Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : REGAN & SARAH Pamit


__ADS_3

Di penghujung bulan September, Regan mengumpulkan semua keluarga besar Ramadhan di kediaman. Selain untuk menyambung tali silaturahmi, juga untuk merayakan ulang tahun Aqeel, anak kedua Reyhan dan Ayunda. Cucu laki-lakinya itu genap berusia satu tahun seminggu yang lalu. Regan bahkan meminta Ridho, Bayu juga Pandu untuk datang.


Beraneka hidangan tersedia di meja. Sarah, Dimas dan Hanin bekerja sama membuat hidangan lezat untuk semua yang hadir. Sedangkan untuk kue ulang tahun menjadi bagian Poppy yang dibantu oleh Ayunda.


Suasana ramai langsung tercipta ketika sahabat Reyhan datang dengan membawa anak-anak mereka. Yoshi, Khayra dan Ara ditugaskan untuk mengawasi anak-anak yang bermain di halaman belakang. Semua asik menikmati pertemuan keluarga ini. Pembicaraan terbagi menjadi beberapa kelompok. Gelak tawa kerap terdengar dari arah para papa muda yang berkumpul di teras rumah.


Para mama muda berkumpul di ruang tengah. mereka asik berbincang, menceritakan kehidupan rumah tangga mereka. Terkadang juga mereka membahas drama favorit yang tengah tayang. Baby Ghea tidur tenang dalam gendongan Firly. Semakin hari gurat kecantikan anak bungsu Dimas dan Firly itu semakin terlihat saja. Begitu juga Rain, anak ketiganya Raisya, sudah terlelap setelah kenyang menyusu. Rain dan Akhtar memiliki tiga anak perempuan, Nanaz, Shaina dan Raisya.


Sementara itu, para orang tua memilih bercengkerama di halaman belakang sambil melihat cucu-cucu mereka bermain. Ega memandang sendu ke arah sahabat yang sudah dianggap kakaknya itu datang bersama dengan pasangannya masing-masing. Sedang Alea sudah meninggalkannya lima bulan yang lalu.


“Gimana denganmu Ga? Jangan berlarut dalam kesedihan terlalu lama. Alea pasti tidak senang melihatmu seperti ini.”


“Alhamdulillah mas aku baik. In Syaa Allah aku sudah bisa mengikhlaskannya.”


“Syukurlah. Tujuanku mengumpulkan kalian di sini karena aku kangen dengan kebersamaan kita. Seiring bertambahnya usia, kita jarang berkumpul seperti ini. Kita sibuk dengan cucu-cucu kita.”


“Iya mas. Main bersama cucu itu momen yang paling membahagiakan,” sahut Bayu.


Percakapan terhenti sejenak ketika melihat Gibran menangis karena terjatuh ketika berlari. Ara mendekati adiknya untuk menenangkannya, namun anak itu tak berhenti menangis. Poppy datang lalu menggendongnya, membawanya ke gazeebo, tempat di mana Sarah, Debby, Kalila, Ana, Venita dan Karin berada. Mereka berbincang banyak hal, termasuk mengenang Alea. Mereka cukup sedih karena Alea telah lebih dulu pergi.


Ega memandang ke arah sekumpulan para istri yang duduk di gazeebo. Berharap bisa menemukan sosok istrinya di sana. Regan yang menyadari arah pandangan Ega, segera menepuk bahunya untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya.


“Aku minta maaf ya Bay, kalau selalu merepotkanmu mengurus perusahaan. Begitu juga kamu Pan. Aku bersyukur Aksa mau bergabung di perusahaan untuk membantu Kaisar.”


“Ngga usah sungkan gitu mas.”


“Aku titip Rey. Dia masih minim pengalaman mengurus perusahaan. Ditambah kesibukannya di rumah sakit. Pasti sulit buatnya membagi waktu. Tolong arahkan dia.”


“Iya mas.”


“Aku juga minta maaf sama kalian semua jika ada perkataan atau sikapku yang menyakiti kalian baik sengaja atau tidak. Aku begitu beruntung bisa mengenal kalian semua dan hidup berdampingan layaknya keluarga. Tanpa kalian semua, aku bukanlah apa-apa. Maaf jika aku belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kalian. ”


Regan menarik nafasnya sejenak. Sekilas dia melihat ke arah Sarah yang sedang asik bercengkerama. Lalu pandangannya teralih pada Shaina dan Rakan yang sedang bermain di atas rumput sintetis dengan yang lain.


“Aku titip istri, anak dan cucuku seandainya aku lebih dulu pergi meninggalkan kalian. Aku dipercaya ummi untuk menjaga kalian semua. Jika aku pergi, aku harap kamu bisa menggantikanku, Zal.”


Regan menepuk pelan pundak sahabat yang sudah dianggapnya adik sendiri. Semua terdiam mendengar penuturan Regan. Pria itu seakan sedang mengucapkan salam perpisahan. Ega yang baru saja ditinggal istri tercinta menjadi takut kalau kakak yang disayanginya juga akan pergi meninggalkannya. Tanpa sadar dia menangis, Adit merangkul bahu Ega berusaha menenangkannya.


🍁🍁🍁


Selesai acara tadi siang Regan meminta Rain dan Akhtar menginap. Dia ingin berkumpul dengan semua anak dan cucunya. Dengan senang hati Rain memenuhi permintaan sang papa. Dia juga sudah cukup lama tak menginap di rumah yang penuh kenangan dirinya semasa kecil.


Regan keluar dari kamar lalu mengetuk kamar tamu yang ditempati Rain, Akhtar dan baby Raisya. Rain membukakan pintu dengan Raisya berada dalam gendongannya.


“Ais belum tidur?”


“Belum nih pa. Ngga tahu tumben banget.”


Regan mengambil Raisya dari gendongan Rain. Ditimang-timangnya sang cucu yang baru berusia enam bulan. Tak butuh waktu lama, Raisya langsung tertidur dalam gendongan sang kakek. Regan masuk ke kamar lalu menidurkan Raisya di dalam box. Dia lalu duduk di sisi ranjang. Kedua tangannya menepuk sisi ranjang yang kosong, meminta anak dan menantunya duduk di sisinya.

__ADS_1


“Ada apa pa?” Rain menggelayut manja di lengan Regan. Walaupun sudah memiliki anak tiga, namun sifat manjanya pada Regan tak pernah hilang.


“Ngga ada apa-apa. Papa hanya ingin bersama kalian sebentar.”


Regan merangkul Rain dan Akhtar yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Dia mencium puncak kepala anak dan menantunya bergantian.


“Terima kasih sudah memberi papa tiga orang cucu yang cantik. Papa doakan Nanaz, Sha dan Ais tumbuh menjadi anak yang solehah, pintar dan menyayangi kedua orang tuanya.”


“Aamiin.. sayang kakek dan neneknya juga dong,” sahut Rain.


“Papa minta maaf padamu juga Akhtar kalau selama ini belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian. Papa doakan kalian terus bersama, saling mencintai, saling melengkapi sampai ajal menjemput. Akhtar, papa titip Rain padamu. Papa juga titip mama pada kalian berdua. Jangan biarkan dia kesepian.”


“Papa emang mau kemana?”


Rain mendongak ke arah Regan. Hatinya mendadak gelisah mendengar ucapan sang papa yang seakan hendak pergi jauh. Akhtar hanya terdiam, sejak siang tadi Regan memang bertingkah aneh.


“Papa ngga kemana-mana sayang. Papa cuma mau istirahat aja.”


Papa mengusap puncak kepala Rain lalu berdiri dan beranjak meninggalkan anak perempuannya itu. Rain langsung memeluk Akhtar, mendadak dia takut kalau Regan akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Regan melangkah ke lantai dua lalu memasuki kamar yang biasa digunakan untuk kamar tamu. Kamar ini digunakan oleh Shaina dan Nanaz untuk tidur. Nampak kedua cucu perempuannya itu sudah terlelap. Regan duduk di sisi ranjang. Cukup lama dia memandangi Nanaz dan Shaina. Lalu tangannya bergerak mengusap puncak kepala anak itu.


“Jadilah anak-anak yang baik. Anak-anak yang berhati lembut dan dipenuhi rasa kasih dan sayang. Kakek titip mamamu. Peluk dan hibur mama kalian kalau dia menangis karena kakek tidak akan bisa memeluknya lagi.”


Regan mengusap sudut matanya yang berair. Dia bangun kemudian mendaratkan ciuman di kening Nanaz serta Shaina. Dengan gerakan pelan, ditutupnya pintu kamar. Langkahnya kemudian berlanjut ke kamar sebelah. Kamar yang dulu ditempati Rain kini sudah disulap menjadi kamar Rakan.


“Rakan kenapa belum tidur?”


“Lagi nunggu mama bacain cerita. Tapi dede Aqeel nangis terus, jadi belum bisa ke sini.”


“Mau kakek yang bacakan cerita?”


Anak itu mengangguk. Regan mengambil remote televisi kemudian mematikannya. Dia kemudian mengambil salah satu buku cerita yang ada di nakas. Rakan menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk sang kakek duduk di sampingnya. Regan mulai membacakan kisah Nabi Daud pada Rakan.


Baru berjalan setengah, Rakan sudah tertidur. Regan sedikit menggeser kepala Rakan, membetulkan posisi tidur anak itu. Diusapnya puncak kepala Rakan yang disusul ciuman di keningnya.


“Maafkan kakek tidak bisa menemanimu bermain dan membacakan cerita lagi. Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang hebat seperti papamu.”


Regan menyalakan lampu tidur kemudian mematikan lampu utama. Ditutupnya pintu kamar dengan gerakan pelan agar tak membangunkan cucunya. Regan melangkah ke kamar Reyhan. Diketuknya pintu kamar beberapa kali. Suara tangis Aqeel langsung terdengar ketika pintu terbuka.


“Aqeel kenapa?”


“Ngga tau pa, dari tadi rewel terus.”


“Sini coba papa gendong.”


Ayunda menyerahkan Aqeel pada Regan. Ajaib, tak butuh waktu lama anak itu langsung diam. Ayunda juga Reyhan bernafas lega melihat anaknya mulai tenang.


“Aku mau lihat Rakan dulu.”

__ADS_1


“Rakan sudah tidur Rey. Tadi papa yang bacakan cerita untuknya.”


“Oh..”


Reyhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil nyengir. Tak enak hati sudah merepotkan sang papa. Aqeel yang terus menangis membuatnya tak bisa meninggalkan Ayunda sendirian di kamar.


“Pa.. sini pa, duduk di sini.”


Ayunda menepuk sisi ranjang di sebelahnya. Regan menurut, dia duduk di samping menantunya itu. Ayunda naik ke kasur lalu berdiri dengan lututnya di belakang Regan. Dia mulai memijat bahu mertuanya itu.


“Karena papa udah bantuin baca cerita buat Rakan. Aku kasih pijatan istimewa buat papa.”


“Hmm.. pijatan kamu emang enak. Sayang papa sudah ngga bisa merasakan pijatan kamu nantinya.”


“Ish papa emangnya mau kemana? Lagian aku juga ngga kemana-mana. Papa boleh minta pijat kapan aja. Aku selalu available buat papa.”


Regan tersenyum. Momen bersama menantu bungsunya ini akan menjadi kenangan indah untuknya. Dia bersyukur Reyhan mendapatkan istri sebaik Ayunda. Anak sahabat sekaligus adiknya.


“Kalian harus terus bersama. Jika ada masalah yang menimpa kalian, teruslah berpegangan tangan. Jangan lepaskan apapun yang terjadi. Didiklah anak kalian dengan baik, papa yakin kalian bisa menjadi orang tua yang baik.”


“Aamiin..”


“Rey.. papa titip mama dan kakakmu. Setelah papa ngga ada, kamu yang bertanggung jawab pada mereka. Walaupun ada Akhtar, kamu harus tetap menjaga kakakmu.”


“Papa ngomong apa sih? Aku takut tahu..”


Ayunda menghentikan pijatannya lalu memeluk leher Regan. Pria itu terkekeh pelan, menantunya ini memang manja padanya. Reyhan terdiam merenungi ucapan sang papa. Entah mengapa dia merasa Regan tengah mengucapkan kalimat perpisahan.


“Makasih buat pijatannya Yun. Papa menyayangimu.”


Regan berbalik menghadap Ayunda, mengusap puncak kepala menantunya itu lalu mencium keningnya. Setelah itu Regan berdiri kemudian memeluk Reyhan erat. Beberapa kali ditepuknya punggung sang anak. Regan mengurai pelukannya, memegang rahang Reyhan dengan kedua tangannya.


“Papa bangga padamu. Jagalah anak dan istrimu. Jadilah ayah yang membanggakan untuk anak-anakmu. Maafkan papa yang tidak sempurna ini.”


“Pa..”


“Papa sangat menyayangimu. Terima kasih sudah menghidupkan lagi Rakan untuk kami. Papa doakan kamu dan keluargamu akan selalu berbahagia.”


Regan tersenyum ke arah anak bungsunya. Reyhan mulai dirasuki kecemasan melihat sikap sang papa. Regan melangkah keluar kamar, meninggalkan Reyhan dengan sejuta tanda tanya dan keresahan dalam hatinya.


🍁🍁🍁


**Huaaaa.. mamake mewek lagi nulis part ini😭


Mata mamake perih bukan kelamaan manteng depan laptop tapi sedih ngetik part perpisahan ditambah hidung ngga berhenti meler🤭


Untung paksu ngga ada, kebayang kalau ada bakal diledekin abis²an, nulis novel aja mewek😂


Udah ya, tinggalin jejaknya jangan lupa. Lap dapur udah abis, masa pake lap pel sih🤔**

__ADS_1


__ADS_2