
Teddy bersama anaknya, Rendra memasuki lobi Humanity Corp. Akhirnya proposal penawaran mereka diterima juga. Sudah lima tahun belakangan ini Teddy selalu mengirimkan proposal penawaran untuk menangani ekspor hasil perkebunan Humanity Corp. Namun berkali-kali mereka menolaknya, dengan alasan perusahaannya tidak memenuhi kualifikasi yang dibutuhakan.
Teddy juga pernah mencoba melakukan pendekatan personal pada Irzal namun tak berhasil. CEO Humanity Corp itu seakan tak bisa tersentuh olehnya. Namun kini Elang menerima penawaran mereka, walaupun masih belum pasti akan diterima atau tidak. Setidaknya sudah ada peluang dan Teddy tidak akan menyia-nyiakannya.
Senyum tercetak di wajahnya ketika mendatangi meja resepsionis. Dengan hormat sang resepsionis menyambut kedatangan Teddy. Sejenak Rendra terpaku melihat wajah cantik di depannya. Teddy menyenggol lengan Rendra. Anaknya ini memang tidak bisa melihat wanita cantik.
“Selamat pagi mba. Saya Rendra dari PT. Alam Semesta ingin bertemu dengan pak Elang.”
“Farel, bukan Elang,” bisik Teddy.
“Oh maaf bapak Farel.”
“Apa bapak sudah membuat janji?”
“Sudah mba.”
“Baik, sebentar pak.”
Resepsionis tersebut segera menghubungi ruangan Fitria. Setelah berbicara sebentar, dia meletakkan gagang telpon ke tempatnya semula.
“Silahkan ikut saya pak.”
Resepsionis tersebut keluar dari mejanya kemudian berjalan menuju ruang tunggu khusus tamu Humanity Corp yang ada di sisi kiri meja resepsionis. Wanita itu membukakan pintu lalu mempersilahkan tamunya duduk.
“Silahkan tunggu sebentar pak. Ibu Fitria akan segera menemui bapak.”
Teddy mengangguk tanda mengerti. Resepsionis tersebut keluar dari ruang tunggu, kembali ke tempatnya bertugas. Rendra memandangi ruangan yang tidak begitu besar namun tertata sangat rapi.
“Ingat, kamu harus bisa meyakinkan Farel untuk bekerja sama dengan kita. Dari yang papa dengar, dia itu orang ketiga di perusahaan ini setelah pak Irzal dan Elang. Kalau Farel setuju, bisa dipastikan Elang dan Irzal akan setuju.”
“Iya pa.”
Pintu terbuka, Fitria masuk dengan beberapa berkas di tangannya. Lagi-lagi Rendra terpaku melihat kecantikan Fitria. Matanya memandangi sekretaris Farel itu tanpa berkedip.
“Selamat pagi pak Teddy, pak Rendra. Saya Fitria, sekretaris pak Farel.”
Fitria mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Teddy juga Rendra. Saat menyalami Rendra, pria itu menggenggam tangan Fitria cukup lama, hingga Teddy harus berdehem untuk menyadarkan anaknya.
“Pak Farelnya belum datang?”
“Mohon maaf, pak Farelnya sedang sibuk restrukturasi jabatan. Beliau sudah mempelajari proposal bapak, namun ada beberapa hal yang masih belum sesuai dengan kriteria kami. Bapak sudah menuliskan apa saja yang harus dipenuhi oleh perusahaan bapak agar bisa menjadi mitra kami. Ini daftarnya pak.”
Fitiria menyerahkan berkas di tangannya. Teddy membukanya dengan cepat. Keningnya berkerut melihat ada beberapa poin yang harus mereka penuhi jika ingin menjadi mitra Humanity Corp.
“Maaf bu, untuk poin dua apa tidak opsi lain atau keringanan? Jujur kami kesulitan untuk memenuhi poin ini.”
“Soal itu bisa bapak bicarakan langsung dengan pak Farel.”
“Kapan saya bisa bertemu dengan pak Farel.”
“Sesudah ulang tahun perusahaan, jadwal pak Farel sudah sedikit longgar. Oh iya, ini undangan untuk bapak. Besok acara ulang tahun Humanity Corp, saya harap pak Teddy juga pak Rendra bisa hadir,” Fitria memberikan dua buah undangan berwarna hitam dan emas pada Teddy.
“Apa masih ada yang ingin ditanyakan pak?”
“Tidak, terima kasih.”
“Kalau begitu saya permisi.”
Fitria berdiri diikuti oleh Teddy juga Rendra. Setelah berjabat tangan, wanita cantik itu meninggalkan ruangan. Teddy dan Rendra masih berdiam di ruangan. Dipandanginya kartu undangan di tangannya.
“Besok kita harus datang. Kita bisa melobi Farel. Sepertinya Irzal akan mengundurkan diri dan digantikan oleh Elang. Farel sendiri akan menggantikan posisi Elang sekarang. Kita harus bisa mengambil hati Farel.”
“Iya pa.”
__ADS_1
Teddy berdiri kemudian mengajak Rendra pergi. Keduanya perlu menyusun rencana agar lobi mereka berhasil. Jika mereka berhasil menjadi mitra bisnis Humanity Corp, maka level perusahaannya akan naik satu tingkat.
🍁🍁🍁
Ballroom Humanity Corp sudah dipenuhi karyawan dan juga tamu undangan. Pesta ulang tahun kali ini digelar lebih megah dari biasanya. Banyak awak media yang diundang pada perayaan ini. Selain merayakan ulang tahun perusahaan yang ke 29 tahun, malam ini Irzal selaku CEO sekaligus pemilik saham terbesar akan mengumumkan pengunduran dirinya. Posisinya akan digantikan oleh Elang.
Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter tentang perjalanan Humanity Corp. Banyak karyawan baru yang belum tahu bagaimana perusahaan ini bisa berkembang dan menjadi salah satu perusahaan paling kuat di benua Asia. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemilihan employee of the year juga serangkaian acara hiburan.
Azriel yang dipaksa ikut oleh Ega harus mengikuti langkah kemana papinya pergi. Ega sedang mengenalkan anak bungsunya itu pada rekan bisnisnya. Setelah pensiun dari dunia bulu tangkis, Azriel nantinya akan terjun mengurus perusahaan.
Firlan mendekati adiknya yang nampak tak bersemangat. Azriel juga tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Dua bulan belakangan dia merasa hidupnya hampa. Bukan karena Salma telah menikah sebulan yang lalu, tapi Azriel merasa ada yang hilang dari hidupnya.
“Ssstt.. lihat tuh siapa yang dateng,” Firlan menyenggol lengan Azriel lalu menujuk seseorang dengan dagunya.
Agam, Ajeng dan Yoshi tengah berjalan ke arah mereka. Azriel menatap Yoshi sejenak, namun kemudian senyumnya terkulum ketika melihat gadis itu menabrak punggung papinya karena berjalan sambil menundukkan kepalanya.
“Hadeuh si kutil tyrex..” Firlan mengeplak kepala adiknya ini.
“Sembarangan aja lo ngomong, kalau kedengeran bapaknya ngga enak.”
Azriel nampak tak peduli. Dia terus melihat ke arah Yoshi yang berjalan semakin mendekat padanya. Mulutnya sudah gatal ingin meledek gadis itu. Azriel urung mengucapkan kata-kata ketika melihat Yoshi melintasinya begitu saja tanpa melihat ke arahnya. Gadis itu memilih menuju meja prasmanan.
“Ya ampun Yoshi,” keluh Ajeng.
“Yoshi kenapa tan?” tanya Azriel.
“Ngambek dia, om paksa ke sini. Dia sebenarnya ada janji sama temen-temen club fotografinya.”
“Misi ya om, tante.”
Azriel meninggalkan Agam dan Ajeng yang sepertinya akan berbicara dengan Ega dan Firlan perihal kerjasama mereka. Dihampirinya Yoshi yang sedang menikmati salad buah.
“Yos..”
“Eh bang Ziel,” jawab Yoshi cuek. Azriel sedikit tak enak hati melihat Yoshi yang tampak mengabaikannya.
“Lagi makan bang. Ngga lihat apa?” Yoshi mengangkat mangkok saladnya.
“Yos.. kamu ngga pernah nonton abang tanding lagi ya.”
“Nonton kok.”
“Masa? Kok abang ngga lihat.”
“Aku nontonnya di tribun atas bang. Sengaja biar abang ngga terganggu konsentrasinya kalau lihat atau dengar suaraku. Abang payah nih masa udah empat turnamen ini kalah mulu. Ck.. bisa kegeser dari puncak klasemen.”
Azriel memandangi Yoshi. Dia baru sadar kalau selama dua bulan mengikuti turnamen selalu mengalami kekalahan. Dirinya selalu kehilangan semangat di tengah pertandingan hingga merusak konsentrasinya. Kini pemuda itu tahu apa yang menjadi penyebab semangatnya hilang akhir-akhir ini. Dengan cepat Azriel menarik tangan Yoshi keluar dari ballroom.
“Bang... eh.. kita mau kemana?”
Azriel tak menghiraukan pertanyaan Yoshi. Dia membawa gadis itu memasuki lift kemudian memencet tombol paling atas. Selama dalam lift Yoshi tak berhenti bertanya namun Azriel tak menjawabnya. Pegangan pemuda itu di pergelangan tangan Yoshi semakin erat.
Lift berhenti di lantai paling atas. Azriel menarik tangan Yoshi keluar dari kotak besi itu. Kemudian dia menaiki tangga yang menuju rooftop. Yoshi melihat keadaan sekeliling yang sepi. Bulu kuduknya mulai meremang. Akhirnya mereka tiba di rooftop. Suasana di sini tak kalah sepi, hanya lampu temaram yang menerangi bagian tertinggi dari gedung ini.
“Bang.. kita ngapain ke sini? Sepi gini, serem tahu. Gimana kalau ada tuyul, pocong, kuntilanak, sundel bolong, suster ngesot, vampire Cina, Sadako, zombie.....”
“Haaaiisssh berisik!”
Azriel meletakkan telunjuknya di bibir Yoshi untuk menghentikan gadis itu menyebutkan nama-nama hantu yang eksis di dunia perfilman.
“Abang cuma mau ngajak kamu ngobrol.”
“Iya tapi kenapa di sini bang? Ngga ada tempat lain apa? Aku takut.”
__ADS_1
Yoshi mencengkeram tuxedo yang dikenakan oleh Azriel sambil menundukkan pandangannya. Azriel melihat sekeliling, dia baru menyadari kalau suasana di rooftop benar-benar sepi. Bulu kuduknya mulai berdiri. Azriel berdehem beberapa kali untuk mengusir rasa takutnya.
“Ehem.. kita balik yuk Yos.”
Yoshi hanya mengangguk tanpa berani mengangkat kepalanya. Dia seperti melihat bayangan berkelebat dibalik pohon yang ada di ujung sana. Azriel dan Yoshi bergegas keluar dari rooftop. Dipencetnya tombol lift beberapa kali. Azriel melihat angka yang tertera dekat tombol yang memperlihatkan posisi lift.
Yoshi semakin merapatkan tubuhnya pada Azriel. Telapak tangannya sudah sedingin es, ketakutan begitu menderanya.
TING
Pintu lift terbuka, Azriel buru-buru menarik tangan Yoshi dan masuk ke dalamnya. Ditekannya terus tombol untuk menutup pintu. Jantungnya berdebar kencang ketika akan memasuki lift sudut matanya menangkap sesosok mahluk berpakaian putih berdiri di dekat pintu menuju rooftop.
Pintu lift tertutup rapat dan mulai bergerak turun. Azriel menghembuskan nafas lega. Dilihatnya Yoshi yang berdiri di sampingnya. Wajah Yoshi nampak pucat. Azriel menyesal mengapa mengajak gadis itu ke rooftop.
Setelah mengalami ketegangan layaknya adegan di film horor, akhinya mereka kembali ke lantai di mana ballroom berada. Mendapati kerumunan orang di depan ballroom membuat mereka kembali tenang.
“Yos.. maaf ya, kamu pasti takut.”
“Abang mah.. aku hampir kena serangan jantung tahu.”
“Maaf.. lagian kamu juga sih. Udah tahu tempat sepi, semua makhluk astral disebutin.”
“Au ah... abang sebenarnya mau ngomongin apa sih?”
“Abang kangen sama kamu.”
Yoshi terdiam, dia coba memastikan apa yang didengarnya barusan adalah nyata bukan khayalannya semata. Melihat tak ada reaksi dari Yoshi, Azriel kembali berkata.
“Abang kangen kamu Yos. Selama ini abang ngga sadar kalau kehadiran kamu menambah semangat abang bertanding. Dua bulan belakangan ini abang ngga melihat kehadiranmu dan itu berpengaruh sama mood abang. Tolong jangan jauhi abang lagi Yos. Abang sudah terbiasa dengan kehadiranmu, dengar suara cemprengmu, lihat kamu berjoged-joged kasih semangat ke abang.”
“Abang sebenarnya lagi nembak aku atau minta aku jadi pemandu sorak?”
“Yos...” kesal Azriel.
“Hihihi.. biasa aja kali bang mukanya jangan ditekuk gitu, kan gantengnya jadi hilang. Iya aku ngga akan nonton abang ngumpet-ngumpet lagi.”
“Pokoknya setiap aku tanding kamu harus ada ya.”
“Tar kalau ada yang nanya aku siapanya abang jawab apa?”
“Ya tinggal bilang aja kamu pacarnya abang. Apa susahnya sih.”
“Bener ya bang jangan ditarik lagi ucapannya. Denda sebelas trilyun kalau abang berani tarik kata-kata abang tadi.”
“Iya bawel.”
Azriel menepuk keningnya, kenapa dirinya bisa jatuh cinta pada gadis se-absurd ini. Semua gara-gara sumpah Ayunda padanya. sepertinya mulut ibu hamil itu keramat juga, dua kali sumpahnya jadi kenyataan.
“Bang.. kalo kita nikah aku mau mas kawinnya piala Thomas ya bang.”
“Kaga bisa mak Erot. Jangan aneh-aneh deh,” geram Azriel.
“Replikanya doang bang.”
“Serah dah.”
Azriel menggelengkan kepalanya. Digandengnya tangan Yoshi kembali masuk ke ballroom. Mungkin memang sudah nasibnya memiliki pendamping somplak bin sengklek seperti kakak, kakak ipar dan dua sahabatnya.
🍁🍁🍁
**Astaga Yoshi bener² deh di tempat sepi semua makhluk astral dipanggil, jadi Dateng beneran kan😬
Mamake tegang juga pas bikin part mau masuk ke lift. Inget kejadian sendirian di lantai empat nunggu pintu lift kebuka di kampus ITB, abis maghrib😬🙈
__ADS_1
Eh jadi curhat🤭
Minta doanya semoga Azriel nanti bisa bawa piala Thomas pulang jadi bisa dibikin replikanya buat mas kawin😂**