Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Semburan Panas


__ADS_3

Firly berjalan mondar-mandir di kamarnya. Baru saja dia mendapatkan pesan dari Dimas jika nanti malam akan datang ke rumah untuk meminta restu hubungan mereka berdua. Firlan yang melintasi kamar Firly dibuat penasaran dengan tingkah saudara kembarnya itu. Kebetulan pintu kamar Firly terbuka. Tanpa permisi, dia masuk ke dalam.


“Ly, lo kenapa? Mondar-mandir kaya setrikaan aja,” Firlan yang baru masuk langsung mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Firly masih belum menjawab pertanyaannya. Dia memandangi Firlan sambil menggigiti kuku jarinya.


“Kenapa sih?”


“Nanti abis makan malem om Dimas mau ke rumah. Dia mau ngomong sama mami papi soal hubungan kita. Gimana nih Lan, gue bener-bener takut.”


“Ya bagus dong, lebih cepat lebih baik mami sama papi tahu. Dari pada mereka tahu dari orang lain, mending tahu langsung dari kalian berdua kan.”


“Gue cuma takut tanggapan mami sama papi.”


“Papi udah tahu soal ini?”


“Udah, waktu itu gue udah cerita ke papi.”


“Terus tanggapan papi gimana?”


“Papi diem aja, kayanya papi kecewa deh.”


“Ya ngga kecewa gimana. Papi kan maunya elo sama Elang, eh malah nyangkutnya di om Dimas,” Firlan terkekeh.


“Ilaaaannn!! Lo mah nambah gue senewen aja.”


“Udah tenang aja. Percayakan aja semuanya sama om Dimas. Mereka kan udah lama saling kenal, sebelum mami papi nikah malah.”


“Gue takut sama mami.”


“Sejujurnya gue juga takut dengan reaksi mami. Lo tahu sendiri kan akhir-akhir ini mami kaya apa. Gue heran deh, mami kesambet setan di mana sih kok beberapa bulan ini nyebelin banget, sumpah asli nyebelin abis,” kelutus Firlan.


Dalam hati Firly juga membenarkan apa yang dikatakan kakak kembarnya ini. Semenjak Azriel mengikuti turnamen dan berhasil menjadi juara, semenjak itu pula Alea menjadi ambisius dan mulai bersikap otoriter. Pembicaraan keduanya berhenti saat bi Surti memanggil keduanya untuk makan malam.


Acara makan malam berjalan dengan tenang. Sesekali Firly mencuri pandang pada kedua orang tuanya. Sepertinya mood mereka sedang baik kali ini. Dia berdoa semoga saja pembicaraan Dimas nanti akan berjalan lancar. Lain lagi dengan Azriel yang sedari tadi memperhatikan kedua kakaknya yang terlihat sedikit tegang. Pikirannya menerka-nerka apa yang sedang terjadi dengan dua saudara kembar itu.


Sehabis makan malam, seperti biasa semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka menonton televisi sambil berbincang ringan. Tiba-tiba terdengar suara bel, wajah Firly langsung berubah tegang. Spontan dia melihat ke arah Firlan. Bi Surti bergegas membukakan pintu.


“Siapa bi?” tanya Alea.


“Itu ada pak Dimas bu.”


Dimas muncul di belakang bi Surti. Alea mempersilahkan Dimas duduk. Ega menyambut kedatangan Dimas dengan senyum tipis, dia sudah bisa menebak maksud kedatangan lelaki itu malam ini. Firly semakin tegang, tanpa sadar dia meremas tangan Azriel yang ada di sampingnya. Azriel meringis saat tangannya diremas begitu kencang oleh Firly.


“Ara mana?”


“Masih di rumah teh Poppy.”


“Baru pulang kerja? Rapih banget Dim, kaya mau ngelamar aja,” goda Alea. Dimas mengulas senyum tipis. Diliriknya Firly yang sedari tadi hanya diam membisu.


“Ehem.. begini kak, ada hal penting yang mau aku bicarain.”


“Gimana kalau ke ruang kerja aja?”


“Ngga usah di sini aja kak.”


“Ok. Anak-anak kalian naik ke atas,” titah Alea.


“Ngga usah kak, biar mereka di sini. Hal yang mau aku bicarain harus diketahui sama semua anggota keluarga.”

__ADS_1


Alea hanya mengangguk, belum ada kecurigaan sedikit pun. Dimas menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan. Sekilas dia melihat pada Ega yang lebih banyak diam sejak kedatangannya. Hatinya sedikit tak nyaman melihat sikap diam Ega.


“Sebelumnya aku minta maaf sama kak Al juga bang Ega kalau apa yang aku bicarakan nanti membuat kalian kecewa atau marah. Tapi aku siap menanggung semua resikonya.”


Dimas menjeda ucapannya sejenak berusaha membaca situasi. Alea masih diam menunggu kalimat selanjutnya, Azriel nampak penasaran sedang Firly, Firlan dan Ega hanya diam dengan hati berdebar.


“Tujuanku datang ke sini untuk meminta restu kalian.”


“Restu? Restu apa Dim?”


“Aku... aku meminta restu untuk menjalin hubungan serius dengan Ily.”


Suasana mendadak hening, Alea masih berusaha untuk mencerna maksud ucapan Dimas barusan.


“Hubungan serius dengan Ily? Maksud kamu apa Dim?”


“Aku mencintai Ily kak. Aku meminta restu untuk menjalin hubungan dengannya. Jika kakak berkenan, aku ingin melamar Ily.”


JEDARR


Alea seperti tersambar petir mendengarnya. Seketika dilayangkan pandangannya pada Firly yang tampak menunduk sambil meremat jari tangannya. Azriel melongo mendengar pengakuan Dimas. Matanya bolak balik menatap kakak dan omnya itu.


“Ap.. apa maksud kamu? Kamu bercanda kan Dim?”


“Aku ngga bercanda kak. Aku serius dan dalam keadaan sadar mengatakan ini semua. Aku tahu kakak pasti terkejut dengan ini semua. Tapi ini semua nyata adanya kak. Aku dan Ily saling mencintai.”


“Dimas!!” Alea berdiri dari duduknya. Sebelah tangannya memegang keningnya, tak percaya dengan semua yang terjadi. Dia memandangi Dimas dan Firly bergantian. Kemudian pandangannya beralih pada Ega yang masih diam membisu.


“Bi, jangan bilang kalau kamu sudah tahu soal ini?” Ega hanya mengesah panjang.


“Bi!!”


“Wow om Dimas keren. Ziel dukung om,” Azriel mengacungkan kedua jempolnya pada Dimas.


“Ziel!!! Diam kamu!!”


Azriel langsung terdiam melihat maminya yang sudah dikuasai amarah. Alea menghirup oksigen banyak-banyak untuk meredakan emosinya, kemudian kembali duduk di samping suaminya.


“Dim, lebih baik kamu pulang. Kakak akan anggap semua pembicaraan ini ngga pernah ada.”


“Maaf kak, aku serius dengan semua ucapanku.”


“Dim, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Siapa kamu dan siapa Firly apa kamu sadar? Apa perlu aku ingatkan siapa kamu?”


“Al!” tegur Ega.


“Kenapa bi? Apa kamu menyetujuinya? Atau karena dia adik kak Poppy, kamu ngga bisa menolaknya? Dia menginginkan anak kita bi, Ily kita.


Dimas, apa kamu sadar berapa usia Ily saat ini? Dia belum genap 18 tahun dan kamu mau melamarnya? Apa kamu lupa siapa Ily? Dia keponakanmu, anak yang sering kamu asuh sedari bayi. Dan sekarang dengan entengnya kamu bilang mencintainya dan ingin menikahinya. Apa kamu lupa dengan usia dan statusmu saat ini? Bisa-bisanya kamu menginginkan Ily sebagai pengasuh anakmu!”


“Mami!!” pekik Firly.


“Masuk ke kamarmu!!” titah Alea. Firly bergeming, dia balas menantang dengan memandang Alea tanpa berkedip.


“Masuk!!”


Dimas memberi isyarat pada Firly untuk mengikuti perintah Alea. Firlan menarik tubuh Firly dibantu oleh Azriel. Ketiganya naik ke atas meninggalkan ketiga orang dewasa itu untuk menyelesaikan pembicaraan.

__ADS_1


“Dim, pulanglah. Biar aku dan kak Al membicarakan masalah ini lebih dulu.”


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian.”


“Kak aku mohon. Aku benar-benar mencintai Ily dan aku berjanji akan membahagiakannya.”


“Cih cinta kamu bilang? Apa kamu tidak malu mengatakan cinta di usiamu sekarang ini? Berkacalah Dim, apa kamu pantas bersanding dengan putriku? Apa kamu mau mempermalukan keluarga kami? Aku tak berani membayangkan reaksi orang-orang saat melihat putriku satu-satunya menikah dengan duda tua sepertimu.”


Dimas memejamkan matanya. Bohong kalau tak merasa sakit hati dengan semua ucapan yang terlontar dari mulut Alea. Kalau bisa memilih, dia memilih Sissy masih mendampinginya saat ini hingga dia tak perlu mendengar hinaan demi hinaan yang melukai hatinya. Terlebih hinaan itu datang dari orang yang disayanginya, rasa sakitnya beribu-ribu kali lipat. Namun demi rasa cintanya pada Firly, Dimas memilih untuk bersabar.


“Tolong berikan aku waktu untuk membuktikan keseriusanku kak.”


“Tidak perlu!! Lebih baik kamu pulang dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini. Katakan pada Ara untuk tidak mengganggu Ily lagi. Mulai malam ini aku tak menginjinkan kamu atau Ara bertemu dengan Ily lagi,” Alea segera berlalu meninggalkan Dimas.


“Jujur Dim, abang kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu menyalahgunakan kepercayaan kami padamu. Abang mohon jangan bersikap egois, pikirkan masa depan Ily. Dia terlalu muda untukmu, masih banyak perempuan lain yang lebih pantas untukmu. Akhiri hubungan kalian sampai di sini.”


“Sekali lagi aku minta maaf bang. Maaf karena sudah mengecewakanmu. Maaf karena sudah berani mencintai putrimu. Aku sudah mengira kalau reaksi kalian akan seperti ini, tapi aku masih bersikeras meminta restu. Entah karena kebodohanku atau rasa cintaku pada Ily. Aku sepenuhnya sadar dengan kekurangan yang kumiliki.


Tapi aku tidak akan menyerah bang. Aku akan membuktikan keseriusanku. Aku memang tidak bisa mengubah status dan usiaku tapi akan menutupi semua kekuranganku dengan semua yang kumiliki. Cinta, perhatian, kasih sayang semua akan kuberikan untuk Ily dan aku juga akan melindunginya seperti aku melindungi Ara. Aku permisi bang, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dimas beranjak pergi meninggalkan Ega yang masih termenung. Ega berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Di kamar, Firly masih menangis ditemani oleh Firlan dan Azriel.


“Mami keterlaluan hiks.. hiks..” Firlan mengusap punggung Firly yang menangis dalam dekapannya.


“Aku ngga percaya orang yang barusan mengeluarkan kata-kata kejam itu mamiku,” gumam Azriel yang masih bisa didengar oleh kedua kakaknya. Dia berbaring telentang dengan mata menatap langit-langit kamar.


“Hatiku sakit Lan mendengar mami menghina om Dimas habis-habisan. Tapi aku lebih kecewa dengan papi yang hanya diam tanpa berbuat apa-apa. Aku berharap oma Santi masih ada di sini. Cuma oma yang mengerti perasaanku, tapi sekarang oma udah pergi hiks.. hiks..”


“Masih ada gue dan Ziel yang akan selalu dukung elo Ly.”


“Dengan mudahnya mami melupakan kebaikan dan kasih sayang om Dimas pada keluarga kita. Gue ngga seberharga itu Lan, sampai mami harus menghinanya habis-habisan seperti tadi. Gue malu ketemu om Dimas dan Ara. Kalau sampai ayah Irzal dan bunda Poppy tahu, gue ngga akan berani bertemu mereka lagi hiks.. hiks..”


Ega yang hendak menemui Firly mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan anak-anaknya. Hatinya mencelos mengetahui kekecewaan Firly padanya juga Alea. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding di sisi kamar Firly.


“Kasih tahu gue Lan, apa salah kalau gue dan om Dimas saling cinta? Apa status dan umur om Dimas itu aib buat keluarga kita?”


“Haaaiiisshhh.. lo ngga salah kak. Baik lo atau om Dimas ngga salah. Yang salah tuh orang tua kita yang berpikiran kolot. Mereka terlalu memikirkan nama baik dan gengsi mereka sendiri. Mereka lebih mementingkan pandangan orang lain dibanding kebahagiaan anaknya sendiri. Umur dan status ngga menjamin kebahagiaan seseorang. Gue lebih percaya lo bersama om Dimas dibanding laki-laki lain yang belum tentu tulus dan sayang sama elo,” Azriel bangun dari tidurnya. Dia yang sedari tadi hanya mendengarkan ikutan gatal berkomentar.


“Tenang aja kak, gue ada di belakang lo. Gue akan dukung penuh keputusan lo. Lo harus kuat, jangan nyerah.”


“Ziel bener Ly. Gue juga ada di belakang lo. Gue ngga akan biarin orang lain nyakitin elo, biar pun itu mami atau papi. Lo ngga boleh nyerah, lo harus perjuangin cinta lo sama om Dimas. Jangan lupa untuk berdoa.”


“Makasih Lan, Ziel, gue sayang kalian,” Firly memeluk kedua lelaki kesayangannya. Mereka berpelukan erat, sungguh sebuah persaudaraan yang manis. Ega menatap haru kebersamaan ketiga anaknya, sesuatu yang tidak pernah dirasakannya dulu.


🍁🍁🍁


Menurut kalian reaksi Alea wajar ngga? Kalau dari kacamata orang tua, wajarlah kalau mereka kaget. Tapi kata2 Alea🤐


**Jangan lupa ya


Like..


Comment..


Vote..

__ADS_1


Tengkyuh😘😘**


__ADS_2