Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Lotek Fenomenal


__ADS_3

Tak terasa kini kehamilan Azkia sudah memasuki bulannya. Sedari pagi Azkia tak enak diam. Dia kerap merasakan sakit di perutnya. Beberapa kali dia merengek pada Elang, mengeluhkan pinggangnya yang terasa nyeri. Elang dengan sabar mengusap-usap pinggang sang istri. Hari ini dia sengaja tak ke kantor, ingin menemani sang istri yang terus terlihat gelisah.


“Sakit mas,” Azkia meremas tangan Elang saat rasa sakit kembali menghujamnya.


“Kita ke rumah sakit aja ya.”


“Nanti aja mas. Mending kita ke bawah aja yuk.”


Elang mengangguk, dia berdiri lalu membantu sang istri berdiri. Tangan kirinya memeluk pinggang Azkia, membantunya berjalan. Sedang tangan kanannya memegang tas pakaian yang akan dibawa ke rumah sakit.


Sesampainya di bawah, ternyata Erik juga Deski sudah datang. Semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Irzal dan Farel juga memutuskan cuti. Elang membantu Azkia duduk di sofa. Beberapa kali wajah Azkia meringis menahan rasa sakit. Poppy datang membawakan teh manis hangat.


“Gimana Kia? Perut kamu masih sakit? Jeda waktunya gimana?”


“Agak lama sih bun.”


“Kayanya masih pembukaan awal. Mending tunggu di rumah aja ya. Kalau ke rumah sakit sekarang, sama aja nunggu juga. Biasanya kalau anak pertama emang agak lama pembukaannya sampai komplit. Kamu harus banyak gerak, jalan-jalan aja seputar rumah biar cepat pembukaannya.”


“Iya bun.”


“Kamu belum makan kan? Mending makan dulu, nanti pas melahirkan kan butuh tenaga.”


“Bunda bener, sayang. Kamu makan dulu ya. Kamu mau makan apa?”


“Aku ngga mau makan nasi mas. Aku mau makan lotek pake lontong. Tapi bang Deski yang beli ya.”


Deski menelan ludah. Dia memicingkan matanya, menatap ibu hamil yang tengah meringis menahan sakit. Yakin sekali kalau permintaan adiknya tidak akan sesederhana itu.


“Bang, mau kan beliin lotek?”


“Iya mau. Lotek aja nih? Ngga ada embel-embelnya gitu?”


“Ngga, beli lotek pake lontong cabenya lima.”


“Jangan pedes-pedes Kia. Nanti kamu bingung mulesnya karena sakit perut atau kontraksi,” Poppy mengingatkan.


“Ya udah cabenya tiga aja. Tapi yang jual loteknya jangan yang masih perawan ya bang. Umurnya antara 50 sampai 55 tahun, ngga boleh kurang ngga boleh lebih. Terus cari tukang loteknya yang badannya agak gemuk. Aku ngga mau yang kurus, soalnya lebih enak kalau yang bikin, gemuk badannya. Terus nanti abang juga harus selfi sama tukang loteknya, kirimin ke aku fotonya.”


Deski melongo mendengar permintaan adiknya. Semua yang ada di ruangan hanya bisa tersenyum tertahan, takut membuat mood ibu hamil rusak.


“Ya Allah dek, masa iya buat beli lotek aja abang harus interview dulu.”


“Jadi abang ngga mau?!” nada suara Azkia sudah naik dua oktaf.


“Iya mau dek, mau,” Deski menyambar kunci mobil dan ponsel yang ada di meja.


“Bang Farel ikut bang Deski ya. Aku takut dia beli loteknya ngga sesuai pesanan terus selfinya juga asal ambil orang aja yang sesuai kriteria.”


“Astaga dek,” Deski menepuk keningnya frustrasi.


Sambil terkekeh Farel bangun dari duduknya lalu berjalan menyusul Deski yang sudah lebih dulu pergi. Keduanya memasuki mobil sport milik Deski. Tak lama kendaraan roda empat itu bergulir.


“Kia kebangetan bener. Lagi sakit nahan kontraksi masih sempet-sempetnya mikirin cara buat nyiksa gue.”


“Sabar aja bang,” Farel tak bisa berhenti tertawa.


Setelah berkendara sekitar sepuluh menit, Deski menghentikan kendaraannya di depan gerobak tukang lotek yang mangkal di pinggir jalan. Namun tak lama kendaraannya kembali bergulir begitu melihat wanita penjual lotek tak sesuai dengan kriteria Azkia.


Beberapa kali Deski berhenti di tukang lotek tapi setelah wawancara singkat, tak ada yang sesuai dengan kategori usia yang dipatok oleh Azkia. Farel menelpon temannya menanyakan soal penjual lotek. Kemudian dia mengarahkan Deski ke suatu tempat. Setelah memarkirkan mobilnya, Deski dan Farel berjalan memasuki gang. Kios tukang lotek yang diinfokan teman Farel posisinya berada di dalam gang.


Setelah berjalan sekitar seratus meter, mereka menemukan sebuah kios lotek. Deski menghembuskan nafasnya lega. Dari ciri-ciri fisik, penjual lotek itu masuk kriteria Azkia. Wanita itu bertubuh tambun dan diperkirakan berusia lima puluh tahunan. Deski masuk ke dalam kios, disusul oleh Farel.


“Bu, loteknya satu ya cabenya tiga terus pake lontong.”


“Boleh mas, silahkan duduk dulu.”


Ibu itu segera mengulek bumbu lotek, sesekali dia memandang genit ke arah Farel dan Deski.


“Ibu udah lama jualan lotek?”

__ADS_1


“Udah dua puluh tahun mas.”


“Wah udah lama juga ya. Emang ibu sekarang berapa tahun?”


“Sekarang umur saya 51 tahun.”


Yes, Deski berteriak dalam hati. Ukuran tubuh dan umur sudah sesuai kriteria. Farel tersenyum, dalam hati dia memuji cara Deski mengorek informasi dari penjual lotek itu.


“Tumben sepi ya bu.”


“Namanya jualan mas, kadang sepi kadang rame. Kalau lagi rame, saya suka kewalahan sendiri.”


“Emang ngga ada yang bantuin bu? Anak atau cucunya gitu.”


“Ih si mas ngeledek ya. Saya ngga punya anak atau cucu,” penjual lotek itu mendekatkan wajahnya ke arah Deski.


“Saya masih perawan tingting mas,” bisiknya sambil terkikik.


Deski dan Farel terbatuk mendengarnya, sontak mereka saling berpandangan. Syarat pertama Azkia ambyar sudah.


“Kenapa mas? Kok kaget gitu? Semenjak dikhianati tunangan saya, saya lebih memilih hidup menjomblo. Tapi kalau mas-mas mau menikah dengan saya, saya mau kok mengakhiri masa jomblo saya. Walaupun umur sudah 51 tahun, tapi saya ini masih perawan, masih sempit karena masih gress belum pernah dipakai.”


Deski dan Farel kembali terbatuk. Penjual lotek itu hanya terkikik geli melihat ekspresi dua lelaki tampan di dekatnya ini. Tak lama setelahnya Pesanan lotek jadi. Buru-buru Deski membayarnya tanpa mengambil kembalian, dia bergegas pergi.


“Jadi gimana nih?”


“Padahal biarin aja, si Kia ngga akan tahu tuh ibu udah nikah atau belum. Kalau kita bilang udah juga dia pasti percaya.”


“Terus gue harus foto bareng dia gitu? Ogah banget, tar dia grepein badan gue gimana, hiii,” Deski bergidik, Farel terbahak melihatnya.


“Ya udah, jalan lagi. Nih ada satu lagi tempat jual lotek rekomendasi temen gue. Tempatnya ngga jauh dari sini, buruan sebelum si bumil keluarin alarm.”


Deski kembali tancap gas. Kini kendaraannya menuju sebuah kompleks perumahan. Menurut teman Farel, kios tukang lotek itu berada di dalam kompleks. Setelah berputar-putar sebentar, akhirnya dia menemukan penjual lotek tersebut. Tertulis di etalase miliknya ‘Lotek bu Imas’. Deski dan Farel turun dari mobil. Terlihat beberapa orang pembeli sedang mengantri. Seorang gadis muda keluar dari kios menghampiri mereka.


“Mau beli lotek mas?”


“Iya, mba yang jualnya?”


“Oh.. hmm.. umur ibu kamu berapa ya?”


“Kenapa nanya-nanya mas?”


“Pengen nanya aja. Soalnya adik saya lagi ngidam lotek. Dia maunya yang jual lotek umurnya antara 50 sampai 55 tahun.”


“Ooh gitu, ibu saya umurnya 54 tahun mas.”


“Alhamdulillah masuk kriteria. Saya pesen tiga ya mba, yang satu cabenya tiga pake lontong. Yang dua cabenya dua aja, ngga usah pake lontong.”


“Sebentar ya mas.”


Gadis itu masuk ke kios, berbicara sebentar dengan sang ibu, tak lama kembali keluar.


“Aduh maaf mas, loteknya habis.”


“Yah, satu aja deh mba yang buat adek saya. Saya udah keliling nih, cari kriteria tukang lotek yang sesuai keinginan adik saya susah banget. Ya please ya.”


Gadis itu kembali berbicara dengan ibunya. Setelah berdebat sebentar, dia kembali keluar menghampiri Deski yang sedang harap-harap cemas.


“Hmm.. gini mas, sebenernya loteknya udah abis. Tapi kalau mas maksa, saya bisa kasih tapi cuma satu bungkus aja. Itu juga ngambil jatah dari pesanan orang.”


“Makasih ya mba, saya bayar sepuluh kali lipat deh buat ganti kerugian.”


“Ngga usah mas, bayar harga normal aja. Tapi saya boleh ya selfi sama mas berdua. Terus masnya harus peluk saya mesra gitu, gimana?”


Tanpa pikir panjang Deski langsung mengangguk, tapi tidak dengan Farel. Dia menatap kesal pada Deski. Akhirnya sesi foto yang diminta gadis itu terlaksana. Beberapa kali dia berfoto bersama Deski juga Farel dengan gaya bak pasangan romantis. Bahkan ketika mereka foto bertiga, sang gadis meminta pose seakan-akan Deski dan Farel sedang memperebutkannya. Walaupun gedeg bin gondog, tapi kedua pria itu tetap melakukannya demi ibu hamil dan calon keponakan yang sebentar lagi akan melihat dunia.


Setengah jam kemudian pesanan lotek selesai. Sebelum pergi, Deski menyempatkan diri berfoto dengan bu Imas sebagai bukti otentik untuk Azkia.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Sementara itu di rumah, Azkia semakin merasakan rasa sakit yang intens. Poppy menyarankan untuk segera ke rumah sakit. Saat sedang bersiap-siap, ponsel Azkia bergetar, sebuah pesan masuk. Foto Deski bersama bu Imas terpampang di layar ponsel. Tak lama panggilan dari Deski masuk.


“Halo dek.”


“Abang lama banget sih beli lotek aja!” sembur Azkia seraya menahan sakit.


“Ya kan susah dek cari yang sesuai kemauan kamu.”


“Aku ke rumah sakit sekarang.”


“Terus loteknya gimana?”


“Ya bawa ke rumah sakit!!”


Azkia memutuskan panggilan kemudian memanggil suaminya yang sedang menyiapkan mobil. Dibantu dengan Poppy dan Ayunda, dia berjalan menuju mobil. Hati-hati Elang membantu Azkia masuk ke dalam mobil.


“Mas El, duduk di sini sama aku.”


“Terus yang nyetir siapa? Mas ngga percaya sama Yunda.”


“Biar gue aja El.”


Terdengar suara Firlan. Dia yang sedang pulang ke rumah, melihat kesibukan di rumah Elang lalu datang menghampiri. Elang melemparkan kunci mobil pada Firlan, lalu duduk di samping istrinya. Ayunda duduk di kursi depan, disusul oleh Firlan, tak lama kendaraan mereka mulai melaju. Mobil Irzal dan Erik menyusul di belakangnya.


Sesekali terdengar rintihan Azkia saat merasakan kontraksi. Elang terus berusaha menenangkan istrinya. Tangannya mengusap pinggang Azkia untuk mengurangi rasa sakitnya.


Beberapa kali Ayunda menengok ke kursi belakang, melihat kondisi kakak iparnya. Terkadang dia ikut meringis melihat Azkia kesakitan.


“Yun, kenapa?” tegur Firlan.


“Ngga bang. Itu kasihan lihat kak Kia, pasti sakit.”


“Namanya juga mau melahirkan. Nanti kamu juga bakal ngalamin.”


“Ck.. bang Ilan, masih jauh keles. Lagian belum punya calon juga.”


“Masa sih? Kaga caya.”


“Percaya mah sama Allah bang, bukan sama Yunda.”


Firlan tergelak lalu mengusak puncak kepala Ayunda. Lagi-lagi gadis itu merasakan debaran di dadanya. Dia memalingkan wajahnya ke jendela samping, takut Firlan melihat wajahnya yang merona.


“Tenang aja kalau kamu ngga laku-laku, tar abang yang nikahin deh.”


“Dih emangnya Yunda baju, kalau ngga laku terus diobral.”


Firlan kembali tergelak, berada dekat dengan gadis itu selalu membuat mood-nya naik. Ayunda mencebikkan bibirnya ke arah Firlan, namun entah kenapa hatinya bahagia mendengar ucapan Firlan barusan.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Firlan turun lalu mengambilkan kursi roda. Pelan-pelan Elang mendudukkan Azkia di kursi roda kemudian mendorongnya menuju ruangan bersalin. Sebelumnya dia sudah menelpon dokter Cheryl soal kedatangan mereka.


“Ay!”


Langkah Ayunda dan Firlan tertunda begitu mendengar suara seseorang. Reyhan yang baru menyelesaikan shift segera mendekati keduanya.


“Kamu ngapain ke sini?”


“Kak Kia mau ngelahirin.”


“Oh, ya udah kita ke lantai lima sekarang.”


Ketiganya segera masuk ke dalam lift. Lift yang mereka masuki telah terisi oleh beberapa orang. Ketika di lantai dua, lift kembali berhenti. Masuk tiga orang lainnya, membuat Firlan terpaksa bergeser. Tapi kemudian tubuhnya terdorong hingga tanpa sengaja hampir menabrak Ayunda.


Firlan menahan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu ke dinding lift, membuat Ayunda berada dalam kungkungannya. Untuk beberapa saat keduanya saling menatap. Lagi-lagi jantung Ayunda berdegup kencang, dia segera menundukkan kepalanya. Firlan pun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sementara Reyhan menyaksikan pemandangan di depannya dengan dada sesak.


🍁🍁🍁


**Deski mau beli lotek aja harus interview dulu😂


Siap² ya bentar lagi anak mas El & neng Az bakal lahir. Kira² jenis kelaminnya apa hayo?

__ADS_1


Udah mamake kasih bocoran ya yang season 4. Season 3 sisa 1 episode lagi, In Syaa Allah hari ini mamake up 2 bab.


Senin sudah menjelang, jangan lupa buat kasih vote, ok😉 Like and comment nya juga ya😘**


__ADS_2