
Elang memandang kesal ke arah Firly setelah mendengar penuturan Dimas soal ngidamnya Firly yang ingin disuapi oleh Elang dan ingin dipanggil tante olehnya. Lebih kesalnya lagi, Firly mengajak kedua orang tua dan saudaranya untuk menyaksikan peristiwa sakral nan bersejarah itu. Bahkan Farel didaulat untuk merekam momen tersebut. Poppy dan Irzal tak bisa menahan tawanya mendengar permintaan adik iparnya. Ayunda yang sangat ingin melihat kakaknya berlaku manis pada Firly terus menyemangati.
“Ayo dong mas El, ini demi calon anak om Dimas, adiknya Ara.”
Elang menghela nafasnya, dia melirik pada Poppy yang memberinya kode untuk segera melaksanakan permintaan Firly. Dengan malas Elang memotong cake, menaruhnya ke dalam piring kecil kemudian menyendoknya.
“Tante dimakan dulu kuenya,” semua yang melihatnya berusaha menahan diri agar tidak tersenyum apalagi tertawa.
“Ngga mau! Masa nawarin kue mukanya jutek gitu. Yang manis dong biar kelihatan ikhlasnya, pake senyum napa. Kegantengan elo ngga akan berkurang kalau senyum, yang ada malah nambah,” cerocos Firly.
Elang mengambil nafas panjang. Kalau Firly bukan istri Dimas, mungkin sudah dimasukkan ke dalam karung lalu dilempar ke tempat pembuangan akhir. Pemuda itu memasang senyum di wajahnya membuatnya semakin terlihat tampan.
“Tante sayang... ini dimakan dulu kuenya. Rasanya pasti enak soalnya buatan chef Dimas Saputra yang terkenal itu loh.”
Elang mengarahkan sendok ke mulut Firly. Ibu hamil itu membuka mulutnya dan sesuap kue masuk ke dalamnya. Firly menikmati kue tersebut yang memang rasanya sangat enak.
“Gimana tante? Enak kan?”
“Hmm.. enak banget El. Aaaa...”
Firly membuka mulutnya, Elang kembali menyuapkan kue untuk tantenya itu. Elang menyuapi kue yang ada di tangannya sampai habis.
“El, tante mau air putih dingin dong.”
“Iya tante, sebentar ya.”
Elang bangun lalu menuju dapur, mengambil segelas air putih dingin untuk tantenya. Tak lama dia kembali lalu menyodorkan gelas itu pada Firly. Dengan cepat Firly menghabiskan air di dalam gelas.
“Makasih ya El, calon adik sepupu kamu pasti seneng banget di dalam sini,” Firly mengusap perutnya yang masih rata.
“Udah yuk mas, aku udah kenyang. Kuenya buat yang lain aja,” sambungnya.
Firly berdiri lalu berjalan keluar setelah berpamitan dengan yang lain. Dimas menepuk bahu keponakannya seraya mengucapkan terima kasih. Wajah Elang sudah kembali ke mode awal, datar dan dingin. Seperginya Firly dan Dimas, tawa yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak juga. Bahkan Farel dan Firlan sampai memegangi perutnya.
“Terus aja ketawa,” kelutus Elang.
“El, yang sabar ya. Mungkin ini balasan untuk kamu,” celetuk Ega.
“Balasan apa pi?”
“Dulu waktu hamil kamu, bunda kamu tuh seneng banget nyusahin papi.”
“Masa?”
__ADS_1
“Tanya aja sama bunda kamu. Papi disuruh beli ketoprak bang Agi, papi sendiri yang harus ngulek sambil nyanyi dan harus video call pula sama bunda kamu pas ngelakuin itu semua. Udah gitu diledek katanya suara om jelek, mana tuh ketoprak ngga dimakan, katanya buatan papi ngga enak.”
“Beneran bun?” Poppy hanya mengangguk sambil terkikik geli.
“Bukan itu aja El. Papi juga dijadiin manekin buat tutorial hijabnya bunda kamu, harus dandan ala boyband K-Pop dan yang paling parah disuruh cium kepala tukang kue ape tengah hari bolong.”
Tawa Irzal meledak mengingat semua kejadian itu. Poppy juga tak bisa menahan tawanya. Elang melongo mendengar semua penuturan Ega. Malang nian nasib pria itu dikerjai oleh dirinya yang masih berada dalam kandungan sang bunda.
“Kebayang kan El, selama hamil kamu, papi yang susah. Sedangkan ayah kamu kebagian enaknya doang. Jadi kalau sekarang Ily bikin kamu susah terima aja ya. Mungkin calon cucu papi lagi balas dendam sama kamu,” Ega terkekeh, Elang hanya mendengus kesal.
“El, nih video kalau di upload bakalan jatoh harga diri lo,” celetuk Firlan.
“Mana ada Lan. Yang ada cewek malah tambah klepek-klepek sama dia. Pasti pada bilang gini ‘ya ampun Elang so sweet banget sih’ gitu tuh pastinya.”
Gelak tawa kembali terdengar, terlebih ketika Farel memperagakan gaya bicara cewek yang baper melihat sikap Elang pada Firly. Elang tak menanggapinya, dia memilih naik ke lantai atas menuju kamarnya.
🍁🍁🍁
Kehamilan Firly kini sudah memasuki bulan keenam. Bentuk perutnya sudah sedikit maju. Dari hasil pemeriksaan pasangan berbega generasi ini akan dikaruniai anak laki-laki. Tentu saja Dimas bahagia mendengarnya. Mempunyai anak laki-laki berarti banyak hal yang bisa dilakukan bersama. Bermain bola, berlatih bela diri, shalat Jum’at dan masih banyak hal lainnya.
Dimas juga semakin protektif pada Firly. Setiap hari dia selalu antar jemput Firly ke kampusnya. Istrinya itu masih belum ingin mengajukan cuti, nanti saja kalau kandungannya sudah memasuki usia delapan bulan. Deka juga sudah tidak mengganggunya, lelaki itu cukup tahu diri. Tak ingin menambah gelar pebinor di belakang namanya.
Setelah mengikuti perkuliahan terakhir, Firly menunggu Dimas di depan pos satpam ditemani oleh Weni. Gadis itu asik melihat-lihat akun sosmed, hingga kemudian berhenti pada postingan foto Dimas bersama Firly sambil memegang hasil USG dengan caption can't wait meet you my baby boy. Begitu banyak komentar yang menanggapi postingan tersebut. Ada yang memberikan selamat, ada yang mendoakan, ada yang berharap wajahnya mirip Dimas bahkan ada yang mengomentari bentuk tubuh Firly yang semakin membulat.
Selamat ya chef Dimas, yakin deh baby boy-nya bakalan ganteng kaya bapaknya. Jangan sampai deh mirip ibunya yang wajahnya ngga seberapa itu. Mana sekarang tambah hancur tuh muka, lihat deh hidung sama pipi balapan gitu. Chef sadar ngga sih waktu nikahin dia? Umur emang masih muda tapi kalau ngga sebanding sama chef buat apa, iyakaan??? Chef aku padamu, kutunggu dudamu lagi.
“Lo lagi lihat apa sih Wen, serius amat.”
“Ini lagi lihat postingan laki lo. Kemarin lo abis cek kandungan ya?”
“Huum, kenapa emang?”
“Ngga apa-apa. Nih diposting ama laki lo.”
Weni memperlihatkan postingan Dimas soal jenis kelamin calon buah hatinya. Senyum Firly mengembang. Diambilnya ponsel Weni lalu dibacanya komentar yang masuk satu per satu. Weni gegas mengambil ponselnya takut Firly melihat komen terkutuk yang tadi dibacanya. Namun terlambat, Filry sudah terlanjur melihatnya. Matanya membulat, tangannya mengepal.
“Ly, ngga usah dimasukin ke hati tuh komenan julid, sirik dia ama elo.”
“Eeuuhh kalau orangnya ada di depan gue udah dibejek-bejek. Bisa-bisanya dia ngedoain laki gue jadi duda lagi. Gue sumpahin jempolnya bisulan bin cantengan biar ngga bisa ngetik lagi,” rutuk Firly.
“Udah Ly, ngga usah emosi ngga penting juga. Dasar deterjen ngga ada akhlak sirik aja sama rejeki orang.”
Sebuah mobil berhenti di depan gerbang kampus. Weni mengenali mobil tersebut yang tak lain adalah milik Dimas. Dia segera menuntun temannya menuju mobil tersebut. Tak lupa membukakan pintu untuknya. Firly menurunkan kaca mobil, melambaikan tangannya seraya mengucapkan terima kasih. Dimas juga melemparkan senyum padanya. Tak lama kereta besi itu kembali bergerak.
__ADS_1
Dimas heran memandangi istrinya yang terlihat kesal. Sedari tadi pandangannya hanya tertuju pada jendela samping. Dimas meraih tangan Firly lalu membawa ke bibirnya. Dikecupnya punggung tangan itu beberapa kali, hingga Firly menoleh ke arahnya.
“Kenapa sayang? Kok cemberut aja?”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu mau makan apa?”
“Belum laper mas. Tadi di kampus udah makan mie ayam. Pulang aja, aku cape mau istirahat.”
“Ok sayang.”
Dimas kembali mengecup tangan istrinya lalu mulai menambah kecepatan mobilnya. Menjelang jam pulang kerja, kondisi jalanan memang sedikit macet. Beberapa kali mereka tertahan karena kemacetan dan lampu merah. Adzan maghrib terdengar begitu Dimas menghentikan kendaraannya di depan rumah.
Suasana rumah terlihat sepi, hanya ada bi Surti di rumah. Ara memilih menginap di rumah Poppy karena sedang menyelesaikan tugas prakaryanya bersama Ayunda dan Farel. Anak itu tidak mau menyusahkan Firly yang sedang mengandung. Selain itu dia lebih senang mengerjakan prakarya bersama Farel. Nilainya selalu bagus kalau ada campur tangan Farel.
Firly merebahkan tubuhnya di kasur. Jadwal kuliah hari ini memang padat. Hampir seharian dia berada di kampus, tiga mata kuliah dengan bobot 3 SKS tertumpuk di hari ini. Belum lagi waktu sela perkuliahan hanya dua jam, membuatnya malas pulang ke rumah.
“Mandi dulu sayang, terus shalat. Oh iya kamu mau makan apa? Biar mas buatkan.”
“Aku mau bimbimbap aja. Hmm.. Ara mana mas?”
“Ara nginep di rumah kak Poppy. katanya ada tugas prakarya.”
“Oh pasti minta dibantuin Farel deh. Kan dia selalu dapet nilai bagus kalau dibantuin Farel.”
“Oh ya? Pantes, nginep karena ada maunya,” Dimas terkekeh. Dia membantu Firly bangun lalu menuntunnya ke kamar mandi. Dimas sendiri memilih mandi di kamar tamu, karena takut keburu habis waktu maghrib.
🍁🍁🍁
**Elang so sweet banget nyuapin tantenya😍
Sabar ya Ily, deterjen memang maha benar😂
Buat nemenin malam kalian, mamake up lagi nih. So jangan lupa buat ritualnya ya
Like..
Comment..
Vote..
Love you😍😍😍**
__ADS_1