
Ara mematung di depan teras memandangi tetesan air yang belum berhenti turun sejak semalam. Kalau bukan hari ini ada try out menjelang ujian akhir, malas rasanya Ara berangkat ke sekolah. Lebih baik tiduran dibawah selimut sambil memeluk Farel eh guling maksudnya.
Farel yang telah siap dengan setelah kerjanya menghampiri Ara yang masih termenung di teras. Mencium aroma maskulin yang begitu dikenalnya, Ara membalikkan tubuhnya. Sejenak dia memandangi sang suami yang terlihat tampan dalam balutan kemeja lengan panjang berwarna hitam.
“Ayo abang antar ke sekolah.”
“Tumben.”
“Ya udah kalau ngga mau.”
“Siapa yang bilang ngga mau.”
Ara mendahului Farel masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan roda empat itu bergulir di atas aspal yang basah akibat guyuran hujan yang masih belum berhenti sejak semalam.
Beberapa ruas jalan mengalami kemacetan karena genangan air dari selokan yang tak cukup menampung tumpahan air hujan. Farel melihat jam di pergelangan tangannya. Lima belas menit lagi bel sekolah Ara akan berbunyi. Farel mempercepat laju mobilnya walaupun beberapa kali harus tertahan karena kemacetan.
Jam tujuh kurang lima menit mereka sampai juga di depan gerbang sekolah Ara. Hujan juga sudah berhenti. Ara meraih tangan Farel lalu mencium punggung tangannya sebelum turun dari mobil. Kedatangannya disambut oleh teman-temannya yang juga baru sampai.
“Dianter siapa Ra?”
“Bang Farel.”
“Eh mana bang Farelnya? Kok ngga turun?
“Emang mau ngapain dia turun?”
“Biar gue semangat ngerjain try out hari ini. Anggap aja bang Farel itu mood booster buat gue. Gantengnya itu loh bikin dada deg deg ser.”
Ara mendengus kesal mendengar ucapan temannya. Untung saja Farel tidak turun dari mobil. Bahaya kalau pria itu menunjukkan wajahnya.
“Ara!”
Jantung Ara berdegup kencang ketika mendengar suara Farel di belakangnya. Dengan cepat dia membalikkan badannya. Suaminya itu tengah berjalan ke arahnya. Dan lima orang temannya yang tadi menanyakan Farel langsung kegirangan.
“Ya ampun bang Farel tambah ganteng aja.”
“Bang udah punya calon makmum belum? Kalau belum, adek juga mau bang.”
“Jangan mau bang, mending sama aku aja.”
“Tipe bang Farel yang kaya gimana sih?”
“Bang, mau nunggu aku lulus sekolah ngga? Abis itu halalin aku bang.”
Kuping Ara panas mendengar celotehan teman-temannya itu. Dan yang lebih menyebalkan Farel justru memberikan senyuman manisnya pada lima cewek kecentilan itu. Bergegas dihampirinya Farel lalu menariknya menjauh dari teman-temannya.
“Abang ngapain turun sih?”
“Abang cuma mau kasih kamu uang saku. Tadi abang lupa. Emang kamu ngga butuh?” Farel mengeluarkan selembar seratus ribuan dari dompetnya.
“Ya butuhlah,” Ara menyambar uang di tangan Farel.
“Udah sana abang pergi.”
Ara mendorong tubuh Farel keluar dari gerbang. Bahkan Ara menahan wajah Farel agar tidak menoleh lagi pada teman-temannya. Dia terus mengawasi sampai Farel masuk ke dalam mobil kemudian meluncur pergi. Baru kemudian Ara bergegas menuju kelasnya.
🍁🍁🍁
Ara berjalan lunglai keluar dari kelasnya. Otaknya sudah mau pecah mengerjakan soal-soal yang diprediksi akan keluar saat ujian nasional nanti. Perutnya juga sudah keroncongan. Satu tangkup roti tawar dan segelas susu saat sarapan tadi tak cukup untuk mengganjal perutnya sampai siang. Ditambah energinya sudah terkuras mengerjakan soal-soal yang cukup membuat kepalanya botak.
“Ara.. tunggu!!”
Ara menoleh, melihat Yama yang menghampirinya, gadis itu justru mempercepat langkahnya. Yama tak tinggal diam, dia berlari menuju Ara lalu berdiri menghalangi gadis itu. Rachel yang melihat Yama mengejar Ara merasa geram. Dia pun bergegas mendekat.
“Minggir!!” seru Ara.
__ADS_1
“Ra.. please gue mau ngomong sama elo.”
“Ngemeng aja lo sama tembok.”
Ara tak mengacuhkan Yama, dia kembali melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi Yama menahannya. Rachel datang bertepatan ketika Yama memegang tangan Ara. Dengan kesal dia melepaskan pegangan Yama dari Ara.
“Apaan si Chel,” kesal Yama.
“Dia itu udah ngga mau sama elo, ngapain juga lo deketin terus.”
“Suka-suka gue dong. Gue cinta sama Ara.”
“Terus gue, lo anggap apa hah?”
“Friend with benefit,” jawab Yama enteng membuat darah gadis blasteran itu mendidih. Seketika tamparan tangannya mendarat di wajah Yama.
PLAK!!
“Gila lo ya!”
“Iya gue emang gila mau aja dibegoin cowo kaya elo! Lo udah nidurin gue, tanggung jawab lo kalau gue hamil!”
“Rachel!!!”
Yama segera membekap mulut Rachel. Ara yang mendengarnya tentu saja terkejut. Dengan marah dia melepaskan bekapan tangan Yama dari Rachel. Walaupun dia masih marah pada Rachel, namun bagaimanapun juga Rachel adalah sahabatnya. Ara mendorong tubuh Yama dengan kasar setelah berhasil melepaskan bekapan tangannya.
“Denger ya cowok brengsek. Lo harus tanggung jawab sama Rachel. Kalau lo berani mangkir, gue bakan bikin lo nyesel.”
“Oh ya? Apa yang bakal lo lakuin hah? Ngerengek sama bokap lo?”
“Gue bakal minta su... tunangan gue buat bikin usaha bokap lo bangkrut.”
“Lo ngancem gue!!”
Namun yang terjadi Ara balik mencekal tangan Yama yang ada di kerah bajunya lalu mendorong dengan kencang perut Yama dengan kakinya hingga pemuda itu mudur beberapa langkah. Yama masih belum sadar dari keterkejutannya ketika bogem Ara mendarat di wajahnya.
BUGH
Yama jatuh tersungkur. Ara mendekat lalu menjejakkan kakinya di dada Yama. Dia menekan dada Yama dengan kakinya hingga pemuda itu mengerang kesakitan.
“Inget omongan gue tadi. Lo harus tanggung jawab sama Rachel. Kalau engga, gue bakal bikin buntung sosis kebanggaan lo itu."
Ara mengangkat kakinya dari dada Yama kemudian segera berlalu meninggalkan pemuda itu yang masih meringis kesakitan. Rachel memandang sendu kepergian sahabatnya itu. Ada penyesalan menyusup dalam hatinya. Bahkan setelah dirinya berkhianat, Ara masih mau membelanya.
Ara berjalan cepat keluar dari gerbang sekolahnya. Dalam benaknya hanya ada minuman atau camilan manis untuk menghilangkan kekesalannya. Ara memang kerap mencari makanan atau minuman manis ketika sedang kesal atau marah. Kakinya kemudian melangkah menuju kedai kopi yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari sekolahnya.
Aroma kopi langsung tercium ketika kakinya masuk ke dalam kedai. Kedai kopi ini cukup terkenal di kalangan anak muda. Walaupun harganya sedikit mahal namun tak menyurutkan niat orang-orang untuk berkunjung.
Kedatangannya langsung disambut seorang pelayan yang memang mengenal Ara. Gadis itu memang pelanggan di kedai ini. Ara langsung menuju sebuah meja yang kosong. Suasana kedai saat ini memang ramai. Hanya tinggal satu meja yang tersisa. Tanpa bertanya, pelayan itu segera menuju kitchen untuk membuatkan pesanan Ara. Setiap berkunjung Ara selalu memesan menu yang sama, cheese cake dan avocado latte.
Sepuluh menit kemudian pesanan Ara datang bertepatan dengan seorang pria yang langsung duduk di depannya dengan segelas latte di tangannya. Kening Ara berkerut melihat pria tersebut.
“Maaf ya aku ikut duduk di sini. Semua meja sudah penuh.”
Ara hanya terbengong melihat pria itu meletakkan gelas minuman serta tasnya di atas meja. Kemudian dia mengeluarkan sebuah tab dan langsung tenggelam dengan pekerjaannya. Ara pun tak menghiraukannya, dia menyesap avocado latte-nya sambil memakan cheese cake.
Sambil memasukkan cheese cake ke dalam mulutnya, Ara melirik ke arah lelaki di depannya. Wajahnya cukup tampan, sekilas dia mirip artis Korea yang namanya tengah booming. Ara langsung mengarahkan wajahnya ke arah lain ketika pria di depan mengangkat kepalanya.
“David.”
“Hmm?”
“Namaku David.”
“Ngga nanya.”
__ADS_1
David tersenyum memamerkan lesung pipinya. Dia meletakkan tab-nya lalu mulai menatap ke arah Ara. Mata bulat dengan bulu mata lentik, hidung mancung, bibir kecil namun padat membuat perpaduan sempurna di wajah gadis itu. David mengakui dalam hati kalau Ara begitu cantik.
“Siapa namamu?”
“Enok.”
David terbahak mendengar nama unik yang disebutkan Ara. Tapi gadis di depannya itu nampak tak peduli. Dia masih asik dengan minumannya.
“Sudah punya pacar?”
“Kepo.”
David kembali tergelak. Namun sikap gadis ini semakin membuatnya penasaran. Dia melipat kedua tangannya di atas meja lalu matanya menatap intens ke arah Ara.
“Mau jadi pacarku?”
Ara diam memperhatikan lelaki di depannya. Tangannya mengambil ponsel lalu membuka folder galeri. Dicarinya foto Farel kemudian dia mulai membandingkan wajah kedua pria itu. Ara memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku seragamnya seraya bergumam pelan.
“Masih gantengan suami gue.”
“Apa?”
“Kepo.”
“Ngga apa-apa kan sekali-kali kepo.”
“Kepo itu bisa menyebabkan panu, kadas, kurap dan rorombeheun.”
Ara menyambar tasnya lalu berdiri dari kursinya. Tak disangka pria bernama David itu juga ikut berdiri kemudian melangkah menuju kasir. Dia mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada kasir.
“Sekalian sama si cantik ini,” ucapnya pada kasir.
“Ngga usah. Dipisah aja pembayarannya. Gue masih mampu ya bayar pesanan gue.”
Ara mengambil dompetnya. Sejenak dia tercenung memandangi isi dalam dompetnya. Sepertinya gadis itu lupa kalau saat ini dia hanya mendapat uang jajan harian dari Farel.
“Tagihan saya berapa mba?”
“Satu avocado latte dan satu slice cheese cake, totalnya 108 ribu rupiah.”
Ara melongo, dia lupa kalau harga menu di sini lumayan mahal. Ara kembali membuka dompetnya mengeluarkan uang seratus ribu yang tadi pagi diberikan Farel lalu dua lembar uang lima ribuan. Habis sudah, uang di dompet Ara hanya tinggal uang koin saja. Tapi sial, sang kasir mengembalikan uang lima ribuannya.
“Maaf mba ada uang yang lain? Kami tidak bisa menerima uang ini.”
Wajah Ara memerah menahan malu. Uang lima ribu kembalian dari kantin sekolahnya ternyata bukan hanya sudah lecek tapi ada tambalan solasi di atasnya. Bukan solasi bening tapi solasi hitam yang biasa dipakai merekatkan kabel listrik.
Ara kembali mengeluarkan dompetnya lalu mengambil sisa-sisa uangnya. Satu buah koin seribuan dan empat buah koin lima ratusan, lalu memberikannya pada sang kasir.
David mengepalkan tangannya lalu menaruhnya di depan mulut. Lelaki itu berusaha menahan tawanya. Ara hanya mendelik sebal padanya. Setelah pembayaran selesai, Ara bergegas keluar dari kedai.
Ara terdiam di pelataran parkir, berpikir sejenak. Uang di dompetnya sudah habis. Sekarang bagaimana caranya dia pulang.
**🍁🍁🍁
Tebak gimana caranya Ara pulang?
a. Dijemput babang Farel
b. Dianter David
c. Jalan kaki
d. Ngutang ke kang ojeg
Kasih jawaban kalian ya di kolom komentar😉**
__ADS_1