
Sudah hampir sebelas jam lamanya Akhtar berdiam diri di kediaman Chalissa. Namun sang penjaga rumah tak mengijinkannya masuk ke dalam. Berulang kali Akhtar memohon, namun pria berseragam putih biru itu bergeming. Karena kesal tak juga diijinkan. masuk, Akhtar mengguncang-guncang gerbang hingga membuat kebisingan, bahkan beberapa kali dia menendang pintu pagar demi menarik perhatian sang empu rumah.
“LISSA!!! LISSA!!!” teriak Akhtar sambil terus menendang pintu pagar. Berulang kali satpam mengingatkannya namun Akhtar tak menghiraukannya.
Teriakan dan tendangan di pintu pagar terus Akhtar lakukan. Usahanya membuahkan hasil. Orang yang ditunggunya akhirnya keluar dari rumah. Akhtar mendekatkan diri ke pagar, tangannya berusaha meraih tangan Chalissa.
“Sayang, tolong bilang kalau semua ini bohong kan? Pernikahan kita akan tetap berlangsung. Sayang tolong, jangan seperti ini.”
“Maaf.. pernikahan ini ngga bisa dilanjutkan. Maafkan aku Akhtar. Sebaiknya kamu pulang.”
“Lissa tunggu, berikan satu alasan kenapa kamu mau membatalkan pernikahan kita?”
“Karena kamu tidak sepadan dengannya!”
Bukan Chalissa yang menjawab, melainkan Tombak. Akhtar mengalihkan pandangannya pada pria yang berdiri tepat di samping anaknya.
“Om, ini ngga adil om. Aku akan buktikan kalau aku akan menjadi pendamping yang layak untuknya. Aku akan membahagiakannya om.”
“Sudahlah, lebih baik kamu pulang. Bukankah papamu yang sombong itu meminta anakku agar tidak mendekatimu lagi. Cih.. tapi lihat justru kamu yang datang mengemis pada kami. Pulanglah, aku tidak sudi memiliki menantu anak pecandu narkoba! Dan katakan pada Nino, berhentilah bersikap sombong, beraninya dia menghina putriku. Padahal dia sendiri hanyalah lelaki bodoh yang ditipu perempuan.”
“CUKUP!!! Om boleh menghinaku tapi jangan pernah menghina papaku. Baiklah saya terima semua keputusan om. Lissa, semoga kamu berbahagia dengan pilihan orang tuamu.”
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Akhtar bergegas masuk ke dalam mobilnya. Perjuangannya terhenti ketika dengan mudahnya Tombak menghina papanya. Dengan kecepatan tinggi dia meninggalkan rumah mewah itu.
🍁🍁🍁
Kalila berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Akhtar. Rain yang meminta ijin pada orang tuanya untuk menemani Kalila ikut berdiri di depan teras. Nino yang baru selesai menerima panggilan dari rekan bisnisnya ikut bergabung.
“Rain, sebaiknya kamu pulang nak. Biar papa antar.”
“Iya Rain, sebaiknya kamu pulang.”
Rain sebenarnya masih ingin menemani Kalila, jujur dia juga cemas memikirkan Akhtar yang tak kunjung pulang. Tapi dikarenakan waktu sudah hampir tengah malam, dia pun memutuskan untuk pulang. Nino mengeluarkan mobil untuk mengantar Rain pulang.
“Pa, apa semua akan baik-baik aja? Rencana pernikahan kak Akhtar sudah diumukan ke publik. Pasti papa dan mama akan sangat malu dengan pembatalan ini,” pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir Rain ketika Nino menghentikan kendaraannya di depan kediaman Regan.
“Mungkin sudah nasib kami Rain,” terdengar helaan nafas Nino yang begitu berat.
“Apa ada sesuatu pa?”
“Berita batalnya pernikahan Akhtar sudah tersebar. Mereka bahkan membahas latar belakang Akhtar. Tombak, manusia itu satu benar-benar brengsek,” Nino mencengkeram kemudi erat-erat.
“Apa ini akan berdampak pada perusahaan pa?”
“Bisa jadi. Tapi papa tidak peduli itu semua. Papa hanya mengkhawatirkan Akhtar. Jika sesuatu terjadi pada perusahaan, maka dia akan merasa sangat bersalah. Sejak berita itu dirilis, sudah tiga klien yang membatalkan kerjasamanya. Padahal mereka adalah hasil kerja keras Akhtar.”
“Kalau begitu jangan batalkan pernikahan itu pa.”
“Kamu bercanda Rain. Setelah penghinaan demi penghinaan yang dia lontarkan, papa ngga sudi harus mengemis padanya.”
“Papa tidak perlu mengemis. Langsungkan saja pernikahan itu, aku yang akan menjadi pengganti kak Lissa. Nama besar Rakan Putra Group pasti akan menyelamatkan reputasi papa dan perusahaan.”
Nino terkejut, dipandanginya wajah anak sahabatnya yang sudah beranjak dewasa. Ada keharuan di hati Nino mendengar ucapannya tadi. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Rain.
“Rain, kamu memang anak yang baik. Tapi maaf, papa tidak bisa menerima usulanmu ini. Kamu masih muda, ngga seharusnya kamu ikut menanggung beban kami. Kamu tidak usah khawatir, In Syaa Allah kami akan baik-baik saja.”
“Rain serius pa. Aku akan menggantikan kak Lissa untuk menikah dengan kak Akhtar, karena aku mencintai kak Akhtar.”
__ADS_1
“Rain...”
“Aku juga tidak bisa melihat kak Akhtar menderita. Aku berharap kehadiranku bisa menghapus lukanya. Aku akan bicara dengan papa, secepatnya aku akan mengabari keputusan papa.”
“Kamu serius nak?”
“Iya pa. Aku serius.”
“Terima kasih sayang. Tapi kalau papamu menentang, tolong jangan memaksakan diri.”
Rain mengangguk, Nino memeluk Rain penuh haru lalu mencium keningnya. Rain mencium punggung tangan Nino kemudian turun dari mobil. Dengan langkah pelan dia memasuki rumah sambil memikirkan cara bagaimana meyakinkan orang tuanya tentang keputusan gilanya menjadi pengantin pengganti.
🍁🍁🍁
Seluruh keluarga Vaughan sedang sarapan bersama di meja makan. Rain nampak tak bisa menikmati sarapannya. Sedari tadi matanya terus mencuri pandang ke arah Regan yang tengah menatap layar ponselnya dengan serius. Sejak semalan otaknya terus merangkai kata untuk berbicara dengan kedua orang tuanya. Regan meletakkan ponselnya di meja lalu matanya tertuju pada Rain.
“Rain, apa benar pernikahan Akhtar dengan Lissa batal?”
Baik Sarah maupun Reyhan terkejut mendengarnya. Keduanya melihat ke arah Rain dengan pikiran yang berbeda.
“Benar itu Rain?”
“Iya ma.”
“Loh kok bisa? Pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi. Pihak mana yang membatalkan?”
Reyhan cukup tegang menunggu jawaban Rain. Jujur saja dia takut kalau kakaknya yang menjadi penyebab batalnya pernikahan mereka. Apalagi tingkah Rain cukup mencurigakan pagi ini.
“Om Tombak yang batalin ma. Katanya sih karena latar belakang kak Akhtar.”
Tampak kelegaan dari wajah Reyhan. Regan dan Sarah hanya menggelengkan kepala. Seiring bertambahnya usia ternyata perilaku kakak dari Ega itu belum juga berubah.
“Ngga tau ma. Kemarin kak Akhtar nemuin kak Lissa tapi kayanya keputusan om Tombak ngga berubah. Papa Nino juga kasihan, gara-gara pembatalan pernikahan mereka sampai kehilangan klien.”
“Astaghfirullah, sampai segitu efeknya?”
“Bukan hanya kehilangan klien tapi harga saham perusahaan mereka juga turun. Karena Nino dituding menyembunyikan fakta tentang Akhtar dan mencoba mengambil keuntungan lewat pernikahan anaknya.”
Sarah mengucap istighfar beberapa kali. Hanya karena masalah batalnya pernikahan, sampai merembet ke masalah bisnis juga.
“Pa, ma, habis sarapan ada yang mau Rain bicarakan.”
“Soal apa nak?”
“Nanti aja ya pa, habis sarapan.”
“Gue ngga diajak nih?”
“Ya ikut aja kalau lo mau.”
Semuanya kembali meneruskan sarapannya. Regan yang sedari tadi belum menyentuh sarapannya mulai menyantapnya. Seusai sarapan, semua berkumpul di ruangan keluarga, termasuk Reyhan yang penasaran dengan apa yang ingin disampaikan kakaknya. Rain meremat jemarinya beberapa kali, tampak kegugupan menguasai dirinya.
“Apa yang mau kamu bicarakan Rain?’ suara Regan memecah keheningan. Dada Rain berdegup kencang.
“Hmm.. pa, ma, Rain mau nikah.”
“Hah?” sahut Sarah dan Reyhan bersamaan saking terkejutnya. Hanya Regan yang masih terlihat tenang.
__ADS_1
“Nikah sama siapa Rain? Kan calon mantu papa masih di London,” goda Regan.
“Ish papa, bukan El pa.”
“Terus siapa? Gara?”
“Papa...” Rain merajuk karena Regan terus menggodanya.
“Rain jangan berbelit-belit kamu mau nikah sama siapa? Kenapa mendadak begini?” suara Sarah mulai terdengar serius. Rain menelan ludahnya kelat melihat sikap Sarah.
“Aku mau minta ijin sama mama dan papa untuk menjadi pengantin pengganti kak Akhtar.”
“APA??!!!”
Regan yang tadi terlihat santai kini mulai serius. Dia menatap tajam ke arah putrinya, begitu pula dengan Sarah. Reyhan hanya mampu menutup matanya, kalau bisa ingin rasanya dia menulikan telinganya agar tidak mendengar penuturan kakaknya yang otaknya sudah mulai oleng.
“Rain, jangan bercanda kamu. Apa maksudnya jadi pengantin pengganti? Kamu mau menggantikan Lissa menikah dengan Akhtar begitu?” gusar Sarah.
“Apa Akhtar yang memintamu menjadi pengganti Lissa?”
“Ngga pa, ini murni keinginan Rain sendiri.”
“Apa yang ada dalam pikiran kamu Rain? Kamu pikir pernikahan itu permainan? Kalau pemain utama berhalangan maka pemain cadangan yang akan menggantikan begitu? Mama ngga setuju!”
“Ma, Rain mencintai kak Akhtar.”
“Mencintai boleh Rain, mama ngga melarangnya tapi bukan berarti karena cinta kamu mengambil keputusan gegabah.”
“Apa mama ngga kasihan dengan papa Nino dan mama Kalila? Mereka harus menanggung malu karena pembatalan ini. Belum lagi masalah perusahaan juga terkena imbasnya. Rain ambil keputusan ini bukan karena perasaan Rain semata, tapi juga untuk kebaikan semua orang.”
“Kamu ngga usah pikirkan masalah perusahaan. Papa akan membantu papa Nino, lagi pula ayah Irzal dan papi Ega tidak akan tinggal diam. Papa anggap pembicaraan ini tidak pernah ada.”
Regan bangun dari duduknya lalu melangkah keluar dari ruangan keluarga. Rain segera mengejar sang papa. Dia memegang lengan Regan, dengan tatapan penuh permohonan dia melihat ke arah lelaki yang menjadi cinta pertamanya.
“Pa, Rain mohon pertimbangkan lagi permintaan Rain. Dulu papa mendukung Ily dengan om Dimas. Kenapa papa ngga bisa mendukung anak sendiri?”
“Karena ini kasus yang berbeda Rain. Ily dan Dimas itu saling mencintai. Semua orang tahu bagaimana cinta dan sayangnya Dimas pada Ily. Tapi kamu, apa Akhtar mencintaimu? Dalam hatinya hanya ada Lissa, bukan kamu. Apa yang kamu harapkan nantinya dari pernikahan itu selain sakit hati? Jangan masuk ke dalam hubungan yang hanya akan memberikan penderitaan nak. Kamu boleh anggap papa kejam, tapi ini demi kebaikanmu. Papa sayang kamu dan papa ngga rela dunia akhirat kalau ada laki-laki yang menyakitimu!”
Regan melepaskan pegangan Rain dari lengannya kemudian beranjak pergi. Tubuh Rain luruh jatuh ke lantai, airmatanya mulai berderai. Reyhan membantu Rain untuk bangun lalu mendudukkannya di sofa.
“Hari ini kamu diam di rumah. Urusan pembatalan pernikahan Akhtar biar Lita yang menangani.”
“Tolong mama pertimbangkan lagi. Aku berjanji akan membuat kak Akhtar mencintaiku. Tolong pikirkan juga bagaimana kecewanya mama Kalila dengan semua ini. Rey, tolong kamu bantu bujuk mama. Bukankah mama Kalila juga mamamu? Dalam dirimu mengalir juga darah mama Kalila. Apa kamu tega membiarkan ibu susumu menderita?”
Reyhan tercenung, oh betapa pintar dan liciknya kakaknya ini menyeretnya dalam kegilaannya. Membuatnya seperti anak yang tidak tahu berterima kasih kepada ibu susunya jika tidak mendukung keinginan konyol sang kakak.
Setelah sukses membuat Reyhan dalam dilema, Rain bergegas naik ke kamarnya. Bantingan pintu kamar Rain terdengar sampai ke lantai bawah. Membuat Mirna terkejut, wanita paruh baya itu mengelus dadanya beberapa kali.
🍁🍁🍁
**Cinta itu memang buta, ibarat ta* kambing serasa Cha Cha😂
Rain yang minta nikah, Reyhan yang puyeng, sabar ya Rey..
Udah ya udah up 3 bab hari ini. Please jangan Ngambek Ama mamake✌️
Like..
__ADS_1
Comment..
Vote**..