Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET LOVE Bulan Madu


__ADS_3

Hari yang dijanjikan Akhtar untuk berbulan madu tiba. Keduanya kini sedang berada di dalam mobil. Akhtar mengarahkan kendaraannya menuju daerah puncak. Tujuannya adalah vila keluarganya yang berada di daerah Cisarua. Begitu memasuki daerah puncak, Akhtar mematikan AC lalu membuka kaca jendela. Semilir udara pegunungan yang sejuk langsung menerpa.


Rain menikmati pemandangan indah di sekelilingnya. Matanya tak henti menatap hamparan perkebunan teh yang tertata rapih. Sesekali matanya terpejam, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Akhtar melihat padanya, segurat senyum menghiasi bibirnya. Tangannya terulur lalu mengusap puncak kepala sang istri.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Vila yang dibangun Nino cukup jauh dari perumahan penduduk. Sekelilingnya hanya terhampar tanaman teh saja. Mobil Akhtar memasuki pekarangan vila. Penunggu vila yang sudah tahu tentang kedatangannya segera membukakan pagar.


Rain turun dari mobil memandangi vila yang keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu. Akhtar meraih pinggang Rain lalu membimbingnya memasuki vila. Di belakangnya mang Udin membawakan koper mereka. Mang Udin langsung menaruh koper di kamar utama. Rain mengelilingi vila, mengagumi arsitektur bangunan yang terlihat natural. Perjalanannya berakhir di kolam renang yang ada di bagian belakang vila.


Akhtar menghampiri lalu memeluknya dari belakang. Diletakkan kepalanya di ceruk leher sang istri seraya memberikan kecupan-kecupan kecil di sana. Rain menggeliat kegelian. Bukannya berhenti, Akhtar malah meneruskan aksinya. Bibirnya terus menelusuri bahu hingga punggung istrinya.


Rain membalikkan tubuhnya, mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami lalu mengecup bibirnya. Tangan Akhtar menahan tengkuk Rain, dia merubah kecupan menjadi ******* yang memabukkan. Lidah Akhtar menerobos rongga mulut Rain, menarik lidah, membelitnya hingga mereka bertukar saliva. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Tangan Akhtar juga ikut bergerak menelusuri tubuh yang begitu dipujanya.


Akhtar mengakhiri ciumannya lalu menarik tangan Rain masuk ke dalam vila. Kakinya terus melangkah memasuki kamar. Dengan gerakan pelan Akhtar menurunkan resleting dress yang dikenakan Rain. Punggung putih nan mulus segera terlihat ketika bagian belakang dress terbuka sempurna. Akhtar mengecupi punggung putih itu, menelusurinya dengan bibir juga lidahnya.


Tangan Akhtar melepaskan dress yang dikenakan Rain lalu membawanya ke ranjang. Rain berbaring pasrah di ranjang. Tangan Akhtar bergerak menelusuri tubuh istrinya, membelainya dari mulai bawah sampai atas. Lalu pandangannya tertuju pada bukit kembar yang masih terbungkus rapih. Jemarinya bergerak cepat melepaskan kaitan kain berenda hingga bulatan kenyal itu terlihat jelas sekarang.


Akhtar meraup gundukan kenyal itu dengan rakusnya. Tanganya meremas yang satunya membuat Rain mendongakkan kepalanya beberapa kali. Kemudian bibir Akhtar turun menuju bagian perut, mengecupnya beberapa kali. Berharap akan segera hadir buah hati mereka di sana. Rain memandanginya penuh haru, tangannya terulur mengusap puncak kepala suaminya.


Baru saja Akhtar akan melepaskan segitiga pengaman milik Rain, sebuah ketukan terdengar di pintu disusul suara mang Udin yang mengatakan makan siang sudah siap. Rain berusaha menahan tawanya melihat wajah frustasi sang suami. Dia bangun hendak mengenakan kembali pakaiannya namun dicegah oleh Akhtar. Suaminya itu hanya menutupi tubuhnya dengan selimut lalu keluar dari kamar.


Tak lama Akhtar kembali sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. Dia meletakkan nampan di atas nakas kemudian duduk di sisi ranjang. Tangannya menarik tangan Rain hingga berada dalam posisi duduk. Kemudian mengangkat tubuh itu hingga duduk di pangkuannya. Tangannya mengambil piring dari nampan.


“Kita makan sepiring berdua ya.”


“Seperti ini?”


“Hmm.. biar lebih romantis.”


Wajah Rain merona mendengarnya. Akhtar mulai menyuapi dan dirinya makanan di piring. Mata keduanya terus saling menatap selama makan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan makanan karena memang perut mereka sudah keroncongan. Akhtar meletakkan piring kembali ke nampan lalu mengambil gelas. Mereka minum bergantian, Akhtar minum tepat di bekas Rain.


“Besok pagi kita main paralayang.”


“Aku belum pernah mas, takut.”


“Jangan takut. Kita tandem.”


“Mas pernah main paralayang?”


“Sering. Kalau lagi suntuk mas ke sini untuk main paralayang.”


Akhtar membelai pipi Rain dengan punggung tangannya. Mendekatkan wajahnya, lalu menelusuri dengan bibirnya tanpa terlewat seinci pun.

__ADS_1


“Gimana kabarnya Lissa?”


“Don’t know, don’t care. Jangan sebut nama itu lagi saat kita sedang bersama.”


“Maaf. Jujur waktu itu aku takut kalau mas sampai menyanggupi permintaan tante Kanaya.”


“Kalau aku memintanya apa kamu akan mengabulkannya? Apa kamu akan mengijinkanku menikahi Lissa.”


“Mungkin,” lirih Rain.


“Bodoh. Harusnya kamu mempertahankanku bukan mengijinkannya. Apa mas ngga layak untuk dipertahankan? Apa cintamu hanya sebatas itu hingga membiarkanku dimiliki wanita lain?”


“Aku takut kalau mas masih mencintainya.”


“Aku hanya mencintaimu Rain. Tak ada nama lain di hati ini selain dirimu. Tapi aku mengerti kenapa kamu meragukanku. Aku akan terus membuktikan cintaku padamu.”


Akhtar menarik tengkuk Rain lalu memagut bibirnya. Rain membalas ciuman suaminya. Matanya terpejam menikmati cecapan demi cecapan yang tercipta. Tangan Akhtar meremat kedua bukit kembarnya. Sebuah lenguhan lolos dari bibirnya.


Akhtar sudah tak dapat menahan dirinya lagi. Setelah terjeda makan siang, kini dia benar-benar akan menuntaskan hasratnya. Setelah membaringkan Rain di kasur, dia membuka seluruh pakaiannya lalu merangkak ke atas tubuh istrinya. Menciuminya tanpa terlewat sedikit pun. Udara pegunungan yang sejuk kini mulai terasa hangat. Percintaan panas mereka membakar seisi ruangan, menjadikan suhu ruangan naik dan menghangat.


Akhtar bermain lembut seakan ingin mencurahkan segenap cinta yang dirasakannya kini. Rain benar-benar terbuai dengan permainan suaminya. Rasa letih dari perjalanan yang mereka tempuh seakan menguap begitu saja. Sentuhan Akhtar begitu memabukkannya, membuatnya ingin terus dan terus merasakannya.


🍁🍁🍁


Akhtar memutuskan bermain tandem dengan membawa serta sang istri. Kepiawaiannya bermain paralayang memang sudah tidak perlu diragukan lagi walaupun dia bukan atlit profesional. Akhtar membantu Rain memasang peralatan di tubuhnya. Setelah itu memakai untuknya.


Setelah persiapan selesai, mereka bersiap untuk meluncur. Dada Rain bergedup kencang saat hendak memulainya. Telapak tangannya terasa dingin. Beberapa kali Akhtar mencoba menenangkannya dengan membisikkan kata-kata positif. Akhtar dan Rain bersiap-siap. Setelah mendapatkan ijin dari sang instruktur, keduanya mulai berlari dan di ujung landasan mereka mengangkat kaki.


Rain yang semula menutup matanya perlahan mulai membukanya ketika merasakan tubuhnya melayang. Matanya langsung tertuju pemandangan di bawahnya. Terpaan angin menyapu wajahnya, matanya tak henti memandang pemandangan indah yang terhampar.


“Kamu suka sayang?” terdengar suara Akhtar di sela-sela deru angin.


“Suka banget!” jawab Rain setengah berteriak.


Akhtar menggerakkan kemudi yang berada di kedua tangannya mengarahkan paralayang sesuai arah angin. Rain benar-benar merasakan pengalaman baru yang memacu adrenalinnya. Antara senang, takut, takjub semua bercampur menjadi satu. Untuk beberapa saat mereka berputar-putar di atas puncak. Lalu Akhtar mengarahkan kemudi kembali ke tempat semula. Mencari tempat mendarat yang aman.


Jantung Rain masih berdebar-debar ketika kakinya kembali menjejak ke bumi. Akhtar membantunya melepaskan peralatan. Dia memegang tangan istrinya yang terasa dingin. Dirematnya tangan itu dengan lembut, mencoba menyalurkan kehangatan untuknya.


“Gimana rasanya?”


“Amazing mas. Ini jantung aku masih deg-degan gini.”

__ADS_1


“Kapan-kapan kita main lagi ya.”


Rain mengangguk dengan antusias. Setelah mengembalikan peralatan, Akhtar mengajak Rain mengisi perut di restoran Sunda yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana. Suasana bumi parahyangan langsung terasa ketika mereka memasuki area restoran. Seorang pelayan memandu mereka menuju salah satu saung.


“Mas, aku ke toilet dulu ya.”


Dengan berlari kecil Rain menuju toilet meninggalkan Akhtar sendiri yang sedang melihat-lihat menu. Di saung sebelah terdapat pasangan yang usianya sudah lebih matang juga sedang menikmati makan siang.


Akhtar menolehkan kepalanya ketika mendengar suara tawa mereka yang cukup keras. Sang lelaki menganggukkan kepalanya pada Akhtar seraya melemparkan senyum yang dibalas oleh Akhtar.


“Maaf ya mas kalau kita berisik.”


“Santai aja.”


Istri lelaki itu pergi menuju toilet. Tinggalah dua lelaki di saungnya masing-masing. Akhtar memilih untuk mengecek ponselnya yang sedari tadi tak diliriknya. Takut ada pesan masuk dari Agni atau Halbi.


“Mas, pengantin baru ya?” lelaki di saung sebelah mencoba basa-basi.


“Iya mas, baru empat bulan.”


“Wah lagi anget-angetnya tuh. Tapi jangan sampai kecolongan kaya kita mas.”


“Maksudnya?”


“Iya kita juga dulu awal nikah seneng aja kaya orang pacaran kemana-mana berdua. Tapi udah lima tahun istri saya ngga hamil-hamil, akhirnya kita periksa ke dokter kandungan. Ternyata ada masalah di rahim istri saya dan kualitas ****** saya juga kurang baik. Sayang kita terlambat tahu, kalau lebih cepat dokter bisa mengupayakan terapi. Akhirnya sampai sekarang kita masih belum punya momongan. Jadi saran saya mas, ngga ada salahnya mengecek kesuburan kalian ke dokter kandungan. Buat jaga-jaga aja, anggap aja sedia payung sebelum hujan. Maaf loh mas kalau saya lancang.”


“Ngga apa-apa. Makasih buat sarannya.”


Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat dua orang wanita menuju saung mereka. Rain duduk di sisi Akhtar seraya mengambil buku menu. Dia memilih-milih makanan yang akan menjadi menu makan siangnya. Sedang Akhtar nampak terdiam, merenungi kata-kata yang lelaki tadi ucapkan.


🍁🍁🍁


**Jum'at berkah, semoga di hari spesial ini kita mendapatkan banyak kebahagiaan dan kebaikan, aamiin.


Jangan lupa ya sama ritualnya gaess..


Like..


Comment..


Vote**..

__ADS_1


__ADS_2