
Azriel mengucek matanya yang terasa perih. Sejak semalam dia tak bisa memejamkan matanya. Ucapan Firly kemarin masih terngiang-ngiang di kepalanya. Rasa bersalah begitu mendera perasaannya. Dipandanginya sederetan medali dan trophy yang berhasil diraihnya dalam kurun waktu tiga tahun. Dari mulai kompetisi antar sekolah sampai kejuaraan tingkat nasional.
Kak Ily benar, sejak gue menang kompetisi sejak itu pula mami mulai berubah. Ini semua karena gue, karena gue. Maafin gue kak, karena impian gue kalian berdua yang kena imbasnya.
Tok.. tok.. tok..
“Den Ziel ditunggu sarapan sama ibu dan bapak,” terdengar suara bi Surti dari balik pintu membuat Azriel terjaga dari lamunannya.
“Iya bi.”
Dengan malas Azriel keluar dari kamarnya kemudian menuruni anak tangga tak bersemangat. Di meja makan semua sudah berkumpul, kecuali Firly. Azriel menghela nafasnya, sepertinya kakaknya itu masih marah dan enggan bertemu dengannya. Dia duduk di samping Azriel. Suasana cukup hening sampai Alea membuka suaranya.
“Ziel, mulai besok kamu sudah harus latihan. Ngga ada acara main-main lagi. Kompetisi sudah semakin dekat.”
“Aku mau berhenti mi! Aku ngga mau jadi atlit lagi. Aku akan sekolah seperti biasa seperti kak Ilan dan akan membantunya mengurus perusahaan.”
Alea meletakkan sendoknya dengan keras. Dilihatnya Azriel dengan tatapannya tajam. Ada kemarahan di kedua bola matanya. Firlan menatap adiknya dengan perasaan sendu, tahu apa yang sedang dialami adiknya ini. Ega hanya diam, mencoba memahami situasi yang terjadi.
“Apa maksudmu Ziel?”
“Aku berhenti mi, aku jenuh!”
“Ziel, kamu harus menuntaskan apa yang sudah kamu mulai. Apa kamu tidak melihat bagaimana perjuangan mami mendukungmu sampai sejauh ini? Papi tahu kamu anak yang bertanggung jawab, jangan berhenti seperti ini nak. Lanjutkan apa yang sudah kamu mulai, kamu sudah berjalan sejauh ini, sayang kalau berhenti di tengah jalan. Sudah banyak waktu dan tenagamu yang terbuang.”
“Maaf pi, aku benar-benar lelah.”
“Ngga usah beralasan Ziel! Mami tahu kamu menginginkan sesuatu kan? Bilang apa maumu dan hentikan semua kegilaanmu!”
“Apa mami benar-benar ingin melihatku bertanding? Apa mami benar-benar ingin melihatku menjadi atlit bulu tangkis profesional?”
“Tentu saja! Apa kamu pikir selama ini mami main-main? Mami sudah melakukan semua yang terbaik untuk kamu!”
“Baik kalau itu kemauan mami, aku akan tetap melanjutkan semuanya. Aku akan berlatih dengan rajin, aku akan memenangkan semua kompetisi itu untuk mami dan aku akan mengikuti usulan mami home schooling.”
“Benarkah?” Alea memicingkan matanya, tak begitu saja mempercayai ucapan Azriel. Dia tahu benar watak anak bungsunya ini.
“Iya mi, asal mami mau mengabulkan keinginanku.”
“Apa?”
“Jangan menuntut kak Ilan melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya atau di luar kemampuannya. Biarkan kak Ilan menjalani kehidupannya sesuai dengan keinginannya. Restui hubungan kak Ily dan om Dimas. Kalau mami mau mengabulkannya, aku bersedia melakukan apapun yang mami inginkan. Aku akan menuruti semua perintah mami.”
BRAK!!
Alea menggebrak meja makan, emosinya kini sudah sampai di puncaknya. Matanya menatap nyalang ke arah Azriel.
“Apa kamu main-main dengan mami? Hentikan semua tingkah konyolmu itu. Lanjutkan latihanmu dan ikuti semua kompetisi yang sudah mami jadwalkan untukmu. Dan soal Ily, kamu ngga usah ikut campur, mami akan menemukan laki-laki yang pantas untuk kakakmu itu. Dengar itu Ziel!”
__ADS_1
“Mami egois!!”
“Terserah kamu mau bilang mami apa tapi mami lakukan ini demi kebaikan kalian!”
“Kebaikan kita atau kebaikan mami? Apa mami sadar apa yang mami lakukan tidak membuat kami bahagia!!”
“DIAM!!!” semua terdiam mendengar teriakan Ega.
“Ziel!! Sejak kapan kamu menjadi anak kurang ajar seperti ini hah?!! Apa begitu caramu berbicara dengan orang tua??!! Sekali lagi papi dengar kamu berbicara seperti itu, papi tidak akan segan memukulmu!!”
Azriel tak mempedulikan ucapan Ega. Dia meninggalkan meja makan kemudian berlari menuju kamarnya. Firlan hendak menyusulnya tapi Ega melarangnya.
“Duduk!! Karena kamu terlalu memanjakannya dia jadi kurang ajar seperti itu!”
“Tapi pi...”
“Diam!! Biarkan dia!”
Azriel membuka pintu kamarnya dengan kasar. Dilemparkannya semua barang-barang yang ada di kamarnya. Semua medali dan trophy hasil kerja kerasnya berserakan di lantai. Puas memporak porandakan kamarnya, Azriel terduduk di sudut kamarnya. Tangannya meremas rambutnya dengan kepala tertunduk lunglai.
Sejam lamanya Azriel berdiam diri di sudut kamar. Tak lama kemudian dia bangkit lalu keluar dari kamarnya. Keadaan rumah nampak sepi, entah semua penghuninya berada di mana. Namun Azriel tak mempedulikannya, dia berjalan keluar rumah menuju rumah Elang.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” Irzal yang berada di teras menyambut kedatangan Azriel.
“Yunda ada yah?”
“Kalau mas El?”
“Ada di kamarnya. Kamu ke sana aja.”
Azriel menyunggingkan senyum kemudian masuk ke dalam. Irzal memandangi punggung Azriel. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin malam. Dia memergoki Azriel berdiam diri di balkon kamarnya cukup lama.
Azriel mengetuk pintu kamar Elang yang terbuka. Elang yang baru saja keluar dari kamar mandi cukup terkejut dengan kedatangan Azriel.
“Hey Ziel tumben pagi-pagi ke sini? Kamu ngga latihan?”
“Libur dulu mas,” Azriel masuk ke dalam kamar kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia memandangi Elang yang sedang memilih-milih kaos di lemarinya.
“Kapan ya mas, Ziel punya badan bagus kaya mas El.”
Elang tergelak mendengar pertanyaan konyol Azriel. Dia mengambil sebuah kaos berwarna abu-abu kemudian memakainya. Elang duduk di samping Azriel sambil mengusak rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
“Nanti juga body kamu bakal kebentuk sendiri. Asal kamu rajin latihan fisik aja. Kamu kenapa? Kusut banget tuh muka, kamu abis begadang ya?”
“Ng.. ngga kok.”
__ADS_1
“Ngga usah bohong. Itu mata kamu sayu gitu. Tidur sana! Masih kecil udah belajar begadang.”
“Mas, main PS yuk.”
“Ngga ada! Tidur sana.”
“Haaaisssh mas El cerewet bener. Aku ngga ngantuk.”
“Kalau kamu ngga mau tidur, kamu cerita.”
“Cerita apa? Ziel ngga punya bakat story telling mas.”
“Cerita masalah kamu masa iya cerita kancil dan buaya,” Elang terkekeh. Azriel terdiam, Elang memang cukup peka terhadap orang di sekelilingnya. Pemuda itu selalu tahu setiap Azriel ada masalah.
“Aku mau berhenti main bulu tangkis mas.”
“Kenapa? Bukannya itu impian kamu? Kamu udah jalan sejauh ini sayang kalau harus berhenti Ziel.”
“Buatku itu udah ngga penting mas. Kalau ternyata impianku cuma menyusahkan orang lain buat apa diteruskan.”
“Maksudnya?”
“Semenjak aku bilang ke mami mau jadi atlit bulu tangkis profesional, mami semangat buat wujudin mimpi aku. Dan setelah aku memenangkan kejuaran untuk pertama kalinya mami mulai berubah. Mami jadi lebih ambisius, mami mulai mengatur hidupku, mami mulai menuntut aku melakukan yang lebih baik lagi. Mami terbuai dengan semua pujian dan kebanggaan atas semua yang kuraih. Tapi ternyata bukan cuma aku yang merasakan dampaknya. Bang Ilan dan kak Ily juga merasakannya.
Bang Ilan dituntut untuk menjadi juara umum di sekolahnya supaya mami bisa menegakkan kepalanya melihat anaknya menjadi kebanggaan sekolah. Bang Ilan sampai ngga punya waktu untuk bersantai atau bermain. Dan kak Ily, hubungannya dengan om Dimas ngga direstui dengan alasan receh. Itu semua karena aku mas. Mami yang sekarang karena aku. Karena aku, kedua kakakku menjadi korbannya.”
Azriel menundukkan kepalanya, sebisa mungkin dia menahan airmata yang sedari tadi hendak keluar. Elang merangkul bahu Azriel.
“Itu bukan salah kamu Ziel. Setiap orang berhak bermimpi dan meraih impiannya, begitu juga dengan kamu. Apa yang terjadi sekarang bukan tanggung jawabmu. Sikap mami yang seperti itu bukan karena impianmu tapi karena mami menafsirkan semua yang sudah kamu raih dengan cara yang salah. Masalah Ily dengan om Dimas ngga ada hubungannya denganmu. Berhenti menyalahkan diri sendiri.”
“Ini semua memang salahku mas. Aku penyebab semua ini, aku yang egois.”
Tok.. tok.. tok..
Elang dan Azriel menoleh ketika terdengar ketukan di pintu. Tampak Irzal berdiri menyender di dekat daun pintu.
“Maaf kalau ayah mengganggu. Tapi pintu kamar terbuka jadi ngga sengaja ayah mendengar percakapan kalian. Ziel... need a hug?”
🍁🍁🍁
**Yang sabar Ziel. Masih banyak orang yang sayang dan mendukung kamu. Jangan nyerah dong, biar Indonesia punya tunggal putra bulu tangkis yang hebat setelah Taufik Hidayat pensiun.
Jangan lupa dukungannya ya
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Danke😘😘😘**