Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Saringan Tahu


__ADS_3

Elang menyambar air mineral kemasan lalu meneguknya sampai habis. Menyanyikan tiga lagu tanpa jeda cukup membuat keronkongannya kering. Rain mendatanginya dan mengatakan kalau menjelang akhir acara mereka harus kembali naik panggung, Elang hanya mengangguk. Saat dia berdiri tiba-tiba seorang gadis muda yang membawa gelas berisi orange jus berjalan ke arahnya, lalu entah sengaja atau tidak gadis itu menabrak tubuh Elang hingga air jus di gelasnya tumpah membasahi kemeja Elang.


Gadis itu segera mengambil sapu tangan dari hand bag-nya bermaksud membersihkan kemeja pemuda itu namun Elang spontan mundur menghindari gadis itu menyentuhnya.


“Ngga usah, saya bisa bersihkan sendiri,” ucapnya dingin. Rain hanya senyum-senyum saja melihat wajah sang gadis yang merah menahan malu.


“Maaf kalau begitu,” gadis itu segera berlalu.


“Hahaha... lo tuh ya, coba muka ama nada bicara dibikin manis dikit.”


“Males, lo ada baju cadangan ngga?”


“Ada, tar gue anterin ke kamar. Gih sana bersihin dulu badan lo. Lengket pasti.”


Elang langsung beranjak pergi, Farel dan Jayden yang ingin mengambil ponselnya yang sedang dicas di kamar mengikuti langkah Elang. Rain menuju sebuah ruangan kecil yang berada di ballroom, mengambil sisa seragam batik yang ada di sana. Dia memasukkannya ke dalam paper bag. Baru saja akan pergi, Lita datang menghampirinya.


“Rain, ada yang ketemu kamu tuh. Katanya dia mau pake jasa kita buat pernikahan anaknya.”


“Oh iya mba, sebentar.”


Rain bersama Lita keluar dari ruangan tersebut. Rain melihat Azkia yang melintas di dekatnya lalu memanggilnya.


“Azkia.”


“Ya mba.”


“Tolong antarkan ini ke kamar 1107. Bilang aja dari saya.”


“Iya mba.”


Azkia mengambil paper bag dari tangan Rain lalu melangkah keluar ballroom. Sekeluarnya dari lift, dia berjalan sambil memandangi deretan nomor kamar. Langkahnya terhenti di pintu kamar no 1107. Telunjuknya memencet bel yang terletak di pinggir pintu. Tak lama pintu terbuka, seorang pria muda berwajah blasteran muncul dari baliknya.


“Maaf, saya mau anterin ini dari mba Rain,” Azkia mengangkat paper bag di tangannya.


“Masuk aja.”


Pemuda yang tak lain adalah Jayden, putra dari Bimo dan Katrina keluar dari kamar melewati Azkia. Ragu-ragu gadis itu masuk ke dalam kamar. Nampak Farel sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


“Permisi.”


Farel mendongakkan kepalanya menatap ke arah gadis cantik yang berdiri tak jauh dari pintu masuk.


“Saya mau anterin titipan dari mba Rain.”


Farel bangkit dari duduknya lalu menghampiri Azkia. Diambilnya paper bag dari tangan gadis itu seraya mengucapkan terima kasih. Saat yang bersamaan Elang keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Azkia menelan ludahnya kelat melihat lelaki tampan dengan bentuk tubuh yang pas untuk dipeluk lalu menundukkan pandangannya. Azkia bergegas pergi tanpa mengatakan apapun saking malunya tanpa Elang sempat melihatnya.


“Nih,” Farel menyerahkan paper bag pada Elang.

__ADS_1


“Rain mana?”


“Bukan Rain yang nganterin, tapi salah satu pager ayu. Cantik El.”


“Cih, dasar playboy kaga bisa lihat yang bening dikit.”


“Normal namanya, gue kan laki. Elo tuh yang aneh, mau cantik kaya apa juga tuh muka lempeng mulu bawaannya udah kaya jalan tol.”


“Kalau ada yang lebih cantik dari bunda sama Yunda, minimal setara, bolehlah.”


“Ck.. dasar oedipus complex.”


Elang menoyor kepala kakak angkatnya ini. Hubungan mereka memang lebih terlihat seperti sahabat dibanding kakak beradik. Setelah berpakaian, Elang dan Farel keluar dari kamar. Kembali menuju tempat resepsi yang baru akan berakhir jam sepuluh malam nanti.


Firly mendudukkan diri di kursi pelaminan, wajahnya sedikit cemberut, kesal karena sedari tadi tak berhenti berdiri menerima ucapan selamat dan juga foto bersama. Sebenarnya bukan itu yang membuatnya kesal, sedari tadi banyak sekali rekan Dimas yang mengajaknya foto berdua saja, dirinya seakan dianggap angin lalu. Firly menghela nafas kasar dan terdengar oleh Dimas. Lelaki itu ikut duduk di sebelah istrinya.


“Kenapa sayang?”


“Ngga apa-apa, cape aja, pegel nih kaki. Kapan sih acaranya selesai?”


“Ngga lama lagi, sabar ya sayang.”


“Lagian om banyak banget sih nebar undangan.”


“Sekali lagi kamu panggil om, aku cium kamu di sini.”


Firly menutup bibirnya rapat-rapat. Dimas menarik tangannya untuk berdiri karena ada beberapa tamu yang hendak memberikan ucapan selamat. Sambil menyunggingkan senyuman manis, Firly menyambut uluran tangan mereka.


“Kak Akhtar kok baru datang?”


“Iya Rain, tadi ada urusan dulu.”


Baru saja Rain akan mengatakan hal lain ketika seorang wanita cantik mendatangi Akhtar. Rain mengenalinya, dia adalah Chalissa, kakak sepupu Firly, anak dari Tombak dan Kanaya.


“Hai Rain.”


“Hai kak Lissa, kok baru dateng? Ngga bareng om Tombak ya?”


“Ngga, aku baru datang dari Jakarta. Jadi tadi beli baju dulu dianter Akhtar,” Chalissa tersenyum manis ke arah Akhtar dan dibalas tak kalah manis oleh pemuda itu. Hati Rain mencelos melihat adegan di depan matanya.


“Kita ketemu pengantin dulu ya,” pamit Akhtar pada Rain yang hanya ditanggapi diam oleh gadis itu.


Mata Rain terus mengikuti langkah Akhtar dengan Chalissa. Hatinya ngilu melihat kemesraan mereka. Kemudian kesadarannya kembali ketika mendengar suara Elang menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa milik Afgan. Lagu bergenre pop itu diaransemen ulang oleh mereka dan diberi sedikit sentuhan rock, hingga irama lagunya terdengar sedikit menghentak.


Azkia yang kebetulan sedang melintas di depan panggung sontak menolehkan kepalanya ketika mendengar suara merdu yang tadi membuatnya penasaran. Matanya membulat melihat Elang yang berdiri di depan stand mic seraya memetik gitar. Ternyata lelaki tampan yang dilihatnya tadi adalah pemilik suara emas itu.


Untuk sesaat dia mematung memandangi Elang yang sedang bernyanyi. Pandangan mereka bertemu ketika tanpa sengaja Elang melihat ke arahnya. Tapi kemudian pemuda itu memutus pandangannya dan melihat ke arah lain. Wajah Azkia memerah setelah adegan tatap menatap yang hanya terjadi beberapa detik saja.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Firly masuk ke kamar pengantin ditemani oleh Rain. Walaupun hatinya remuk redam setelah melihat kedekatan Akhtar dengan Lissa, namun sebagai sahabat yang baik dia tetap menemani Firly sampai acara selesai. Rain membantu Firly melepaskan semua aksesoris yang menempel di tubuhnya.


“Thank you Rain, elo emang sahabat ter the best gue deh.”


“Udah sana mandi. Gue balik ke kamar dulu, cape. Met dibelah durennya ya,” Rain terkikik seraya meninggalkan Firly yang berteriak memanggil namanya.


Firly masuk ke kamar mandi lalu mengisi bath tub dengan air hangat. Sepertinya berendam sebentar bisa mengurangi rasa lelahnya. Setelah menambahkan essential oil ke dalam bath tub, Firly merendam tubuhnya di sana. Rasa nyaman langsung terasa. Hanya lima belas menit lamanya dia beredam, kemudian membilas tubuhnya di bawah shower.


Firly keluar dari kamar mandi mengenakan bath robe, dibukanya lemari untuk mengambil pakaiannya. Namun Firly tak melihat kopernya di sana. Di lemari hanya ada koper Dimas dan tiga buah lingerie berbahan tipis lengkap dengan **********. Seketika Firly panik, diambilnya ponsel yang terletak di nakas. Dengan cepat dia menelpon sang mami.


“Halo.”


“Mami! Koper aku mana mam?”


“Koper? Loh bukannya udah dibawa tadi? Coba mami tanya dulu sama Ziel,” suara mami menghilang sebentar, tak lama kemudian.


“Halo, Ily.. kata Ziel koper kamu ketinggalan di rumah?”


“Hah?? Yang bener aja dong mi. Terus aku pake apa? Masa iya aku tidur pake bath robe.”


“Emang ngga ada baju satu pun?”


“Ada mi tapi cuma lingerie udah gitu bahannya kaya saringan tahu semua,” Firly masih dapat mendengar kikikan geli sang mami dari seberang.


“Ya udah pake itu aja dulu. Besok pagi mami suruh bi Ina anterin koper ke hotel.”


“Tapi mi...”


“Udah dulu ya sayang, papi kamu ngajakin tidur.”


Alea langsung mematikan sambungan telepon. Untuk beberapa saat Firly terbengong. Namun kemudian dia menyambar salah satu lingerie berwarna hitam beserta **********. Dengan terburu-buru Firly memakainya, takut Dimas sudah selesai bercengkrama dengan teman-temannya dan masuk ke kamar.


Selesai memakai lingerienya, Firly buru-buru naik ke kasur lalu membalut tubuhnya dengan selimut. Tak lupa dia menaikkan suhu AC agar dirinya tidak masuk angin.


🍁🍁🍁


**Di resepsi tadi diselingi dulu cerita Rain dan Elang ya, karena season 1 bentar lagi tamat dan lanjut season 2 dengan kisah Rain and Akhtar. Jadi anggap aja kejadian di resepsi tadi itu prolog untuk season 2.


Yang nunggu om Dimas belah duren sabar ya😁


Sekarang saatnya kasih dukungan dulu buat mamake..


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote..


Happy Sunday😎**


__ADS_2