
Adi menurunkan Azkia di depan gang rumahnya. Azkia menawarkannya untuk turun tapi ditolaknya karena akan segera pulang ke Ciwidey. Azkia berjalan memasuki jalanan kecil itu dengan kepala tertunduk. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sandal bapaknya teronggok di depan pintu. Perasaannya langsung tak karuan.
Tanpa mengucapkan salam, Azkia langsung masuk ke dalam. Dibukanya pintu dengan satu hentakan keras. Daniar dan Agus yang sedang duduk di ruang tamu terkejut dengan kedatangannya. Senyum Agus mengembang ketika melihat Azkia.
“Ibu ngga apa-apa?” Azkia langsung menghambur ke arah Daniar.
“Kia, bapak minta uang.”
“Aku ngga punya pak.”
“Jangan bohong!! Kamu kan baru selesai magang. Ngga mungkin perusahaan sebesar itu tidak memberimu uang.”
“Aku benar ngga punya uang pak.”
Agus tak mempercayai begitu saja ucapan anaknya. Ditariknya tas yang masih menggantung di bahu Azkia. Agus mengeluarkan semua isi di dalam tas lalu mengambil dompet milik Azkia. Dia hanya menemukan dua lembar lima puluh ribuan saja. Dengan kesal dibantingnya dompet tersebut. Tapi kemudian matanya tertuju pada kartu ATM yang terselip di dompet.
Agus mengambil kembali dompet tersebut. Ditariknya kartu pipih itu. Azkia menggeleng penuh pengharapan pada Agus. Di sana semua uang tabungannya tersimpan. Agus menyeringai senang.
“Berapa nomor pin-nya?”
“Jangan pak. Itu uang tabungan untuk berobat ibu,” mohon Azkia.
“Berapa?!!”
Azkia tetap bungkam. Kesal Azkia tak juga menjawabnya, Agus menjambak rambut Daniar hingga kepalanya tertarik ke belakang.
“Jangan sakiti ibu pak.”
“Kalau begitu katakan!! Berapa nomor pin-nya!!”
“Tanggal lahir ibu.”
Melihat ibunya kesakitan, Azkia tak tega. Agus melepaskan jambakannya. Daniar meringis kesakitan seraya mengusap kepalanya. Azkia memeluk tubuh ibunya. Sementara Agus bersiap untuk pergi setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Saat akan membuka pintu, pria itu berbalik lalu menatap tajam pada Azkia.
“Awas kalau kamu memblokir kartu ini atau melaporkan hilang, bapak tidak segan-segan menyiksa ibumu!”
Agus keluar dari rumah. Dibantingnya pintu hingga menimbulkan getaran dan suara yang cukup keras. Daniar dan Azkia saling berpelukan sambil menangis. Azkia terus menangis dalam pelukan ibunya. Kerja kerasnya raib seketika. Uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit kini sudah berpindah tangan.
🍁🍁🍁
Sepanjang hari Azkia lebih banyak melamun. Gia sampai harus menggantikannya karena beberapa kali Azkia melakukan kesalahan saat menginput belanjaan. Gadis itu duduk termenung di bangku dekat stand roti bakar. Sesekali terdengar helaan nafasnya yang berat.
Sedari pagi Azkia memutar otaknya. Kini uang yang dia miliki hanya yang ada di dalam dompet. Tabungan untuk berobat Daniar dan uang sekolah Hanin sudah diambil oleh Agus. Begitu pula uang belanja untuk sebulan yang masih tersimpan di ATM. Dia baru saja mengecek saldo melalui mobile banking, ternyata hanya tinggal saldo minimum saja. Agus benar-benar menguras habis uangnya.
Azkia terkejut ketika seseorang menyerahkan sebuah amplop coklat padanya. Dia mengangkat kepalanya. Nampak Adi berdiri di hadapannya.
“Kang Adi.”
“Tadi aku ke rumah nganter oleh-oleh. Ibumu sudah cerita apa yang terjadi. Ini, ambil kembali uangmu.”
__ADS_1
“Itu uangmu kang.”
“Iya. Tapi saat ini kamu yang lebih membutuhkannya. Ambillah Kia. Kamu perlu uang ini untuk kebutuhan sehari-hari.”
Sebenarnya Azkia malu untuk mengambil uang tersebut, seperti menjilat kembali ludahnya. Tapi dia tak punya pilihan karena saat ini benar-benar membutuhkannya. Senyum Adi terbit ketika amplop di tangannya sudah berpindah ke tangan Azkia.
“Rencanamu apa sekarang?” Adi mendudukkan diri di samping Azkia.
“Aku mau pindah rumah kang. Kalau tetap di sana bapak pasti akan terus datang dan meminta uang pada kami. Tapi aku belum ada uang untuk mengontrak rumah baru.”
“Kamu tenang aja, aku akan bantu.”
“Jangan kang. Aku udah terlalu sering merepotkan akang. Aku malu kang.”
“Kita ini saudara sesama muslim Kia. Sudah kewajibanku membantu saudaraku yang kesusahan. Dan tolong jangan merasa terbebani dengan ini semua. Aku akan mencarikan tempat baru untukmu.”
“Makasih kang, sekali lagi terima kasih. Dari dulu akang selalu ada setiap aku membutuhkan bantuan.”
“That’s what friend are for, right?”
Azkia tersenyum tipis, rasa bersalahnya semakin menumpuk saja. Sejak pertama bertemu, Adi sudah bersikap baik padanya. Lelaki itu selalu berada di sisinya. Menjadi orang pertama yang membantu di saat dirinya berada dalam kesulitan. Membelanya di saat banyak orang merendahkannya. Bahkan membantunya lepas dari trauma yang dialaminya.
Namun begitu entah mengapa pintu hati Azkia tak pernah terketuk untuknya. Mungkin karena sosok Elang telah lebih dulu masuk dan mencuri hatinya. Kehadiran Elang sebagai malaikat penyelamat begitu membekas dalam hati dan pikiran gadis itu hingga tak ada ruang lagi tersisa untuk lelaki lain termasuk Adi.
“Aku ke kampus dulu ya. Ada bimbingan soalnya.”
“Santai aja. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Azkia memandangi punggung Adi sampai menghilang di balik pintu. Gadis itu berdiri lalu kembali ke tempatnya bekerja. Dimasukkannya amplop pemberian Adi ke dalam tas. Azkia mengambil ponselnya, tak ada pesan atau telepon dari Elang. Dibukanya aplikasi whats app. Beberapa kali dia mengetikkan pesan namun kembali dihapusnya hingga akhirnya dia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku bajunya.
🍁🍁🍁
Hari berlalu, Azkia menjalani hidupnya yang kian hari terasa berat saja. Dia pusing memikirkan keuangannya yang semakin menipis. Uang yang diberikan Adi hampir habis untuk biaya sekolah Hanin dan kebutuhan sehari-hari. Ingin rasanya meminjam uang pada Rain tapi sungkan.
Azkia telah selesai mengganti seragamnya. Saat akan bersiap pulang, Daniar menelponnya. Ibunya itu meminta Azkia tak langsung pulang karena ada Agus di rumah. Azkia memutuskan untuk menunaikan shalat isya terlebih dulu. Mengadukan semua kesulitan hidupnya pada sang maha kuasa.
Selesai shalat, Azkia memutuskan untuk pulang. Dia berjalan keluar dari mini market. Tapi mengingat pesan ibunya, Azkia memilih mengulur waktu lebih dulu. Dia melangkahkan kakinya menuju taman yang letaknya tak begitu jauh dari mini market.
Suasana taman yang temaram menyapa indra penglihatannya. Terlihat beberapa pasangan berjalan di seputar taman. Ada juga yang duduk menikmati keindahan air mancur. Azkia mendudukkan dirinya di salah satu bangku. Taman yang dibangun oleh pengembang kompleks dilengkapi dengan fasilitas berupa bangku, tempat sampah, toilet, tempat mencuci tangan dan dua buah gazebo.
Bunga-bunga yang ditanam di sini pun dirawat dengan sangat baik. Ditambah dengan air mancur yang memancarkan warna-warni saat menyemburkan airnya menambah keindahan taman ini. Selain itu, keamanan di taman ini pun terjamin. Ada petugas keamanan yang senantiasa berkeliling serta kamera CCTV yang terpasang di beberapa titik.
Azkia memandangi ponsel di tangannya, sudah seminggu ini tak ada kabar dari Elang. Pemuda itu seolah telan dihilang bumi. Hanya dari akun IG-nya, Azkia mengetahui kalau Elang sedang berada di Paris. Terlihat dari beberapa foto yang diposting berlatar belakang menara Eiffel. Semenjak kedatangan Syifa, Elang seolah melupakannya.
“Azkia...”
Azkia terkesiap mendengar suara dari arah sampingnya. Dia terhenyak melihat lelaki yang mati-matian dihindarinya kini berada dekat darinya. Refleks Azkia berdiri dan bergerak mundur. Fandy memperlihatkan seringaiannya melihat ketakutan Azkia. Dia tak menyangka gadis yang dicarinya ternyata berada tak jauh darinya. Beruntung Agus mengatakan padanya di mana Azkia bekerja. Sudah tiga hari ini Fandy mengawasi pergerakan Azkia.
__ADS_1
“Lama tak bertemu. Aku hampir tak mengenalimu dengan tampilan seperti ini. Tapi kamu masih terlihat cantik, bahkan bertambah cantik.”
Fandy berjalan mendekat ke arah Azkia. Gadis itu terus saja mundur. Dia melihat-lihat ke sekeliling, keadaan sudah sepi. Karena asik melamun, Azkia tak menyadari kalau orang-orang sudah meninggalkan taman.
“Kemarikan ponselmu.”
Belum sempat Azkia menyembunyikan ponselnya, Fandy telah merebutnya. Dia menekan tombol panggilan pada nomornya sendiri melalui ponsel Azkia. Setelah itu melemparkan kembali ponsel pada pemiliknya. Azkia menangkap ponselnya yang hampir saja jatuh. Tak lama sebuah pesan masuk. Fandy baru saja mengirimkan sebuah video padanya.
“Bukalah. Itu hadiahku untukmu.”
Dengan tangan bergetar Azkia memutar video tersebut. Mulutnya menganga melihat adegan di dalam video. Di sana memperlihatkan rekaman saat Fandy melucuti pakaiannya. Bentuk tubuhnya yang hanya terbalut dalaman terlihat jelas. Seketika ingatan buruk tentang kejadian tersebut menyerangnya. Nafas Azkia mulai tersengal, tubuhnya bergetar hebat. Fandy tertawa keras melihat reaksi gadis itu.
“Dengar Azkia. Jadilah milikku, maka aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu hanya perlu memuaskanku di saat aku menginginkannya.”
Fandy mendekat lalu memegang tangan gadis itu. Tanpa terduga, Azkia menepisnya dengan kasar. Bahkan sebuah tamparan mendarat di pipi Fandy. Entah keberanian dari mana, Azkia menatap Fandy dengan mata menyalang.
“Lebih baik aku mati dari pada menjadi budak seksmu!!”
“Hahaha... sudah punya nyali kamu sekarang. Pikirkan baik-baik, ikuti keinginanku atau video ini akan tersebar ke seluruh media sosial. Bayangkan berapa juta pasang mata menikmati tubuh indahmu itu. Apa kamu sanggup pergi ke kampus? Pergi ke tempat kerja? Apa kamu siap melihat banyaknya pria yang menatapmu dengan penuh *****.”
“Brengsek!!!”
Azkia merangsek maju, dengan sepenuh tenaga dia melayangkan pukulan ke tubuh Fandy. Gadis itu sudah seperti orang kesurupan, Fandy cukup terkejut dengan reaksi Azkia. Gadis itu terus saja melayangkan pukulan dan tendangan. Hampir saja aset berharganya terkena tendangan. Dengan kesal Fandy menarik tangan Azkia tapi gadis itu menggigit tangannya dengan kuat.
“Aaaagghhhh..... brengsek!”
PLAKK!!
Fandy menampar pipi Azkia hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Dengan penuh amarah Fandy merangsek mendekati Azkia.
🍁🍁🍁
😱😱😱 somebody help Azkia..
**Sambil nunggu yang nolong jangan lupa jempolnya digoyang dulu ya
Like..
Comment..
Vote..
Postingan Mas El di IG-nya**
__ADS_1