
Sabtu pagi, Ayunda sudah bersiap. Di meja makan dia menyiapkan bekal untuk Aslan. Dari arah lift, keluar Elang beserta Azkia juga Aslan. Anak itu berlari ke arah Ayunda.
“Ate.. ate..”
“Eh Aslan udah ganteng. Sebentar lagi kita berangkat oke.”
Ayunda menghadapkan telapak tangannya pada Aslan, mengajak untuk ber ‘tos ria’. Dengan cepat Aslan menepuk telapak tangan Ayunda dengan telapak tangannya. Pandangan Ayunda kemudian tertuju pada kakak dan kakak iparnya. Keduanya sudah siap pergi.
“Kamu mau ajak Aslan kemana?”
“Ke tempat bermain.”
“Sendiri?”
“Ngga, sama kak Rey sama bang Ilan juga.”
Elang mengernyitkan keningnya. Bagaimana bisa dua orang lelaki itu terlibat dalam kegiatan baby sitter sang adik.
“Kok bisa mereka ikutan?”
“Ish mas El kepo aja deh. Udah sana pergi.”
Ayunda mendorong tubuh sang kakak. Sebelum pergi, Elang mengusak puncak kepala sang adik, kemudian pergi keluar seraya merangkul Azkia. Ayunda memandangi kepergian kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Melihat kemesraan sang kakak, membuat dia juga ingin cepat merasakan bagaimana berumah tangga. Menghabiskan waktu bersama lelaki yang menjadi pasangan halalnya, melakukan apa saja yang terlarang baginya saat ini. kemudian memiliki anak yang lucu seperti Aslan. Tanpa sadar Ayunda berkhayal dirinya bersama dengan Firlan sebagai suami istri.
Lamunan Ayunda terhenti ketika merasakan ada yang menarik-narik ujung tunik yang dikenakannya. Ayunda menundukkan pandangan lalu melihat Aslan sudah berdiri di sampingnya. Tangan Aslan menarik ujung pakaian Ayunda dengan kepala mendongak. Ayunda berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan anak itu.
“Kenapa bang Aslan?”
“Ayo.. gi.. gi..”
Ayunda mengerti kalau Aslan sudah tak sabar ingin pergi. Ayunda mengambil tas selempangnya juga kotak bekal Aslan lalu menuntun bocah itu keluar rumah. Melihat belum ada tanda-tanda kedatangan Reyhan dan Firlan. Ayunda berinisiatif mendatangi rumah mereka.
Ayunda baru sampai di depan rumah Firlan ketika Reyhan keluar dari rumah. Pemuda itu segera menghampiri Ayunda. Firlan yang melihat Ayunda dari balkon kamarnya bergegas turun seraya menyambar kunci mobil dari meja kerjanya.
“Udah siap Ay?”
“Udah kak.”
Melihat kedatangan Reyhan, Aslan mengasongkan kedua tangannya ke arah pemuda itu. Dengan cepat Reyhan meraup Aslan dalam gendongannya.
“Aslan mau main kemana sama om?”
“Ain.. ain..”
“Nanaz ngga ikut kak?”
“Hari ini bang Akhtar mau ajak Nanaz jalan-jalan. Ayo berangkat.”
“Eh tunggu bang Ilan dulu.”
“Bang Ilan mau ikut?”
“Iya.”
Ada raut kekecewaan di wajah Reyhan. Kalau Firlan ikut, bagaimana dia bisa menyatakan isi hatinya pada gadis itu.
__ADS_1
“Ya udah aku ambil mobil dulu.”
“Pake mobilku aja Rey.”
Firlan sudah ada di antara mereka. Reyhan tak punya pilihan selain mengangguk pasrah. Terlebih Aslan tidak mau turun dari gendongannya. Firlan mengeluarkan mobilnya. Reyhan dan Ayunda segera naik. Reyhan duduk di depan bersama Firlan, dan Ayunda di kursi belakang. Ayunda membujuk Aslan agar mau duduk bersamanya. Namun bocah itu tak ingin lepas dari Reyhan.
“Kita kemana nih?”
“Ke kidz Station aja bang.”
“Ok.”
Firlan segera melajukan kendaraannya menuju Pandawa Mall. Kidz Station merupakan tempat bermain anak yang memiliki beragam permainan untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun. Kidz Station berada di Pandawa Mall, tepatnya di lantai 5.
Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk mereka sampai di sana. Mereka langsung menuju lantai lima. Mata Aslan berbinar melihat tempat bermain favoritnya. Dia segera berlari masuk saat Firlan masih membeli tiket masuk. Reyhan bergegas mengejarnya.
Dengan antusias Aslan mencoba semua permainan yang ada di sana. Reyhan dengan sabar menemani bocah itu bermain. Sesekali Ayunda dan Firlan menemaninya, namun anak itu lebih senang ditemani oleh Reyhan. Pemuda itu hanya pasrah, waktunya dimonopoli oleh bocah kecil yang tingginya belum mencapai 100 cm.
Ayunda duduk di dekat area permainan ditemani oleh Firlan. Keduanya menatap Aslan yang sedang melompat-lompat di atas trampolin. Reyhan dengan setia berada di sampingnya.
“Aduh aku jadi ngga enak sama kak Rey. Malahan dia yang jadi baby sitter-nya Aslan. Anak itu kalau ketemu kak Rey suka susah lepas. Nanaz sama Gavin juga, punya magnet kali ya kak Rey,” Ayunda tergelak.
“Ngga apa-apa Yun, itung-itung dia latihan sebelum jadi ayah.”
“Bang Ilan ngga mau ikutan latihan juga?”
“Nanti kalau udah dapet calon ibunya.”
“Cie.. lagi nyari calon pasangan halal nih.”
BLUSH
Wajah Ayunda memerah melihatnya. Dia memalingkan wajahnya ke arah samping, tak ingin Firlan melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
“Kok diem Yun? Ngga mau ya?”
“Ngga kok!”
Spontan Ayunda menutup mulut dengan tangannya, merasa terjebak dengan pertanyaan Firlan. Dengan cepat Ayunda menghambur ke arah Aslan dan Reyhan demi menghilangkan kegugupannya. Firlan memandangi gadis itu sambil tersenyum.
Kamu gemesin banget sih Yunda. Aku akan bahagiain kamu kalau kamu memang mau menjadi pasanganku.
Reyhan melihat pipi Ayunda yang kemerahan lalu melihat Firlan yang sedang tersenyum dengan mata terus tertuju pada gadis itu. Hati Reyhan mendadak panas, cemburu seketika menguasai hatinya. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain agar Ayunda tak menyadari perubahan wajahnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat panggilan dari rumah sakit, Reyhan segera mengangkatnya. Dia sedikit menjauh dari Ayunda. Setelah berbicara sebentar, Reyhan kembali pada Ayunda.
“Ay, maaf. Aku harus ke rumah sakit, ada pasien yang butuh operasi darurat.”
“Oh, iya kak. Ngga apa-apa pergi aja, ada bang Ilan yang nemenin kok.”
Reyhan mengangguk, dia mendekati Aslan sebentar untuk berpamitan. Awalnya Aslan tak ingin ditinggal, tapi Ayunda segera menenangkannya. Reyhan bergegas pergi, tapi sebelumnya menghampiri Firlan terlebih dahulu.
“Bang, aku pergi dulu ya. Ada telepon dari rumah sakit. Aku titip Yunda sama Aslan.”
“Iya, tenang aja.”
Reyhan mengangguk, kemudian setengah berlari dia meninggalkan area permainan trampolin. Aslan menjerit memanggil namanya ketika melihat kepergian Reyhan. Firlan bergegas menghampiri untuk menenangkan bocah itu. Beruntung Firlan berhasil membujuknya dengan iming-iming es krim. Mereka beranjak dari area trampolin menuju stand ice cream yang masih berada di area Kidz Station.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Puas bermain di Kidz Station, Firlan mengajak makan di salah satu restoran fast food. Bekal yang tadi dibawa Ayunda sudah ludes di makan Aslan. Anak itu terlalu banyak bergerak yang menghabiskan energi. Di restoran, Aslan hanya meminum susu dingin dan kentang goreng saja. Sesekali Ayunda membantu anak itu memakan kentangnya. Firlan tersenyum memandangi Ayunda yang begitu telaten menyuapi Aslan. Berbeda dengan Salsa yang tidak menyukai anak kecil. Baginya anak kecil itu makhluk merepotkan.
Beres dengan acara makan, Aslan masih belum ingin pulang. Dia mengajak Ayunda mampir ke taman ketika mobil yang dikendarai Firlan melintasi sebuah taman. Akhirnya Ayunda menuruti kemauan keponakannya itu.
Aslan berlarian di atas rumput dengan senangnya. Dengan cepat dia berbaur bersama anak-anak lain yang juga sedang bermain. Bergantian mereka menaiki perosotan, ayunan atau jungkat-jungkit yang ada di sana. Ayunda terus mengikuti pergerakan Aslan yang tak mau diam.
“Yun..”
“Iya bang.”
“Pulang sekarang yuk. Abang harus ke kantor. ada klien mendadak minta ketemu.”
“Oh iya bang, sebentar. Bang Aslan..”
Ayunda bergegas menghampiri Aslan yang sedang mengantri bermain perosotan. Dari tempatnya berdiri Firlan memperhatikan Ayunda membujuk Aslan untuk pulang. Beberapa kali terlihat Aslan menggelengkan kepalanya. Melihat Ayunda kesulitan membujuk, Firlan pun bergegas mendekat.
“Nanti kita main lagi ke sini sama om Rey, ya.”
“Nda au.. alan au ain agi.”
“Besok kita main lagi ya,” sela Firlan, mencoba ikut membujuk namun Aslan bersikeras.
“Abang pergi aja deh, biar aku sama Aslan di sini sampai dia puas main.”
“Jangan gitu Yun, abang ngga tenang ninggalin kamu sama Aslan di sini.”
“Ish abang ngga usah lebay deh. Nanti Yunda tinggal telpon bang Farel jemput ke sini. Udah bang Ilan pergi aja, jangan sampai klien pentingnya nunggu.”
Firlan nampak ragu, tapi Ayunda terus meyakinkannya. Akhirnya Firlan tak punya pilihan selain pergi sendiri. Beberapa kali Gara sudah menghubunginya untuk cepat datang.
“Abang pergi dulu ya, hati-hati Yun. Kalau ada apa-apa cepetan telpon abang.”
“Iya bang.”
Firlan mengusap puncak kepala Ayunda lembut sebelum pergi meninggalkannya. Hati Ayunda berdenyut ketika merasakan sentuhan tangan Firlan di kepalanya. Matanya terus mengikuti langkah Firlan menuju mobilnya.
Setengah jam berlalu, Aslan masih asik bermain. Kini dia tengah menaiki ayunan. Seorang teman yang usianya lebih tua dari anak itu mendorong ayunan dari belakang. Ayunda berdiri tak jauh dari ayunan. Tiba-tiba tanpa sengaja anak yang di belakang ayunan mendorong ayunan itu cukup kencang, Aslan yang tidak berpegangan erat pada rantai ayunan di kedua sisinya kehilangan keseimbangan. Ketika ayunan mengarah ke depan dengan posisi cukup tinggi, tubuh Aslan melayang jatuh.
“Aslan!” teriak Ayunda.
🍁🍁🍁
**Waduh Aslan gimana nasibnya ya? Gawat nih bisa² raja hutan ngamuk😬
Buat karakter Firlan, di sini mamake jelasin. Dia itu emang tipe susah move on tapi kalau udah jatuh cintrong, setianya sampe liang lahat🤭 Dan dia ngga kaya Akhtar yg masih teringat mantan walau sudah menikah.
Untuk Reyhan, dia persis kaya papa Regan yang kalau udah cinta sama satu cewek akan terus dijaga sampai perasaan itu hilang dengan sendirinya.
Ayunda masih polos. Impiannya pengen punya pasangan kaya ayah Irzal atau mas El. Karakter Firlan yg pendiam, sedikit banyak mirip dengan dua cowok impiannya. Jadi ngga aneh kan kalau Ayunda jatuh cintrong sama Firlan.
Jangan lupa loh dukungannya ke mamake biar tetep semangat. Di tengah perjalanan ke luar kota mamake masih sempetin up buat kalian. So.. like, comment n vote-nya ya😉
Kalau punya baby sitter model begini, mamake juga mau. Aa Rey tolong jagain anak mamake dong😜**
__ADS_1