Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Gombal


__ADS_3

Elang menghampiri Azkia lalu mengajaknya pergi. Setelah mendapat izin dari Poppy juga Irzal, Azkia bersedia pergi dengan Elang. Kepergian mereka diiringi sorakan dari Ayunda juga Ara. Azkia malu bukan kepalang, dia menundukkan kepalanya. Berbeda dengan Elang yang tampak cuek saja.


“El, awas jaga tangan kamu,” seru Irzal.


“Sama bibir juga,” celetuk Dimas.


Elang melihat ke arah om-nya dengan perasaan dongkol. Yang dilihat hanya cengar-cengir saja dengan wajah tanpa dosa. Dia mempercepat langkahnya sebelum kembali menjadi bulan-bulanan.


Sepanjang jalan Elang tak mengatakan kemana tujuannya walaupun Azkia menanyakannya berkali-kali. Mobil yang dikendarainya memasuki pelataran parkir mall The Ocean. Elang membukakan pintu untuk Azkia lalu keduanya memasuki salah satu mall terbesar yang ada di kota Bandung.


Azkia mengikuti kemana langkah Elang tanpa bertanya. Pemuda itu naik ke lantai dua lalu masuk ke sebuah gerai yang menjual perhiasan. Kedatangannya langsung disambut ramah oleh sang pelayan. Wajah Elang sudah tak asing karena sering mengantar Poppy ke sini.


“Selamat datang, ada yang bisa dibantu?”


“Saya mau cari cincin pernikahan.”


“Silahkan ke sebelah sini mas. Ini ada beberapa model keluaran terbaru.”


Keduanya melangkah menuju etalase yang memajang bermacam-macam model cincin. Pelayan tersebut mengeluarkan lima buah rancangan terbaru mereka.


“Pilih yang kamu suka.”


Setelah berkata, Elang berjalan menuju etalase yang memajang kalung. Pelayan yang lain dengan cekatan mengeluarkan rancangan liontin terbaru. Elang melihat-lihat beberapa rancangan, lalu pilihannya jatuh pada liontin berbentuk belah ketupat dengan sebuah mata di tengahnya. Elang meminta bagian tengahnya diganti dengan berlian. Pelayan itu hanya mengangguk lalu mencatat pesanannya.


Elang kembali pada Azkia. Gadis itu masih bingung memilih cincin pernikahan mereka. Semuanya terlihat bagus dan mewah. Elang berdiri di belakang Azkia. Kedua tangannya bertumpu pada etalse dengan posisi Azkia berada di tengahnya.


“Pilih yang mana?”


Azkia terjengit karena posisi Elang begitu dekat dengannya. Elang memiringkan kepalanya, jarak keduanya begitu dekat. Bergerak sedikit saja, pipi mereka akan bersentuhan. Dada Azkia berdebar kencang, dia semakin tidak berkonsentrasi memilih. Elang lalu menunjuk sebuah cincin yang dilapisi emas putih dengan sebuah mata di tengahnya. Bagian tengah cincin hampir sama dengan kalung yang dipilihnya tadi.


“Itu bagus.”


“Iya mas, aku suka. Bentuknya simple.”


“Kita ambil yang ini ya mba. Tengahnya diganti diamond terus jangan lupa di bagian dalamnya dikasih nama.”


“Baik mas. Cincin buat laki-lakinya mau sekalian mas?”


“Ada yang bahannya titanium ngga?”


“Ada mas, sebentar.”


Pelayan itu mengeluarkan tiga buah cincin pernikahan berbahan titanium. Toko ini memang menyediakan cincin berbahan non emas. Elang melihat lihat-lihat sebentar lalu pilihannya jatuh pada cincin sederhana, dengan perpaduan warna perak dan hitam. Pelayan memberikan secarik kertas untuk menuliskan nama mereka.

__ADS_1


“Kapan selesainya? Bisa dalam tiga atau empat hari?”


“Bisa mas, tapi mungkin ada biaya tambahan.”


“Ngga masalah.”


Pelayan itu mengangguk lalu mulai membuat nota pembelian. Elang mengeluarkan black cardnya lalu menyerahkannya pada pelayan tersebut.


“Mas, kenapa matanya harus diganti diamond? Apa ngga kemahalan?”


“Aku kerja ngumpulin uang buat calon istri aku. Dan kamu calon istriku, jadi ngga ada masalah. Selagi aku mampu, apa aja aku berikan untukmu.”


BLUSH


Wajah Azkia merona mendengarnya. Hilang sudah sosok Elang yang dingin, cuek dan irit bicara. Kini Elang bertrasnformasi menjadi lelaki yang manis dan romantis. Azkia sampai kehilangan kata-kata.


Selesai membeli cincin, mereka berjalan mengelilingi mall. Kebersamaan mereka kali ini terasa istimewa karena status yang disandang saat ini, calon pengantin. Senyum tak pernah hilang dari wajah keduanya.


Lelah berjalan, mereka beristirahat di sebuah cafe sekaligus untuk makan siang. Elang dan Azkia duduk berhadapan. Mata Elang memandangi tangan Azkia. Jika tak ingat pesan sang ayah, ingin rasanya menggenggam tangan putih itu. Kemudian pandangannya beralih pada wajah cantik di depannya. Hatinya seperti meletup-letup setiap bersitatap dengannya.


“Minggu besok kamu ada kuliah?”


“Ada mas, tapi cuma dua hari.”


“Jangan mas. Takutnya mas sibuk.”


“Ngga masalah kalau cuma anter jemput kamu. Mas takut kamu hilang lagi.”


“Mas iihh..”


Elang mengulum senyum melihat ekspresi malu gadis itu. Tak lama pesanan keduanya datang. Mereka menikmati makanan sambil terus berbincang. Elang mengusap sudut bibir Azkia yang terkena saos dengan tisu. Membuat gadis itu kembali tersipu.


“Az, setelah menikah kita akan tetap tinggal di rumah orang tuaku. Ayah sudah menyiapkan lantai tiga untuk kita tempati. Tapi kalau kamu ingin tinggal terpisah, sementara kita bisa tinggal di apartemen sebelum aku membeli rumah untuk kita. Nanti aku akan bicara sama bunda.”


“Ngga usah mas. Kita ikuti aja rencana ayah sama bunda. Setelah kepergian ibu, bunda yang selalu menemani dan menyemangatiku. Kesedihanku berkurang karena kehadiran dan kasih sayang bunda. Begitu juga ayah. Ayah sangat baik, andai bapak bisa bersikap seperti ayah, aku pasti bahagia sekali.”


“Mulai sekarang ayahku adalah ayahmu, begitu juga bunda.”


“Terima kasih mas, sudah memberiku keluarga.”


“Terima kasih juga sudah menyempurnakan hidupku.”


“Mas kenapa sih dari tadi gombal mulu.”

__ADS_1


“Siapa yang gombal? Itu beneran kata hatiku.”


“Ya ampun mas.”


Azkia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sikap dan kata-kata Elang benar-benar membuatnya salah tingkah. Bahagia sudah pasti namun bercampur malu juga. Elang semakin gemas melihat tingkah calon istrinya.


Sebelum pulang, Elang mengajak Azkia membelikan pakaian untuk Hanin dan perlengkapan sekolah. Sebenarnya Azkia menolak tapi Elang yang tidak mau dibantah terus bersikeras. Akhirnya gadis itu mengalah. Lagi pula sudah lama juga dia tak membelikan baju baru untuk adiknya.


Puas menghabiskan waktu seharian dengan Azkia, Elang mengantarkan Azkia pulang ke rumah Dimas. Dia tak habis pikir sudah dikerjai habis-habisan oleh sang ayah. Tiga hari berkeliling mencari Azkia, ternyata sosok yang dicarinya tinggal tak jauh darinya. Sepertinya dia harus mengacungkan empat jempol untuk ayahnya.


Elang mendudukkan diri di sofa begitu masuk ke dalam rumah. Azkia memilih langsung ke lantai atas untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket habis berjalan-jalan hampir seharian. Dimas menghampiri Elang yang berada di ruangan tengah.


“Jalan-jalan kemana aja tadi?”


“Cuma ke mall, cari cincin pernikahan.”


“Itu bibirnya Kia masih perawan kan?”


“Ya ampun om, please deh.”


Dimas tergelak, senang sekali menjahili keponakannya ini. Sikap Elang saat acara lamaran tadi benar-benar di luar dugaannya. Membuatnya ingin terus menggodanya. Dimas mendekatkan dirinya pada Elang. Dengan suara pelan dia berkata.


“Gimana udah siap jadi suami?”


“In Syaa Allah om.”


“Udah siap belah duren?”


“Astaga.”


“Ngga usah jaim. Mau om ajarin ngga cara belah duren yang baik dan benar?” Dimas menaik turunkan alisnya. Wajah Elang memerah mendengarnya.


“Kalau mau tahu, ikut om ke ruang kerja.”


Dimas berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Beberapa detik kemudian Elang bergegas menyusulnya. Bohong kalau dia tidak penasaran dengan apa yang dikatakan Dimas barusan.


Hampir satu jam lamanya kedua pria berbeda generasi itu berbicara. Menjelang maghrib Elang memutuskan untuk pulang. Di ruang tengah dia berpapasan dengan Azkia. Melihat gadis itu otak Elang langsung berkelana, mengingat pembicaraan panas yang baru saja dilakukannya. Wajah Elang memerah, tubuhnya terasa panas, sesuatu dalam dirinya tanpa permisi langsung bangkit begitu saja.


Elang mengusap wajahnya kasar. Setelah berpamitan dia bergegas keluar dari rumah. Sejenak pemuda itu berdiam di dalam mobilnya. Merasakan hembusan air conditioner yang masih belum bisa menurunkan suhu tubuhnya. Tak berapa lama kemudian kakinya mulai menginjak pedal gas, perlahan kendaraan tersebut melaju meninggalkan kediaman Dimas.


🍁🍁🍁


**Idiih mas El udah pinter ngegombal ya sekarang. Kira² om Dim ngomong apa ya kok mas El jadi panas dingin gitu sih😂

__ADS_1


Yang pengen lihat kebucinan mas El pantengin terus ya romansa Az & El. Tapi sebelumnya jangan lupa ritualnya, like, comment and vote nya😉**


__ADS_2