
Zico bangun dari tempatnya duduk kemudian menghampiri Ega yang datang sendiri saja. Dengan cepat dia membukakan pintu untuk CEO Gala Corp itu. Irzal yang sedang mempelajari dokumen dibuat terkejut melihat kedatangan Ega yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia berdiri kemudian menghampiri Ega yang sudah duduk manis di sofa.
“Tumben ke sini ngga buat janji dulu, ada apa?”
“Ada yang penting banget mas.”
“Soal apa?”
“Nanti malam kita mau ke rumah mas. Mau ngelamar Yunda buat Ilan.”
“Hah??”
Irzal sunggu dibuat terkejut mendengarnya. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba saja sahabatnya ini ingin melamar anaknya. Dia memang sudah tahu kedekatan Ayunda dengan Firlan tapi tak menyangka kalau akan dilamar secepat ini. Ayunda sendiri belum mengatakan apa-apa padanya.
“Kok mendadak banget. Yunda juga ngga bilang apa-apa.”
“Ini permintaannya Ilan, mas. Dia sengaja mau kasih kejutan ke Yunda. Kalau aku sih ikut aja kemauan anak. Lagian lebih cepat mereka dihalalkan lebih baik kan.”
“Halah alasan, jangan-jangan kamu yang ngomporin Ilan cepet-cepet lamar Yunda.”
“Hahahaha... kok tau aja sih mas.”
“Kamu udah kasih tahu Poppy?”
“Ya belumlah. Mas aja yang bilang, aku ngga mau kena sembur kak Poppy.”
Irzal hanya berdecak sebal. Acara lamaran mendadak seperti ini sudah pasti akan membuat Poppy kelimpungan. Ujung-ujungnya istrinya itu pasti akan mengeluarkan jurus komat-kamitnya dulu.
TOK
TOK
TOK
Terdengar pintu diketuk disusul dengan masuknya Zico. Irzal dan Ega kompak melayangkan pandangannya ke arah Zico.
“Maaf pak, ada bapak Valen Anggara mau bertemu?”
Irzal mengerutkan keningnya mendengar Valen ingin menemuinya. Ega yang merasa ada hal penting yang harus dibicarakan oleh calon besannya itu, segera pamit.
“Aku pulang dulu mas. Jangan lupa kasih tahu kak Poppy. Jam setengah delapan kita ke rumah mas.”
Ega mengancingkan jasnya kemudian keluar dari ruangan. Tak lama Valen masuk, Zico keluar dari ruangan seraya menutup pintu. Dengan gerakan tangan, Irzal mempersilahkan Valen untuk duduk.
“Ada apa?” tanya Irzal tanpa basa-basi.
“Ada yang ingin kubicarakan tentang Farel.”
“Soal apa?”
__ADS_1
Sementara itu di luar, Farel baru saja datang dan ingin masuk tapi ditahan oleh Zico. Sekretaris Irzal itu mengatakan kalau Valen sedang ada di dalam. Mendengar nama Valen, Farel malah penasaran. Dia membuka sedikit pintu untuk menguping pembicaraan tanpa menghiraukan larangan Zico.
“Aku ingin menuntut hakku atas Farel.”
“Hak apa?”
“Aku ayah kandungnya. Tapi kamu menyembunyikannya dari publik bahkan kamu membiarkan orang-orang berfikir kalau Farel adalah anak kandungmu. Aku tidak terima ini, sebagai ayah kandungnya aku merasa diabaikan.”
Irzal menyeringai mendengar ucapan Valen. Kalau bisa ingin rasanya dia melempar pria itu ke luar jendela biar pria itu mati dan tidak mengganggu anaknya lagi.
“Sekarang kamu mengaku kalau kamu ayahnya. Kemana saja kamu selama ini? Apa kamu tahu penderitaan yang dialaminya saat masa kecilnya dulu? Apa kamu tahu selama dua tahun dia dijadikan pengemis dan pengamen jalanan? Sering mendapat siksaan jika pulang tidak membawa uang. Kamu pasti tidak tahu karena kamu sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya. Bahkan kamu meminta Erika menggugurkan kandungannya demi karirmu. Sekarang kamu menuntut hakmu sebagai ayah kandung, jangan bercanda kamu.”
“Aku sudah mengira kamu pasti akan menolaknya. Karena itulah aku sudah menyiapkan segalanya. Aku akan melakukan konferensi pers, mengumumkan pada dunia bahwa Farel adalah anakku. Aku juga akan mengatakan kalau kamu sudah berusaha memisahkan diriku dari anak kandungku. Menculiknya sejak kecil, demi membalaskan dendammu karena aku pernah berusaha melecehkan istrimu. Kamu kesal karena hukuman yang kujalani hanya sebentar, jadi membalasnya dengan memisahkanku dari anak kandungku. Bayangkan apa yang akan terjadi pada perusahaanmu jika aku melakukan itu? Pasti harga sahammu akan terjun bebas.”
Valen memperagakan tangannya menukik ke bawah seperti pesawat yang turun. Irzal melihat geram ke arahnya. Wajahnya sudah memerah menahan amarah.
“Tenang saja, aku tidak akan melakukannya kalau kamu mau mengalihkan 50% sahammu kepadaku. Anggap saja itu sebagai ganti rugi karena kamu sudah membuatku mendekam di penjara.”
“Hah! Jadi yang kamu inginkan hanya uang, kamu tidak benar-benar menginginkan Farel. Apa kamu sudah pikirkan apa dampaknya pada Farel jika kamu sampai melakukan konferensi pers yang penuh kebohongan itu? Apa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaannya?”
“Tidak usah banyak bicara. Katakan saja, mau tidak memenuhi permintaanku? Asistenku sudah mengatur konferensi pers hari ini. Waktumu tidak banyak, jadi putuskanlah segera.”
Irzal terdiam sejenak. Sebenarnya dia bisa saja menolaknya, lewat kekuasaannya dia pasti bisa meredam semua berita itu. Tapi bagaimana dengan Farel? Irzal tak ingin melihat Farel kembali terluka akibat ulah Valen.
Irzal bangun dari duduknya kemudian menuju meja kerjanya. Dia mengngkat telepon untuk menghubungi Zico.
Valen mengulum senyum, usahanya berhasil. Dia sudah membayangkan berapa banyak uang yang akan diterimanya jika Irzal benar mengalihkan 50% saham kepadanya. Lamunan Valen buyar ketika pintu ruangan terbuka dengan kasar. Farel muncul dengan wajah merah padam.
“Jangan berikan apa yang dia minta yah. Laki-laki brengsek seperti dia ngga berhak mendapatkan sepeser pun uang yang sudah ayah hasilkan dengan susah payah. Dan anda, ayo kita pergi sekarang. Kita lakukan konferensi pers sekarang juga. Aku akan mengakui kepada semua orang kalau anda adalah ayah kandungku. Aku juga akan membeberkan semua bukti tentang ibuku, bagaimana dia menderita harus mengandungku tanpa kehadiran pria brengsek yang telah menghamilinya.”
“Apa kamu gila?! Kamu akan menghancurkan hidupku dan hidupmu. Kalau dewan direksi tahu kamu hanyalah anak adopsi, mereka akan mencoba menyingkirkamu!”
“Aku ngga peduli!! Lebih baik kita hancur bersama dari pada aku melihatmu mencoba menyakiti keluarga yang telah menyayangiku dengan tulus. Aku menyesal mempunyai ayah sepertimu. Sekalipun anda tidak peduli padaku, dari dulu hingga sekarang. Laki-laki egois, pengecut, pecundang...”
“Farel!"
Farel menghentikan umpatannya begitu mendengar teguran Irzal. Walaupun Irzal setuju dengan yang dikatakan anaknya itu. Tapi dia tak bisa membiarkan Farel berkata sekasar itu pada Valen. Biar bagaimana pun Valen adalah ayah kandung Farel. Dia tak ingin Farel mendapat kutukan dari malaikat karena kata-katanya.
“Jaga kata-katamu nak. Terlepas dari semua yang dilakukannya, dia tetap ayah kandungmu.”
“Kenapa Tuhan memilihmu menjadi ayah kandungku, kenapa??!!”
Valen terhenyak, kata-kata Farel menohok batinnya. Mata anaknya itu sarat akan kebencian ketika menatapnya. Berbeda saat dia melihat pada Irzal. Seketika Valen sadar kalau dirinya sama sekali tidak berarti di mata sang anak.
“Farel.. maafkan papa.”
“Tidak usah bersandiwara. Aku tidak akan tertipu dengan akting murahanmu. Ayo kita pergi ke tempat konferensi pers, selesaikan masalah ini secepatnya lalu kita tidak usah bertemu lagi. Aku muak melihatmu.”
Farel bermaksud untuk pergi. Dia benar-benar ingin mengakhiri masalahnya dengan Valen. Tapi dengan cepat Valen mencegahnya. Dia memegangi tangan Farel.
__ADS_1
“Maafkan papa.. maaf..”
“Lepas!!”
“Farel.. kendalikan dirimu. Istighfar nak.. duduklah dulu.”
Irzal menghampiri Farel kemudian membawanya ke sofa. Hati Valen lagi-lagi mencelos, begitu mudahnya Irzal meredam amarah sang anak. Dengan tangan bergetar dia mengambil ponsel dari saku celana.
“Halo Gas.. batalkan acara konferensi pers. Berikan uang ganti rugi untuk para wartawan yang sudah hadir di sana. Jika sudah, kita kembali ke Jakarta secepatnya.”
Valen mengakhiri panggilan kemudian melihat ke arah Irzal dan Farel yang duduk bersisian. Keduanya menatap ke arah Valen. Farel langsung memutuskan pandangan ketika mata mereka bertemu.
“Aku sudah membatalkan konferensi pers. Maaf, untuk sesaat aku tergoda dengan keserakahan. Aku akan mengabulkan keinginanmu, aku akan pergi dari hidupmu. Anggap saja ini sebagai penebusan dosaku. Selamanya kamu adalah anak Irzal Ramadhan, hanya dia ayahmu di dunia ini. Irzal, aku titip Farel. Aku yakin kamu akan menjaga dan menyayanginya lebih dari diriku. Terima kasih sudah mau membesarkannya walau kamu tahu bahwa aku ayah kandungnya. Aku pergi.”
Valen keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Hatinya terasa hampa. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia ingin Farel mengakuinya sebagai ayah dan memanggil dengan sebutan papa. Tapi yang dilakukannya justru semakin menambah kebencian anak itu kepadanya. Tanpa sadar, airmatanya menetes membasahi pipi.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya yah. Kenapa yah? Kenapa ayah mau begitu saja memenuhi keinginannya? Apa ayah tidak sayang memberikan kerja keras ayah selama ini pada orang itu?”
“Karena bagi ayah, kebahagiaan anak-anak ayah adalah yang terpenting. Uang, harta semua bisa dicari. Tapi kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ayah tidak ingin kebahagian anak ayah hilang hanya karena ayah mempertahankan harta yang hanya titipan semata.”
“Makasih yah.. terima kasih untuk semuanya. Selamanya, ayahku hanya ayah, tidak ada yang lain.”
Irzal tersenyum lalu memeluk Farel. Tapi tak lama dia melepaskan pelukannya karena teringat hal penting yang harus dilakukan sekarang.
“Ayah harus telpon bunda. Malam ini Firlan akan melamar Yunda.”
“Apa???!! Waduh mendadak banget yah. Bunda ngga akan ngomel?”
“Nah itu dia. Kamu aja yang telpon bunda.”
“Ngga mau, kuping aku bakalan panas dengar ceramah bunda.”
“Ck.. katanya sayang sama ayah, ternyata cuma lip service doang.”
Farel mendengus sebal. Akhirnya dia mengambil ponsel kemudian menghubungi Poppy. Benar saja tebakannya, dia langsung terkena omelan Poppy begitu mendengar kalau malam ini Firlan akan melamar Yunda. Ujung-ujungnya dia diminta pulang untuk mengantar Poppy berbelanja. Irzal hanya terkekeh melihat ekspresi Farel.
🍁🍁🍁
**Akhirnya si Valen pergi juga ya.
OMG Ilan mau ngelamar Yunda😱
Terus kak Rey gimana dong nasibnya🥺
Tinggalin jejaknya ya readers kecehku...
Like, comment, vote**..
__ADS_1