
Azkia menghampiri Elang setelah mengantarkan Aslan. Anaknya itu baru saja dijemput Deski. Erik kangen ingin bermain dengan cucunya. Azkia mengambil dasi lalu menaruhnya ke leher sang suami. Dengan cepat disimpulnya dasi tersebut. Elang melingkarkan tangannya di pinggang Azkia.
“Mas.. emangnya ngga bisa bantu Yunda? Tuh anak dari kemarin galau terus. Aku beberapa kali lihat dia nangis di kamarnya.”
“Biarkan saja dulu. Salahnya sudah mengambil keputusan gegabah. Biar dia belajar dari kesalahannya dulu. Anggap saja ini proses pendewasaan untuknya.”
“Pernikahannya sebentar lagi loh, ngga kurang dari dua minggu. Tolonglah mas, aku ngga tega lihat dia sedih terus. Aku juga tahu kalau ini masalah yang rumit, melibatkan tiga keluarga juga. Tapi bukan berarti ngga ada solusinya kan?”
“Nanti mas hubungi ayah dulu. Seperti kamu bilang, ini masalah yang rumit dan melibatkan tiga keluarga. Jadi semua keputusan ada di tangan ayah.”
Azkia merapihkan dasi yang telah tersimpul rapih. Elang memandangi wajah istrinya tanpa berkedip. Rasa cintanya kian hari kian bertambah saja pada wanita yang telah memberinya seorang putra yang tampan.
“Makasih ya sayang, kamu sayang dan peduli sama Yunda.”
“Yunda itu adikmu mas, berarti dia juga adikku. Aku menyayangi Yunda sama seperti mas menyayanginya.”
Elang meraih dagu Azkia kemudian ******* bibirnya dengan lembut. Elang mengangkat tubuh Ayunda kemudian mendudukkannya di meja rias. Dia kembali memagut bibir Azkia yang tak pernah bosan untuk dicecapnya. Azkia mengalungkan tangannya ke leher sang suami kemudian membalas ciumannya.
Lama kelamaan ciuman mereka bertambah dalam dan intens. Lidah keduanya sudah saling menaut dan meililit. Tangan Elang bergerilya di tubuh istrinya, menurunkan resleting gamisnya. Azkia melepaskan bibirnya, tangannya menahan dada Elang yang ingin kembali menciumnya.
“Mas.. kan mau ke kantor.”
“Main sebentar yuk sayang. Mumpung ngga ada Aslan.”
“Bukannya mas ada rapat pagi ini?”
Elang berdecak, dia merogoh saku celana kemudian mengambil ponselnya. Dengan segera dia menghubungi nomor Farel.
“Paan?” sembur Farel.
“Bang.. rapat pagi elo aja yang handle. Gue bakal telat ke kantornya. Sibuk..”
“Sibuk serangan fajar...” sambar Farel membuat Elang tergelak. Tanpa menunggu persetujuan Farel, Elang langsung memutuskan panggilan.
“Beres..”
Azkia mengerucutkan bibirnya, suaminya ini jika sedang ingin tak bisa ditunda. Padahal tadi malam mereka sudah bermain dua ronde. Elang menggendong tubuh Azkia lalu membaringkannya ke kasur. Dengan cepat dia melucuti semua pakaiannya kemudian memposisikan dirinya di atas sang istri. Azkia pasrah saja saat Elang melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Mereka pun memulai olahraga ranjang di pagi hari.
🍁🍁🍁
Firlan sedang memanaskan mobilnya ketika melihat Reyhan juga sedang bersiap. Dia turun dari mobil kemudian berjalan menghampiri. Melihat kedatangan Firlan, Reyhan keluar dari mobilnya.
__ADS_1
“Bisa kita bicara Rey?”
Reyhan menganggukkan kepalanya. Dia mengajak Firlan berbicara di teras rumah tapi ditolaknya. Akhirnya mereka berbicara di tempat mereka berdiri sekarang. Suasana dingin seketika terasa di sekitar mereka.
“Aku langsung aja Rey. Apa kamu menyukai Yunda?”
“Ngga..”
Firlan mengernyitkan keningnya. Menatap tak percaya ke arah Reyhan. Sebagai lelaki dia tahu betul apa arti pandangan Reyhan pada Ayunda.
“Aku mencintainya, sangat mencintainya,” sambung Reyhan.
“Aku hargai kejujuranmu. Tapi kamu juga tahu kalau aku dan Yunda sudah bertunangan. Dua minggu lagi kami akan menikah. Rasanya tidak etis saja kamu mengajaknya jalan hanya berdua saja.”
“Aku minta maaf soal itu dan tidak akan mengulanginya. Tapi jangan minta aku berhenti untuk mencintainya.”
“Apa Yunda mencintaimu?”
“Aku rasa pertanyaan itu lebih tepat jika ditanyakan pada Yunda. Dia yang berhak menjawab tentang perasaannya, bukan aku.”
“Jika dia mencintaimu, apa kamu akan berusaha memilikinya?”
“Aku masih memiliki etika dan hati nurani bang. Aku ngga mungkin melamar wanita yang sudah dilamar oleh orang lain.”
Firlan mengakhiri pembicaraan kemudian berjalan menuju mobilnya. Reyhan menatap punggung Firlan dengan perasaan tak menentu. Belum pernah hubungannya sedingin dan setegang ini dengan Firlan.
🍁🍁🍁
Mie goreng yang tersaji di atas piring belum juga masuk ke dalam mulut Ayunda. Sedari tadi gadis itu hanya memutar-mutar mie dengan garpunya. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara lift berdenting. Dari dalam lift keluar Elang dengan setelan kerjanya dan rambut yang masih basah. Ayunda berdecih melihatnya, pasti kakaknya itu baru saja melakukan serangan fajar.
Elang melintasi ruang makan lalu melihat Ayunda yang duduk sendirian di sana. Awalnya dia ingin langsung pergi, namun diurungkannya. Elang melangkah mendekati meja makan lalu menarik kursi di samping Ayunda. Membuat gadis itu menjengit dengan kehadiran Elang yang tiba-tiba.
“Kenapa ngga dimakan?”
“Ngga ***** makan.”
“Lagi bingung mikirin Ilan sama Rey?”
Tak ada jawaban dari Ayunda, dia masih asik memutar-mutar garpunya di atas piring. Elang menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya melihat ke arah sang adik dengan kedua tangan dilipat di dada.
“Cepat ambil keputusan Yun. Sikap kamu yang seperti ini sudah menyakiti dua orang laki-laki yang mencintaimu. Tentukan pilihanmu secepatnya, pernikahanmu sebentar lagi. Jangan sampai kamu menyesal selamanya.”
__ADS_1
“Tapi aku takut kak. Aku takut ayah, bunda marah. Aku takut papi dan mami kecewa. Aku juga takut bang Ilan terluka.”
“Itu resiko yang harus kamu hadapi. Ini dampak dari keputusanmu yang gegabah. Mulailah bersikap dewasa Yun, jangan selalu bergantung dan bersembunyi dibalik ayah. Kamu harus berani bertanggung jawab dengan keputusan yang kamu ambil. Pilihanmu kini hanya dua, membatalkan atau meneruskan. Pikirkan baik-baik, mana dari dua pilihan itu yang resiko dan dampaknya bisa kamu tolerir. Ini hidupmu, pahit, manis, asin, getir, kamu yang akan menjalaninya. Mas hanya bisa mendukung dan mendoakanmu.”
Elang bangun dari duduknya, sebelum pergi, dikecupnya puncak kepala sang adik kemudian melangkah keluar rumah. Airmata Ayunda mengalir sepeninggal Elang. Semua yang dikatakan sang kakak benar adanya. Dirinyalah yang harus memberi keputusan, apakah terus melangkah maju bersama Firlan atau berhenti dan meraih Reyhan.
🍁🍁🍁
Ayunda memandangi gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Dia kini sudah berada di depan gedung Gala Corp. Setelah dipikirkan matang-matang, Ayunda berencana berbicara dengan Firlan. Tekadnya sudah bulat untuk membatalkan pernikahan, apapun resikonya. Dia akan menerima cacian atau hujatan yang datang padanya.
Kedatangan Ayunda disambut oleh Amalia. Berhubung Firlan masih menerima tamu, Ayunda diminta menunggu lebih dulu. Sambil menunggu, Ayunda mencoba merangkai kata dalam kepalanya. Mencoba mencari kata yang tidak terlalu menyakitkan bagi Firlan, walaupun mustahil rasanya.
Tak terasa sudah setengah jam lamanya Ayunda menunggu. Akhirnya urusan Firlan dengan tamunya selesai. Amelia mendatangi Ayunda kemudian mengantarkan gadis itu sampai di depan pintu. dada Ayunda berdebar kencang, berulang kali dia menarik nafas panjang untuk menormalkan detak jantungnya. Setelah sedikit tenang, Ayunda mendorong pintu besar itu.
Kedatangan Ayunda disambut Firlan dengan senyuman lebar. Dia menghampiri Ayunda kemudian membimbing calon istrinya itu duduk di sofa. Firlan mendudukkan bokongnya di samping Ayunda. Jujur saja, dia terkejut melihat kedatangan Ayunda tanpa pemberitahuan.
“Tumben ngga kasih kabar dulu mau ke sini.”
“Maaf bang, aku ganggu ya?”
“Ngga, aku malah senang kamu ke sini. Aku jadi tambah semangat kerja.”
Ayunda tersenyum hambar, hatinya jadi sedikit ragu. Namun buru-buru dia menguatkan dirinya. Terngiang kembali kata-kata Elang tadi pagi. Mau tidak mau, siap tidak siap, dia harus mengambil keputusan.
“Bang.. ada yang mau Yunda obrolin.”
DEG
Dada Firlan berdebar kencang, kegelisahan dan ketakutan seketika menyergapnya. Melihat wajah Ayunda yang juga tegang, dia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan gadis itu.
“Soal apa?” Firlan mencoba berkata setenang mungkin.
“Soal...”
🍁🍁🍁
**Soal matematika bang Ilan, susah beud😂
Haiyyya digantung.. ibarat makanan baru sampe tenggorokan🤭
Ditunggu like, comment and vote nya. Mamake mau istirohat dulu sambil cari Ilham, dari kemarin ngga ketemu, ngumpet di mana ya😎
__ADS_1
Mamake lagi kangen mas El😘**