
Gemuruh tepuk tangan mengiringi kedatangan Dimas. Mata Firly membelalak tak percaya melihat lelaki yang dirindukannya berdiri di depan. Dia melihat pada Firlan yang hanya menyunggingkan senyum ke arahnya, begitu pula dengan Rain. Gara yang tidak tahu Dimas menjadi salah satu pembicara juga terkejut melihatnya.
“Widih om Dimas keren banget ya. Udah ganteng, sukses, single pula. Gue yakin cewe-cewe di sini pada klepek-klepek sama om Dimas. Lihat tuh mereka ileran semua hahaha,” Firly spontan memperhatikan semua peserta perempuan, dan benar adanya. Sebagian besar dari mereka benar-benar terpana dengan ketampanan Dimas. Hati Firly panas dibuatnya.
Dimas menyampaikan materinya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan diselingi dengan gurauan, sehingga peserta tidak merasa jenuh. Tanpa terasa materinya berakhir dan masuk ke sesi tanya jawab. Tampak banyak peserta yang mengacungkan tangannya untuk bertanya. Sang moderator membagi sesi tanya jawab ke dalam tiga termin.
Saat moderator mempersilahkan peserta untuk bertanya di termin terakhir, Firly segera mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Salah seorang panitia menghampiri kemudian memberikan mic padanya.
“Silahkan sebutkan nama dan dari jurusan mana.”
“Ehem.. nama saya Firly, saya calon mahasiswa di sini,” beberapa peserta tampak bergumam tak jelas setelah mendengar penuturan Firly. Sang moderator menenangkan audiens.
“Tenang.. tenang ngga ada larangan buat calon maba ikut seminar ini. Silahkan dek kalau mau bertanya.”
Dimas terkejut mengetahui Firly ada di antara para peserta seminar, namun dengan cepat menguasai dirinya kembali. Firly memandang lekat pada Dimas, kemudian mengarahkan mic ke mulutnya.
“Usaha pertama anda Kuah dotcom saat ini masih berdiri dan semakin berkembang. Apa yang melatar belakangi anda membangun usaha itu?”
“Terima kasih untuk pertanyaannya nona cantik,” suara gemuruh langsung terdengar membuat wajah Firly merona.
“Kalau kalian pecinta drama Korea, kalian pasti tahu ada adegan di mana para pemerannya makan di warung sederhana dengan konsep lesehan dan menu yang dihidangkan adalah masakan berkuah. Jadi saya terinspirasi untuk mengambil konsep itu dengan menyajikan menu nusantara yang banyak memiliki masakan berkuah. Alhamdulillah dengan kerja keras dan dukungan dari orang-orang di sekitar saya, usaha itu berkembang dan tetap berdiri sampai sekarang.”
“Wah ternyata chef penggemar drakor juga ya,” celetuk salah seorang peserta.
“Sebenarnya almarhumah istri saya yang penggemar drakor. Saking seringnya nemenin dia nonton drakor, jadi saya tahu soal itu.”
“Mau dong ditemenin nonton drakor sama chef.”
“Huuuuu...” sorakan terdengar memenuhi seisi ruangan.
“Chef masih jomblo atau udah punya gandengan?” kembali terdengar celetukan dari peserta lain.
“Maaf saya bukan truk jadi saya ngga punya gandengan.”
Gelak tawa memenuhi seantero aula. Moderator segera menenangkan peserta yang mulai tidak kondusif. Firly tampak kesal mendengar jawaban Dimas. Firlan dan Rain tak dapat menahan tawanya melihat ekspresi Firly.
“Gar, ruang tunggu pembicara ada di mana?”
“Itu di deket pintu samping. Emangnya kenapa?”
“Lo bisa bilang ke panitianya ngga minta om Dimas ke ruangan itu sebentar.”
“Ngapain?”
“Udah kerjain aja dulu, nanti gue ceritain.”
“Ya udah,” Gara berdiri kemudian menghampiri salah satu panitia yang dikenalnya. Setelah berbicara sebentar dia kembali ke tempat duduknya.
“Gimana?”
“Sip, tapi cuma sepuluh menit aja.”
“Cukuplah, thanks bro.”
“Lo utang penjelasan sama gue,” Firlan mengangkat jempolnya. Dia kemudian berbisik pada Firly. Gadis itu manggut-manggut tanda mengerti.
Moderator mengakhiri sesi tanya jawab dan mempersilahkan peserta untuk menikmati coffee break yang disediakan di samping aula. Seorang panitia mendekati Dimas kemudian mengajaknya menuju ruang tunggu. Tak lama Gara mengantar Firly ke ruangan tersebut.
Firly membuka pintu, tampak Dimas sedang berbicara dengan ponselnya. Melihat Firly, Dimas segera mengakhiri panggilannya. Untuk sejenak keduanya hanya saling bersitatap. Sejurus kemudian Firly berlari dan memeluk Dimas.
“Om hiks.. hiks..”
“Kamu baik-baik aja sayang?” Dimas mengusap lembut puncak kepala Firly. Gadis itu hanya mengangguk.
“Mami ngga marahin kamu kan?”
“Mami ngelarang Ily ketemu sama om. Mami juga ngirim orang buat ngikutin Ily. Mami jahat om.”
Dimas mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata Firly. Dia mengajak Firly duduk di sofa. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Dimas. Airmatanya masih saja mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
“Ily sayang, untuk sementara kamu ikutin apa kata mami ya.”
“Ngga mau. Ily kangen om, Ily juga kangen sama Ara. Mami egois, papi juga, Ily kecewa sama mereka.”
“Sssttt.. sayang, kamu harus sabar. Om udah bilang kalau jalan kita ngga akan mudah. Untuk sementara kamu ikutin dulu apa maunya mami. Om akan terus berusaha untuk meyakinkan mami dan papi kamu. Ily percaya kan sama om?”
“Tapi om janji ya jangan nyerah sama Ily.”
“Iya sayang. Om akan terus berjuang buat kita.”
“Ilan dan Ziel ngedukung kita om.”
“Iya om tahu.”
“Maafin mami ya om. Pasti om sakit hati dengan ucapan mami kemarin. Mami emang keterlaluan hiks.. hiks..”
“Udah sayang udah,” Dimas mengusap punggung Firly dengan lembut. Firly memeluk pinggang Dimas erat.
Terdengar ketukan di pintu pertanda waktu untuk mereka sudah berakhir. Firly mengurai pelukannya, matanya nampak sembab karena tak berhenti menangis. Dimas menghapus sisa-sisa airmata di pipi Firly.
“Jangan nangis lagi sayang. Kamu harus kuat hmm.”
“Iya om.”
Dimas mencium kening Firly cukup lama kemudian beralih pada kedua matanya. Sejenak dia menyatukan kening mereka.
“I love you.”
“I love you too.”
“Be strong sweet heart,” Dimas mengusap pipi Firly dengan lembut.
“You too uncle D.”
Dimas memeluk Firly erat. Perjuangan cinta mereka dimulai. Jalan panjang nan berliku sudah menanti di hadapan mereka. Restu Alea dan Ega tak mudah untuk didapatkan. Baik Dimas maupun Firly harus menyiapkan hati menghadapi badai yang menerpa hubungan mereka.
🍁🍁🍁
“Rey, lo ngapain ke sini?”
“Gue pengen tahu perkembangan Ily sama om Dimas,” Reyhan memainkan alisnya menggoda Firly.
“Lo tahu dari mana?” sembur Firly.
“Yaelah cuma orang oon aja kali yang ngga tahu soal elo sama om Dimas.”
“Gue ngga tahu,” celetuk Gara.
“Berarti lo oon!” kompak Rain, Firlan dan Reyhan meledek Gara.
“Lah ini trio ubur-ubur santai-santai aja. Kalian udah tahu?”
“Udah,” jawab ketiganya kompak.
“Lo.. lo.. jelasin sama gue, sekarang!!!” Gara menunjuk pada duo kembar.
Setelah menarik nafas panjang, Firlan memulai ceritanya. Gara mengerjapkan matanya, penuturan Firlan tentang hubungan Firly dengan Dimas benar-benar mengejutkannya. Berulang kali dia menatap Firly, tak menyangka sahabatnya yang kalau ngomong mirip petasan cabe rawit yang susah berhenti bisa menaklukkan hati om Dimas.
“Gue salut sama elo Ly. Lo bisa bikin om Dimas move on dari almarhum tante Sissy,” Gara mengangkat kedua jempolnya.
“Jadi kak Ily sama om Dimas pacaran sekarang?” Yunda mulai kepo, karena dia hanya menerima sedikit informasi dari Azriel.
“What??? Ily sama om Dimas pacaran?”
Semua yang ada di teras langsung menengok ke sumber suara. Nampak Akhtar berdiri tak jauh dari mereka. Dada Rain berdegup kencang bertemu dengan pujaan hatinya. Lelaki itu terlihat tampan dalam balutan kaos lengan panjang berwarna navy dengan celana jeansnya. Dia mendekat lalu duduk tepat di samping Rain, membuat gadis itu semakin salah tingkah.
“Ly, kamu beneran pacaran sama om Dimas?” Akhtar kembali bertanya.
“Bukan pacaran, ta’aruf.”
__ADS_1
“Ta’aruf pala lo peyang. Lo kan udah kenal sama om Dimas dari bayi,” Gara terkekeh. Semua tergelak mendengar ucapan Gara. Firly hanya mendengus kesal.
“Ini sebenernya kita kumpul di sini buat cari solusi atau ngebully gue?”
“Emang lo ada masalah apa?” tanya Gara polos. Ingin rasanya Firly membenturkan kepala Gara ke tembok.
“Mami papi gue ngga setuju gue sama om Dimas. Gue bahkan dilarang ketemu om Dimas sama Ara lagi,” wajah Firly berubah sendu. Rain merangkul bahunya, mata Firly mulai berkaca-kaca.
“Setiap hubungan pasti ada ujiannya Ly. Kalau emang kalian serius dan berjodoh, In Sya Allah ada jalan. Aku yakin kok om Dimas sudah memikirkan ini matang-matang. Bersabar aja Ly, dan jangan lupa untuk terus berdoa,” nasehat bijak Akhtar terdengar begitu teduh di telinga Firly. Sebagai yang tertua tentu saja Akhtar harus mampu menenangkan adik-adiknya itu. Rain menatap Akhtar sekilas, perasaannya pada lelaki itu semakin bertambah dalam saja.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara motor yang memasuki pekarangan rumah. Elang dan Farel turun dari kuda besi tersebut, keduanya langsung menuju teras. Tanpa basa-basi Elang langsung menghampiri Firly.
“Apa bener yang gue denger soal mami papi lo nolak om Dimas?” Elang melihat Firly dengan tatapan dinginnya, membuat gadis itu tercekat.
Masalah tadi malam pasti sudah sampai ke telinga Elang. Azriel yang tidak bisa menjaga mulutnya pasti sudah membocorkannya pada Yunda yang akhirnya sampai ke telinga Elang.
“Gue udah ingetin elo sedari awal soal ini tapi lo ngga mau denger! Sekarang apa gue bilang, om Dimas yang kena getahnya!”
“Eh biasa aja dong lo, ngga usah nyolot gitu! Lo pikir adek gue ngga menderita apa?!” Firlan mulai terpancing emosinya melihat sikap Elang pada Firly.
“Kalau Ily berhenti gangguin om Dimas, ngga akan ada kejadian seperti ini!”
“Lo harusnya berterima kasih sama Ily. Karena Ily, om Dimas bisa kembali seperti dulu. Soal hati itu bukan urusan kita El! Itu udah jadi ketentuan yang di atas. Emang kebetulan aja jalannya si Ily duluan yang mulai.”
“Udah diem!! Kenapa kalian jadi ribut hah?? El, lo kenapa dateng-dateng langsung ngegas gitu?” Akhtar berusaha melerai.
“Ly, lo serius sama om Dimas apa cuma main-main?”
“Wah bener-bener lo ya minta dihajar!” Firlan yang sudah kesal menarik kaos Elang. Tak mau kalah, Elang balas menarik kaos Firlan. Farel dan Akhtar segera bertindak cepat memisahkan mereka sebelum terjadi baku hantam.
“Gue tanya sekali lagi Ly, lo serius sama om Dimas?!!”
“Iya gue serius!!” Firly yang sudah tidak tahan dengan semua intimidasi Elang mulai melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.
“Apapun yang terjadi lo ngga akan berhenti di tengah jalan?”
“Iya.”
“Ok, gue pegang omongan elo. Gue bakal dukung kalian dan bantu untuk cari solusi masalah ini,” semua merasa lega mendengar ucapan Elang, tak terkecuali Firlan.
“Tapi ada syaratnya,” imbuh Elang.
“Lo kalo bantuin yang ikhlas,” ketus Firlan.
“Apa syaratnya?”
“Kalau lo nanti nikah sama om Dimas jangan pernah minta gue manggil lo tante!”
“Bhuahahaha!!!”
Gelak tawa langsung terdengar dari semua yang ada di teras. Firlan menoyor kepala Elang dengan kesal. Suasana yang tadi tegang mencair seketika. Mereka kembali duduk melanjutkan pembicaraan.
“Makasih ya Ly, lo udah bikin om Dimas seperti dulu lagi. Tapi gue juga prihatin sama om Dimas punya istri kaya elo yang mulutnya mirip petasan cabe rawit.”
“Eeeeelllll!!!”
Elang tergelak seraya menutup kedua telinganya. Perbincangan mereka berlanjut, mereka berusaha mencari solusi terbaik akan masalah Firly dan Dimas. Firly menatap haru pada semua sahabatnya. Di saat terberatnya, mereka semua ada untuk mendukungnya.
🍁🍁🍁
**Persahabatan orang tua mereka terus berlanjut ke anak-anaknya. Yang udah baca CLBK pasti tahu dong siapa aja orang tua mereka.
Semangat Ily, semangat om Dimas, jalan terjal kalian akan dimulai. Kalau bisa ganti roda kendaraan kalian dengan ban MT biar bisa menembus jalanan terjal dan berlumpur😁
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Danke😉**