
Alea termenung di kamarnya, sudah tiga hari Firly dirawat di rumah sakit tapi Ega tak memperbolehkannya untuk menengok. Berulang kali Alea memohon namun suaminya itu bergeming. Hatinya bertambah miris ketika Firlan dan Azriel ikut bersikap dingin padanya. mereka tinggal serumah tapi tak saling menyapa. Sedang Ega tidak pernah pulang ke rumah. Untuk membawakan baju ganti, dia selalu meminta Firlan mengantarkannya ke rumah sakit.
Alea keluar dari kamarnya, suasana rumah tampak sepi. Dia naik ke lantai atas, membuka satu per satu kamar anaknya, namun Alea tak mendapati mereka di dalamnya. Entah apa yang mereka lakukan di luar rumah, hingga waktu hampir jam sembilan malam belum ada tanda-tanda kepulangan mereka.
Hampa, itulah yang dirasakannya saat ini. Alea melempar pandangannya ke arah rumah Irzal. Sayup-sayup terdengar suara perbincangan dan gelak tawa mereka. Lalu dia melihat ke arah kediaman Regan. Mereka sekeluarga terlihat baru saja kembali entah dari mana. Terlihat raut ceria di wajah mereka.
Alea terduduk di lantai dengan punggung menyandar dan kedua lutut ditekuk. Terbayang kembali kehangatan keluarga yang dulu dirasakannya. Pertengkaran Firly dan Azriel, Firlan yang selalu memainkan gitarnya diiringi suara merdu Firly yang kemudian berakhir dengan kekacauan karena Azriel selalu saja menganggu. Senyum Alea tersungging mengingat itu semua. Tapi kemudian semuanya berganti dengan tangisan Firly, kemarahan Ega dan kekecewaan Firlan serta Azriel.
Maafkan mami Ily. Maafkan mami Ilan, Ziel. Mami belum bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian. Maafkan aku Ga. Aku sudah menjadi istri durhaka. Aku tidak bisa memberi kesejukan pada rumah ini. Justru aku menjadi bara yang membuat rumah ini seperti neraka. Maafkan aku. Aku merindukan kalian semua.
🍁🍁🍁
Setelah merenung semalaman, Alea memantapkan hatinya untuk menemui Dimas. Dia sadar sudah melakukan banyak kesalahan pada lelaki itu. Dimas yang selalu ada ketika dia berada dalam masalah. Yang selalu menawarkan bahu saat bersedih. Yang selalu membuatnya tertawa dengan kekonyolannya. Tanpa sadar airmata Alea mengalir. Disekanya airmata itu lalu dengan cepat menstarter kendaraannya.
Gedung Artha Boga berdiri kokoh di hadapan Alea. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung. Baru saja Alea akan menemui resepsionis, suara Arini menahan langkahnya.
“Bu Alea.”
“Arini, saya mau bertemu Dimas. Dimasnya ada?”
“Untuk apa bu? Untuk menghinanya lagi? atau menghancurkannya lagi seperti yang ibu lakukan dulu,” sindir Arini.
“Tolong saya hanya ingin bertemu dengan Dimas.”
“Maaf, tapi Dimas tidak ada. Dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahan.”
“Pernikahan? Siapa yang akan menikah?”
“Menurut ibu siapa?”
“Dengan siapa? Dengan siapa Dimas akan menikah?”
“Ibu tidak perlu tahu. Yang jelas dia gadis baik-baik dan yang terpenting, orang tuanya merestui hubungan mereka. Tidak seperti ibu yang terus saja menghinanya. Kalau tidak ada urusan lagi, silahkan ibu pergi.”
Arini melewati Alea kemudian berjalan meninggalkannya. Alea tak ingin menyerah, dia mengejar Arini. Ditariknya lengan wanita itu hingga berhadapan dengannya.
“Tolong katakan di mana Dimas. Saya harus bertemu dengannya. Saya mohon Rin. Kamu juga seorang ibu, saya mohon beritahu di mana Dimas. Kalau bukan demi saya, tolong demi Ily,” mohon Alea dengan nada penuh putus asa.
“Hhhh... baiklah. Dia mungkin ada di Alexa’s Jewelry.”
“Terima kasih Rin.”
Alea segera berlari keluar gedung. Dia harus bertemu dengan Dimas sebelum semuanya terlambat. Senyum Arini tersungging melihat kepergian Alea. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Ringgo.
Ringgo memasukkan ponselnya ke saku jas setelah menerima panggilan dari Arini. Saat ini dia dan Dimas sedang memantau proyek pembangunan SMK. Ringgo mendekati Dimas yang masih berbicara dengan kepala proyek.
“Baik pak, saya akan melakukan semua sesuai instruksi bapak. Saya permisi dulu,” kepala proyek itu pergi meninggalkan Dimas saat Ringgo hampir mendekat ke arah mereka.
“Dim,” panggil Ringgo.
“Hmm,” Dimas masih meneliti gambar sketsa gedung yang akan dibangun.
__ADS_1
“Bantuin gue ya. Tolong ambilin cincin kawin gue di Alexa’s Jewelry.”
“Ogah, lo yang kawin kenapa gue yang ribet.”
“Yaelah lo itungan bener sih? Gue harus fitting baju nih sama Sisil. Lagian kalau mau marah lo marah sana sama si Arini yang minta gue nikahin anaknya minggu ini juga.”
“Jadi lo nyesel?”
“Ya kagak lah, seneng banget malah hahaha... ok Dim, tolongin gue ya.”
“Iya bawel, mana resinya?”
Ringgo mengambil dompetnya lalu mengeluarkan tanda bukti pembelian cincin dari dalamnya. Dimas mengambil kertas tersebut lalu memasukkannya ke saku jas.
“Thank you and sorry..”
“Sorry kenapa?”
“Sorry karena gue nyalip elo kawin duluan hahahaha...”
“Bangke lo!”
Ringgo terus saja tertawa mengiringi kepergian Dimas. Gerutuan terus keluar dari mulut pria tampan tersebut sampai masuk ke mobilnya. Tak lama BMW Z4 itu melaju kencang di atas aspal hitam. Hanya butuh waktu lima menit untuk Dimas tiba di sana karena memang posisi toko dekat dengan lokasi proyek.
Dimas turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko. Alea yang tiba tak lama setelah Dimas juga bergegas masuk ke dalam toko. Sang pelayan membawa Dimas naik ke lantai dua yang diperuntukkan khusus pelanggan yang memesan perhiasan di toko ini. Alea kembali mengikuti langkah mereka.
Dimas duduk menunggu sang pelayan membawakan cincin pesanan Ringgo. Alea duduk tak jauh dari Dimas. Dia masih menunggu sampai urusan pria itu selesai baru akan menemuinya. Pelayan datang lalu memberikan sebuah kotak beludru berwarna hitam pada Dimas. Dibukanya kotak tersebut, terlihat dua pasang cincin kawin di dalamnya.
Dimas mengambil salah satu cincin lalu melihat ke bagian dalam lingkaran. Di sana terdapat tulisan Ringgo. Dia meletakkan kembali cincin ke dalam kotak.
“Iya benar.”
Sang pelayan memasukkan kotak tersebut ke dalam paper bag kecil, lalu memberikannya pada Dimas.
“Terima kasih sudah memesan di toko kami. Semoga bapak puas dengan pelayanan kami.”
“Iya, sama-sama.”
Dimas melenggang seraya menenteng paper bag di tangannya. Melihat itu semua, Alea menjadi ragu untuk menemui Dimas. Cukup lama dia terdiam sebelum seorang pelayan menegurnya. Tanpa menjawab Alea bergegas pergi.
Sesampainya di rumah, Alea melihat kendaraan yang biasa Ega sudah terparkir di halaman rumah. Buru-buru dia masuk ke dalam. Suasana di bawah tampak sepi, kemudian samar-samar dia mendengar suara dari arah atas. Alea melangkahkan kakinya ke sana. Di kamar Firly, semua orang sedang berkumpul.
“Ily...”
Semua yang ada di dalam menoleh pada Alea. Ega hanya menatap dingin padanya. begitu juga Firlan dan Azriel yang memilih membuang pandangannya ke arah lain. Hanya Firly yang menatapnya dengan senyum di bibirnya. Hati Alea menjerit, putrinya itu masih bisa memberikan senyuman manis padanya di saat yang lain mengabaikannya. Dia mendekati Firly lalu duduk di dekatnya.
“Kamu sudah sembuh nak?”
“Iya mi, alhamdulillah Ily udah sembuh. Mami kenapa ngga pernah nengok Ily?”
Alea terdiam, lalu pandangannya mengarah pada Ega. Sang suami terlihat tak peduli. Alea menarik Firly dalam pelukannya, membelai lembut rambut panjangnya.
__ADS_1
“Maafkan mami Ily. Mami terlalu malu untuk bertemu denganmu. Maafkan mami karena sudah membuatmu menderita. Maafkan mami.”
Alea mulai menangis, beribu penyesalan melanda hatinya. Firly pun tak kuasa menahan tangisnya. Dalam hatinya bersyukur sang mami sudah kembali seperti dulu. Alea mengurai pelukannya lalu menghapus airmata anaknya.
“Mami merestui hubunganmu dengan om Dimas. Mami sadar kalau hanya dia yang bisa membuatmu bahagia. Maafkan mami yang terlambat menyadarinya dan membuat kamu mengalami semua ini.”
“Telat mi... om Dimas mau nikah lusa,” celetuk Azriel.
“Lu.. lusa? Kamu bercanda kan Ziel?”
“Ngga! Tanya aja papi, emang om Dimas mau nikah lusa nanti.”
“Bi.. tolong bilang kalau semua ini ngga bener, iya kan? Bukan Dimas yang nikah kan?”
“Dimas memang akan menikah. Calonnya adalah temannya di Milan.”
“Tapi waktu di rumah sakit dia bilang...”
“Itu karena rasa sayang dan pedulinya pada Ily. Semua sudah terlambat Al, kita terlambat. Dimas sudah menentukan pilihannya.”
“Lalu bagaimana dengan Ily... Ily...”
Tangis Alea pecah, membayangkan perasaan anaknya yang hancur mengetahui lelaki yang dicintainya akan menikahi pria lain. Untuk beberapa saat dia masih terisak tapi kemudian dia mengusap airmatanya dengan kasar.
“Ngga! Pernikahan itu ngga boleh terjadi,” Alea memegang tangan Firly erat.
“Ily percaya sama mami. Mami ngga akan biarkan pernikahan itu terjadi. Mami akan lakukan apapun untuk membatalkannya. Kalau perlu mami akan bersujud memohon pada Dimas untuk membatalkan pernikahannya. Mami akan membawa Dimas kembali padamu.”
“Mami...”
“Percaya mami sayang... mami akan membawa Dimas padamu, mami janji.”
Alea keluar dari kamar Firly. Otaknya berputar mencari cara bagaimana caranya menggagalkan pernikahan Dimas. Sementara di dalam kamar Azriel tak dapat menahan senyumnya melihat tingkah maminya barusan.
“Ziel.. kamu jahat banget sih sama mami,” sembur Firly.
“Biarin kak, emang dia doang yang pinter akting. Kita juga ya kan pi?” Azriel melihat Ega seraya menaik turunkan alisnya. Ega tersenyum melihat tingkah anak bungsunya itu.
“Biarkan saja Ly, sekali-kali mami mu itu harus diberi pelajaran. Kita lihat aja sampai di mana dia akan bertindak. Lan, kamu telpon bunda Poppy suruh bunda ngumpetin om Dimas sama Ara sampai acara pernikahan,” Firlan mengangkat kedua jempolnya.
🍁🍁🍁
**Wah Alea dikerjain sama suami and anaknya nih. Gimana ya perjuangan Alea menggagalkan pernikahan Dimas ya..
Terus dukung mamake ya biar tetap semangat
Like..
Comment..
Vote..
__ADS_1
Happy Friday😘😘😘**