
Tubuh Azkia jatuh terkulai ketika Wawan telah berhasil menyuntikan obat ke dalam tubuhnya. Deski segera membopong tubuh itu lalu menidurkannya di kasur. Wawan beserta dua orang lainnya bergegas meninggalkan kamar.
Deski duduk di sisi ranjang memandangi Azkia yang sudah mulai menangis. Jemari Deski bergerak menghapus airmata di wajah cantik itu. Azkia berusaha mengelak namun dia tak bisa menggerakkan kepalanya. Tubuhnya terasa lemas tak bertulang. Hanya airmatanya saja yang mengalir deras.
“Jangan menangis. Aku mencintaimu Kia. Aku akan membuatmu melupakan Elang dan menjadikanmu milikku seutuhnya.”
Batin Azkia menjerit. Tak hentinya dia berdoa memohon pertolongan pada sang Khalik. Berkali-kali dia memanggil nama Elang dalam hatinya.
Deski mendekatkan tubuhnya pada Azkia. Menatap dalam netra yang bersimbah airmata. Perlahan dia mengecup kening Azkia. Hatinya bergetar saat bibirnya menyentuh kulit wanita di bawahnya. Ada perasaan lain menyusup dalam hatinya. Tangis Azkia semakin keras.
“Aku mohon jangan lakukan..”
Suara penuh keputusasaan serta pandangan sarat permohonan begitu menusuk perasaan Deski. Hasratnya yang tadi menggebu menguap entah kemana. Hanya menyisakan perasaan sesak di hatinya. Deski berdiri, memandang sejenak pada Azkia kemudian keluar dari kamar itu. Dengan perasaan kacau dia menuju mobilnya lalu memacu dengan kecepatan penuh.
Meta memandang mobil Deski yang melaju berlawanan arah dengannya. Diinjaknya pedal gas lebih dalam lagi. Sesampainya di vila, Meta berlari menuju kamar Azkia. Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat Azkia terbaring di ranjang dengan airmata berlinang di wajahnya.
“Kamu ngga apa-apa? Apa pak Deski melakukan sesuatu padamu.”
Azkia menggeleng lemah. Meta menghembuskan nafas lega. Dia lalu keluar dari kamar. Dengan langkah panjang dia menuju belakang rumah, memasuki ruangan yang dijadikan control room. Tanpa basa-basi dia menghajar dua orang yang sedang mengawasi cctv sampai pingsan. Ditariknya kedua orang itu ke sudut ruangan, lalu diikatnya kaki dan tangan mereka. Tak lupa mulut mereka ditutup menggunakan lakban. Langkah terakhir menutupi tubuh keduanya dengan terpal yang ada di sana. Setelah itu Meta kembali berjaga di kamar Azkia.
🍁🍁🍁
Setelah menempuh perjalanan hampir 22 jam lamanya, akhirnya Elang tiba di Bandung. Bersama dengan Jayden dia langsung menuju rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 1 siang ketika dia sampai di rumah. Dia langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Jayden segera bekerja dengan peralatannya melacak keberadaan Azkia. Dia yakin kalau Meta sudah menjalankan semua yang diperintahkan padanya.
Sepuluh menit kemudian Elang selesai dan segera menghampiri Jayden. Poppy yang mendengar kepulangan anaknya segera menghampiri. Elang mencium punggung tangan sang bunda.
“Ayah mana bun?”
“Ayah di kantor, ada masalah yang harus diselesaikan. Tapi Bara masih mencari keberadaan Kia.”
“Gotcha!!”
Teriakan Jayden mengejutkan Elang juga Poppy. Keduanya segera menghampiri Jayden. Pria blasteran itu segera menunjukkan titik koordinat di layar laptopnya pada Elang.
“Posisi Kia sudah ditemukan. Dia ada di Subang.”
“Kia ketemu?”
Terdengar suara Gara dari arah pintu. Dia segera bergegas menghampiri Jayden disusul oleh Firlan di belakangnya. Begitu mendengar kepulangan Elang, dia bergegas menyusul ke rumah. Gara yakin kalau hilangnya Hanin ada hubungannya dengan penculikan Azkia.
“Kita berangkat sekarang,” seru Elang.
“Tunggu Bara dulu nak. Terlalu bahaya kalau berangkat sendiri.”
“Kia dalam bahaya bun. Aku ngga bisa nunda waktu lagi.”
“Tenang aja bun, aku sama Ilan ikut sama dia,” sela Gara.
Poppy hanya mengangguk pelan. Dilarang sekeras apapun, anaknya itu akan tetap pergi. Elang dan yang lainnya bersiap. Ponsel Jayden berdering saat mereka keluar rumah.
“Bos, bang Farel telepon.”
“Suruh dia sama Virza nyusul. Kirim lokasinya.”
Jayden mengangguk, Elang masuk ke dalam mobil disusul oleh Jayden. Gara dan Firlan menggunakan kendaraan lain mengikuti mobil Elang yang sudah melesat. Di tempat lain, Farel dan Virza bergegas pergi setelah menerima titik lokasi keberadaan Azkia.
Kurang dari dua jam Elang dan yang lain sudah sampai di lokasi penyekapan Azkia. Jayden mengeluarkan drone-nya yang berbentuk seperti burung gereja. Dia mulai menggerakkan drone menuju vila Deski. Drone tersebut bergerak mengelilingi vila.
“Di depan ada 8 yang berjaga. Di bagian dalam 6 orang, bagian belakang 4 orang dan di atas 4 orang. Kia ada di lantai dua, di kamar paling ujung,” tutur Jayden.
__ADS_1
“Ok, berarti total ada 24 penjaga di sana. Setiap orang tangani 4 penjaga, ok!” seru Farel.
“Gue juga?” celetuk Jayden.
“Ya iyalah. Emangnya lo mau jadi pemandu sorak? Teriak-teriak ngga jelas kasih semangat sama kita?” sewot Farel.
Jayden nyengir seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dari semuanya, hanya dia yang tidak bisa bela diri. Jayden lebih senang menghabiskan waktunya di depan komputer atau laptop.
“Makanya jangan males kalo gue ajak latihan,” timpal Virza.
Elang memberi isyarat pada yang lain untuk segera bergerak. Baru saja mereka melangkah, sebuah mobil mendekat lalu berhenti di dekat mereka. Dari dalamnya turun Akhtar beserta Reyhan.
“Butuh bantuan?” seru Akhtar.
Elang mengangkat jempolnya. Ke delapan lelaki itu segera bergerak menuju vila. Seorang penjaga segera menghadang ketika mereka sampai.
“Siapa kalian?”
“Banyak bacot lo!”
Gara menendang pria tersebut hingga terjungkal. Teman-temannya lain segera menghampiri. Perkelahian pun tak bisa dihindari. Elang, Gara, Reyhan, Akhtar dan Jayden segera masuk ke dalam vila. Di sana para pengawal kembali menghadang. Pengawal yang berada di belakang masuk memberi bantuan.
Elang berlari menuju lantai atas. Melihat kedatangan Elang, Meta bergerak cepat melumpuhkan pengawal yang bersamanya. Sedang Elang dengan mudahnya membuat tiga orang pengawal lainnya terkapar.
Elang bergegas menuju kamar di mana Azkia berada. Nampak Azkia masih berbaring, tenaganya belum sepenuhnya kembali. Elang menghambur ke arahnya. Diangkatnya tubuh Azkia lalu memeluknya erat. Tangis Azkia pecah dalam dekapan suaminya.
“Kamu ngga apa-apa sayang?”
“Mas.. aku takut.”
“Jangan takut, mas di sini. Maaf karena datang terlambat.”
“Apa yang terjadi dengan istri saya?”
“Pak Deski menyuntikkan obat yang membuat tubuhnya lemas.”
“Lalu luka ini?”
“Ibu... ehem... ibu mencoba bunuh diri.”
Elang terperangah, matanya menatap tak percaya pada sang istri. Azkia kembali menangis. Elang kembali memeluknya.
“Kenapa kamu melakukannya sayang?”
“Aku tidak mau Deski sampai menyentuhku. Aku lebih baik mati.”
“Ssssttt... sudah jangan menangis, mas di sini sekarang.”
Elang mengurai pelukannya lalu mencium tangan Azkia yang terluka. Hatinya miris melihat sang istri sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Amarah seketika menguasi hatinya namun sebisa mungkin untuk menahannya karena Elang tak mau istrinya bertambah takut.
Setelah berhasil mengalahkan para penjaga di bawah, Gara, Reyhan dan Akhtar naik ke atas lalu masuk ke dalam kamar.
“Rey, tolong periksa Kia.”
“Aku ambil peralatan dulu.”
“Biar aku aja,” sela Akhtar, lalu dia bergegas keluar untuk mengambil peralatan medis Reyhan.
“Hanin di mana?” tanya Azkia pada Meta.
__ADS_1
“Hanin di sini?” tanya Gara.
“Iya bang, Deski menculiknya juga.”
“Hanin di rumah sakit.”
“Kenapa? Kenapa dia ada di rumah sakit?”
“Dia makan roti dengan selai kacang.”
“Hanin alergi kacang.”
“Sepertinya dia sengaja melakukannya.”
Azkia terdengar shock, Elang kembali menenangkannya. Mendengar Hanin berada di rumah sakit, Gara bergegas pergi. Saat yang bersamaan Akhtar datang membawa peralatan medis. Reyhan segera memeriksa keadaan Azkia, Dia juga mengobati luka di tangan wanita itu.
“Gimana Rey?”
“Kia ngga apa-apa, cuma dehidrasi mungkin karena terus menangis dan shock juga. Nanti diinfus aja, istirahat yang cukup dan jangan lupa makan. Luka di pergelangan tangannya juga ngga dalam.”
“Bisa bawa Kia pulang sekarang?”
“Iya mas.”
Elang membopong tubuh Azkia kemudian keluar dari kamar. di lantai bawah, semua pengawal Deski sudah berhasil diringkus, termasuk Paul. Dua orang di ruang kontrol juga sudah dikeluarkan. Mereka semua dikumpulkan dan diikat di ruang tamu.
Reyhan membukakan pintu belakang mobilnya. Elang mendudukkan Azkia di jok. Tangan Azkia menahan tangan Elang, kepalanya menggeleng, tak ingin berpisah dari suaminya.
“Kamu pulang sama Rey dan bang Akhtar ya. Mas masih ada urusan di sini.”
“Aku nunggu mas aja.”
“Jangan sayang, mending kamu pulang duluan ya. Mas ngga akan lama.”
Azkia kembali menangis, Elang memeluknya. Diusapnya punggung istrinya itu. Sebenarnya dia tak tega, tapi Elang masih harus menemui Deski. Belum puas rasanya kalau belum memberi pelajaran pada pria itu. Elang mengurai pelukannya, kemudian menghapus airmata istrinya.
“Kamu pulang sekarang, bunda sama Yunda cemas dengan keadaan kamu. Mas janji ngga akan lama hmm..”
Akhirnya Azkia mengangguk. Elang mencium kening Azkia cukup lama kemudian bibirnya turun memagut bibir yang begitu dirindukannya. Cukup lama keduanya saling memagut sebelum akhirnya Elang mengakhiri ciumannya. Dipasangkan seat belt ke tubuh Azkia lalu menutup pintu mobil.
“Aku titip Kia, Rey, bang.”
“Iya El tenang aja,” jawab Akhtar seraya menepuk bahu sahabatnya itu.
Akhtar dan Reyhan masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian kendaraan tersebut melaju pergi.
🍁🍁🍁
**Fiiiuuhhh akhirnya neng Az bisa diselamatkan. Sekarang tinggal nunggu Deski dateng. Kira² doi bakal diapain ya sama mas El🙈
Niatnya mau up pagi tapi apa daya, mamake riweuh di RL. Ngga apa² ya, yg penting bisa up😘
Kasih like, comment and vote nya jangan lupa ya😉**
Penampilan mas El pas mau nyelamatin neng Az
Penampakan Deski, sang Pebinor
__ADS_1