Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Mangga


__ADS_3

Mata Azkia dan Elang berbinar menatap layar yang menunjukkan calon buah hati mereka yang masih berupa titik seraya mendengar penjelasan dokter kandungan. Selesai USG, dibantu Elang, Azkia kembali duduk berhadapan dengan dokter Cheryl.


“Usia kandungan 5 minggu ya pak, ibu. Di usia kehamilan yang masih muda ini, ibu usahakan jangan terlalu letih, jangan banyak pikiran, vitaminnya diminum ditambah dengan susu hamil ya bu. Dan buat bapak, puasa dulu ya pak sampai kandungan ibu kuat.”


Wajah Elang memerah mendengarnya. Setelah tak ada lagi yang ingin ditanyakan, pasangan ini pun keluar dari ruang praktek dokter kandungan tersebut. Sebelum pergi, Elang lebih dulu menebus resep untuk istrinya.


Elang membukakan pintu mobil untuk Azkia kemudian memutari badan mobil dan masuk ke belakang kemudi. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Mas, aku mau ke rumah papa boleh?”


“Kamu mau ketemu papa, sayang?”


“Hmm.. aku pengen makan mangga muda mas. Tapi pengen yang di rumah papa. Di halaman belakang kan ada pohon mangga mas.”


“Ya udah kita ke rumah papa sekalian kita kasih kabar bahagia buat papa ya.”


Elang mengarahkan kendaraannya menuju kediaman Erik di daerah Kanayakan. Melihat mobil menantu bosnya, sang penjaga rumah bergegas membukakan pintu pagar. Elang menuntun Azkia masuk ke dalam rumah. Di garasi masih terlihat mobil Deski, menandakan pria itu tidak pergi ke kantor.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Erik menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan suka cita. Azkia dan Elang mencium punggung tangan Erik bergantian. Erik mengajak keduanya duduk di ruangan tengah.


“Papa senang banget kamu mau datang ke sini nak.”


“Iya pa. Sebenarnya kedatangan Kia ke sini mau kasih kabar gembira.”


“Kabar apa nak?”


“Kia hamil pa.”


“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Sebentar lagi papa akan gendong cucu.”


Wajah Erik menyiratkan kebahagiaan. Ditariknya Azkia dalam pelukannya, lalu mengusap perut sang anak yang masih rata.


“Selain itu, Kia juga mau sesuatu pa.”


“Apa itu nak?”


“Kia pengen makan mangga yang ada di halaman belakang itu pa.”


“Oh itu gampang. Biar pak Budi yang mengambilkan.”


Azkia menggeleng begitu Erik menyebut nama Budi. Dia mendekatkan wajahnya ke Elang lalu membisikkan sesuatu di telinga suaminya. Elang menatap Azkia sejenak untuk memastikan. Azkia mengangguk dengan mantap. Erik memandang keduanya dengan penasaran.

__ADS_1


“Pa, Kia mau yang ambil mangganya bang Deski,” Elang mewakili bicara.


Erik membelalakkan matanya, tak menyangka Azkia mau melibatkan Deski. Hatinya bahagia, berharap jika ini adalah jalan agar kedua anaknya bisa berdamai. Erik segera memanggil Deski. Tak lama Deski datang. Dia cukup terkejut melihat ada Azkia juga Elang.


“Des, kasih selamat sama adikmu. Sekarang dia sedang hamil.”


Deski melihat ke arah Azkia. Sorot matanya menunjukkan kebahagiaan. Azkia memundurkan kepalanya, bersembunyi di balik punggung suaminya.


“Selamat ya El.”


“Makasih bang. Tapi sebelumnya maaf nih kalau kita mau ngerepotin.”


“Ada apa?”


“Kia pengen makan mangga muda yang ada di halaman belakang. Tapi maunya abang yang manjat.”


“Hah??”


Deski membelalakkan matanya lalu melihat pada Erik yang sedang menahan tawanya. Deski menelan ludahnya kelat. Dia itu takut ketinggian, jadi tidak pernah berani memanjat pohon. Apalagi pohon mangga di belakang cukup tinggi. Belum apa-apa keringat dingin sudah membasahi dahinya.


“Kalau abang ngga mau ngga apa-apa kok.”


Deski menoleh ke arah Azkia. Matanya mengerjap mendengar Azkia memanggilnya dengan sebutan abang. Seketika ketakutannya menguap begitu saja.


“Ng... ngga kok, abang mau. Ayo kita halaman belakang sekarang. Kamu tinggal tunjuk aja mau mangga yang mana.”


Perlahan Deski mulai memanjat pohon tersebut. Baru sampai di dahan yang pertama, matanya sudah berkunang melihat ke arah bawah. Dia menarik nafas sejenak lalu kembali memanjat. Semakin tinggi dia naik, semakin dadanya berdebar kencang. Apalagi Azkia menunjuk mangga yang letaknya berada di dahan paling atas.


Tangan dan kaki Deski bergetar, berulang kali dia menarik dan menghembuskan nafas untuk menenangkan dirinya. Akhirnya setelah susah payah, dia sampai juga di dahan yang paling tinggi. Diambilnya sebuah mangga yang sedari tadi terus ditunjuk oleh Azkia. Deski melemparkan buah ke bawah yang langsung ditangkap oleh Elang.


Azkia bersorak bisa mendapatkan mangga yang diinginkannya. Kini tinggal Deski yang berpikir bagaimana caranya turun. Tubuhnya semakin gemetaran, keringat dingin membasahi kaosnya.


“Pak Budi!!!” teriaknya.


Seorang lelaki paruh baya bergegas datang menghampiri. Ditengadahkan kepalanya ke arah Deski.


“Iya den!”


“Ambilin tangga!! Aku ngga bisa turun!!!”


Tawa Erik dan Elang pecah melihat Deski yang berpegangan erat pada dahan. Matanya sesekali melihat ke arah bawah. Azkia diam-diam tersenyum melihatnya. Pak Budi datang dengan membawakan tangga. Sayang, tangga hanya sampai di pertengahan pohon saja.


“Maaf Den, cuma bisa sampai sini. Ayo den pelan-pelan.”


Deski menggeleng, kakinya serasa lemas. Pegangannya bertambah kuat pada dahan yang dipeluknya. Beberapa kali pak Budi mencoba membujuk namun lelaki itu bergeming.

__ADS_1


“Des, apa perlu papa panggilkan pemadam kebakaran buat membantu kamu turun?”


“Ngga... ngga perlu pa.”


Perlahan namun pasti Deski mulai bergerak turun. Mau ditaruh di mana mukanya jika sampai dibantu turun oleh petugas pemadam kebakaran. Bisa hilang wibawanya di hadapan Elang.


Dengan kaki bergetar, Deski turun sedikit demi sedikit hingga akhirnya berhasil meraih tangga. Pak Budi memegangi tangga yang sedikit bergoyang. Satu per satu Deski menuruni tangga sampai kakinya menjejak di rumput. Deski jatuh terduduk di rumput dengan peluh membasahi tubuhnya. Dia melirik Azkia yang sedang asik menikmati rujak mangga ditemani Elang dan papanya.


Baru saja Deski akan masuk ke dalam, Azkia memanggilnya. Dengan semangat empat lima dihampirinya sang adik yang sedang makan rujak disuapi oleh suaminya. Deski bergidik melihat sambal rujak yang sedikit merah, pasti rasanya pedas sekali.


“Bang, ayo dimakan rujaknya,” ucap Azkia.


“Ngga, makasih. Buat kamu aja Kia, makan yang banyak biar kenyang.”


“Abang juga makan, kan udah cape manjat.”


“Buat kamu aja Kia,” Deski berusaha menolak. Mengkonsumsi rujak milik Azkia bisa berbahaya bagi kesehatan perutnya.


“Hiks.. hiks.. mas, bang Deski ngga mau makan. Padahal ini maunya dede bayi.”


Azkia mengadu pada Elang, airmatanya sudah mengalir. Deski karuan kelabakan melihat adiknya menangis. Akhirnya dengan sangat terpaksa dimakannya juga rujak tersebut. Wajah Deski langsung memerah ketika sepotong mangga berikut sambel masuk ke dalam mulutnya.


“Bi.. shu..mmi.. ssshhh... min..tha air ssshhh..”


Bi Sumi datang seraya membawa beberapa gelas dan air dingin. Deski segera menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguknya. Mulutnya serasa terbakar.


“Ayo bang dimakan lagi, kan baru satu.”


Deski terbengong melihat ke arah Azkia. Adiknya itu dengan santainya kembali memakan rujak tanpa mempedulikan tatapan memelasnya. Melihat Deski tak kunjung makan rujak, Azkia mendelik ke arah kakaknya itu. Dengan sangat terpaksa Deski menyuapkan kembali sepotong mangga berikut sambal ke dalam mulutnya.


Penderitaan Deski berakhir sudah ketika Azkia menyuapkan potongan mangga terakhir ke dalam mulutnya. Ibu hamil itu tampak biasa saja setelah menghabiskan setengah piring rujak. Berbeda dengan Deski yang bercucuran keringat.


Setelah puas menikmati rujak, Azkia dan Elang pamit pulang. Ada kebahagian tersendiri di hati Erik melihat sikap Azkia sudah mulai melunak pada Deski. Erik mencari-cari Deski, ingin berbicara tentang rencananya untuk pensiun. Terlihat Deski keluar dari kamar mandi, wajahnya tampak meringis, tangannya mengusap-ngusap perutnya.


“Kamu kenapa?”


“Sakit perut pa. Itu rujak pedes banget. Kayanya dia sengaja nyuruh aku makan tuh rujak. Si El mah enak kebagian nyupain doang.”


“Hahaha.... anggap aja itu balasan atas perbuatanmu dulu.”


Deski tak meladeni ucapan Erik, dia kembali melesat ke dalam kamar mandi ketika merasakan lilitan di perutnya.


🍁🍁🍁


Syukurin **Des, dibales tuh sama calon keponakan😁

__ADS_1


Maaf ya kemarin mamake ngga bisa up, ada kerjaan yang ngga bisa ditinggal.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, comment and vote**


__ADS_2