Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Sate Padang


__ADS_3

Firly berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar. Sesudah menyantap beberapa potong bimbimbap dan shalat isya, dia memilih bersantai di kamar. Kemudian ingatannya kembali ke salah satu komen menyebalkan yang dibacanya tadi, mendadak moodnya kembali buruk.


Dimas masuk ke dalam kamar lalu ikut berbaring di samping istrinya. Saking asiknya melamun Firly tak menyadari kedatangan suaminya. Lama Dimas memandangi wajah Firly, namun wanita cantik itu masih belum menyadarinya.


CUP


Firly terjengit ketika merasakan kecupan di bibirnya. Wajah Dimas berada dekat dengannya. Senyum mengembang di wajah Firly walau gurat kekesalan masih tersisa di sana. Dimas mengusap pipi istrinya yang semakin chubby dengan lembut.


“Lagi mikirin apa? Itu bibir sampai monyong-monyong gitu.”


“Aku kesel mas. Ada yang komen di postingan mas kemarin. Masa dia doain mas jadi duda lagi coba. Nyebelin kan, udah gitu ngatain aku jelek, ngga sebanding sama mas. Pokoknya bikin kesel deh.”


“Ngga usah dipikirin sayang. Itu cuma orang sirik yang ngga suka lihat kebahagiaan orang lain. Yang penting hidup kita baik-baik aja, ngga menyusahkan orang lain, sebentar lagi juga baby boy kita akan lahir. Satu yang kamu ingat, mas juga Ara sangat menyayangimu.”


Dimas menciumi wajah Firly tanpa terlewat sedikit pun, membuat hatinya menghangat. Hormon ibu hamil kerap membuatnya moodnya naik turun. Namun sikap manis Dimas selalu dapat menghangatkan hatinya.


“Mas, aku sekarang tambah jelek ya, tambah gendut.”


“No... kamu tetap cantik. Aura kecantikan wanita itu justru bertambah saat sedang hamil. Bobot tubuhnya yang naik justru memberikan kesan seksi untuknya. Bagiku, kamu itu tetap terlihat cantik, seksi dan menggairahkan.”


“Modus, bilang aja mas minta jatah.”


“Emang ngga boleh? Udah seminggu loh Yang, mas belum nengokin baby boy.”


“Boleh... apa sih yang ngga buat mas ku.”


Dimas tersenyum, secepat kilat disambarnya bibir Firly. Keduanya langsung terlibat ciuman hangat nan membara. Dimas melepaskan daster yang melekat di tubuh istrinya. Tangannya lalu menjelajah setiap jengkal tubuh yang mulai berubah bentuknya seiring bertambahnya umur sang janin. Firly menikmati setiap sentuhan yang menerpa kulitnya. Kepalanya mendongak saat merasakan tangan hangat itu menyentuh titik-titik sensitifnya.


Dimas menciumi perut yang mulai membuncit itu. Berharap calon anaknya bisa merasakan cinta yang begitu besar darinya. Dia terus memberikan sentuhan yang memabukkan pada tubuh di bawahnya. Ciuman, belaian, sesapan terus diberikan suami tercinta, membuat Firly benar-benar melayang. Tubuhnya bergetar ketika dia berhasil mencapai pelepasan pertamanya sebelum Dimas memulai permainannya.

__ADS_1


Dimas melepaskan semua benang yang masih menutupi tubuh gagahnya. Dia membalikkan posisi, kini Firly berada di atasnya. Membiarkan ibu hamil itu mengendalikan jalannya pertarungan. Berkali-kali Firly mencium dan menyesap dada bidang favoritnya hingga meninggalkan bercak merah. Kemudian tubuhnya mulai bergerak dengan kecepatan sedang.


Dimas menutup matanya, menikmati semua yang istrinya lakukan. Sesekali terdengar racauannya ketika sang istri memberikan sentuhan yang menyengat. Deru nafas mereka saling memburu seiring pergerakan Firly yang semakin cepat. Peluh mulai membasahi tubuh wanita cantik itu.


Desahan keduanya saling bersahutan saat mereka hampir sampai ke akhir permainan. Tangan Dimas memegangi pinggul istrinya, membantu mempercepat tempo pergerakannya. Hawa panas yang menguar di antara mereka membuktikan hasrat membara yang semakin mendekati ujungnya. Tak lama kemudian lenguhan keduanya terdengar saat mereka sama-sama menggapai puncak kenikmatan.


Tubuh Firly ambruk di atas Dimas. Nafasnya masih tersengal, peluh bercucuran membasahi dahinya. Dimas merapihkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Kemudian menghadiahkan kecupan manis di keningnya. Perlahan dia membaringkan Firly di sampingnya.


“Terima kasih sayang.... you really driving me crazy.”


“Apa mas puas?”


“Sangat honey... kamu yang terbaik sayang.”


Dimas mengecup puncak kepala Firly berkali-kali. Tak ada kebohongan dalam ucapannya. Harus Dimas akui, Firly benar-benar memberikan kepuasan padanya. Bahkan ketika bersama Sissy dulu, dia belum pernah merasakan kepuasan bercinta seperti bersama Firly. Tubuh Firly benar-benar menjadi candu untuknya.


Setelah selesai, mereka kembali berbaring di kasur. Dimas menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang masih dibiarkan polos. Firly menduselkan wajahnya ke dada Dimas, menghidu aroma tubuh suaminya yang sangat disukainya. Tiba-tiba terdengar nyanyian dari perutnya.


“Kamu laper sayang. Mau makan apa?”


“Hmm... aku mau sate padang tapi belinya yang di deket rumah kak Rena. Sate padang uda Chaniago.”


“Ok,” Dimas menyibakkan selimutnya bermaksud hendak bangun tapi Firly menahannya.


“Mas mau kemana?”


“Katanya kamu mau sate padang.”


“Mas di sini aja, peluk aku. Sate padang minta Elang aja yang beliin.”

__ADS_1


“Kamu seneng banget sih jahilin Elang.”


“Bukan aku mas. Tapi baby boy maunya sate padangnya dibeliin sama abangnya.”


Dimas tersenyum, diambilnya ponsel yang berada di atas nakas. Jempolnya mencari nomor Elang lalu mulai menghubunginya.


🍁🍁🍁


Dengan malas Elang menyambar jaket yang tergantung di balik pintu. Kalau buka demi calon adik sepupunya, dia malas harus keluar malam-malam memenuhi keinginan Firly membeli sate padang. Tidak tanggung-tanggung, Firly minta sate padang uda Chaniago yang letaknya di dekat rumah Rena di bilangan buah batu. Elang mengambil kunci kontak motornya kemudian berjalan keluar rumah.


Tetes-tetes air mulai berjatuhan ketika Elang hendak mengeluarkan motornya. Pantas saja langit malam ini terlihat begitu gelap, ternyata akan turun hujan. Terpaksa dia kembali ke dalam untuk menukar kunci. Tak berapa lama Honda Civicnya bergerak menembus gerimis kecil yang mulai membasahi bumi.


Seperti biasa kedai sate padang uda Chaniago selalu ramai pengunjung. Setelah memesan lima porsi sate padang, Elang duduk menunggu di salah satu meja yang kosong. Beberapa pengunjung perempuan yang juga tengah menunggu pesanan tak melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Tapi bukan Elang namanya kalau sampai terintimidasi dengan tatapan penuh damba itu. Dia asik mengutak-atik ponselnya tanpa mempedulikan keadaan sekitar.


Sate padang pesanan Elang akhirnya siap juga. Setelah membayar, dia bergegas menuju mobilnya. Hujan masih belum berhenti mengguyur kota kembang ini, membuat udara terasa semakin menusuk kulit. Setengah berlari Elang berlari menuju mobilnya yang terparkir beberapa meter dari kedai.


🍁🍁🍁


**Elang lagi Elang lagi. Yang sabar ya mas El. Ibu hamil emang kadang banyak maunya. Dimas mah menang jackpot, abis dikasih yang enak2 eh dapet bonus pula pesanan sang istri dibeliin sama ponakan😂


Jangan lupa ya ritual habis bacanya biar mamake terus semangat up tiap hari😘😘😘


Like...


Comment..


Vote..


Love you😍😍😍**

__ADS_1


__ADS_2