
Semenjak mendengar hasil pemeriksaannya Akhtar seperti kehilangan gairah hidup. Dia lebih banyak diam, menenggelamkan diri pada pekerjaan. Dua minggu dengan kondisi yang sama membuat Rain kehilangan sosok suaminya yang ceria, yang selalu mengeluarkan gombalan recehnya saat berdua.
Rain menghela nafasnya beberapa kali, mencoba menetralkan perasaannya yang kacau. Dibukanya laci nakas lalu mengambil pembalut dari dalamnya. Di saat yang bersamaan Akhtar memasuki kamar. Matanya menatap benda yang berada di tangan istrinya. Hatinya teriris melihatnya. Dia semakin meyakini kebenaran akan kemandulannya. Setelah sekian banyak percintaan mereka, Rain masih belum hamil.
Akhtar membaringkan tubuhnya di kasur begitu Rain masuk ke kamar mandi. Matanya menatap langit-langit kamar tanpa berkedip, entah apa yang dicarinya di sana. Disugarnya rambut hitamnya dengan kasar. Helaan nafas beratnya kembali terdengar. Akhtar langsung memejamkan mata ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Rain duduk di depan meja rias menatap tubuh suaminya dari pantulan cermin. Dia berdiri lalu berjalan menuju ranjang. Akhtar segera membalikkan tubuhnya membelakangi Rain yang sudah berbaring di sampingnya. Sejenak Rain memandangi punggung suaminya, lalu dia pun melakukan hal sama. Keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi.
Jarak di antara Akhtar dan Rain semakin melebar. Akhtar seperti sengaja menjaga jarak dari istrinya. Bukan tanpa alasan dirinya melakukan hal tersebut. Perasaan sedih, kecewa dan rendah diri begitu menderanya. Dia merasa tak layak menjadi suami Rain, wanita yang begitu sempurna di matanya.
Rain yang merasa hubungan keduanya tidak seharmonis dulu mulai mencari cara. Dia bahkan mendatangi dosen temannya yang seorang psikolog untuk meminta pendapatnya. Hampir setiap hari Rain menyempatkan diri untuk berkonsultasi. Lewat hasil konsultasinya Rain berusaha mencairkan suasana beku antara dirinya dengan Akhtar.
Seminggu berlalu, Rain sudah sampai lebih dulu di apartemen. Dia kini berkutat di dapur membuatkan makanan favorit sang suami. Selesai dengan masakannya, Rain bergegas membersihkan diri. Dia merias wajahnya secantik mungkin, tak lupa mengenakan camisole dress yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Terakhir menyemprotkan parfum yang sangat disukai suaminya.
Akhtar memasuki apartemen dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa lelah karena seharian berkeliling meninjau lokasi proyek. Rain keluar dari kamar lalu segera menyambutnya. Diciumnya punggung tangan sang suami kemudian memeluk lengannya menuju kamar mereka.
Akhtar meneguk salivanya beberapa kali melihat penampilan sang istri yang begitu seksi. Ditambah dengan aroma parfum yang sangat disukainya. Rain membantu Akhtar membuka pakaiannya. Seperti terhipnotis, lelaki itu hanya diam saja menikmati semua pelayanan Rain. Setelah semua pakaiannya dilucuti, Rain membawa Akhtar ke kamar mandi. Bath tub telah diisi oleh air hangat dan diberi tetesan aroma therapy.
“Mas mandi dulu ya. Aku mau siapin makan malam. Tapi jangan lama-lama nanti masuk angin.”
CUP
Rain mencium pipi Akhtar lalu keluar meninggalkan Akhtar yang masih diam termangu. Hatinya menghangat mendapat perlakuan yang begitu manis dari sang istri. Setengah jam kemudian Akhtar selesai dengan ritual mandinya. Rain sudah menunggunya untuk shalat isya berjamaah. Akhtar pun segera memimpin jalannya shalat.
Saat makan malam Akhtar kembali dibuat terpana karena menu yang tersaji adalah makanan favoritnya. Mereka makan dengan Rain yang terus mengoceh menceritakan kegiatannya hari ini. Akhtar ikut terpancing, dia pun menceritakan apa yang dilaluinya hari ini.
Seperti biasa sehabis makan malam Akhtar selalu menyibukkan dirinya di ruang kerja. Rain masuk membawakan air lemon yang diberi irisan jahe dan madu. Dia menghampiri Akhtar yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Mas diminum dulu mumpung masih anget.”
Akhtar membuka kacamatanya kemudian mengambil cangkir dari tangan Rain lalu menyesap isinya sampai habis. Ada rasa hangat menjalari tubuhnya. Rain meletakkan cangkir di atas meja lalu dia mendekati Akhtar, memperhatikan apa yang sedang dikerjakan suaminya.
Rain berdiri di belakang Akhtar. Perlahan dia mulai memijat bahu suaminya. Akhtar memejamkan matanya, menikmati pijatan sang istri. Lehernya yang terasa kaku menjadi sedikit rileks. Rain mengalungkan tangannya di leher Akhtar dari belakang kemudian mendaratkan ciuman di rahang suaminya.
“I miss you,” bisik Rain di telinga Akhtar dengan suara yang sangat lembut. Hangat nafasnya terasa di kulit, membuat Akhtar meremang.
__ADS_1
Rain melepaskan pelukannya, berjalan ke arah depan lalu menjatuhkan diri di pangkuan suaminya dengan posisi mengangkang. Tangannya membelai rambut hitam nan tebal dengan jari-jarinya. Akhtar memandangi tubuh Rain yang terlihat menggiurkan dalam balutan baju yang begitu seksi. Punggungnya bahkan terekspos bebas.
Tangan Akhtar meraba punggung polos itu. Rain seperti tersengat aliran listrik. Beberapa minggu tidak merasakan sentuhan sang suami membuat tubuhnya langsung bereaksi. Tangan Akhtar terus bergerak ke arah depan hingga menyentuh bukit kembarnya. Kemudian bibir Akhtar mulai menelusuri telinga, leher hingga berakhir di bahu. Menciuminya tanpa henti. Tak bisa dia pungkiri kalau merindukan kebersamaan dengan Rain.
Jari-jari Rain bergerak membuka kancing piyama Akhtar sampai terbuka semua. Dirabanya dada bidang yang sangat dirindukannya. Akhtar membuka tali baju yang terikat di belakang leher Rain. Seketika pakaian itu luruh ke bawah memperlihatkan bukit kembar yang tidak terbungkus apapun. Dia memberikan kecupan-kecupan pelan di sana, merematnya dengan gerakan lembut. Rain semakin terbuai dengan sentuhan suaminya.
Akhtar bangun lalu menggendong Rain. Dibaringkannya tubuh itu di atas sofa. Sejenak mereka saling menatap satu sama lain. Akhtar membenamkan bibirnya ke bibir ranum Rain. ******* dan pagutan langsung terjadi. Rain mengalungkan tangannya ke leher Akhtar, membuat pria itu mengubah posisinya menjadi berbaring di atas Rain.
Puas bercumbu, Akhtar melepas semua pakaian mereka berdua. Malam ini dia akan menuntaskan hasrat yang ditahannya selama ini. Ruang kerja beserta isinya menjadi saksi betapa panasnya percintaan mereka. Saling memuaskan satu sama lain, terdengar desahan serta deru nafas mereka yang saling bersahutan.
Setelah dirinya mencapai pelepasan, Akhtar menggendong Rain tanpa melepas tautannya. Dia berjalan menuju kamarnya, bibirnya terus ******* bibir sang istri. Sesampainya di kamar, Akhtar duduk di sisi ranjang. Mereka melanjutkan pergulatan mereka dengan posisi duduk.
Tanpa terasa waktu sudah masuk tengah malam ketika kedua pasangan itu selesai dengan kegiatannya. Rain merebahkan kepalanya di dada Akhtar. Walaupun tubuhnya lelah tapi dia sungguh bahagia.
“Mas, ada apa dengan kita akhir-akhir ini? Kenapa aku merasa hubungan kita semakin menjauh?”
“Maaf sayang. Mas hanya merasa tidak percaya diri dengan kondisi mas.”
“Mas, dokter itu bukan Tuhan. Belum tentu semua yang dikatakannya benar. Aku ngga mau masalah ini membuat kita saling menjauh. Bukankah lebih baik kalau kita mengatasinya bersama?”
“Terlepas dari masalah itu, bagiku kamu adalah suami yang sempurna. Aku mohon mas, jangan seperti ini lagi. Kita hadapi semuanya bersama.”
“Iya, maafkan mas sayang,” Akhtar mengecup puncak kepala Rain.
“Kamu cape ngga? Lagi ya sayang.”
Rain tak menjawab, dia langsung naik ke tubuh suaminya. Menciumi leher dan dada Akhtar, membuat pria itu kembali terpancing. Dalam hitungan detik cumbuan panas kembali terjadi di antara mereka.
🍁🍁🍁
Hubungan Rain dan Akhtar sudah kembali seperti semula. Walau tak dipungkiri kesedihan masih menggelayuti hati Akhtar, namun sebisa mungkin dia berpikiran positif. Ditambah sikap Rain yang semakin hari semakin membuatnya tergila-gila.
Diam-diam Akhtar melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit lain. Jauh di dalam lubuk hatinya berharap ada kesalahan pada pemeriksaan pertama. Tapi lagi-lagi Akhtar harus menelan pil pahit. Ternyata hasil pemeriksaan tetap sama. Dia dinyatakan mandul.
Akhtar terdiam di atas kursi kerjanya. Walaupun jam kerja telah usai dan semua pekerjaannya telah tuntas, dia masih enggan untuk pulang. Dipandanginya foto Rain yang terpampang di layar ponselnya. Beberapa kali terdengar helaan nafasnya. Dirinya merasa begitu rendah diri tak dapat memberikan keturunan pada sang istri.
__ADS_1
Hasil konsultasi dengan dokter pun tidak membuahkan hasil. Kondisi s**r*anya memang tak memungkinkan dirinya membuahi sang istri. Akhtar meremat rambutnya dengan kasar, rasa frustrasi benar-benar menderanya. Bayangan menakutkan mulai bermunculan di kepalanya. Ketakutan Rain akan meninggalkannya begitu mendominasi. Walaupun Akhtar mencoba tetap berpikir positif tapi bayangan buruk tetap menderanya.
Lamunannya terhenti ketika ponselnya berdering. Tertera nama My Lovely Wife di layar ponsel. Akhtar menggeser tombol hijau, suara Rain langsung terdengar dari sebrang sana. Setelah berbincang sebentar dengan Rain segera membereskan berkas yang berserakan di atas meja. Dia bersiap-siap untuk pulang karena Rain menanyakan keberadaannya.
Butuh 25 menit bagi Akhtar sampai di apartemennya. Rain terlihat sedang menata makanan di meja. Akhtar mendekat lalu memeluknya dari belakang. Disibakkan rambut yang menutupi leher istrinya lalu memberikan kecupan di sana. Rain memegangi tangan Akhtar yang melingkar di perutnya.
“Kenapa baru pulang mas?” Rain melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
“Masih ada kerjaan tadi di kantor.”
“Mas mandi dulu sana.”
“Mandi bareng.”
“Aku udah mandi mas.”
“Aku mandi dulu ya.”
Akhtar kembali mencium leher sang istri kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia melucuti semua pakaiannya lalu berjalan menuju shower. Siraman air hangat langsung menimpa dirinya. Akhtar berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada tembok, membiarkan kepalanya tersiram air demi menghilangkan semua kecemasan dan pikiran buruknya.
Untuk beberapa saat dia masih dalam posisi yang sama. Kemudian dapat dirasakan sebuah tangan melingkar di perutnya disusul dengan kecupan di punggungnya. Tanpa menoleh dia bisa tahu kalau Rain yang ada di belakangnya. Dia membalikkan badan, melihat tubuh istrinya yang sama polos seperti dirinya.
“Katanya udah mandi.”
“Abis masak gerah, jadi aku mandi lagi.”
Akhtar tersenyum lalu segera menyambar bibir istrinya. Rain melingkarkan tangannya ke leher Akhtar seraya merapatkan tubuh mereka. Sebenarnya Akhtar ingin sekali bermain namun ditahannya. Dia tak ingin membuat istrinya sakit akibat mandi malam terlalu lama. Dia melepaskan tautan bibir mereka dan mulai mandi bersama.
🍁🍁🍁
**Enaknya bagaimana nih readers. Akhtar udah dua kali periksa ke dokter berbeda dan hasilnya tetap sama. Kira2 apa yang bakal terjadi sama mereka berdua ya?
Ngga usah dipikirin, biar mamake aja yg mikir. Kalian cukup goyangin jempol aja buat kasih like, comment n votenya kalau belum dipakai.
Selamat berkumpul bersama keluarga..
__ADS_1
Happy Sunday 😎**