
Firlan dan Azriel terkejut ketika melihat Regan mengantar Firly ke rumah. Kondisi Firly begitu memprihatinkan, Regan mengantarkan gadis itu ke kamarnya. Firlan dan Azriel mengikuti dari belakangnya, namun sebelumnya Firlan meminta bi Ina, asisten rumah tangga yang baru untuk ikut ke kamar Firly. Regan mendudukkan Firly di sisi ranjang. Tak lama bi Ina masuk ke dalam.
“Bi, tolong bantu Ily mengganti pakaiannya,” titah Regan.
“Baik pak.”
Regan keluar dari kamar, Firlan dan Azriel yang menunggu di luar langsung menghambur ke arah dokter spesialis bedah tersebut.
“Pa, ada apa sama Ily? Kenapa Ily bisa pulang sama papa?” cecar Firlan tak sabaran.
“Iya pa. Bukannya tadi kak Ily makan siang sama si Radja Setan.”
Baru saja Regan akan menjawab pertanyaan para keponakannya, ponselnya berdering. Regan berjalan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan dari Ridho. Ridho melaporkan kalau sudah membawa Radja ke kantor polisi, begitu juga dengan pelayan yang membantu Radja melancarkan aksinya. Obat tidur berikut bukti transfer sudah diamankan dan diberikan kepada pihak yang berwajib.
“Makasih Dho, tolong jadwal ulang pertemuan dengan Mr. Lim. Lalu tolong kirimkan hadiah untuk sekretarisnya sebagai ucapan terima kasih.”
“Baik mas.”
Ridho mengakhiri panggilannya. Regan kembali berjalan ke arah Firlan dan Azriel. Di saat yang bersamaan pintu kamar Firly terbuka. Bi Ina yang sudah selesai membantu Firly bermaksud untuk kembali ke tempatnya.
“Bi, tolong buatkan susu coklat hangat untuk Ily.”
“Baik pak.”
Bi Ina bergegas turun ke bawah. Regan masuk ke dalam kamar diikuti oleh Firlan dan Azriel. Tampak Firly duduk menyandar pada head board ranjang, Regan menghampiri lalu duduk di sisi ranjang.
“Ily, kamu baik-baik saja nak?”
“Iya pa. Ily baik-baik aja.”
“Ily, tolong jujur sama papa. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Firly masih bungkam, jari jemarinya saling menaut dan meremas. Regan memperhatikan semua gerak tubuh sahabat anaknya ini. Suasana hening sejenak, namun kehadiran bi Ina memecahkan kesunyian. Wanita paruh baya ini meletakkan gelas berisi susu di atas nakas lalu permisi keluar.
Di luar, mobil Ega dan Alea datang bersamaan. Setelah mendapat telepon dari Regan, keduanya langsung kembali ke rumah. Setengah berlari keduanya naik ke lantai atas. Regan belum sepenuhnya menceritakan kejadian yang menimpa putri mereka. Namun tak pelak kecemasan melanda keduanya. Saat akan masuk ke dalam kamar, Azriel dan Firlan menghalanginya.
“Mana Ily?” tanya Alea.
“Ily lagi di dalam sama papa. Mami dan papi jangan masuk dulu, biarkan papa yang berbicara sama Ily,” tukas Firlan.
“Ngga, mami harus tahu keadaannya.”
__ADS_1
Alea merangsek masuk, namun Firlan menghalanginya dibantu oleh Azriel. Ega menenangkan Alea dan memilih untuk berdiam diri di luar kamar. Memberi kesempatan pada Regan berbicara terlebih dahulu.
“Ily, lihat papa nak. Apa yang sebenarnya terjadi? Papa tahu betul bagaimana kamu. Kamu bisa dengan mudah menaklukkan Radja dengan kemampuan kamu. Tapi kenapa kamu membiarkan dia berlaku seperti itu? Papa tahu ayah Irzal sudah cukup membekalimu ilmu untuk membela diri. Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?”
Firly masih belum mau menjawab, kini malah isakannya yang terdengar. Regan merengkuh tubuh Firly ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya perlahan.
“Ily, papa tahu kamu melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Tolong jujur sama papa, supaya papa bisa membantumu. Apa kamu tahu kalau Rain sering bercerita pada papa sambil menangis karena mencemaskanmu. Dia sangat menyayangimu nak, sama seperti papa juga mama yang menyayangimu. Tapi kalau kamu diam saja, bagaimana kami bisa membantumu.”
Regan mengurai pelukannya, dihapusnya airmata Firly yang mengalir deras di pipinya. Untuk sesaat Firly mencoba menenangkan diri. Di sela-sela isaknya dia mulai berbicara.
“Ily ngelakuin ini semua untuk menyadarkan mami. Mami selalu memaksa Ily menerima Radja, mengenalnya lebih jauh bahkan bertunangan dengannya. Tanpa mami mau mendengar bagaimana sosok Radja yang sebenarnya. Ily mau membuka mata mami tentang siapa Radja sebenarnya.”
“Tapi itu beresiko sayang. Papa ngga bisa membayangkan kalau papa dan om Ridho tidak datang tepat waktu. Apa kamu akan membiarkan dia merenggut milikmu yang berharga? Bagaimana dengan masa depanmu kalau itu sampai terjadi?”
“Ily lelah pa. Ily lelah harus selalu mengikuti kemauan mami. Ily kecewa sama papi yang terkesan membiarkan semuanya. Mungkin kalau Ily sudah hancur dan tidak berharga, mami akan sadar akan kesalahannya. Mami akan berhenti menjodohkan Ily dengan anak kolega papi. Dan mami akan berhenti menghina pria yang Ily cintai.”
Tangis Firly kembali pecah mengingat Dimas. Masih teringat jelas rangkaian kata yang Alea semburkan pada pria yang sangat dicintainya itu. Regan kembali memeluk Firly. Hatinya mencelos mendengarkan isi hati gadis ini. Tubuh Alea melorot mendengar penuturan putrinya. Ega menyandarkan punggungnya ke tembok seraya memejamkan mata. Sedang kedua anak lelakinya menatap tajam ke arah mereka.
“Ily, apapun yang terjadi jangan melakukan hal yang akan merugikan dirimu sendiri. Kalau om Dimas tahu, dia juga pasti sedih. Dia sangat menyayangimu Ily, dan ngga akan rela sesuatu yang buruk menimpamu.”
“Pa, apa Ily salah jatuh cinta pada om Dimas? Apa om Dimas salah membalas perasaan Ily? Kenapa mami dan papi ngga merestui hubungan kami pa? Selama ini Ily berusaha memenuhi keinginan mami dan papi, berusaha mengubur perasaan Ily pada om Dimas, tapi Ily ngga bisa pa. Sekuat apapun Ily berusaha Ily ngga bisa melupakannya. Tolong katakan Ily harus gimana pa? Ily lelah pa,” Ily kembali menangis tapi kemudian nafasnya nampak tersengal.
Firly mengikuti apa yang dikatakan Regan. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia terus melakukannya beberapa kali sampai kondisinya tenang dan nafasnya kembali teratur. Regan mengambil gelas susu dari atas nakas lalu memberikannya pada Firly.
“Minum dulu nak, pelan-pelan saja.”
Firly menyesap susu coklat yang hampir dingin itu perlahan. Dia hanya sanggup menghabiskan setengah gelas saja lalu meletakkannya lagi di atas nakas. Regan membuka laci nakas lalu mengambil botol plastik yang berisikan obat tidur yang biasa Firly konsumsi.
“Ily dari mana kamu mendapatkan obat ini?”
“Dari teman pa.”
“Ily, mengkonsumsi obat tidur apalagi dalam jangka panjang itu tidak baik nak. Lihat, bagaimana kamu tadi kesulitan bernafas, itu karena efek dari obat yang kamu minum. Ily percaya papa?”
“Iya pa.”
“Jangan minum obat ini lagi. Papa akan membantu Ily mengatasi insomniamu, ok?”
“Iya pa.”
“Sekarang Ily istirahat. Jangan pikirkan hal-hal yang membebanimu, pikirkan saja yang membuatmu bahagia. Ingat, banyak orang yang menyayangi dan peduli padamu, termasuk papa.”
__ADS_1
Firly mengangguk, Regan mengusap puncak kepala Firly kemudian beranjak meninggalkannya. Kini dia beralih pada Firlan juga Azriel.
“Kalian tetap di sini, hiburlah dia. Papa percayakan Ily pada kalian.”
“Iya pa,” jawab Firlan dan Azriel bersamaan.
Kedua lelaki itu menghampiri Firly kemudian memeluknya. Ketiganya berpelukan erat, tangis Firly kembali pecah. Regan menutup pintu kamar, Ega dan Alea mendekatinya.
“Kalian ikut aku. Ada yang harus kubicarakan.”
Ega dan Alea mengikuti langkah Regan menuruni anak tangga. Mereka memilih berbicara di ruang tengah. Regan berdiri membelakangi pasangan suami istri itu dengan kedua tangannya berada di pinggang pinggang. Amarah yang sedari tadi ditahannya sepertinya akan meledak sebentar lagi. Regan membalikkan tubuhnya, memandang dua orang di depannya dengan tatapan tajam.
“Puas kalian?! Sudah membuat anak kalian menderita, apa kalian puas?!”
“Mas,” Regan mengangkat tangannya tanda tak ingin pembicaraannya disela. Ega kembali membungkam mulutnya.
“Apa kalian tahu apa yang terjadi pada Ily hari ini? Dia hampir saja kehilangan kehormatannya di tangan lelaki yang sangat kamu banggakan itu,” mata Regan menatap Alea.
“Apa begini cara kalian membahagiakannya? Alea, apakah kondisi Ily sekarang tidak mengingatkanmu pada dirimu dulu? Apa kamu bahagia ketika orang tuamu memaksakan keinginannya padamu sehingga kamu juga melakukan hal yang sama pada Ily, putrimu satu-satunya!”
“Dan kamu Ga, sebagai kepala keluarga kamu terlalu lemah. Sikapmu yang seperti ini justru membuat anak-anakmu menderita. Mencintai bukan berarti menutup mata atas semua perbuatan yang dilakukan istrimu. Justru kamu harus mengingatkannya jika dirinya salah melangkah. Berhentilah bersikap keras kepala, terutama kamu Al!”
Lidah Ega dan Alea terasa kelu, keduanya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat Regan dalam mode seperti ini memang cukup menyeramkan, karena pak dokter bukanlah orang yang mudah marah.
“Kalau kalian tidak mempertahankan prinsip bodoh kalian, Ily tidak akan menderita seperti ini. Kalian ingin yang terbaik untuk putri kalian tapi kalian tidak tahu bagaimana isi hatinya. Hanya karena ego, kalian menyakiti orang-orang di sekitar kalian.
Apa kamu sadar Al? Semakin banyak penghinaan yang kamu lontarkan pada Dimas maka hati putrimulah yang semakin tersakiti. Semakin kamu membenci Dimas, maka Ily akan semakin menderita. Bahkan kamu membuat anak kecil yang tidak tahu apa-apa turut menanggung penderitaan karena keegoisan kalian! Selama ini aku diam karena tidak ingin mencampuri urusan keluarga kalian, tapi ini sudah keterlaluan!! Perlu berapa banyak korban sampai kalian sadar akan kesalahan kalian?!”
Regan meraih botol plastik dari saku celananya kemudian melemparkan ke arah sofa. Ega melirik benda yang tergeletak di sudut sofa.
“Apa kalian tahu kalau Ily mengkonsumsi obat tidur karena insomsianya? Apa kalian tahu kalau hampir setiap malam dia menangis diam-diam di kamarnya? Sebagai orang tua kalian benar-benar keterlaluan! Renungkan semua yang terjadi hari ini dan aku harap kalian belajar dari kesalahan sebelum menyesal.”
Regan meninggalkan Ega dan Alea sebelum mereka sempat mengatakan apapun. Sikap Regan seperti menyindir mereka secara tidak langsung. Selama ini mereka tidak pernah mendengarkan apapun yang orang katakan. Kini giliran mereka yang harus merasakan hal serupa.
🍁🍁🍁
**Good job papa Regan, aku padamu 😍😍😍
Mamake ngga mau komen banyak cuma mau bilang dukung terus mamake ya dengan like, comment n votenya kalo masih ada. Dikasih bunga, kopi atau kursi pijat juga mamake terima kok😉
Selamat beraktivitas ya**..
__ADS_1