Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : Farel & Ara Ku Menangiiiiiisss


__ADS_3

Ara mondar-mandir di kamarnya. Hatinya cukup resah. Poppy meminta dirinya dan Farel menginap, yang artinya mereka nantinya akan tidur sekamar. Tak tanggung-tanggung Poppy meminta mereka menginap selama seminggu. Sebenarnya dia bisa saja tidur terpisah. Ada kamar Elang dan Ayunda yang kosong. Tapi dia tak mau mendengar ceramah panjang Poppy apalagi ucapan ketus kakak sepupunya, Elang.


“Ara!!”


Terdengar suara Farel memanggilnya dari bawah. Dengan malas Ara menyambar tas ransel dan selempangnya lalu bergegas keluar dari kamar. Dia menghampiri Farel yang sudah bersiap di samping mobil. Setelah mengunci pintu, Ara masuk ke dalam mobil.


Kedatangan Farel dan Ara disambut sumringah oleh Poppy. Pelukan dan kecupan hangat diberikan wanita yang biasa dipanggil bunda. Sambil merangkul Ara, ketiganya masuk ke dalam rumah.


“Taruh tasmu di kamar. Habis itu bantuin bunda di dapur ya.”


Ara mengangguk kemudian naik ke lantai atas diikuti Farel dari belakang. Gadis itu termenung di depan kamar Ayunda dan Farel. Bingung harus memasuki kamar yang mana. Farel yang sudah tiba hanya berdiri diam di belakang Ara, menunggu apa yang akan dilakukan sang istri. Melihat Ara bergeming, Farel membuka mulutnya.


“Kamu mau tidur di mana?”


“Di kamar kak Yunda boleh?”


“Boleh, asal kamu mau jawab semua pertanyaan bunda, ayah sama El. Kalau ngga mau repot, tidur di kamar abang.”


Setelah berkata-kata Farel masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Ara yang masih kebingungan. Setengah mendumel Ara masuk ke kamar Farel. Dia tak ingin menghadapi berondongan pertanyaan semua orang. Sudah pasti Farel tidak akan mau bantu menjawab nantinya.


Ara masuk ke dalam kamar yang dulu sering dikunjunginya. Tatanan kamar Farel tak ada yang berubah. Dia membuka lemari lalu memindahkan pakaian dari ransel ke dalam lemari. Tak butuh waktu lama untuk melakukannya karena tak banyak pakaian yang dibawanya. Selesai dengan pekerjaannya Ara buru-buru keluar dari kamar. Berada satu ruangan dengan Farel membuatnya gerah.


Ara menghampiri Poppy di dapur yang ditemani bi Diah dan Neni. Dia berinisiatif memotong-motong buah yang akan dijadikan salad. Poppy tersenyum melihat Ara. Mulutnya sudah gatal ingin menanyakan hubungan keponakan dan anaknya.


“Ra.. gimana rasanya jadi istrinya Farel.”


“Luar biyasah bunda... aku disuruh ngerjain kerjaan rumah. Nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, masak. Lihat aja tanganku bunda, udah berapa kali kena pisau, terus kena cipratan minyak. Yang nyebelinnya, jangankan ngobatin, nanya juga ngga aku luka kenapa.”


Poppy terkekeh mendengar curhatan keponakan sekaligus menantunya. Farel memang sudah mengatakan akan mendidik Ara dengan caranya. Ternyata ini yang dimaksud dengan sang anak.


“Udah gitu ya bun, aku setiap hari cuma dikasih uang saku seratus ribu sama dia. Cukup ngga cukup harus cukup katanya.”


“Masih untung, dulu papamu cuma dikasih tiga ratus ribu sebulan buat ongkos dan jajan di sekolah sama bundamu,” sambar Irzal yang baru saja masuk ke dapur.


“Bener bunda?”


“Iya.. tapi suami bunda yang baik hati ini nambahin uang jajan papamu diam-diam.”


Irzal terkekeh, dia menghampiri Poppy kemudian memeluknya dari belakang lalu mencium pipinya. Bi Diah tersenyum melihat majikannya yang tak pernah luntur kemesraannya sejak dulu.


“Kamu suka diginiin ngga sama Farel?” goda Irzal seraya meletakkan dagunya di bahu Poppy.


“Boro-boro yah... yang ada kerjaannya nyuruh-nyuruh mulu. Lagian siapa juga yang mau dipeluk bang Farel hiiii...” Ara menggerakkan bahunya seolah bergidik.


“Hmm.. nanti kalau udah dipeluk malah ketagihan,” goda Poppy.


“Bener.. sekarang aja bilang ngga mau, nanti pasti nagih,” Irzal tambah menggoda.


“Nehi...”


Ara yang telah selesai memotong buah bergegas keluar dari dapur. Bukannya risih melihat kemesraan ayah dan bundanya, tapi tak tahan mendengar godaan mereka. Ara duduk di ruang tengah, tangannya bergerak memijit remote televisi. Seketika layar hitam di depannya berubah.


Farel turun dari tangga, keningnya berkerut melihat Ara yang santai menonton televisi. Dilangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dengan tangan bersedekap dia melihat ke arah sang istri.


“Kenapa di sini bukannya bantuin bunda?”


“Udah tadi motong buah. Lagian ada bi Diah sama bi Neni yang bantuin bunda.”


“Sana ke dapur lagi. Perhatiin bunda masak, biar masakan kamu layak dimakan nantinya.”


Ara berdecak sebal namun tak ayal mengangkat tubuhnya dari sofa lalu beranjak menuju dapur. Farel menghempaskan tubuhnya di sofa, tak lama Irzal bergabung dengannya.

__ADS_1


“Gimana Ara?”


“Ya gitu deh. Tapi menurut Deni, dia sudah ngga pernah jalan sama Yama lagi.”


Farel memang tidak melepaskan pantauannya dari Ara. Dia mengutus dua anak buahnya, untuk mengawasi Ara. Sapto bertugas membututi kemana pun gadis itu pergi, Deni bertugas mengawasi di sekolah dengan berpura-pura sebagai petugas kebersihan sekolah.


“Baguslah, om Dimas sudah membuat keputusan tepat menyerahkan Ara padamu.”


“Iya, tapi aku jadi kurang gizi yah.”


“Maksudnya?”


“Coba ayah bayangin, tiap hari aku udah kaya kang mus, dikasih makan telor ceplok sama kecap dan cabe rawit. Udah gitu pinggirannya gosong. Kadang telornya ngga dikasih garem kadang keasinan. Sekalinya masak sayur, ngga layak makan. Masa bikin sop, semua bumbu dimasukin sama dia, merica, ketumbar bubuk, kunyit bubuk. Dia sebenarnya ngga ngerti bumbu atau sengaja mau buat suaminya mati keracunan.”


“Hahahaha.... nanti pulang dari sini kamu bawa bekal yang banyak buat makan di sana.”


“Ck.. nanti manja lagi dia yah. Biarin ajalah, anggap aja ini pengorbananku buat mendidik anak manja kaya dia.”


Irzal menepuk bahu anaknya pelan. Dalam hatinya dia kagum melihat kesungguhan Farel mendidik Ara. Entah mengapa, Irzal yakin sebentar lagi Ara akan jatuh dalam pelukan Farel.


Ara yang sedang memperhatikan Poppy memasak teralihkan perhatiannya ketika ponselnya berdering. Matanya berbinar melihat panggilan video dari Dimas. Dengan cepat di geserkannya tombol hijau ke atas.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam.. papa...”


“Gimana keadaan anak papa?”


“Baik pa. Papa sendiri gimana? Mama mana? Gemma sama Gavin juga mana?”


“Udah tidur sayang, di sini kan baru jam 2 pagi.”


“Terus kenapa papa ngga tidur?”


Ara mengusapkan jari di ponselnya yang memperlihatkan wajah sang papa. Sungguh dirinya merindukan Dimas saat ini.


“Gimana kabar suamimu?”


“Ck.. ngapain papa nanyain kabar si Kim Jong Un.”


“Kim Jong Un?”


“Iya, menantu papa itu otoriter bin kejam. Dia itu perpaduan Kim Jong Un dan Hitler.”


Terdengar tawa Dimas dari seberang. Lelaki itu mengusap sudut matanya yang berair karena tak berhenti tertawa.


“Iihh.. papa malah ketawa. Beneran bang Farel tuh kejam. Tiap hari Ara disuruh kerja rodi, nyapu, ngepel, masak, nyuci, nyetrika sama dia. Uang jajan juga dipangkas, pokoknya merana banget deh. Nasib Ara udah kaya istri-istri di sinetron tv ikan terbang yang lagunya viral sepanjang masa, ku menangiiiiiiisssss...”


Tawa Dimas kembali terdengar. Kini bukan hanya Dimas yang tertawa, tetapi Poppy, bi Diah dan Neni juga ikut tertawa mendengar celotehan Ara. Tak disangka pria yang sedari dibicarakan masuk ke dapur. Farel menyomot sepotong perkedel jagung dari piring seraya mendaratkan kecupan di pipi Poppy. Melihat kedatangan Farel, Ara kembali berbicara pada papanya.


“Tuh udah dateng Kim Jong Un-nya, marahin pa.”


Ara mengarahkan kamera ponsel ke wajah Farel. Melihat wajah Dimas di layar ponsel, pria itu mengambil benda pipih itu dari tangan Ara.


“Assalamu’alaikum... sehat pa?”


“Waalaikumsalam.. alhamdulillah. Kamu sendiri gimana Rel?”


“Alhamdulillah pa, masih hidup sampai sekarang. Tiap hari aku dikasih makanan ngga layak santap sama anak papa. Aku sangsi apa bener dia anak papa. Masa anak chef terkenal ngga bisa masak.”


“Hahaha... papa minta maaf Rel. Anak papa yang satu itu memang manja. Dia alergi kalau disuruh masuk dapur. Emang dia suka masak apa?”

__ADS_1


“Telor ceplok gosong sama sayur sop campur sari.”


“Hahaha...”


Ara memukul lengan Farel kesal. Suaminya itu tak menghargai perjuangannya bertarung dengan peralatan dapur setiap harinya. Biar pun hanya telor ceplok, butuh perjuangan juga untuk memasaknya. Tak ayal lengannya sering terkena cipratan minyak.


“Papa malah ketawa bukannya marahin bang Farel!” teriak Ara.


“Farel...”


“Ya pa.”


“Teruskan perjuanganmu dan tahan penderitaanmu. Kalau kamu keracunan, minta Reyhan mengobatimu. Hahaha...”


“Papa nyebelin!” pekik Ara.


“Sudah dulu ya, papa senang kalian baik-baik saja. Yang akur ya, tapi ingat sebelum Ara lulus sekolah jangan dibuat masuk angin dulu ya Rel.”


Wajah Farel memerah mendengar ucapan jahil mertuanya. Ara yang tak mengerti hanya cuek saja.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Wajah Dimas menghilang begitu pria itu mengakhiri panggilan. Farel menyerahkan kembali ponsel pada Ara. Dia kembali mengambil perkedel jagung dari piring.


“Tuh belajar bikin perkedel jagung sama bunda. Jangan cuma bikin telor ceplok gosong aja bisanya.”


Ara mengepalkan kedua tangannya lalu mengarahkan pada Farel. Dengan cuek Farel meninggalkan dapur. Kalau bisa Ara ingin melemparkan panci, wajan, cobek dan lain-lain ke arah suaminya itu.


🍁🍁🍁


Malam harinya pasangan pengantin yang tak pernah akur ini sudah berada di dalam kamar. Wajah Ara cemberut melihat Farel yang sudah berbaring di atas kasur. Sedangkan dirinya masih berdiri seraya memeluk guling.


“Kenapa muka kamu kaya ikan buntal gitu? Cepetan tidur, besok kan kamu harus sekolah.”


“Bang Farel tidur di sofa sana.”


“Ogah. Kamu aja yang tidur di sana.”


“Ngga mau! Sakit badan Ara kalau tidur di sana.”


“Ya udah tidur aja di sini apa susahnya. Atau pindah ke kamar Yunda.”


Sambil menghentakkan kaki, Ara melangkah menuju pintu. Saat akan keluar dari kamar, dia melihat Elang baru saja sampai. Sepupunya itu hendak menuju kamar lamanya untuk mengambil sesuatu. Ara mengurungkan niatnya pindah ke kamar Yunda. Dia menutup pintu kamar lalu menuju ranjang.


Ara menggeser bantal sedikit jauh dari Farel lalu menaruh guling sebagai pembatas dirinya dengan pria itu. Selanjutnya Ara berbaring di kasur dengan posisi membelakangi Farel.


Farel terbangun dari tidurnya ketika merasakan perutnya tertimpa sesuatu. Matanya terbuka dan mendapati kaki Ara sudah menindih perutnya. Guling pembatas yang tadi ditempatkan gadis itu sudah berpindah tempat ke lantai. Farel tersenyum memperhatikan istri kecilnya yang masih terpejam.


Dengan gerakan pelan Farel menurunkan kaki Ara, namun gadis itu kembali menaikkan kakinya, bahkan kini kepalanya sudah menyuruk ke dada Farel dan tangan memeluk bahunya. Farel mendekatkan diri lalu menarik Ara lebih dekat padanya. Disingkirkannya anak rambut yang menghalangi mata Ara lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya.


“I love you Ara,” lirih Farel.


Ara melenguh pelan namun tak sampai membuka matanya. Dia malah terlihat semakin nyenyak dalam pelukan Farel.


🍁🍁🍁


**Ternyata lagu Rossa benar² melegenda😂


Baru tahu kalau Farel ternyata perpaduan Kim Jong Un sama Hitler🤣

__ADS_1


Biar pada semangat, mamake kasih part yg bisa bkn senyum² ya.


Selamat malam Jumat, selamat menunaikan ibadah sunah Rasul😎**


__ADS_2