
Kediaman Adit
Nara hanya menganga mendengar curahan hati Ayunda. Sahabatnya ini menceritakan semua kegundahan hatinya sambil bersimbah airmata. Sudah satu pack tisu dihabiskan untuk menghapus airmata dan membuang cairan dari hidungnya. Matanya sudah bengkak karena sedari siang tak berhenti menangis.
Ayunda sengaja mematikan ponselnya agar tak ada yang mencari atau menghubunginya. Namun atas desakan Nara, akhirnya gadis itu menghidupkan ponselnya agar yang lain tidak merasa khawatir. Puluhan chat langsung masuk ketika benda pipih itu menyala.
Selain pesan dari grup teman sekelasnya, ada juga pesan dari Poppy, Alea dan Firlan. Calon suaminya itu paling banyak mengirimkan pesan, namun Ayunda tak berminat untuk membuka apalagi membalasnya. Kemudian matanya tertuju pada pesan yang baru saja masuk. Sebuah pesan dari Reyhan.
Tangis Ayunda kembali pecah ketika membaca pesan dari Reyhan. Nara yang penasaran segera mengambil ponsel tersebut. Matanya langsung tertuju pada pesan dari Reyhan.
From Kak Rey :
Ay...
Lagi apa?
Are you okay?
No news from you..
Jangan buatku khawatir.
Nara memeluk Ayunda, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Dia tak menyangka Ayunda memiliki kisah cinta yang rumit. Begitu menguras hati dan pikiran. Ayunda melepaskan pelukan Nara lalu menatap sahabatnya itu lekat-lekat.
“Gue harus gimana Ra? Gue harus gimana?”
“Coba lo ngomong sama bunda juga ayah.”
“Gue ngga berani Ra. Gue ngga mau mereka menanggung malu karena kebodohan gue.”
“Iya juga sih. Lo tuh ibarat makan buah simalakama. Kalau lo nikah sama bang Ilan, belum tentu lo bahagia karena orang yang lo cintai itu kak Rey. Tapi kalau lo milih kak Rey, kasihan bang Ilan. Belum lagi pasti ada pergesekan antara dua keluarga. Ya ampun Yun, gue juga jadi ikutan pusing.”
Perbincangan mereka terhenti ketika ponsel Ayunda berdering. Nara menatap tegang ke arah Ayunda ketika mengetahui Firlan yang menelpon. Nara menyerahkan ponsel pada Ayunda, tapi gadis itu hanya menggeleng. Nara menghembuskan nafas lega ketika panggilan berakhir, namun tak lama kembali berdering. Akhirnya Nara berinisiatif menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum. Bang Ilan ini sama Nara.”
“Waalaikumsalam. Yundanya mana?”
“Yunda tidur bang. Kayanya dia kecapean pulang dari kampus.”
“Oh.. abang dari tadi hubungi ngga aktif hp-nya.”
“Baterenya abis bang.”
__ADS_1
“Ya udah nanti abang telepon lagi.”
Firlan mengakhiri panggilannya. Nara menghembuskan nafas lega. Berulang kali dia meminta maaf dalam hati karena telah berbohong pada Firlan. Nara menoleh ke arah Ayunda, ternyata gadis itu telah tertidur.
“Yee dia tidur beneran.”
Nara memilih mengirim pesan pada Elang. Saat sedih seperti ini, Elang yang selalu bisa menenangkan sahabatnya itu.
To Mas Elang :
Mas El.. Yunda ada di tempatku. Dia lagi sedih banget. Nanti mas El yang jemput ya.
🍁🍁🍁
Jam delapan malam Elang sampai di kediaman Adit. Semua sedang berkumpul di ruang keluarga, kecuali Nara yang masih menemani Ayunda di kamar. Sejak pulang kerja Gara belum bisa masuk ke kamar karena ada Ayunda di dalam. Dia mengantar Elang menuju kamarnya dan Nara di lantai dua.
Mendengar pintu kamar terketuk, Nara bergegas membukakan pintu. Nampak suaminya dan Elang sudah berdiri di depan pintu. Tahu kalau Elang menjemputnya, Ayunda segera beranjak dari atas kasur.
Elang hanya diam memandangi wajah sang adik yang sudah bengkak. Gara juga kaget melihat mata Ayunda yang bengkak. Tanpa berkata, Elang menggandeng tangan Ayunda. Saat melintasi ruang tengah, hanya Elang yang berpamitan pada Adit dan Debby sedangkan Ayunda memilih menundukkan kepalanya.
Kakak beradik itu menyusuri jalanan kompleks dengan berjalan kaki. Ini kebiasaan Ayunda jika sedang sedih. Dia lebih senang berjalan kaki sambil ditemani Elang atau Farel.
“Mas El..”
“Hmm..”
“Ayo naik.”
“Nanti mas El capek.”
“Naik.”
Ayunda menaiki punggung Elang lalu mengalungkan kedua tangannya di leher kakaknya. Elang berdiri lalu mulai berjalan sambil menggendong adiknya. Ayunda merebahkan kepalanya di punggung Elang. Punggung kakaknya masih hangat seperti dulu.
“Mas El ngga capek? Yunda kan berat sekarang.”
“Ngga.. ini mungkin yang terakhir mas gendong kamu. Kalau kamu udah nikah, mas ngga akan punya kesempatan gendong kamu lagi.”
“Mas.. kalau aku ngelakuin kesalahan, ayah bakal marah ngga sama aku?”
“Tergantung seberapa besar kesalahanmu. Jika kamu salah, ayah pasti akan menegurmu bahkan mungkin menghukummu. Tapi itu semua bentuk kasih sayang ayah padamu. Dan yang harus kamu ingat, sebesar apapun kesalahanmu, kami semua akan selalu ada bersamamu. Mendukungmu dan mengingatkanmu agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.”
Ayunda terdiam, dia kembali menyandarkan kepalanya di punggung Elang. Inilah nanti saat-saat yang akan dirindukannya setelah dia menikah. Berbicara dengan sang kakak dengan posisi seperti ini.
__ADS_1
“Mas.. apa aku salah kalau bersikap egois ingin mengejar kebahagiaanku?”
“Setiap orang berhak mengejar kebahagiaannya, termasuk kamu.”
“Walau harus menyakiti orang lain?”
“Tidak semua hal berjalan sesuai dengan kemauan kita, Yun. Terkadang kita tidak bisa menghindar jika harus menyakiti orang lain, baik dengan kata, sikap atau perbuatan kita. Jika kita terpaksa harus menyakiti orang lain, maka bersiaplah untuk meminta maaf atau cobalah untuk meringankan rasa sakit yang nantinya akan dirasakan. Tunjukkan penyesalanmu dan berlakulah lebih baik lagi ke depannya.”
“Kalau aku melakukan kesalahan yang menyebabkan menyakiti orang lain, apa ayah akan memaafkanku? Apa mas El akan terus mendukungku?”
“Ayah, bunda, mas dan bang Farel pasti akan terus bersamamu. Karena kamu bagian kami, kesayangan kami. Jangan pendam semuanya sendiri Yun. Kalau kamu ngga mau cerita sama mas, kamu bisa cerita sama ayah. Kamu tahu kan ayah sangat menyayangimu, dia pasti akan memberikan nasehat bijaknya untukmu.”
“Ayah kapan pulang mas? Aku kangen sama ayah hiks.. hiks..”
“In Syaa Allah minggu depan ayah pulang.”
Ayunda kembali menangis saat mengingat Irzal. Ayahnya itu sudah seminggu pergi ke Padang untuk mengontrol proyek di sana. Saat seperti ini gadis itu sangat membutuhkan ayahnya. Setiap ada masalah Ayunda memang lebih senang berbicara dengan Irzal dari pada Poppy.
Jarak rumah Gara dengan rumah Elang memang cukup jauh, apalagi harus ditempuh dengan berjalan kaki. Ditambah dengan Ayunda yang berada di punggungnya, membuat langkah Elang tak secepat biasanya. Ayunda sendiri sudah tak terdengar lagi suaranya, sepertinya gadis itu tertidur dalam gendongan sang kakak.
Saat melintasi rumah Ega, terlihat Firlan baru saja turun dari mobilnya. Dia cukup terkejut melihat Elang yang sedang menggendong Ayunda. Dengan cepat dihampiri sahabatnya itu.
“Yunda kenapa El?”
“Biasa, lagi kangen ayah.”
Firlan memperhatikan wajah Ayunda yang tampak bengkak seperti habis menangis. Hatinya mendadak tidak tenang. Apakah tangisan Ayunda ada hubungannya dengan rencana pernikahan mereka.
“Gue harap lo siap nanti Lan. Yunda itu masih manja, jadi lo harus ekstra sabar.”
“Hmm..”
Firlan hanya bergumam saja. Sesungguhnya hatinya mulai tak yakin dengan hubungan yang dijalaninya saat ini. Apakah dirinya yang akan mendampingi Ayunda ataukah Reyhan.
Firlan memandangi Elang yang kembali berjalan menuju rumahnya. Melihat Ayunda seperti itu jelas membuat hatinya sakit. Dengan langkah gontai dia masuk ke dalam rumah. Tanpa menyapa anggota keluarganya, dia terus naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Firlan menanggalkan semua pakaiannya lalu berdiri di bawah pancuran. Kedua tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi. Membiarkan guyuran air menimpa kepalanya terus turun ke tubuhnya. Dia perlu menyegarkan hati dan pikirannya.
Seusai mandi dan berpakaian, Firlan menggelar sajadah lalu mulai menunaikan shalat isya. Selesai shalat dia masih duduk terpekur di atas sajadah. Kepalanya tertunduk dalam, hatinya berdoa memohon petunjuk kepada yang kuasa.
Ya Allah, berikanlah hamba petunjuk-Mu. Jika memang Ayunda jodohku, maka mudahkanlah langkah kami. Jika dia bukan jodohku, berilah kami jalan terbaik untuk mengakhiri semua ini. Aku sangat mencintainya, namun jika rasa cintaku ini menyiksanya, ikhlaskan hatiku untuk melepasnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Bang Ilan, mamake jadi ikutan sedih🤧
Like, comment and vote nya ya all readers. Doakan mamake bisa up 3 bab lagi hari ini**.