Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Pertengkaran


__ADS_3

“Bundaaa!! Aku pergi dulu ya.”


“Eh mau kemana kamu?”


“Mau ke rumah sakit bun. Tadi temen aku telpon katanya neneknya sakit. Udah ya bun, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.. eh Yunda!!”


Teriakan Poppy sudah tidak didengar lagi oleh anak gadisnya itu karena Ayunda sudah melesat dengan ojek pesanannya.


Ayunda turun dari motor kemudian lari masuk ke IGD. Fania, teman yang menelponnya tadi langsung menghambur ke arah Ayunda. Fania adalah teman baik Ayunda di kampus. Gadis itu menangis dalam pelukan Ayunda.


“Nenek Yun.. nenek kena stroke huhuhu... gue takut Yun.. gue takut nenek ninggalin gue.”


“Sekarang nenek di mana?”


“Masih ditangani sama dokter.”


“Ya udah lo duduk dulu ya.”


Ayunda mengajak Fania duduk di kursi dekat meja perawat sambil menunggu dokter selesai memeriksa. Ayunda mengambil ponselnya kemudian menghubungi Reyhan, namun tak ada jawaban dari calon suaminya itu. Dokter yang memeriksa nenek Fania keluar. Fania langsung menghampirinya.


“Bagaimana keadaan nenek saya dok?”


“Nenek terkena stroke. Apakah ini serangan pertamanya?”


“Kayanya dok.”


“Ok, kalau begitu kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Apa kamu walinya? Ada beberapa hal yang memerlukan persetujuan wali.”


“Ada om saya dok. Nanti saya coba hubungi dulu.”


“Secepatnya ya.”


“Iya dok.”


Fania mengambil ponselnya kemudian mulai menghubungi seseorang. Ayunda hanya memperhatikan dari tempatnya duduk. Dia pun mencoba menghubungi Reyhan kembali, tapi tetap tak ada jawaban. Ayunda menghembuskan nafasnya kesal. Menjelang pernikahannya, Ayunda merasa hubungannya dengan Reyhan justru merenggang.


“Yun..”


“Gimana Fan? Apa kata om Rudi?”


“Om Rudi masih di pabrik. Dia mau minta ijin dulu ke atasannya. Katanya kalau dokter butuh tanda tangan, aku aja yang wakilin biar cepat, takutnya om agak lama datengnya.”


“Ya udah, ayo kita temuin dokternya.”


Fania menemui dokter yang tadi memeriksa neneknya. Sang dokter menjelaskan serangkaian prosedur pemeriksaan yang harus dijalani sang nenek. Dengan tangan bergetar, Fania menandatangani semua formulir.


“Silahkan mba deposit dulu buat biaya perawatannya.”


“Iya sus.”


Fania mengecek saldo tabungan melalui mobile banking. Hanya tersisa sedikit uang di sana, tak lebih dari lima ratus ribu. Kemarin dia baru saja melunasi uang semesteran, jadi hanya uang sakunya saja yang tersisa.


“Kenapa Fan?”


“Ngga apa-apa. Gue ke kasir dulu ya.”


“Gue ikut.”


Kedua gadis itu menuju ke kasir. Setelah menunggu dua orang yang juga sedang membayar, akhirnya tiba giliran Fania.


“Saya mau deposit untuk pasien Yayah Rokayah. Berapa yang harus saya deposit.”


“Sebentar ya.”


Petugas itu mengetikkan nama pasien pada layar komputer. Fania berdoa dalam hati semoga depositnya tidak terlalu besar. Tapi dia pesimis, karena banyak tes yang harus dijalani.


“Untuk deposit minimal tiga juta rupiah mba.”


Fania ternganga mendengar jumlah deposit yang harus dibayarnya. Uangnya sangat tidak mencukupi. Seketika wajahnya menjadi pucat. Melihat reaksi temannya, tanpa bertanya lagi, Ayunda mengeluarkan kartu debitnya lalu memberikannya pada petugas kasir.


“Ini bu.”


Fania terperanjat, sontak dia melihat ke arah Ayunda. Ingin dia mencegah tapi terlambat, temannya itu sudah memasukkan kode pin dan transaksi pun sudah diproses.


“Yun..”


“Apa? Udah, yang penting nenek bisa menjalani perawatan.”


“Nanti gue ganti ya.”


“Ngga usah dipikirin. Ayo, nenek udah mau dipindahin kali.”


Ayunda dan Fania kembali ke IGD. Dua orang perawat terlihat sedang mendorong bed nenek Fania. Mereka akan melakukan pemeriksaan CT Scan. Fania dan Ayunda mengikuti, kemudian menunggu di depan lab.

__ADS_1


“Yun.. makasih ya. Sorry juga, harusnya gue ngga ganggu elo. Lusa kan elo mau nikah.”


“Ngga apa-apa santai aja.”


“Soal uang lo.”


“Ngga usah bahas soal uang. Lo ngga perlu ganti juga, ok.”


“Tapi kan elo mau married, pasti butuh uang.”


“Ngga usah pikirin itu. Soal nikah udah dihandle sama ortu and camer gue. Calon suami gue juga tajir hehehe..”


“Syukur deh. Emang calon suami lo kerja di mana?”


“Di sini. Dia dokter bedah di sini.”


“Oh ya? Ya ampun lo beruntung banget Yun.”


Percakapan mereka terhenti ketika pintu lab terbuka. Kedua perawat mendorong keluar bed nenek Fania. Mereka akan langsung membawa nenek Fania ke ruang perawatan. Di saat yang bersamaan terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel. Dengan senang hati Ayunda membuka pesan yang datang dari Reyhan.


From Mas Rey :


Jangan telepon. Aku sibuk


To Mas Rey :


Maaf, aku ngga tahu mas. Aku lagi di IGD, bisa ketemu?


From Mas Rey :


Ngga bisa, aku sibuk


To Mas Rey :


Sebentar aja masa ngga bisa sih? Aku kan kangen


From Mas Rey :


Ngga usah manja!


Ayunda mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya Reyhan mengirimkan pesan dengan bahasa seperti ini. Ayunda pun memilih untuk menelponnya lagi. Panggilannya langsung direject. Tak menyerah Ayunda kembali menghubungi, tapi dia terkejut karena nomornya diblokir. Kemarahan Ayunda sudah sampai di ubun-ubun.


“Fan, gue tinggal bentar ngga apa-apa?”


Ayunda bergegas menuju ruangan istirahat dokter bedah, berharap bisa menemukan sosok Reyhan di sana. Kepalanya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan. Mulutnya sudah tak sabar ingin mencecar lelaki yang sebentar lagi akan menjadi imam hidupnya.


🍁🍁🍁


Sementara itu di ruangan dokter Wisnu, Reyhan tengah mendapat cecaran dari dokter Burhan terkait operasi yang dilakukan Reyhan pada salah satu pasiennya. Dokter Burhan geram, karena seharusnya operasi itu dilakukan olehnya juga Sammy tapi ternyata dilakukan oleh Reyhan.


“Kenapa anda melakukan itu dokter Reyhan? Ibu Sahila adalah pasien yang akan saya operasi, tapi dengan seenaknya dokter mengambil alihnya tanpa pemberitahuan pada saya.”


“Maaf dokter Burhan, bukan saya lancang tapi ibu Sahila sendiri yang meminta saya mengoperasinya. Saya juga sudah berusaha menghubungi dokter tapi hp dokter tidak bisa dihubungi. Saya terpaksa menyetujui karena ini menyangkut keselamatan pasien.”


“Tapi dokter sudah tidak ada wewenang lagi. Bukankah dokter sudah mengundurkan diri? Kalau terjadi sesuatu pada pasien apa dokter akan bertanggung jawab?”


“Tapi kenyataannya operasi berhasil dan sekarang pasien sedang menjalani proses pemulihan.”


“Tapi tetap dokter sudah menyalahi prosedur!”


“Mohon tenang dokter Burhan. Saya yang menyetujui dokter Reyhan mengoperasi ibu Sahila. Dan dokter Dharma belum menerima apalagi menyetujui pengunduran diri dokter Reyhan. Jadi, secara administratif dokter Reyhan masih terdaftar di rumah sakit. Tolong jangan dibesar-besarkan masalah ini. Pasien juga sudah selamat, jadi tidak ada masalah.”


Dokter Burhan terdiam mendengar ucapan dokter Wisnu. Reyhan menatap kesal pada dokter senior itu. Demi mendongkrak karir keponakannya, Sammy, dia terus melakukan berbagai cara menjatuhkan Reyhan. Dulu dia membenci Reyhan karena kemampuannya di atas Sammy. Kini dia semakin membenci Reyhan setelah mengetahui, kalau rival keponakannya itu adalah anak dari Regan.


Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Reyhan pamit keluar ruangan. Dengan wajah masam, dia keluar dari ruangan dokter Wisnu. Karena ulah dokter Burhan, beberapa pekerjaannya terbengkalai. Dia harus bolak-balik menghadap direktur rumah sakit karena dokter Burhan terus saja membuat kegaduhan. Menuduhnya dengan bermacam-macam tuduhan tak berdasar.


Tak jauh dari sana, Ayunda yang tak menemukan Reyhan di ruang istirahat dokter bedah memilih berkeliling untuk mencari keberadaan Reyhan. Lalu dia melihat Kumala di salah satu sudut sedang berselfie ria. Ayunda mengenali ponsel yang dipegang oleh gadis itu. Bergegas Ayunda menghampirinya. Tanpa bersuara, Ayunda langsung mengambil ponsel dari tangan Kumala.


“Eh balikin hp gue!”


“Hp elo? Ini hp mas Rey. Jadi dari tadi yang bales pesan gue tuh elo. Punya profesi baru lo, jadi kleptomania?”


Kumala yang tidak terima dengan perkataan Ayunda berusaha merebut ponsel tersebut. Tapi Ayunda berkelit, Kumala kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Saat Kumala terjatuh, Reyhan sampai di dekat mereka.


“Yunda!”


Ayunda terjengit mendengar suara Reyhan. Kumala segera bangun lalu menghampiri Reyhan. Dengan wajah meringis menahan sakit, dia mengadu pada Reyhan.


“Dok, istri dokter galak banget. Aku cuma mau kembaliin hp dokter ke dia eh malah dituduh ngambil hp dokter. Terus dia dorong aku sampai jatuh. Dokter lihat sendiri kan tadi.”


“Eh ngga usah drama ya. Lo yang salah tapi...”


“Ay! Ikut aku.”


Reyhan segera menarik tangan Ayunda pergi. Kumala memandang penuh kemenangan pada Ayunda. Reyhan terus menarik tangan Ayunda tanpa mempedulikan rengekan gadis itu. Dia membawa Ayunda ke tangga darurat, kemudian melepaskan tangannya. Ayunda memegangi pergelangan tangannya yang terasa panas.

__ADS_1


“Mas Rey kasar banget sih. Tanganku sakit.”


“Kamu yang kasar Ay. Kenapa kamu dorong-dorong Kumala seperti itu. Kamu tahu kalau dia anak dokter Chandra, kolegaku. Aku harus bagaimana kalau bapaknya tahu kamu berbuat kasar sama anaknya.”


“Aku ngga dorong dia! Dia yang jatuh sendiri karena berusaha ambil hp mas! Aku ngga tahu gimana caranya hp mas ada di dia. Tapi dia udah lancang balas chat dari aku bahkan dia blokir nomorku. Kalau mas ngga percaya lihat aja sendiri!”


Ayunda menyerahkan ponsel pada Reyhan, kemudian berbalik badan. Buliran bening jatuh dari ke pipinya namun dengan cepat dihapusnya. Sebisa mungkin dia menenangkan diri dan tidak menangis di depan Reyhan.


Reyhan memeriksa ponsel miliknya. Benar apa yang dikatakan Ayunda. Kumala memang memblokir nomor gadis itu. Bahkan semua foto Ayunda di ponselnya sudah terhapus. Justru kini galerinya sudah dipenuhi foto Kumala.


“Ay.. maaf..”


“Aku ngga percaya mas Rey lebih percaya dia dari pada aku. Aku kecewa sama mas Rey. Ternyata rasa sayang dan percaya mas ke aku sedangkal itu.”


“Maaf Ay.. aku tidak bisa berpikir jernih hari ini, maaf.”


Ayunda membalikkan tubuhnya. Matanya memandang Reyhan dengan sorot mata penuh kekecewaan.


“Aku tahu mas punya masalah di rumah sakit. Papa sudah cerita. Aku menghubungi mas karena ingin mendengar mas bercerita, berbagi beban mas. Tapi ternyata aku ngga penting buat mas. Apa karena aku selalu bersikap manja, jadi mas meremehkan aku? Mungkin aku tidak bisa membantu mas secara langsung tapi setidaknya aku bisa menjadi teman untuk bertukar cerita, aku bisa menjadi bahu untuk mas bersandar. Apa aku berharap terlalu banyak?”


“Maaf.. aku hanya tidak ingin membuatmu cemas. Aku juga tidak mau membebani pikiranmu. Waktu pernikahan kita yang mepet saja sudah menyulitkanmu.”


“Aku ngga selemah itu mas.”


“Maaf Ayang.. maaf..” Reyhan menarik tangan Ayunda kemudian mencium punggung tangannya.


“I miss you,” bisik Reyhan.


Ayunda memeluk pinggang Reyhan, membenamkan kepalanya di dada lelaki itu. Reyhan menghirup aroma tubuh Ayunda yang begitu menenangkannya. Untuk beberapa saat mereka berpelukan, saling melepaskan rindu dan berbagi kenyamanan.


“Kamu ngapain ke sini?” Reyhan mengurai pelukannya.


“Nenek temenku dirawat mas. Tadi dia telpon aku, panik banget. Maklum, dia cuma tinggal berdua sama neneknya. Mas masih ada pasien?”


“Ngga.”


“Pulang yuk. Kan mas sudah mulai cuti hari ini. Mas kelihatan cape banget.”


“Ayo, aku ganti baju dulu.”


Reyhan menggandeng tangan Ayunda kemudian keluar dari tangga darurat. Sambil menunggu Reyhan berganti pakaian, Ayunda memilih menemui Fania. Nenek Fania sudah masuk ke ruang perawatan dan om-nya juga sudah datang. Ayunda tenang untuk meninggalkannya.


Ayunda dan Fania masih bercakap-cakap ketika Reyhan datang menjemputnya. Ayunda mengenalkan Reyhan pada Fania. Temannya itu hanya memandangi Reyhan tanpa berkedip. Mulutnya tanpa sadar menggumamkan sesuatu.


“Kalau dokternya ganteng kaya gini, gue juga mau dirawat tiap hari.”


Ayunda terkikik geli mendengar gumaman Fania. Reyhan sendiri asik berbicara dengan om Fania perihal penyakit nenek. Tak lama, Ayunda dan Reyhan berpamitan, mereka berjalan keluar rumah sakit sambil bergandengan tangan.


Mobil yang dikendarai Reyhan terus melaju melewati kediaman Irzal kemudian berhenti di depan rumahnya.


“Ay.. temenin aku hari ini ya.”


“Emang mas mau kemana?”


“Istirahat aja di rumah.”


“Ooh.. ayo turun.”


Ayunda turun dari mobil, disusul oleh Reyhan. Di depan mobil mereka, tampak mobil yang sering dikendarai oleh Bilqis. Saat keduanya masuk ke dalam rumah, Bilqis dan Rain memang ada di dalam.


“Kebetulan kamu ke sini Yun. Tadinya kakak mau ke rumah kamu.”


“Ada apa kak?”


“Ini, mau ngobrolin rundown acara nanti.”


“Ok kak.”


“Aku mandi dulu ya,” sahut Reyhan.


“Jangan pake lama Rey, kamu juga harus denger nih.”


Reyhan tak menanggapi ucapan Rain. Dia langsung naik ke lantai atas. Rain, Bilqis dan Ayunda memilih membicarakan hal lain. Lima belas menit kemudian Reyhan selesai dan langsung bergabung.


Rain secara detil menjelaskan rundown acara pada pasangan pengantin itu. Reyhan yang tubuhnya lelah mulai mengantuk. Dia berbaring di sofa dengan kepala berada di pangkuan Ayunda. Tak butuh waktu lama, Reyhan langsung masuk ke alam mimpi. Selama tidur tangannya terus menggenggam tangan Ayunda.


🍁🍁🍁


**Gara² si Burhan Ama Kumala nih pasangan uwu jadi berantem. Untung masalahnya udah kelar ya. Mas Rey manja banget sama Ay🙈


Like, comment and vote please. Mamake masih edisi mager nih, semoga bisa up lebih dari satu ya😘


Buat yang mau datang ke acara pernikahan Rey dan Ay, nih undangannya. Pakaian bebas asal sopan, kado dan amplopnya jangan lupa loh**.


__ADS_1


__ADS_2