Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Rencana Dimulai


__ADS_3

Virza masuk dengan terburu-buru ke dalam ruangan Irzal, semua yang ada di sana dibuat terkejut dengan kedatangannya. Setelah mengatur nafasnya sejenak, dia mulai memberikan laporannya.


“Maaf pak, saya baru dapat kabar kalau Mr. Miller akan menarik kembali semua investasinya.”


“Apa??!! Kenapa bisa begitu?”


“Saya ngga tahu pasti pak. Dendi masih menyelidikinya.”


“Aku akan menemui Mr. Miller, di mana dia sekarang?”


“Menurut sekretarisnya, dia sedang berlibur ke Barcelona. Selain itu ada masalah juga soal proyek di Belitung. Belum lagi pembangunan di Sinjay akan dimulai lusa.”


“Soal proyek di Sinjay, biar Virza yang menangani. Farel kamu urus masalah di kantor. El, temui Mr. Miller. Andri, kita berangkat ke Belitung besok.”


“Baik pak.”


“Bawa Jayden bersamamu El.”


“Iya pak.”


Rapat singkat itu berakhir. Semua kembali ke tempatnya masing-masing. Elang bergegas menyelesaikan sisa pekerjaannya. Dia harus segera kembali ke rumah untuk bersiap. Besok dirinya akan berangkat ke Barcelona untuk mengejar Mr. Miller.


Kurang dari dua jam Elang sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah berada di rumah. Elang mengajak Azkia berbicara di balkon sambil menikmati suasana sore hari. Semilir angin menerpa kulit mereka. Elang memeluk istrinya dari belakang.


“Sayang... besok mas harus berangkat ke Barcelona. Mas harus bertemu dengan Mr. Miller karena mendadak dia mau menarik semua investasinya.”


“Berapa lama mas?”


“Belum tahu sayang. Sampai mas berhasil meyakinkannya, baru mas akan pulang.”


Azkia mengesah pelan, lagi-lagi dia harus berjauhan dari sang suami. Perasaannya mendadak tak enak. Seperti ada sesuatu yang buruk akan menimpa mereka. Elang mengeratkan pelukannya.


“Maaf, harus meninggalkanmu lagi.”


“Aku ngga bisa ikut mas?”


“Kuliahmu bagaimana? Bukannya minggu ini kamu sedang ujian akhir? Lagi pula mengurus visa itu butuh waktu, mas harus secepatnya menemuiMr. Miller.”


Azkia kembali mengesah. Selalu saja ada halangan saat dirinya ingin mendampingi sang suami melakukan pekerjaan di luar. Elang membalikkan tubuh Azkia menjadi menghadapnya. Dirapihkannya rambut sang istri yang sedikit berantakan karena tertiup angin.


“Mas akan pulang secepatnya. Setelah itu, kita akan bulan madu kemana pun yang kamu inginkan hmm..”


“Iya mas. Jangan lupa kasih kabar. Pokoknya setiap hari mas harus kasih kabar, minimal tiga kali sehari.”


“Udah kaya minum obat,” Elang terkekeh.


Elang membenamkan bibirnya pada bibir Azkia, menyesapnya penuh kelembutan. Azkia melingkarkan tangannya ke leher Elang lalu menariknya hingga ciuman mereka bertambah dalam.


🍁🍁🍁


Elang terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara isakan. Matanya memicing, lalu pandangannya tertuju pada Azkia yang sedang duduk bersimpuh di atas sajadah. Dia melihat ke jam dinding, waktu baru pukul tiga malam. Elang bangun lalu menghampiri sang istri.


“Sayang, kamu kenapa?”


Azkia tak menjawab, airmatanya semakin deras bercucuran. Elang membuka mukena yang membalut tubuh Azkia lalu mengangkatnya. Dia duduk di sisi ranjang dengan sang istri berada di pangkuannya. Diusapnya rambut Azkia yang masih basah.


“Kamu kenapa?”


“Aku takut mas. Perasaanku ngga enak, aku takut sesuatu terjadi padamu. Seperti akan ada bahaya yang menghampiri kita.”


“Itu hanya ketakutanmu aja sayang. In Syaa Allah semua akan baik-baik saja. Ada mas yang akan selalu menjagamu.”


Azkia memeluk leher suaminya, membenamkan wajahnya pada dada Elang yang tak terbalut apapun. Elang mengusap lembut punggung istrinya dengan lembut. Setelah beberapa saat tangis Azkia berhenti.


“Kamu udah mandi aja. Kenapa ngga bangunin mas? Kan kita bisa mandi bareng.”

__ADS_1


“Yang ada nanti aku ngga bisa tahajud kalau mandi bareng mas,” Azkia mengerucutkan bibirnya membuat Elang tergelak.


“Sekarang mau tidur lagi atau gimana?”


“Aku ngga bisa tidur.”


“Ya udah kita main aja yuk.”


“Main apa?”


“Main gulat mau?”


Azkia terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan suaminya. Tapi kemudian sebuah pukulan mendarat di lengan Elang setelah tahu arti permainan gulat versi suaminya.


“Ngga mau nih?”


Azkia menggeleng, namun gerakan tubuh selanjutnya justru menyiratkan kebalikannya. Dia merubah posisi duduknya menjadi mengangkang lalu menyesap dada Elang cukup kencang hingga meninggalkan bercak kemerahan. Elang mendesis pelan, apa yang dilakukan istrinya itu tentu saja membuat ular sancanya bangkit.


“Sayang... tanggung jawab nih..”


Azkia tak mempedulikan ucapan Elang, dia terus saja menyesap dada suaminya. Sudah ada beberapa bercak yang tercetak di dada putih itu. Elang tak bisa menahan diri lagi, langsung saja disambarnya bibir Azkia. Dengan rakus, dil**at dan dipagutnya bibir yang selalu menjadi candunya.


Direbahkannya tubuh Azkia di atas kasur lalu dengan cepat melucuti semua pakaian yang menempel padanya. Keduanya kembali mengulang pergulatan panas mereka semalam. Beberapa kali terdengar lenguhan Azkia membuat Elang semakin bersemangat memacu tubuhnya.


Azkia mendongakkan kepalanya dengan tangan memeluk erat punggung suaminya ketika sampai di puncaknya, tak lama Elang menyusul. Elang mengangkat tubuh istrinya kemudian masuk ke kamar mandi. Sebentar lagi akan masuk waktu shubuh, dia memutuskan untuk mandi bersama.


Namun saat mandi, Azkia selalu memancingnya hingga Elang kembali membenamkan miliknya pada sang istri. Segala kegundahan, ketakutan dan kekhawatiran Azkia tumpahkan melalui penyatuannya dengan sang suami. Elang mengendong Azkia lalu merapatkan tubuhnya ke dinding kamar mandi. Deru nafas dan ******* mereka bergema di seluruh ruangan bersahutan dengan suara gemericik air yang mengalir dari shower. Tak berapa lama keduanya kembali merasakan nikmatnya surga dunia.


Elang membersihkan tubuh Azkia bergantian dengan dirinya. Udara di waktu shubuh yang menusuk tulang sepadan dengan kenikmatan yang mereka rasakan tadi. Selesai mandi, keduanya memulai shalat shubuh secara berjamaah.


🍁🍁🍁


Azkia tak mau melepaskan pelukannya dari pinggang Elang. Kini mereka sudah berada di pelataran parkir bandara Husein Sastranegara. Pak Tono memilih untuk menunggu di luar, memberikan waktu kepada pasangan muda ini untuk perpisahan. Elang mengusap punggung istrinya seraya memberikan kecupan di puncak kepalanya.


“Turun yuk sayang.”


Azkia semakin mengeratkan pelukannya. Sungguh berat rasanya melepaskan suaminya pergi saat ini. Sejak semalam kecemasannya belum berakhir juga, justru semakin bertambah menjelang keberangkatan Elang.


Perlahan Elang melepaskan tangan Azkia dari pinggangnya. Dia memundurkan tubuhnya sedikit, memberi ruang pada mereka berdua agar bisa menatap wajah sang istri. Wajah Azkia nampak sendu, matanya mulai berkaca-kaca. Elang mengangkat tubuh Azkia lalu didudukkan di pangkuannya.


“Jangan begini sayang. Kalau kamu terus seperti ini, mas semakin berat untuk pergi. Doakan mas supaya urusan di sana lancar dan cepat pulang.”


“Kiss me.”


Elang meraih tengkuk Azkia lalu mendaratkan ciuman di bibir istrinya itu. Azkia memejamkan matanya, menikmati cecapan Elang di bibirnya. Dipeluknya leher Elang, ciuman mereka semakin dalam dan intens. Elang melepaskan tautan bibirnya lalu menyatukan kening mereka.


“Percaya mas, everythings gonna be ok. Buang semua kekhawatiranmu, iringi kepergian mas dengan doa. Keberhasilan mas di sana ada pada doa-doamu sayang.”


“I love you mas.”


“I love you a lot, more and more everyday.”


Elang kembali mencium Azkia dengan lembut sebentar, kemudian mengajak istrinya turun dari mobil. Dengan bergandengan tangan mereka memasuki bandara. Pak Tono berjalan di belakang mereka sambil menggeret koper Elang. Sesampainya di depan boarding pass, Elang melepaskan tautan tangan mereka. Memandang istrinya penuh cinta lalu memeluknya mesra.


“Pak Tono, saya titip istri saya.”


“Iya mas El.”


“Sayang... mas pergi dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik. Mas akan sering-sering menghubungimu.”


“Iya mas, hati-hati.”


Azkia mencium punggung tangan Elang dengan takzim yang dibalas dengan kecupan di keningnya. Elang menggeret kopernya memasuki boarding pas. Jet pribadi yang akan membawanya pergi ke negeri matador telah siap tinggal landas. Namun Elang berbalik, setengah berlari dia mendekati Azkia. Diciumnya bibir Azkia tanpa mempedulikan sekitarnya. Pak Tono langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Petugas boarding pass menundukkan kepalanya. Untuk sesaat Elang masih memagut bibir Azkia kemudian melepaskannya.


Sambil berjalan mundur Elang kembali melewati gerbang boarding pass. Azkia melambaikan tangannya, beriringan dengan airmata yang jatuh berderai. Dia masih terpaku di tempatnya sampai tubuh Elang menghilang. Pak Tono mendekati wanita itu lalu mengajaknya pulang. Dengan langkah berat, Azkia melangkahkan kakinya meninggalkan bandara.

__ADS_1


🍁🍁🍁


PRAKKK


“Aaaaggghhh!!!”


Ponsel Deski jatuh berserakan di lantai setelah membentur dinding dengan kerasnya diiringi teriakan sang empu. Deski geram setelah melihat foto-foto Elang dan Azkia di bandara. Tangannya mengepal kencang, wajahnya merah padam, terdengar gemelutuk giginya yang saling beradu.


“Brengsek!!! Beraninya dia mencium Kia-ku!!!”


Semua yang ada di ruangan hanya terdiam dengan kepala menunduk. Tomi, Agus, Meta dan Paul hanya mampu mengatupkan mulutnya. Deski menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dengan kesal. Nafasnya masih nampak memburu. Dia berusaha menenangkan diri, karena untuk menghadapi Elang dibutuhkan ketenangan agar bisa berpikir jernih.


“Tomi, hubungi Syifa, tanyakan apa rencananya berjalan lancar.”


Tomi mengangguk kemudian mulai menghubungi Syifa. Tomi lebih banyak diam saat mendengarkan Syifa dari seberang sana. Tak lama kemudian dia mengakhiri panggilannya.


“Semua sudah berjalan sesuai rencana. Semua umpan sudah ditebar, hanya tersisa Farel saja di sini. Bu Syifa bilang lusa kita bisa menjalankan rencana kita.”


“Hmm.. baiklah lusa kita akan bergerak. Pak Agus, saatnya membuktikan ucapan anda. Pastikan rencana ini tidak boleh gagal. Kia harus segera menjadi milikku.”


“Tenang saja. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu.”


“Meta... bersiaplah untuk beraksi. Tapi ingat, jangan lukai Kia sedikit pun. Kalau dia sampai terluka, maka kamu akan merasakan akibatnya.”


“Baik pak.”


“Paul.. pastikan tidak ada satu pun yang menemukan jejak Kia.”


“Siap bos.”


Deski menyandarkan punggungnya ke sofa. Emosinya sudah sedikit tenang. Senyum smirk tersungging di wajahnya. Sebentar lagi tujuannya akan tercapai. Diambilnya sebatang rokok, Tomi dengan cepat menyalakan pemantik. Deski menghisap dalam-dalam rokok di tangannya lalu menghembuskan asapnya perlahan.


🍁🍁🍁


Elang duduk termenung di restoran yang berada di hotel tempatnya menginap. Sepertinya pembicaraan dengan Mr. Miller tidak berjalan dengan baik. Seorang pelayan mengantarkan minuman padanya. Dengan enggan disesapnya teh hijau yang memang dipesannya tadi.


Selesai dengan tehnya, Elang memilih kembali ke kamarnya. Saat di lift, dia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ditariknya dasi yang melilit di lehernya, tubuhnya terasa panas. Pintu lift terbuka, dengan langkah sempoyongan dia menuju kamarnya.


Kamar yang tadinya gelap berubah menjadi terang. Elang tercenung melihat seorang wanita yang tengah duduk di sisi ranjang dengan mengenakan lingerie tipis. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan wanita di depannya ini.


“Az.. kapan kamu datang?”


“Baru saja. Kamu kenapa El?”


“Oh sayang... i miss you..”


Elang langsung menabrakkan dirinya. Syifa tersenyum senang, dalam pandangan Elang dirinya adalah Azkia. Dia balas memeluk Elang erat lalu mendaratkan ciuman di leher lelaki yang sangat dicintainya itu.


Elang mengurai pelukannya lalu menyambar bibir Syifa dengan rakus. Dengan tergesa dilepaskannya seluruh pakaian yang membungkus tubuhnya. Selain hawa panas, dorongan lain dalam dirinya begitu memaksa ingin dipuaskan. Selesai dengan pakaiannya, Elang merobek lingerie yang dikenakan Syifa lalu mendorong tubuh itu sampai terjatuh ke kasur.


“I’m yours baby,” ucap Syifa dengan nada seksi.


Tanpa menunggu lama Elang langsung menerjang tubuh itu. Lenguhan dan ******* Syifa terdengar ketika Elang tanpa henti menciumi dan menyesap bagian tubuhnya.


🍁🍁🍁


😱😱😱🙈🙈🙈


Maaf ya, mamake lagi sibuk di RL, kaboooorrr🏃🏃🏃🏃🏃


Eh jangan lupa tinggalin jejaknya


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2