Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Firlan or Reyhan


__ADS_3

Firlan masih asik dengan lamunannya ketika Firly masuk ke dalam kamarnya. Diambilnya rokok di jari saudara kembarnya itu lalu membuangnya ke dalam asbak. Firlan terjengit lalu menolehkan wajahnya.


“Kapan lo dateng?”


“Udah seabad yang lalu.”


Firly mendudukkan dirinya di samping Firlan. Sejenak diperhatikannya penampilan Firlan yang sedikit acak-acakkan. Kumis dan brewok kini tumbuh di wajahnya, membuat penampilan Firlan lebih tua dari umur sebenarnya. Dia berdecak sebal, Salsa sukses membuat hidup sang kakak berantakan.


“Sampai kapan sih lo mikirin Salsa mulu. Move on napa, udah setahun ini. Kan elo juga yang mutusin Salsa. Lagian tuh cewek juga udah punya gacoan baru. Coba lihat kanan kiri lo. Ada seseorang yang diem-diem suka sama elo.”


“Siapa? Farel? Reyhan? Dih gue masih normal keles.”


“Lo tuh ya!” dengan kesal Firly mengeplak kepala saudara kembarnya ini.


“Yunda oon!! Lo ngga sadar apa kalau Yunda tuh suka sama elo!”


Firlan memandangi wajah Firly sejenak lalu tergelak. Dia tak percaya dengan penuturan Firly barusan. Ayunda, gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri dibilang memendam perasaan padanya.


“Dih malah ketawa. Beneran si Yunda suka sama elo. Kalau ngga percaya lo tanya aja sama si Ziel. Ziel!!!!”


Suara cempreng Firly membahana seantero kamar. Sang empu nama bergegas masuk begitu mendengar teriakan delapan oktaf milik sang kakak.


“Paan sih kak, ngagetin aja lo,” sembur Azriel.


“Noh bilangin sama kakak lo yang oon ini. Dia ngga percaya kalau si Yunda suka sama dia. Salsa mulu sih yang ada di otaknya.”


“Bener Ziel?”


“Iye. Yunda emang suka ama bang Ilan. Tapi awas lo ya bang kalau mainin perasaannya Yunda. Kalau sekiranya lo ngga bisa bales perasaan dia mending jangan PHP. Gue orang pertama yang bikin perhitungan sama elo kalau bikin Yunda nangis.”


Setelah mengeluarkan ancamannya, Azriel ngeloyor pergi kembali ke kamarnya. Firlan tercenung, tak menyangka gadis ceria yang selalu bisa membangkitkan moodnya ternyata memendam perasaan padanya.


“Kenapa bengong? Masih ngga percaya lo?”


“Iya, kok bisa?”


“Meneketehe, kali aja ngga sengaja lo baperin dia.”


“Tapi kayanya ngga mungkin deh.”


“Ngga mungkin dari mana. Coba lo pikir, ngapain juga dia magang di kantor lo kalau bukan buat pedekate sama elo? Mending dia magang di kantor si El.”


“Yunda magang di Gala?”


“Emanganya si pea Gara belum kasih tahu? Besok si Yunda udah mulai magang. Baek-baek lo sama dia kalau kaga mau kena bogem si El ama bang Farel. Saran gue, buka hati lo buat Yunda, dia tuh beratus bahkan beribu kali lebih baik dari Salsa. Dan berhenti ngerokok!”


Firly keluar dari kamar sang kakak setelah selesai dengan kultumnya. Firlan masih terdiam merenungi kata-kata Firly. Dia mencoba mengingat kembali sikap Ayunda padanya. tanpa sadar dia tersenyum, entah mengapa sudut hatinya merasa bahagia mendengar gadis itu menyukainya.

__ADS_1


Farel bangun dari duduknya lalu bergegas menuju kamar mandi. Menatap cukup lama pantulan dirinya dalam cermin. Kemudian dia mengambil alat cukur dan mulai membersihkan wajahnya. Dia ingin terlihat rapi di hadapan Ayunda besok.


🍁🍁🍁


Reyhan keluar dari ruang operasi. Hampir tiga jam lamanya dia berkutat di sana, menyelamatkan nyawa pasien korban tabrak lari. Reyhan terus berjalan menuju ruang istirahat para dokter bedah. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di tengah ruangan untuk mengistirahatkan otot-otot tubuhnya. Operasinya barusan merupakan operasi ketiganya hari ini.


Sejak empat bulan lalu Reyhan sudah resmi menyandang gelar dokter bedah umum. Regan menyarankan padanya untuk segera mengambil program fellowship, namun Reyhan menolaknya. Saat ini dia ingin fokus mengejar cintanya. Sudah cukup empat tahun lamanya dia memendam perasaan. Kini siap tidak siap Reyhan akan mengakui perasaannya terhadap Ayunda.


Pintu ruangan terbuka, Aldi bersama Friska, salah satu dokter residen di rumah sakit ini masuk lalu duduk di dekat Reyhan. Friska yang memang sudah lama menyukai Reyhan terlihat senang melihat lelaki pujaannya ada di ruangan ini.


“Dokter Rey belum pulang?” sapa Friska.


“Baru beres operasi.”


“Pasti cape ya dok. Mau aku beliin minum ngga?”


“Cuma dokter Rey aja yang ditawarin, aku ngga nih?” celetuk Aldi yang merasa sebagai rekan yang tak dianggap.


“Dokter Aldi mau minum apa?”


“Apa aja yang penting seger dan manis kaya kamu.”


Friska hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Aldi cenat-cenut melihat wajah cantik gadis itu. Berbeda dengan Reyhan yang memasang wajah datar saja. Friska bergegas keluar ruangan untuk membelikan minuman.


“Lo kenapa sih? Ada barang bagus malah dianggurin. Bapaknya Friska itu kepala dokter bedah di rumah sakit Permata Medika. Masa depan lo dijamin cerah kalau jadian sama dia,” Aldi menasehati. Dia masih belum tahu siapa Reyhan sebenarnya.


“Wah gue curiga lo masih belum bisa move on dari ibu Rayna. Inget Rey, dia itu udah nikah dan punya anak. Lo mau nambah gelar pebinor apa di belakang nama lo?”


Reyhan berdecak sebal mendengarnya. Aldi terus aja membahas hubungan gelapnya bersama Rain. Tapi bukan salah Aldi juga, salahkan Reyhan yang tidak mau mengklarifikasi.


Reyhan bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Lima menit kemudian dia sudah keluar dengan kaos polo dan celana jeansnya. Diambilnya tas yang ada di meja kerjanya lalu menyampirkan ke pundaknya.


“Gue balik duluan.”


“Eh lo ngga nungguin Friska?”


“Ngga ah, cape gue mau pulang.”


Reyhan bergegas pergi sebelum Friska datang dan menahannya. Hari ini dia sungguh lelah dan ingin segera berbaring di kasur empuknya. Dengan kecepatan tinggi Reyhan memacu tunggangannya. Seperti biasa, Reyhan masih pulang pergi ke rumah sakit menggunakan motor bututnya. Dia masih enggan membuka identitasnya, tidak dalam waktu dekat ini.


Saat melewati mini market milik Akhtar, Reyhan melihat Ayunda keluar dari sana seraya menenteng kantong plastik. Dia pun mendekati gadis itu.


“Ay, abis beli apa?”


“Eh kak Rey. Abis beli roti bakar.”


“Sendiri aja? Udah malem loh ini.”

__ADS_1


“Tadi dianterin bi Neni ke sini, tapi dia pulang dulu gara-gara sakit perut. Eh akunya lupa bawa hp, jadi ya jalan.”


“Ayo naik.”


“Mogok lagi ngga nih?”


“Ngga.. udah diganti onderdil, udah fresh sekarang.”


Ayunda segera naik ke belakang Reyhan. Motor kembali melaju menuju kediaman mereka yang memang bersebelahan. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Neni. Ayunda melambaikan tangannya kemudian meminta Neni kembali pulang dengan gerakan tangannya.


Reyhan menghentikan motornya di depan rumah. Ayunda turun dari motor. Reyhan sengaja belum pergi, ada sesuatu yang ingin dibicarakannya pada gadis itu.


“Ay, sabtu besok ada acara ngga?”


“Hmm.. aku bakalan jadi baby sitter. Mas El nitipin Aslan sama aku.”


“Ya udah kita jalan-jalan aja mau ngga? Sekalian ada yang mau aku omongin.”


“Hmm.. boleh, lumayan ada tenaga tambahan buat jagain Aslan yang ngga mau diem. Eh emangnya kak Rey libur?”


“Iya aku ngga ada jadwal sabtu ini. Aku jemput jam sembilan ya.”


“Eh tapi aku ngga mau naik si butut ya.”


“Hahaha.. ya ngga lah. Mana berani aku ngajak Aslan naik motor ini. Bisa-bisa digetok mas El. Aku pulang dulu ya, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Reyhan kembali menjalankan motornya. Rumahnya hanya berselang satu rumah saja dari kediaman Ayunda. Sedang rumah Firlan ada di antara miliknya juga Ayunda. Reyhan memasukkan motor kesayangannya ke dalam garasi. Suasana rumah sudah sepi saat dia melangkah masuk. Sambil bersiul Reyhan naik menuju kamarnya. Rasanya tak sabar menunggu hari Sabtu. Saat itu dia akan mengungkapkan semua perasaan yang dipendamnya selama ini. Semoga saja gadis itu merasakan hal yang sama dengannya.


🍁🍁🍁


**Nah Reyhan udah mau ngakuin perasaannya, Firlan kayanya baper juga dapet bocoran dari Ily. Kira² gimana ya reaksi Ayunda nanti?


Jangan lupa loh tinggalkan jejak kalian yess. Mana yg pro Ayunda-Firlan, mana yang pro Ayunda-Reyhan.


BTW ini mamake kasih visual mereka bertiga.


Ayunda, anak ayah Irzal yang cantik**



Ilan, kembarannya Ily



Rey, dokter bedah ganteng

__ADS_1



__ADS_2