!!”
“Maaf pa. Tapi Lissa mengalami kecelakaan, aku hanya menungguinya karena tidak ada Andrea bersamanya.”
“Kenapa kami tidak meminta Ilan atau Ziel yang menungguinya. KENAPA HARUS KAMU?!! Kamu berlari seperti orang kesetanan begitu mendengarnya kecelakaan. Apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan? Lissa tidak punya hubungan apapun lagi denganmu, kamu tidak bertanggung jawab atas hidupnya. Bisa-bisanya kamu meninggalkan istri sahmu di malam pernikahan kalian hanya demi wanita itu. Papa kecewa padamu.”
“Maaf pa, aku ngga akan mengulanginya lagi.”
“Papa tidak perlu janjimu. Sekarang ikut papa, datangi papa Regan lalu serahkan kembali Rain padanya. Papa ngga rela kalau kamu sampai menyakiti hatinya. Sebelum semuanya terlambat akhiri saja semuanya. Rain gadis yang cantik dan baik, tidak sulit baginya menemukan laki-laki yang jauh lebih baik darimu. Serahkan Rain hari ini juga, dia ngga layak mendapatkan laki-laki bodoh sepertimu!”
Nino memutar tubuhnya kemudian keluar dari kamarnya Akhtar bergegas menyusulnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Rain di ruang tamu. Kedua lelaki itu terdiam menatap Rain.
“Pa, tolong jangan marahi kak Akhtar. Aku yang menyuruhnya menemui kak Lissa di rumah sakit semalam. Dia tidak meninggalkanku di sini, aku yang memintanya pergi. Maaf kalau tadi aku berbohong, karena ngga mungkin juga aku mengatakan kebenarannya di depan semua orang.”
“Rain...”
“Pa, apa papa tidak percaya pada anak yang papa didik sejak kecil? Percayalah pa, kami baik-baik saja. Tolong jangan katakan apapun pada papa Regan, aku baik-baik aja pa. Tolong dukung dan doakan kami.”
“Baiklah papa percaya padamu. Tapi berjanjilah, jika ini terlalu sulit untukmu, jika ini terlalu menyakitkan untukmu, berhentilah. Papa akan mengembalikanmu kepada kedua orang tuamu.”
Rain hanya mengangguk. Nino memeluk Rain sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya pada Akhtar.
“Kalau sampai papa tahu kamu menyakiti Rain sedikit saja, papa ngga akan segan-segan bertindak tegas padamu.”
Nino keluar dari kamar pengantin, meninggalkan pasangan itu menyelesaikan persoalannya. Dia tahu betul kalau Rain berbohong padanya. Akhtar menghampiri Rain, namun gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kamar.
.
“Rain..”
“Aku berbohong bukan untukmu kak. Aku melakukannya demi papa Nino. Aku hanya tidak ingin membuat papa banyak pikiran. Itu bisa berdampak pada kesehatannya. Jadi aku mohon, jika kakak ingin berbuat sesuatu, pikirkan dulu papa Nino dan mama Kalila,” Rain berjalan menuju lemari, mengeluarkan pakaian suaminya di atas kasur.
“Mandilah kak. Sebentar lagi sarapan akan diantarkan ke kamar. Setelah itu kita pulang.”
Akhtar mengambil handuk dan pakaian yang telah disiapkan kemudian masuk ke kamar mandi. Rain langsung memasukkan pakaian mereka ke dalam koper beserta barang-barang yang lain.
🍁🍁🍁
**Akhtar sampai kapan kamu terus dibayangi oleh Lissa? Jangan kelamaan oonnya Akhtar. Tar mamake yang dimarahin readers😅
Kalau kalian comment yang banyak mamake bakal up satu lagi. Ditunggu ya sayangku😘😘
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote**..