Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : THE LAST Happy Ending


__ADS_3

Motor yang dikendarai Irzal memasuki halaman rumah. Setelah memarkir kendaraan roda duanya itu, Irzal masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Terdengar suara Rena menjawab salam Irzal. Pemuda itu segera menghampiri sang nenek lalu mencium punggung tangannya.


Setelah ditinggal suaminya Fahri, setahun lalu, Rena memilih tinggal bersama anak-anaknya secara bergiliran. Tiap dua minggu dia selalu berpindah tempat. Mulai dari Nara, Khayra, Elang, Ayunda dan Farel.


Rena paling senang tinggal bersama Elang. Di rumah ini penuh kenangan sang kakak. Elang bahkan membuatkan ruangan khusus yang berisi kenangan ayah bundanya. Dari mulai foto yang dibingkai pigura besar. Foto ummi juga ada dipajang di sana. Lalu di sisi kanan berisi foto-foto Irzal dan Poppy semasa muda. Di sisi kiri foto-foto Irzal dan Poppy bersama ketiga anak-anak mereka juga Aslan, Yumna, Rakan, Aqeel dan Najwa.


Rena memandangi Irzal yang sedang membuka sepatunya lalu menaruhnya di rak sepatu. Wajah Irzal benar-benar mirip kakaknya. Bahkan suara, gaya bicara dan cara berjalannya, tak ada yang dibuangnya sedikitpun. Irzal juga satu-satunya anak Elang yang mewarisi bakat menyanyi.


“Nenek kapan dateng?”


Suara Irzal membuyarkan lamunan Rena. Dia tersenyum ke arah Irzal kemudian mengajaknya ke meja makan.


“Nenek baru aja makan. Kamu pasti belum makan kan? Ayo makan dulu.”


Rena mengambilkan makanan untuk Irzal. Bahkan cucunya itu juga memiliki selera yang sama, ayam kecap, capcay dan perkedel jagung. Irzal muda mirip jelmaan kakaknya dulu. Rena mengusap sudut matanya ketika memperhatikan Irzal makan.


“Nenek kenapa sih nangis? Pasti lagi inget kakek ya.”


“Iya, tapi bukan kakek Fahri melainkan kakek Irzal, kakekmu. Kamu mirip sekali dengannya.”


“Nanti cerita lagi soal kakek sama nenek ya. Aku ngga pernah bosen denger cerita mereka. mudah-mudahan nanti aku bisa dapet pasangan seperti nenek Poppy.”


“Aamiin.. nenek akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


Rena mengusap puncak kepala Irzal. Memandangi cucunya ini bisa mengikis kerinduannya pada sang kakak. Walau tak jarang dia mengeluarkan airmata ketika sedang bersama cucunya ini.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.. ck.. si ****** tyrex udah dateng aja.”


Daffa, anak ketiga Ayunda masuk ke dalam rumah. Dia menarik kursi di samping Irzal lalu menyomot perkedel jagung dari piring. Anak bungsu pasangan Ayunda dan Reyhan ini seperti foto copyan Reyhan namun tingkahnya persis Ayunda. Melihat kedua cucunya duduk berendengan, mengingatkan Rena akan Irzal dan Regan dulu.


“Nek.. jangan liatin Daffa mulu, tar naksir lagi. Bahaya loh nek, nanti heboh. Ada nenek jatuh cinta sama cucunya sendiri.”


PLETAK


Rena memukulkan sendok ke kepala Daffa. Pemuda itu hanya meringis seraya mengusap kepalanya yang sedikit nyeri.


“Ih nenek sadis. Aku aduin ke kakek sama nenek aah.”


Daffa beranjak dari duduknya lalu masuk ke ruang kenangan. Irzal hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah adik sepupunya itu. Mereka hanya berbeda setahun, tak heran kalau keduanya begitu dekat. Selain itu mereka punya banyak persamaan. Mereka sama-sama berotak cerdas, sama-sama mengikuti program akselerasi di sekolah dan sama-sama mempunyai banyak penggemar. Perbedaannya pada sikap, Irzal cenderung diam dan dingin. Daffa kebalikannya, pemuda itu tak bisa diam.


Saat ini Irzal sudah terdaftar sebagai mahasiswa di semester lima fakultas komunikasi. Dia juga mengambil kuliah di jurusan teknik industri seperti ayahnya dulu. Usianya kini masih 17 tahun. Sedang Daffa saat ini berusia 16 tahun dan terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran semester tiga.


Selesai makan, Irzal mengikuti Daffa masuk ke ruang kenangan. Dilihatnya adik sepupunya itu tengah berbaring dengan kedua tangan sebagai penyangga kepalanya. Matanya menatap lurus ke arah foto kakek neneknya.


“Kenapa lo?”


Irzal mendudukkan diri di sisi Daffa. Pemuda itu bangun dari tidurnya kemudian duduk menghadap Irzal. Keduanya memang kerap berbagi kisah. Kadang jika salah satu tidak ada, maka mereka akan curhat di hadapan foto kakek dan neneknya. Maklum saja mereka juga Naufal, Naima dan Nalendra tidak sempat mengenal Irzal dan Poppy.


“BT gue bang. Panitia ospek nyuruh anak maba nulis surat cinta buat senior yang mereka sukai. Lo tahu bang? Hampir semua maba ngirim surat cinta ama gue.”


Daffa mengambil tasnya kemudian mengeluarkan semua surat dari dalam tasnya. Jumlah lebih dari seratus buah. Irzal tak dapat menahan tawanya. Adiknya itu memang sangat terkenal di fakultasnya.


“Terus, mau lo apain tuh surat?”


“Mau gue kasih ke tukang gorengan buat bungkus gorengan. Lumayan kan beli gorengan gratis surat cinta,” Daffa tergelak mendengar ucapannya sendiri.


Kedua pemuda itu terus saja berbincang. Azkia yang baru pulang yayasan menanyakan pada Rena keberadaan anak bungsunya. Rena hanya menunjuk ruang kenangan. Azkia hanya mengangguk saja. Anaknya itu memang paling senang menghabiskan waktu di sana.


🍁🍁🍁


Suasana gazeebo yang ada di halaman belakang vila milik Poppy yang ada Ciwidey penuh dengan perbincangan dan gelak tawa keluarga Elang. Semua anak dan cucunya sedang berkumpul menghabiskan long week end bersama di sini. Rena tidak bisa ikut karena Khayra mengajaknya liburan ke Malang.


Aslan datang membawa Shaina dan Lana. Begitu pula dengan Yumna yang datang bersama suaminya. Setahun yang lalu Yumna melepas masa lajangnya setelah dilamar Kenzie, anak dari Zayn (anak bungsu Farhan dan Luna). Saat ini Yumna sedang mengandung lima bulan.


Elang berulang kali mengusap perut anaknya. Rasanya tak sabar menanti kelahiran cucu keduanya yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki. Irzal berbaring dengan kepala berada di pangkuan Azkia. Mulutnya sesekali terbuka ketika sang bunda menyuapkan keripik kentang padanya.


Elang beringsut mendekat ke arah sang istri. Diangkatnya kepala Irzal kemudian mengganti posisi anaknya tadi dengan kepalanya. Irzal berdecak sebal melihat tingkah posesif ayahnya.


“Ayah nih ganggu aja orang lagi PW.”


“Sana tiduran di bantal jangan di pangkuan istri ayah.”


“Istri ayah itu bundaku wahai bapak Elang yang terhormat.”


Elang tak mempedulikan protesan anaknya. Dia memejamkan matanya seraya bersidekap. Aslan hanya tertawa melihat ayah dan adik bungsunya yang sering terlibat perdebatan. Dia lalu melihat ke arah Kenzie.


“Ken.. kamu ngga ada masalah sama telinga kamu kan selama nikah sama Yumna?”


“Ngga usah macem-macem ya bang. Nyebelin banget jadi orang,” sembur Yumna.

__ADS_1


“Aku cuma takut suamimu terkena infeksi gendang telinga denger kamu yang kalau ngomong merepet kaya petasan cabe rawit,” Aslan tergelak. Dari dulu sampai sekarang dia tak pernah bosan mengganggu adik perempuannya.


“Lumayan bang, selama nikah sama Yumna aku udah tiga kali balikan ke dokter THT. Katanya efek suara Yumna itu berpengaruh sama selaput gendang telingaku.”


Kenzie menjerit kesakitan ketika cubitan Yumna mendarat di pinggangnya. Kemudian dengan kesal Yumna meninggalkan suaminya disertai ancaman tak ada jatah selama sebulan. Karuan Kenzie blingsatan.


“Abang nih cari gara-gara mulu. Ngambek tuh Yumna,” kelutus Kenzie lalu melangkahkan kakinya menyusul sang istri.


Bukannya menyesal, Aslan malah tertawa terpingkal. Azkia menghela nafasnya. Aslan dan Yumna memang seperti Tom and Jerry kalau bertemu, sering berdebat, saling meledek dan ujung-ujungnya Yumna pasti ngambek. Sedang anak bungsunya selalu saja berdebat dengan sang suami seperti tadi.


Melihat Lana tertidur, Aslan mengajak Shaina masuk ke dalam kamar. Tak ingin menjadi obat nyamuk tak berasap di antara kedua orang tuanya, Irzal pun memilih pergi. Dia mengambil kamera DSLR dari dalam kamar lalu keluar vila. Mencari objek menarik untuk dijadikan koleksi fotonya.


Kini hanya tinggal Elang dan Azkia yang berada di gazeebo. Semilir angin sore terasa menyentuh kulit mereka. Elang masih berbaring di pangkuan sang istri. Matanya menatap lurus ke arah Azkia. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Azkia masih terlihat cantik di matanya.


Sadar diperhatikan sang suami, Azkia menundukkan pandangannya. Elang menarik tengkuk Azkia, dia pun sedikit mengangkat kepala. Bibir lembut Azkia menyentuh bibirnya. Dengan gerakan pelan dia memagut bibir itu.


“I love you Az..”


“I love you mas El..”


“Dulu kita pernah bertemu dua kali sebelum Allah mempertemukan kita kembali dan menyatukan kita. Aku bersyukur kamu mau menungguku.”


“Allah mengirimkanmu sebagai malaikat untuk menyelamatkan hidupku. Bagaimana mungkin aku tidak menunggumu. Sejak hari itu aku terus berdoa agar dipertemukan kembali denganmu. Akhirnya doaku menjadi kenyataan dan sampai saat ini terus mendampingiku.”


“Kita akan menua bersama. Dan aku berharap bisa meninggalkan dunia ini bersama denganmu seperti ayah dan bunda.”


“Aku juga berharap seperti itu mas.”


Elang bangun dari tidurnya lalu kembali mencium bibir sang istri. Sebelah tangannya melingkar mesra di pinggang sang istri dan satunya lagi menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Elang melepaskan tautan bibir mereka kemudian membopong tubuh sang istri masuk ke dalam kamar.


Tak ada yang tahu kapan dan di mana akan bertemu dengan dengan jodoh kita. Pertemuan tak sengaja Elang dan Azkia menuntun kedua insan itu menuju ikatan suci yang menyatukan cinta mereka. Asam di gunung, garam di lautan bertemu dalam satu belanga. Walau jarak dan waktu sempat memisahkan mereka, namun semesta menuntun mereka untuk bersatu. Kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Kisah cinta kalian akan menjadi kenangan indah selamanya. El and Az will be lasting forever.


🍁🍁🍁


Ayunda menggandeng tangan seorang gadis muda masuk ke dalam kediamannya. Ucapan salamnya dijawab oleh Reyhan dan ketiga anaknya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Pandangan mereka langsung tertuju pada gadis yang bersama Ayunda. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya.


“Kenalkan ini Azizah, anaknya Fania.”


Mendengar nama Fania, Reyhan segera berdiri menyambut anak itu. Fania adalah sahabat Ayunda. Dua bulan lalu Fania , suami dan anak bungsunya mengalami kecelakaan. Naas nyawa mereka bertiga tak dapat diselamatkan. Fania sendiri meninggal di meja operasi sebelum Reyhan sempat melakukan apapun karena kehabisan darah. Ayunda berinisiatif merawat Azizah yang tinggal sebatang kara dan Reyhan pun sudah menyetujui hal tersebut.


“Selamat datang Azizah,” sambut Reyhan dengan ramah.


Azizah mengangkat kepalanya perlahan. Rasa takutnya sedikit menghilang melihat senyum hangat Reyhan. Dia pun meraih tangan Reyhan lalu mencium punggung tangannya. Reyhan merangkul bahu Azizah lalu menghadap pada ketiga anaknya.


Ketiga pemuda tampan itu segera menghampiri Azizah dan berkenalan satu per satu dengan gadis itu. rakan tersenyum ramah padanya, Daffa seperti biasa senantiasa memamerkan senyum tiga jarinya dan Aqeel hanya menyapa seadanya. Di antara ketiga anak Reyhan, hanya Aqeel yang sedikit jutek. Perilakunya gabungan Elang dan Farel. Kadang dia bersikap dingin dan ketus tapi jika bersama keluarganya kumat jahilnya.


“Mulai sekarang Iza tinggal sama kita. Dia akan menjadi adik kalian, jadi kalian harus bersikap baik padanya.”


“Emang Iza berapa tahun?” celetuk Dafa.


“Seumuran kamu, tuaan kamu tiga bulan.”


“Oh oke, fix kamu jadi adik aku,” Daffa mengusap puncak kepala Azizah.


“Iza ngga keberatan kan tinggal di sini?”


“Ngga tante.”


“No.. jangan panggil tante. Mulai sekarang panggil mama, papa dan mas sama mereka bertiga. Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini.”


“Makasih hmm... ma..”


“Nah gitu dong.”


Ayunda tersenyum lalu memeluk Azizah. Aqeel memperhatikan Azizah dalam diam. Matanya sibuk memindai gadis itu dari atas sampai bawah. Hal ini tertangkap oleh Rakan juga Daffa.


“Mas.. kayanya ada yang CCP tuh,” bisik Daffa pada Rakan.


“Hmm.. kayanya nanti bakal ada cerita aku menikahi adik ketemu gede,” Rakan tergelak. Aqeel menatap sebal ke arah kakaknya itu.


“Ayo bunda kasih lihat kamar kamu.”


Ayunda membawa Azizah ke kamarnya. Kamar di lantai bawah yang biasa dijadikan kamar tamu sekarang menjadi milik Azizah. Sedangkan ketiga anaknya menempati kamar yang ada di lantai atas. Rakan menempati kamar bekas orang tuanya, sebentar lagi dia akan menikah dengan Shafa, anak dari Azriel dan Yoshi.


Keinginan Ayunda berbesan dengan sahabatnya menjadi kenyataan. Salah satu anak kembarnya akan menikah dengan Rakan. Namun rencana berbesan dengan Nara tidak jadi kenyataan karena Alan lebih memilih Raisya, anak Rain dan Akhtar. Kabarnya Shifa, kembaran Shafa sedang menjalin kedekatan dengan Leon, anak dari Bilqis dan Zahran.


Sepeninggal Ayunda dan Azizah, Reyhan dan ketiga anaknya kembali duduk meneruskan perbincangan mereka tadi.


“Jadi setelah nikah kamu bakal langsung tinggal di Jakarta?”


“Masih bolak balik pa. Kan Shafa masih nyusun, aku juga belum beres tesis. Kalau udah sidang dan wisuda baru aku pindah ke Jakarta.”

__ADS_1


Reyhan manggut-manggut, Rakan memang tak memilih berkarir seperti dirinya. Rakan lebih condong dengan urusan manajemen dan bisnis. Reyhan cukup lega, dengan begitu dia bisa mempercayakan perusahaan pada anaknya itu. Sedang Aqeel dan Daffa mengikuti jejaknya sebagai dokter.


Aqeel sama seperti Daffa mengikuti program akselerasi. Tak heran di usianya yang masih 20 tahun sudah selesai kuliah dan kini sedang menjadi dokter magang. Setelah itu dia akan meneruskan program residen mengambil spesialis bedah, nantinya akan meneruskan mengambil bedah spesialis anak. Kalau Daffa akan mengikuti jejak Reyhan, mengambil bedah spesialis kegawatan dan kedaruratan.


🍁🍁🍁


Seperti biasa suasana makan malam selalu diselingi perbincangan hangat semua anggota keluarga. Sikap hangat Rakan dan Daffa membuat Azizah bisa sedikit rileks. Hanya Aqeel yang tak nimbrung. Namun dia menunjukkan perhatian dengan menyodorkan lauk pauk pada gadis itu. Rakan dan Daffa sontak memandang curiga. Tak biasanya Aqeel bersikap sebaik ini pada lawan jenis.


Seusai makan malam, ketiga pemuda tampan itu mengajak Azizah ngobrol di taman belakang. Mereka ingin lebih mengakrabkan diri dengan adik angkatnya itu. Sedang Reyhan memilih masuk ke ke ruang kerjanya. Ayunda juga memeriksa beberapa e-mail yang masuk terkait yayasan.


Azizah yang awalnya diam menjadi banyak bicara karena Rakan dan Daffa tak henti-hentinya bertanya. Aqeel menjadi penyimak yang baik. sekali-kali diliriknya Azizah yang sesekali nampak tersenyum mendengar celotehan Daffa.


“Sekarang kamu kelas 11 berarti?” tanya Rakan.


“Iya mas. Sebenernya tahun ajaran baru ini aku pengennya pindah sekolah. Tapi mama sama papa keburu ngga ada,” Azizah menundukkan kepalanya.


“Kenapa pengen pindah? Kamu ngga betah?”


“Iya mas. Aku sering dibully sama kakak kelas. Aku kadang ngga tahu salahku apa, tapi mereka tuh ngga pernah bosen gangguin aku.”


“Lawan aja,” timpal Daffa.


“Bener Za, kalau kamu diam mereka malah tambah berani sama kamu,” Rakan menambahkan.


“Mereka banyak mas, ada laki-lakinya juga. Aku takut mas. Pernah ada temanku yang dibully pas coba melawan malah bonyok dipukulin sama mereka. Para guru tutup mata karena pembully itu anaknya pejabat semua.”


“Ngga usah takut, lawan aja!” celetuk Aqeel.


“Mulai besok aku akan antar jemput kamu ke sekolah. Kasih tahu yang mana orangnya. Bakal aku habisin mereka semua,” lanjut Aqeel.


Daffa menatap Aqeel tanpa berkedip, Rakan hanya mengulum senyum. Sepertinya adiknya ini sudah kepincut Azizah. Gadis itu tersenyum, senang rasanya mendapat tanggapan dari Aqeel. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini, Aqeel belum pernah mengajaknya berbicara.


Sementara itu, Ayunda yang sudah selesai dengan pekerjaannya segera menghampiri Reyhan di ruang kerjanya. Dia langsung mendudukkan diri di pangkuan sang suami. Tangannya memeluk leher Reyhan kemudian mendaratkan ciuman di bibir suaminya itu.


“Masih banyak mas kerjaannya?”


“Ini udah selesai. Kenapa? Kangen ya? Pengen dibuat teriak-teriak?”


“Ish apaan sih mas, mesum mulu pikirannya.”


Ayunda mencubit lengan suaminya, Reyhan hanya terkekeh. Ayunda menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan.


“Mas, sebentar lagi kita bakal punya mantu. Aku seneng deh Rakan bisa berjodoh sama Shafa.”


“Iya mas juga.”


“Minggu depan kita jadi nonton Shifa tanding?”


“Jadi dong. Aku bangga sama anak itu, ngga sia-sia ngikutin jejak papanya. Di umur 19 tahun dia udah jadi pemain no 3 dunia, hebat ya. Ziel emang lebih cocok jadi pelatih bulu tangkis dari pada pengusaha,” Ayunda terkekeh.


“Mas dengar Desta mau ngelamar Naima?”


“Iya mas, bang Farel cerita ke aku. Hanin enak ya mas, cuma dua kali ngelahirin langsung punya anak 4. Dapet pasangan anak kembar.”


“Kamu mau nambah anak?”


“Jangan macem-macem. Bisa ngamuk Daffa kalau dia ngga jadi anak bungsu. Lagian kita sekarang udah punya Iza.”


Reyhan tak menanggpai ucapan istrinya. Tangannya mulai bergerilya menelusup masuk ke dalam pakaian Ayunda. Bibirnya juga terus menelusuri leher dan bahunya. Reyhan menarik tengkuk Ayunda kemudian membenamkan bibirnya. Untuk beberapa saat mereka saling me**mat dan memagut. Reyhan mengakhiri ciumannya lalu menyatukan kening mereka.


“I love you Ayang, forever and always.”


“I do love you mas. Jangan pernah berkurang rasa cintamu padaku.”


“Kita akan terus seperti ini selamanya, menua bersama anak dan cucu kita. Seperti janji mas padamu, akan selalu mencintaimu sampai nyawa meninggalkan raga.”


“Aku akan terus mendampingimu selamanya.”


Reyhan kembali memagut bibir istrinya. Dia berdiri kemudian menggendong tubuh Ayunda, membawanya ke kamar melalui connecting door yang ada di samping kiri meja kerjanya. Perlahan dibaringkan tubuh Ayunda ke atas kasur. Walau usia mereka sudah tidak lagi muda, namun kemesraan tak pernah hilang dari keduanya. Mereka tetap bisa saling memuaskan di atas ranjang.


Penantian Reyhan bertahun-tahun untuk mendapatkan gadis yang dicintainya tak sia-sia. Ketulusan cintanya mampu membawa sang pujaan hati melabuhkan hati padanya. Kini keduanya tengah mereguk kebahagiaan. Bersama mereka menjalani kehidupan hingga ke ujungnya. Siapapun yang pergi lebih dulu, akan menunggu di pintu surga nantinya. Never ending love for Rey and Ay. Kisah cinta kalian akan terus dikenang oleh siapapun yang membacanya.


🍁🍁🍁


**Akhirnya berakhir juga kisah cinta empat musim ini. Mamake mengucapkan banyak terima kasih atas semua atensi dan dukungan kalian semua. Terima kasih sudah mau mengikuti kehaluan mamake dari mulai episode awal sampai sekarang.


Mamake harap kisah ini memberikan kenangan yang manis dan indah. Atas nama keluarga besar CLBK & Four Seasons, mamake undur diri dari kisah ini. Sampai jumpa di kehaluan mamake berikutnya.


Sekali lagi terima kasih banyak🙏🤗😍


Jangan lupa mampir ke karya baru mamake, Kepentok Perawat Antik. Dijamin kisah Nina & Abi ngga kalah seru. Mampir ya😘🤗

__ADS_1



__ADS_2