Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Getting Close


__ADS_3

Kedekatan Elang dan Azkia semakin terjalin. Walau pun mereka jarang bertemu, namun keduanya masih bisa berkomunikasi dengan saling bertukar pesan atau telepon. Kesibukan Elang di perusahaan menyebabkan dirinya jarang bisa menemui Azkia di tempat kerjanya. Sudah dua minggu ini Elang keluar kota untuk meninjau proyek secara langsung. Tanggung jawab yang diberikan Irzal padanya bukanlah sesuatu yang mudah.


Begitu pula dengan Azkia yang cukup sibuk dengan jadwal kuliah dan kerja paruh waktunya di mini market. Apalagi Akhtar memberinya tanggung jawab lebih. Bosnya itu mempercayakan keuangan mini market padanya. Tak jarang Azkia bertanya pada Elang hal yang berkaitan dengan pekerjaannya.


Dengan gerak kaki yang masih sempoyongan, Nanaz memasuki mini market dituntun oleh Rain. Melihat Azkia yang ada di belakang meja kasir, Nanaz segera memanggilnya.


“Ia.. Ia..”


Mendengar suara Nanaz, Azkia menoleh. Gadis itu keluar dari tempatnya bertugas lalu menghampiri Nanaz. Azkia berjongkok untuk menyetarakan tingginya.


“Assalamu’alaikum cantik.. Nanaz udah bisa jalan ya sekarang.”


“Waalaikumsalam, alhamdulillah ate.. Nanaz sekarang ngga mau diem. Bikin mama encok,” jawab Rain menirukan suara anak kecil.


Azkia tertawa mendengarnya. Rain memanggil Gia dan memintanya untuk menggantikan Azkia sebentar. Kemudian dia mengajak Azkia duduk di meja depan. Ada hal yang ingin dibicarakannya.


“Kamu kapan mulai magang?” Rain membuka percakapan.


“In Syaa Allah dua minggu lagi mba. Tapi aku magangnya dari Senin sampai Jumat, jam 9 sampai jam 5. Terus aku di sini gimana mba? Jangan dipecat ya.”


Rain terbahak sampai Nanaz melihat ke arahnya. Refleks anaknya itu menaruh tangan ke mulut sang mama.


“Ya ngga bakalan dipecat. Kamu kerja pas week end aja. Dari pagi sampai jam 7, jadi hitungannya dua shift gimana?”


“Boleh mba. Makasih ya.”


“Mas Akhtar tetap percayain masalah keuangan sama kamu. Jadi nanti tiap harinya Arul bakal kirim laporan pendapatan harian via e-mail ke kamu.”


“Iya mba. Atau aku juga bisa mampir pulang magang.”


“Atur-atur aja Kia. Eh kata Arul ada yang lagi pedekate sama kamu, siapa? Katanya ganteng juga orangnya.”


“Ish.. dasar Arul mulutnya lemes. Dia cuma alumni di fakultasku mba.”


“Kapan-kapan kenalin ya.”


Azkia hanya tersenyum. Sebenarnya dia sendiri sedang menunggu kedatangan lelaki itu. Dua minggu ini Elang tak terlihat batang hidungnya. Hanya pesan darinya yang tak pernah absen menyapa Azkia.


“Minggu ini kamu ada acara ngga? Kan kamu libur tuh, ikut kita jalan-jalan yuk.”


“Maaf mba, hari Minggu ada acara charity yang diadain fakultasku. Kebetulan aku salah satu panitianya.”


“Oh gitu. Ya udah deh kapan-kapan kita liburan bareng. Ada yang mau aku kenalin ke kamu, dia sahabatku. Kayanya cocok deh kalau sama kamu.”


“Ish mba Rayna, udah kaya biro jodoh aja.”


Rain kembali tertawa memperlihat deretan giginya yang putih. Azkia pamit kembali ke tempatnya. Sepertinya Gia cukup kewalahan melayani banyaknya pembeli yang hendak membayar belanjaannya.


Langit masih terlihat cerah walau matahari sudah mulai bergeser menuju tempat peraduannya. Azkia duduk menunggu pesanan ojek online yang akan tiba sekitar lima menit lagi. Tangannya dengan cepat membuka aplikasi whats app ketika sebuah notifikasi terdengar. Senyumnya mengembang ketika melihat sang pengirim pesan adalah Elang.


From Mas El :


Sudah pulang kerja?


To Mas El :


Baru keluar mas. Lagi nunggu ojek online.

__ADS_1


From Mas El :


Jangan lupa jaketnya dipake biar ngga masuk angin. Udah makan?”


To Mas El :


Iya mas. Udah tadi siang.


From Mas El :


Aku masih di luar kota. Mudah-mudahan nanti pas acara charity aku bisa dateng. Tapi ngga janji juga. Kerjaan di sini belum selesai.


To Mas El :


Iya ngga apa-apa mas. Jangan lupa makan, banyak istirahat biar ngga sakit.


From Mas El :


Aku balik kerja lagi ya. Nanti kalau udah sampai rumah kasih tau.


To Mas El :


Iya mas.


Acara berbalas pesan berakhir bertepatan dengan kedatangan sang ojek online. Azkia memasukkan ponsel ke dalam tasnya lalu menaiki motor pabrikan Honda tersebut dengan posisi menyamping. Kuda besi itu segera meluncur menuju titik koordinat sesuai yang dimasukkan oleh sang penumpang.


Lima belas menit kemudian Azkia sudah sampai ke rumahnya. Baru saja dia membuka pintu rumah, dirinya dikejutkan dengan suara pertengkaran yang berasal dari dalam kamar ibunya.


“Aku ngga punya uang!”


“Bohong! Mana mungkin kamu ngga pegang uang. Sini kemarikan uangmu, aku butuh uang itu.”


PLAK!!


Azkia terkesiap mendengar suara tamparan. Dengan gerakan cepat dibukanya pintu kamar Daniar yang memang tidak terkunci. Nampak Daniar terduduk di sisi ranjang seraya memegangi pipinya yang tadi terkena tamparan Agus. Azkia segera menghampiri Daniar.


“Ibu ngga apa-apa?”


“Heh Kia!! Mana uangmu? Beri bapak uang, cepat!!”


Mata Agus nampak memerah, bau alkohol tercium dari mulutnya. Tangannya mengarah pada Azkia. Azkia mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan dua lembar lima puluh ribuan dan memberikannya pada Agus.


“Mana lagi?”


“Ngga ada pak, cuma itu yang Kia punya.”


“Bohong!! Keluarkan semua uang kamu atau ibumu akan merasakan akibatnya!”


“Azkia ngga punya uang lagi pak. Hari Minggu In Syaa Allah Kia dapat uang.”


“Awas kalau kamu bohong. Bapak ngga segan-segan menjualmu ke tempat pelacuran!”


Setelah mengambil uang dari tangan Azkia, pria paruh baya itu bergegas pergi. Dada Daniar sesak melihat sikap suaminya yang tak pernah berubah. Azkia membantu Daniar berbaring di kasur.


“Maafkan ibu nak, kamu kesusahan karena ibu menikahi pria brengsek seperti bapakmu.”


“Ibu bicara apa sih. Sudah jangan pikirkan bapak lagi. Ibu jangan banyak pikiran, ibu harus banyak istirahat supaya cepat sembuh.”

__ADS_1


Daniar mengusap pipi anaknya ini. Sejak kecil Azkia tak pernah mendapatkan perlakuan baik dari Agus. Pria itu kerap bersikap ketus bahkan tak segan menyiksanya. Yang paling membuatnya terpukul ketika Agus berusaha menjual Azkia pada rentenir yang memberinya pinjaman uang.


Azkia mengusap punggung tangan Daniar lalu mengecupnya. Mata Daniar menatap nanar ke arah anak gadisnya itu. Wajah Azkia begitu mirip dengannya. Kecantikan yang dimilki Azkia adalah warisan dari sang ibu. Sayang wajah cantik Daniar kini sudah tergerus usia, penyakit dan penderitaan yang dialaminya.


“Apa tidak sebaiknya kamu menerima lamaran Adi? Jika kamu sudah menikah, bapakmu tidak akan mengganggumu lagi. Dia pasti akan melindungimu.”


“Kia baik-baik aja bu. Saat ini ibu dan Hanin adalah proritas Kia. Kalau Kia menikah, Kia ngga bisa mengurus ibu dengan baik. Ada suami yang harus Kia layani nantinya.”


“Tapi ini demi keselamatanmu nak. Kamu tahu sendiri, bapak tidak pernah berhenti untuk menjualmu. Ibu takut nak.”


“In Syaa Allah Kia akan baik-baik aja. Ada Allah yang menjaga Kia. Apa ibu ngga percaya pada pertolongan Allah?”


“Kamu anak yang baik nak. Ibu doakan kamu memperoleh pendamping yang soleh, yang mencintaimu dan mampu menjagamu dengan baik.”


“Aamiin.. terima kasih untuk doanya bu. Sekarang ibu istirahat aja ya. Kia mau mandi terus siapin makan malam. Hanin belum pulang bu?”


“Belum. Tadi Hanin pamit katanya ada urusan dulu dengan teman-temannya.”


Kia tak bertanya lagi, diselimutinya tubuh Daniar lalu keluar dari kamar. Sebelum mandi, Azkia menyempatkan diri membereskan rumah yang sedikit berantakan. Beberapa puntung rokok dan botol bekas minuman keras berserakan di lantai. Setelah itu dia bergegas membersihkan diri.


🍁🍁🍁


“Mikirin apa lo?”


Farel menepuk pundak Elang yang sedang termenung memandangi para pekerja yang sedang menurunkan bahan bangunan dari truk.


“Bang, kira-kira kerjaan kita di sini bisa ngga selesai sebelum Minggu?”


“Gue sih ngga yakin El. Lo tahu sendiri kan birokrasinya ribet banget. Kalau ada uang pelicin baru cepet. Tapi ayah mana mau pake cara begitu. Kayanya baru Senin atau Selasa kelar deh urusan perijinan. Emangnya kenapa? Lo ada urusan di Bandung?”


“Ngga juga sih. Tapi kalau selesai lebih cepat kan lebih baik. Lagian aku males aja ketemu cewek-cewek yang tiap hari bolak balik dateng ke sini. Padahal mereka ngga punya kepentingan juga.”


Farel terkekeh, kantor sementara tempatnya dan Elang bekerja memang selalu didatangi kaum hawa. Dari mulai gadis, ibu rumah tangga sampai para janda. Tujuannya tak lain ingin menarik perhatian Elang. Kalau para gadis dan janda berlomba-lomba menampilkan pesona terbaik mereka. Lain lagi dengan ibu rumah tangga yang sering mempromosikan anak gadis mereka.


Sikap dingin dan ketus Elang rupanya tak mampu menyurutkan niat mereka untuk mengambil hati lelaki tampan itu. Farel sendiri cukup kewalahan menghadapi mereka. Setiap hari ada saja alasan yang mereka buat untuk datang.


“Kalau lo mau balik duluan ngga apa-apa. Biar sisanya gue yang handle.”


“Beneran bang?”


“Iya. Lagian kalau ngga ada elo, nih kantor bakalan sepi jadi kita semua bisa bekerja dengan tenang.”


“Sue lo.”


“Nanti pulang jangan lupa beli peuyeum buat bunda sama jeniper buat si keneng.”


“Ngapain si Yunda minta dibeliin jeniper. Tinggal bikin aja sendiri, dasar pemalesan.”


“Au ah, pokoknya beliin tar dia ngambeknya ama gue.”


Farel meninggalkan Elang yang masih memandangi para pekerja. Farel tahu kalau akhir-akhir ini Elang sedang dekat dengan seseorang, entah siapa. Yang pasti dia akan mendukung hubungan adiknya itu walaupun resikonya dia harus kerepotan dengan urusan pekerjaan. Yang penting adiknya bisa move on dari Rain.


Mendapat ijin dari Farel untuk pulang cepat, sudah pasti membuat Elang bahagia. Ingin rasanya dia memberitahu kabar baik itu pada Azkia. Elang mengambil ponselnya, saat akan mengetik pesan, dia membatalkannya. Elang memilih memberikan surprise kedatangannya pada gadis itu. Senyuman tersungging di bibirnya membayangkan reaksi Azkia nanti saat melihatnya.


🍁🍁🍁


**Beneran ini mah mas El udah klepek² Ama neng Kia😁

__ADS_1


BTW ada yang tau ngga jeniper itu apa?


Jangan lupa mainkan jempol kalian habis membaca cerita ini. Like, comment n vote nya akan selalu mamake tunggu seperti kalian yang setia menunggu kelanjutan kisah mas El😘😘**


__ADS_2