Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Jadilah Milikku


__ADS_3

Elang membuka matanya. Tubuhnya sedikit terasa pegal, mungkin karena efek obat yang masuk ke tubuhnya semalam. Dia bergegas membersihkan diri lalu menunaikan ibadah shalat shubuh. Baru saja dia selesai berpakaian, terdengar bel pintu kamarnya berbunyi beberapa kali. Elang segera membukakan pintu. Jayden langsung menerobos masuk, wajahnya nampak panik.


“Bang.. gawat bang..”


“Kenapa?”


“Kia.. Kia diculik bang.”


“Apa??!!!”


“Yunda telepon aku, Ayunda diculik di rumah. Kayanya Deski pelakunya.”


“Brengsek!!” Elang mengepalkan tangannya.


“Kita pulang sekarang. Coba lacak ponsel Kia.”


“Udah bang. Hp nya di rumah.”


“Kalau gitu lacak gps yang ada di kalungnya. Kodenya 0001.”


Elang segera membereskan barang-barang. Sedang Jayden yang sudah berkemas sejak semalam memilih melacak lokasi gps yang tadi disebutkan Elang. Tak lebih dari sepuluh menit Elang telah selesai berkemas.


“Gimana?”


“Lokasi terakhir di daerah Lembang.”


“Ayo kita pulang sekarang. Kabari tim di Bandung buat menyisir daerah Lembang.”


Jayden mengangguk, sambil menggeret kopernya dia menghubungi Bimo. Dengan terburu-buru keduanya keluar dari hotel. Dari dalam mobil, Syifa memandangi Elang sambil tersenyum miring. Di sebelahnya, Josh juga ikut tersenyum.


“Kamu akan melepaskannya Fa?”


“Akan ada waktunya aku melemparkan senjata pamungkasku. Sekarang biar dia mengurusi istri dan perusahaan yang di ambang kebangkrutan.”


“Kamu harus membayarku mahal untuk ini baby.”


“Of couse.”


Syifa memakai kacamata hitamnya, Josh menyalakan mesin mobil lalu kendaraan roda empat itu segera melesat.


🍁🍁🍁


Mobil yang membawa Azkia terus melaju, di tengah perjalanan mereka berhenti. Paul telah menunggu mereka untuk berganti kendaraan. Azkia turun dari mobil, dari mobil satunya turun seseorang yang dikenalnya. Deski dengan senyum sumringah menyambutnya.


“Kerja bagus Meta. Masukkan dia ke dalam mobil.”


“Sebentar pak.”


Meta mendekati Azkia lalu tangannya menelusup masuk ke dalam hijab Azkia. Ditariknya kalung yang dikenakan wanita itu. Deski awalnya kesal dengan tindakan Meta tapi ditahan kemarahannya itu ketika melihat di tangan Meta terdapat sebuah kalung.


“Elang itu pintar, dia tidak akan membiarkan istrinya tanpa pengawasan. Dia pasti sudah menanamkan alat pelacak di kalung ini.”


Meta membuang kalung ke semak-semak kemudian menarik Azkia masuk ke dalam mobil. Deski tersenyum puas, tak sia-sia dia membayar mahal jasa Meta. Ternyata kinerja gadis itu melebihi ekspektasinya. Perjalanan pun kembali berlanjut. Paul dan Meta duduk di depan, sedang Azkia dan Deski di bagian belakang. Azkia merapatkan tubuhnya ke dekat pintu, menjaga jarak dari pria di sampingnya.


Setelah berkendara hampir satu jam lamanya, mereka tiba di sebuah vila yang jauh dari perumahan penduduk. Bangunan berpagar tinggi itu dijaga oleh beberapa anak buah Deski. Meta menarik tangan Azkia, membawanya ke lantai atas lalu memasukkannya ke sebuah kamar berukuran besar.


Tak lama Deski masuk, lalu mendaratkan bokong di sofa. Matanya terus memperhatikan Azkia yang selalu bersikap waspada.


“Kenapa kamu membawaku ke sini?”

__ADS_1


“Tentu saja untuk membebaskanmu dari laki-laki sombong itu. Beraninya dia menantangku. Sudah kukatakan padanya kalau aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan.”


“Dasar gila!! Lepaskan aku!!”


“Kamu adalah milikku Kia. Pertemuan tak sengaja kita beberapa kali menyiratkan kalau kamu adalah jodohku.”


“Aku wanita bersuami dan aku tidak menyukaimu. Lepaskan aku!!”


“Sesuatu yang sudah kudapatkan tidak akan kulepaskan begitu saja. Kamu akan menjadi milikku bagaimana pun caranya. Aku sangat ingin menikmati tubuh ini.”


Deski berdiri lalu menghampiri Azkia. Dia mendekatkan tangannya ke arah Azkia namun segera ditepis oleh wanita itu. Matanya menatap nyalang ke arah Deski.


“Aku lebih baik mati!! Sejengkal pun aku tak sudi tersentuh olehmu!!”


“Menurutlah selagi aku masih bersikap baik. Atau aku tidak akan segan-segan menyakiti orang-orang di sekelilingmu,” Deski beralih menatap Meta.


“Awasi dia, pastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Berikan pakaian ganti untuknya. besok dia harus tampil cantik untukku, mengerti?”


“Iya pak.”


Deski keluar dari kamar. Meta melihat sekilas pada Azkia lalu tak lama dia keluar. Bersama dengan temannya, dia berjaga di depan pintu kamar. Azkia menjatuhkan dirinya begitu kedua orang itu keluar. Tangisnya pecah, beberapa kali terdengar suaranya memanggil nama Elang.


🍁🍁🍁


Semua orang sibuk mencari keberadaan Azkia yang seperti hilang di telan bumi. Jejak gps-nya pun terhenti di daerah Lembang dan tak ada pergerakan lagi. Irzal yang sudah kembali dari Belitung segera memulai pencarian bersama anak buah terbaiknya. Farel juga Andri sibuk berkutat di kantor karena serentetan masalah tak henti menghantam perusahaan. Virza sendiri membantu sang ayah mencari jejak istri sahabat sekaligus atasannya itu.


Hanin yang masih bersedih memutuskan berjalan-jalan di seputar taman yang berada tak jauh dari kediaman Adit. Berharap kegundahannya sedikit berkurang ketika melihat anak-anak bermain di sana. Saat sedang asik mengamati beberapa anak lelaki yang bermain bola, seseorang duduk di sampingnya. Hanin terkejut mengetahui Agus sudah ada di dekatnya.


“Bapak...”


“Bagaimana kabarmu? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?”


“Hah... hal pertama yang kamu tanyakan saat bertemu dengan bapakmu hanyalah anak sialan itu.”


“Di mana kak Kia? Aku mohon pak, kembalikan kak Kia.”


“Kamu ingin menyelamatkan Kia?”


Hanin mengangguk dengan cepat. Agus melihat sekeliling, takut kalau ada anak buah Adit yang sedang mengawasi. Setelah situasi dirasa aman, dia membisikkan sesuatu di telinga putrinya itu.


“Kalau kamu ingin menyelamatkan Kia, ikutlah dengan bapak. Pergi diam-diam, jangan sampai orang tua angkatmu tahu. Tinggalkan ponselmu di sini. bapak akan menunggu di pintu masuk kompleks. Ingat jangan beritahu siapa pun atau Kia tidak akan selamat.”


Hanin menelan ludahnya kelat mendengar ucapan bapaknya. Agus berdiri lalu melenggang meninggalkan Hanin yang masih terdiam. Hanin mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu meletakkannya begitu saja di kursi taman. Setelah itu dia beranjak pergi, menyusul sang ayah.


Mengetahui Hanin tidak ada di rumah, Debby kalang kabut. Dibantu oleh asisten rumah tangganya, wanita itu mencari keberadaan anak angkatnya. Sumi, asisten rumah tangga Debby datang tergopoh-gopoh sambil membawa ponsel Hanin.


“Bu, saya nemu hp non Hanin di taman tapi non Haninnya ngga ada bu. Saya udah cari sekeliling taman tapi ngga ketemu.”


“Ya Allah Hanin, di mana kamu nak.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.. Gara.. Hanin hilang.”


Debby langsung menghambur begitu melihat sang anak memasuki rumah. Gara terkejut mendengarnya. Dipeluknya Debby yang sudah mulai menangis.


“Sabar ma, mungkin dia pergi ke rumah temannya.”


“Bi Sumi menemukan hp-nya di taman. Kalau pergi, hp nya ngga pernah ketinggalan. Kemana dia Gara? Mama takut sesuatu terjadi padanya.”

__ADS_1


Gara mengeluarkan ponselnya lalu segera menghubungi Firlan, meminta sahabatnya itu untuk melacak keberadaan adiknya. Gara membawa Debby duduk di sofa, menenangkannya sebentar setelah itu dia bergegas pergi untuk mencari Hanin.


🍁🍁🍁


Selama dalam penahanan Deski, Azkia tak berani menyentuh apapun yang disuguhkan olehnya. Dia hanya mengisi perutnya dengan air kran dari kamar mandi. Mengingat betapa liciknya pria itu, Azkia takut ada sesuatu yang dibubuhkan ke dalam makanannya. Azkia menghabiskan waktunya bersimpuh di atas sajadah. Hanya kepada sang Maha Kuasa dia bisa meminta pertolongan.


Dalam hatinya tak henti memanggil nama Elang. Berharap suaminya itu mampu mendengar jeritan hatinya. Airmata mengalir membasahi pipinya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Azkia mengusap airmatanya, tak ingin terlihat lemah di depan semua yang orang yang telah menyekapnya.


Meta masuk ke dalam kamar membawakan makanan yang baru. Dia menghela nafasnya melihat makanan dan minuman yang disiapkan masih belum tersentuh oleh tawanannya. Diletakkannya nampan di atas nakas, lalu dia menghampiri Azkia.


“Kenapa makananmu belum tersentuh? Sejak kemarin kamu belum makan apapun. Apa kamu ingi mati?”


“Aku lebih baik mati dari pada hidup dalam tawanan tuan gilamu itu. Tunggu saja sampai suamiku datang, kalian semua tidak akan selamat.”


Meta tersenyum miring, diambilnya nampan lalu diletakkan di hadapan Azkia. Wanita itu bergeming, tak ada keinginan untuk menyentuh makanan itu. Meta menyuapkan sedikit makanan ke dalam mulutnya lalu meneguk sedikit minuman yang ada di gelas.


“Lihat.. aku masih hidup. Makanan dan minuman itu aman, tidak ada racun, obat penenang atau obat perangsang. Jadi makanlah, jika kamu keras kepala, tuan Deski tidak akan segan-segan menyakiti orang-orang terdekatmu.”


Sedikit ragu Azkia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Perutnya memang terasa perih, sejak kemarin siang tak ada makanan yang masuk ke lambungnya. Air kran yang diminumnya juga membuatnya sakit perut. Meta terus berada di kamar sampai Azkia menghabiskan makanannya.


“Sekarang bersiaplah, ada seseorang yang akan menemuimu. Aku beri waktu satu jam untuk bersiap.”


Meta keluar dari kamar dengan nampan kosong di tangannya. Azkia melirik hand bag di atas kasur. Diambilnya tas belanja tersebut, di dalamnya terdapat pakaian ganti, handuk dan peralatan kosmetik. Azkia membawa hand bag tersebut ke dalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Azkia telah selesai membersihkan diri. Wajah dan tubuhnya terasa lebih segar. Dibukanya jendela yang ada di kamar, semilir angin pagi menerpa wajahnya. Hamparan perkebunan teh dan juga deretan bukit menyapa matanya. Namun pemandangan indah ini tak berari sama sekali baginya. Terkurung dalam ruangan, terpisah dari suami tercinta dan orang-orang yang disayanginya membuatnya seperti berada dalam neraka.


Azkia mengalihkan pandangannya ketika pintu kamar terbuka. Deski masuk lalu menghampirinya. Azkia bergerak mundur menjauh dari pria itu. Hati Deski mencelos melihat Azkia yang kerap menjaga jarak darinya.


“Jadilah milikku Kia. Maka aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Aku akan menjadikanmu ratu dalam hidupku.”


“Aku sudah menjadi milik suamiku, hanya dia yang berhak atas diriku.”


“Berhenti mengungkitnya!!! Selagi aku masih bersikap baik, menurutlah.”


“Cih.. bahkan jika kamu menyiksaku, aku tidak akan pernah mau.”


Tawa Deski membahana ke seluruh ruangan. Suara tawanya yang keras sebagai bentuk kekecewaan atas jawaban Azkia untuknya. Tangannya mengepal kencang, matanya menyiratkan kemarahan lalu dia memanggil Meta sambil berteriak. Tak lama Meta datang bersama dengan Hanin. Azkia terkejut melihat kehadiran sang adik. Hanin yang hendak menghampiri kakaknya tertahan oleh cekalan tangan Meta.


“Kak Kia!”


“Hanin! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menculiknya juga??!!” Azkia menatap nyalang pada Deski.


“Aku sudah katakan padamu, menurutlah padaku atau aku akan menyakiti orang-orang di sekelilingmu. Sesudah Hanin, maka korban selanjutnya adalah ibu angkatmu beserta suami dan anak tunggalnya, Gara.”


“Brengsek!!!”


“Kamu yang telah merubahku menjadi pria brengsek!! Siang nanti serahkan dirimu padaku atau hidup adikmu akan berakhir. Aku tidak main-main Kia. Meta!!”


Meta menarik rambut Hanin dengan kencang lalu mengarahkan sebuah pisau kecil ke leher gadis itu.


🍁🍁🍁


😱😱😱


**Deski bener² udah gila ya, benar² terobsesi sama Azkia. Ternyata Josh seorang pengkhianat gaaeeesss. Kejadian terakhir dengan Syifa masih teka-teki nih.


Penasaran???


Tinggalin jejak dulu ya gaaaeesss.. like yang banyak, komen yang banyak juga, lempar votenya juga buat mamake kalau belum terpakai**.

__ADS_1


__ADS_2