
Pintu kamar Firly terbuka, Alea masuk ke dalam kamar lalu duduk di sisi ranjang memperhatikan anaknya yang sedang menyisir rambutnya. Wajah Firly lebih dominan mirip Ega, kulit putih, rambut panjang sebahu dengan ciri khas tahi lalat di bagian atas bibirnya. Merasa diperhatikan sang mami, Firly membalikkan tubuhnya.
“Ada apa mi?”
“Ngga apa-apa. Mami baru sadar, kamu sudah besar sekarang. Perasaan baru kemarin mami melahirkan kamu.”
Firly bangun kemudian berpindah duduk di samping maminya. Alea merangkul pundak Firly, tinggi gadis itu sudah hampir menyamai dirinya.
“Ly, siang ini kamu makan bareng Radja ya. Mami sudah booking tempat di Fifth Avenue.”
“Iya mi.”
“Dandan yang cantik. Kalau kalian sudah saling mengenal dan cocok satu sama lain, gimana kalau kalian tunangan?”
“Terserah mami aja. Ily ikut semua keputusan mami.”
Rona bahagia terpancar di wajah Alea. Dengan senang hati dia memeluk Firly. Tanpa disadari jauh di lubuk hatinya Firly menangis tersedu. Alea mencium kening Firly lalu beranjak pergi. Dia hendak mengabarkan pada Radja kalau Firly bersedia makan siang dengannya.
Azriel yang sedari tadi menguping pembicaraan langsung menerobos masuk ke kamar Firly begitu maminya pergi. Tak lama Firlan menyusul di belakangnya.
“Kak, lo beneran mau tunangan ama si Radja Setan itu?”
“Itu kan kemauan mami.”
“Ya tapi kan ngga harus lo turutin juga. Dia bukan cowok baik-baik. Tuh kata bang Ilan, bang Gara denger sendiri kalau lo dijadiin bahan taruhan sama dia and temen-temennya.”
“Iya Ly. Dia taruhan bisa ngga dapetin elo sebelum kalian tunangan. Lo tau kan maksud kata 'dapetin elo'. Kalau emang lo mau ketemu dia, biar gue temenin.”
“Ngga usah Lan. Lo lupa siapa gue? Gue ngga semudah itu bisa dikalahkan sama dia. Lagian ayah Irzal kan udah cukup kasih gue bekel ilmu bela diri. Tenang aja, I’ll be okay.”
Walau berat namun Firlan memilih untuk mengalah. Dia tahu betul kalau saudara kembarnya itu keras kepala. Tapi tetap saja nasehat panjang lebar keluar dari mulutnya dan Firly hanya manggut-manggut saja seperti burung pelatuk.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Regan beserta Ridho memasuki Fifth Avenue restoran. Mereka ada janji temu dengan salah satu klien penting. Seorang pelayan segera mengantar mereka menuju VIP room yang telah dipesan sebelumnya. Keduanya memilih menunggu klien di dalam ruangan.
“Dho, gimana Kaisar?”
“Alhamdulillah mas, sekolahnya sejauh ini lancar.”
“Syukurlah, kamu harus mempersiapkannya untuk mengelola perusahaan nantinya. Kamu tahu sendiri kan, Rey sama sekali tidak berminat pada perusahaan.”
“Iya mas, In Syaa Allah aku akan mengarahkannya.”
“Bagaimana keadaan Karin?”
“Alhamdulillah Karin baik mas. Tapi dia dibuat pusing sama tingkah Anjana. Karakter mereka tuh sama banget, jadi kalau lagi bareng udah kaya anjing sama kucing.”
Regan terkekeh. Karin, adik sepupunya menikah dengan Ridho, asisten yang setia mendampingi dan membantunya memantau perusahaan. Mereka dikaruniai anak laki-laki dan perempuan. Pembicaraan mereka terhenti ketika pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang pria paruh baya beserta seorang perempuan muda yang diyakini sebagai sekretaris pria tersebut.
Regan dan Ridho berdiri menyambut kedatangannya. Mereka saling berjabat tangan. Regan mempersilahkan keduanya untuk duduk. Tanpa menunggu lama, Ridho langsung memulai pertemuan mereka. Mr. Lim, pria berkebangsaan Singapura itu bersedia untuk investasi pada proyek rumah sakit yang akan dibangun oleh Rakan Putra Group dengan catatan bertemu langsung dengan dokter Regan selaku pemegang saham terbesar.
Sementara itu di bagian bawah restoran, Firly dan Radja baru saja datang. Setelah menyebutkan nama mereka, seorang pelayan mengantarnya menuju ruangan yang sudah dipesan oleh Alea. Ruangan mereka bersebelahan dengan ruangan yang digunakan Regan.
Pintu ruangan terketuk, tak lama masuk pelayan membawakan makanan dan minuman. Setelah semua hidangan tersedia, sang pelayan beranjak pergi. Radja melirik pada gelas berisi strawberry smoothies milik Firly. Dia tersenyum smirk mengingat di dalam minuman tersebut sudah dicampurkan bubuk obat tidur dosis tinggi. Radja berhasil menyuap salah satu pelayan untuk melancarkan aksinya. Dalam hatinya dia sudah bertekad mendapatkan Firly apapun caranya.
“Ini minuman favorit kamu kan Ly. Ayo aku pesen khusus untuk kamu.”
“Nanti aja,” Firly mengambil gelas berisi air putih kemudian meneguknya. Lalu tangannya mulai memotong-motong daging steak yang tersaji di atas hot plate.
Radja melakukan hal yang sama. Keduanya mulai menikmati makanan dengan tenang. Beberapa kali Radja meminta Firly mencicipi minumannya membuat Firly curiga dengan sikap Radja. Selesai makan Firly kembali meneguk air putih. Radja nampak kesal Firly belum menyentuh strawberry smoothiesnya sama sekali. Dia mengambil gelas itu lalu menyodorkannya pada Firly.
“Minum Ly, sayang kalau ngga diminum udah dipesen.”
Firly menerima gelas tersebut, namun dia sengaja melakukan gerakan agar gelas itu terjatuh. Radja segera berdiri ketika jus tersebut tumpah dan sedikit mengenai celananya.
“Aduh maaf Dja, ngga sengaja.”
__ADS_1
“Lo ternyata ngga bisa dihalusin ya Ly.”
Dengan kesal Radja merangsek maju menuju Firly. Kesabarannya sudah habis, bagaimana pun caranya dia harus mendapatkan Firly kali ini. Dia juga tak mau kehilangan muka di hadapan teman-temannya kalau sampai kalah taruhan. Radja mendorong tubuh Firly hingga terjerembab di atas sofa. Dengan cepat dia menindih tubuh Firly.
Firly mencoba melawan ketika Radja mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Firly. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Firly hanya melakukan gerakan-gerakan yang membuat gaduh ruangan. Sekretaris Mr. Lim yang baru saja kembali dari toilet tanpa sengaja mendengar kegaduhan itu. Dia mencoba membuka pintu, tapi ternyata terkunci. Sialnya tak ada satu pelayan pun di lantai dua itu. sang sekretaris kembali ke ruangannya.
“Maaf, sepertinya ada keributan di ruang sebelah. Apa tidak sebaiknya kita mengecek?”
Regan dan Ridho segera berdiri kemudian menghambur keluar. Benar saja terdengar suara barang-barang jatuh dan umpatan Radja. Ridho mencoba mendobrak pintu ruangan yang terkunci. Setelah tiga kali percobaan, akhirnya pintu berhasil terbuka.
Regan terkejut melihat tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh Radja. Dan yang lebih mengejutkannya, ternyata orang yang menjadi korban adalah Firly. Dengan cepat Regan menarik kerah kemeja Radja lalu menghajar pemuda itu. Radja jatuh tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Regan membuka jasnya kemudian memakaikannya pada Firly. Gaun yang dikenakan itu sudah sobek di beberapa bagian.
“Ily, kamu ngga apa-apa nak?”
“Iya pa.”
“Ridho, segera urus anak itu!”
“Baik mas.”
Ridho segera meringkus Radja kemudian membawanya keluar. Regan membopong tubuh Firly keluar ruangan. Dia berhenti sebentar di dekat Mr. Lim.
“Mr. Lim maaf, pembicaraan kita lanjut nanti. Saya harus membawa keponakan saya pulang.”
“Silahkan pak Regan.”
Regan bergegas menuruni tangga. Beberapa anak buah Ridho yang memang ditugaskan berjaga di seputar restoran langsung menyisir area restoran. Mereka bergerak cepat mencari barang bukti. Regan mendudukkan Firly di kursi penumpang bagian belakang, lalu ikut naik dan duduk di sampingnya. Supir yang mengantarnya segera menjalankan kendaraan sesuai instruksi Regan.
🍁🍁🍁
**Yang kangen sama papa Regan sudah terobati belum kerinduannya? Walaupun udah tua, papa Regan masih tetap gagah dan ganteng kok, dalam bayangan mamake😁
Jangan lupa loh ritualnya sehabis baca, like, comment and vote nya kalau masih tersisa ya.
__ADS_1
Happy Tuesday😘😘😘**