
“Ayah..”
Ayunda masuk ke dalam ruang kerja Irzal seraya memanggil namanya. Membuat Irzal dan Andri menoleh bersamaan. Irzal mengakhiri diskusinya dengan Andri. Asistennya itu segera keluar dari ruangan. Ayunda mendekat ke meja kerja sang ayah. Diciumnya punggung tangan Irzal. Ayunda berdiri menyender di kursi.
“Anak ayah baru nongol. Udah punya suami sekarang lupa ya sama ayah.”
“Bukannya gitu. Begitu check out mas Rey ngajak liburan ke vila. Baru pulang kemarin, sekarang mas Rey udah masuk kerja lagi. Bete.. masa cuti nikahnya dipotong,” gerutu Ayunda. Irzal hanya terkekeh.
“Yah... kok ayah belum transfer uang bulanan sih? Ada yang mau aku beli nih.”
Ayunda berpindah tempat jadi duduk di pegangan kursi kerja Irzal. Tangannya memeluk manja leher ayahnya. Kebiasaannya kalau sedang meminta sesuatu.
“Minta sama suami kamu, masa minta sama ayah.”
“Malu yah..”
Irzal hanya menggeleng. Dia melepaskan pelukan Ayunda di lehernya kemudian berdiri. Dirangkulnya bahu sang anak kemudian membawanya duduk di sofa.
“Kamu sekarang sudah nikah. Jadi semua tanggung jawab ayah sudah beralih ke suami kamu, termasuk biaya kuliah dan uang jajan kamu.”
“Tapi kan ayah tahu mas Rey tuh dokter bedah. Gajinya ngga sebesar ayah atau mas El.”
“Kalau kamu pengen punya suami yang punya gaji besar, kenapa ngga nikah sama Ilan? Dia kan wakil CEO, gajinya pasti lebih besar.”
“Ish ayah.”
Irzal tersenyum seraya memandangi wajah anaknya intens. Baru beberapa hari tak bertemu Ayunda, dia sudah kangen saja. Padahal Irzal sering meninggalkan Ayunda kalau ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri. Tapi berbeda dengan sekarang. Mungkin karena status sang anak yang telah berubah. Beruntung yang menikahinya adalah anak dari sahabat baiknya yang tinggalnya hanya terhalang satu rumah saja dari kediamannya.
“Ayah beneran nih ngga mau kasih aku uang jajan? Aku bukan cuma malu minta tapi aku tahu kalau mas Rey lagi banyak pengeluaran. Sebentar lagi kan kak Rey lanjut program fellowship, kan biayanya ngga murah yah. Belum lagi kalau jadi kuliah di Munich, biaya hidupnya juga tinggi. Terus mas Rey juga harus bayar kuliahku, ngasih belanja bulanan. Jadi, buat jajan aku minta ke ayah aja ya.”
“Yun, suamimu untuk lebih dari mampu untuk membayar kuliahnya dan membiayai dirimu. Selain gajinya sebagai dokter bedah, dia juga punya penghasilan dari perusahaan. Apa kamu lupa kalau papa Regan itu pemilik saham terbesar Rakan Putra Group. Ayah atau kakak-kakakmu bisa saja memberimu uang, tapi kami juga harus menghargai perasaan suami dan mertuamu.”
“Oh mas Rey dapet penghasilan juga dari perusahaan? Mas Rey ngga bilang apa-apa.”
“Kamu pernah nanya?”
“Ngga.”
“Yun, sebagai istri kamu harus tahu berapa penghasilan suamimu. Itu supaya kamu bisa mengukur berapa uang yang bisa kamu belanjakan, jangan sampai besar pasak dari pada tiang. Kamu juga harus tahu dari mana uang yang diperoleh suamimu, apakah itu halal atau haram. Jangan sampai dia memperoleh uang dengan cara haram untuk menafkahi anak istrinya.”
“Tapi aku sungkan yah kalau tanya-tanya soal itu sama mas Rey.”
“Jangan merasa sungkan. Kamu harus bisa membangun komunikasi dua arah yang baik dengan suamimu tentang hal apapun.”
“Kamu juga harus jadi wanita yang kuat, seorang istri yang mampu mendukung suaminya. Sebentar lagi Rey akan diberikan tanggung jawab untuk mengelola perusahaan. Walaupun tidak terjun secara langsung, tapi dia harus tetap mengawasi dengan intens. Di sini peranmu dibutuhkan, kamu harus bisa membantu suamimu.
Dulu, saat ayah terbaring koma, perusahaan berada dalam kondisi sulit karena ulah segelintir orang. Bundamu maju untuk membereskan semua masalah di perusahaan, di saat bersamaan dia juga harus mengurus El dan ayah yang ada di rumah sakit. Dan bundamu berhasil menyelamatkan perusahaan.
Ayah bisa sampai sejauh ini karena ada bundamu yang terus mendukung dan memberi kekuatan pada ayah. Jadilah wanita yang kuat, yang mampu mendukung suamimu dan menjadi sumber kekuatan untuknya.”
“Iya yah. Makasih buat nasehatnya. Doakan aku supaya bisa menjadi wanita kuat seperti yang ayah bilang tadi.”
“Itu sudah pasti nak.”
“Yunda saaayyaaaang ayah..” Ayunda memeluk pinggang Irzal yang dibalas dengan kecupan di puncak kepalanya.
“Udah mau jam makan siang. Mau makan siang bareng ayah?”
“Hmm.. aku mau ke rumah sakit yah. Udah janji makan siang sama mas Rey. Maaf ya, tapi nanti malem aku sama mas Rey makan di rumah deh.”
“Hmm.. ya sudah, utamakan suamimu.”
“Yunda pergi dulu ya yah, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ayunda mencium punggung tangan dan pipi Irzal kemudian keluar dari ruangan. Irzal memandangi punggung Ayunda yang menghilang dibalik pintu. Jika Reyhan jadi mengambil program fellowship di Munich, sudah pasti Ayunda akan pergi bersamanya. Perasaan langsung Irzal sedih memikirkannya. Kalau saja bisa, dia ingin meminta Reyhan melanjutkan studinya di Bandung saja.
Sekeluarnya dari ruangan Irzal, Ayunda mampir lebih dulu ke lantai sebelas. Dia sudah janjian dengan Jayden. Tanpa mengetuk pintu, Ayunda langsung masuk ke dalam ruangan bule tengil itu. Tampak Jayden tengah serius di depan komputer.
“Bang Jay... mana info yang aku minta?”
“Mau hard copy atau soft copy?”
__ADS_1
“Soft copy aja deh. Kirim ke hp aku.”
“Ok. Emang kenapa sih kamu butuh info tuh orang?”
“Dia tuh ngga ada matinya gangguin mas Rey. Kalau aku tahu kelemahannya kan aku bisa kick balik dia.”
Jayden hanya manggut-manggut. Dua hari lalu dia memang diminta Ayunda menyelidiki tentang dokter Burhan. Lelaki itu menemukan banyak hal mencengangkan tentang pria tersebut. Jayden menekan tombol enter, seketika file yang berkaitan dengan Burhan terkirim ke ponsel Ayunda.
“Aku nemu transaksi pembayaran rumah sakit atas nama Ahmad Gunawan tiga hari yang lalu. Pas aku cek, dia ngga punya saudara dengan nama itu. Agak mencurigakan, soalnya dua hari berselang dia juga transfer ke rekening pribadi orang itu. Udah aku masukin catatan transaksinya, siapa tahu berguna.”
“Makasih ya bang Jay, you are the best deh. Ok deh, aku pulang dulu. Bye...”
Ayunda keluar dari ruangan kemudian langsung menuju lift. Saat berada di dalam lift, dia menyempatkan diri membuka file yang dikirim oleh Jayden. Ayunda geleng-geleng membaca informasi yang dibacanya.
🍁🍁🍁
Ayunda sampai di rumah sakit tempat suaminya bekerja. Baru saja dia akan menghubungi Reyhan, Friska datang menghampirinya. Kedua wanita itu langsung cipika-cipiki. Ayunda dan Friska memang dekat sejak kecelakaan bersama Aslan. Bahkan kini Friska menjadi mata-mata Ayunda di rumah sakit.
“Mau ketemu dokter Rey ya.”
“Ya iyalah masa ketemu dokter Burhan, males banget. Suamiku mana kak?”
“Lagi di ruangan dokter Regan kalau ngga salah. Eh kamu tahu ngga kalau dokter Burhan lagi bikin masalah lagi.”
“Masalah apa?”
“Waktu malam kalian nikah kan dokter Reyhan dipanggil ke rumah sakit karena ada pasien darurat. Nah sekarang tuh dokter Burhan koar-koar, dokter Rey melakukan kesalahan saat operasi dan pasien harus menjalani perawatan lanjutan.”
“Serius? Terus keadaan pasien gimana?”
“Awalnya baik ya. Tapi habis dokter Burhan koar-koar, langsung turun kondisinya. Katanya dokter Rey ceroboh saat operasi jadi merusak organ lain atau ada pembuluh darah yang terluka gitu. Aku juga kurang paham sih, karena masih pembahasan internal. Aku juga tahunya dari dokter Aldi.”
“Tapi ngga mungkin itu kesalahan suamiku kan?”
“Kayanya sih bukan Yun. Kalau menurut suster yang bertugas saat operasi, semuanya lancar kok. Kayanya sih ini akal-akalan dokter Burhan aja.”
Ayunda menggeram kesal. Rupanya laki-laki tua itu masih belum menyerah untuk menjatuhkan suaminya. Ayunda mengambil ponselnya kemudian menghubungi Jayden. Dia meminta Jayden meretas cctv di rumah sakit ini, cctv yang ada di lantai lima di daerah ruang perawatan pasien yang dioperasi oleh Reyhan.
“Ahmad Gunawan.”
“Ahmad Gunawan?”
Ayunda tercenung, kemudian membuka ponselnya, membuka file yang dikirimkan Jayden tadi. Mencari file yang berisikan transaksi keuangan dokter Burhan.
“Aku mau ketemu pak Ahmad Gunawan dulu.”
“Aku ikut ya.”
“Jangan kak. Takutnya nanti kakak kena masalah, udah biar aku sendiri aja.”
“Ok deh.”
Ayunda bergegas menuju lantai lima. Begitu lift yang dinaikinya sampai ke lantai lima, dia segera masuk ke kamar perawatan atas nama Ahmad Gunawan. Pria berusia sekitar empat puluh tahunan itu tertegun melihat Ayunda masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu siapa?”
“Saya istrinya dokter Reyhan.”
“Ada apa? Kamu ke sini mau memohon pada saya untuk membatalkan tuntutan? Jangan harap, dia sudah melakukan mala praktek.”
“Dasar orang tidak tahu diri,” desis Ayunda.
“Heh apa maksud kamu? Sopan kalau bicara pada yang lebih tua,” hardik Ahmad.
Ayunda mendekat ke bed Ahmad. Ditariknya kursi yang ada di dekat bed kemudian duduk sambil matanya terus memandangi Ahmad.
“Bapak Ahmad Gunawan yang terhormat, dengar baik-baik. Anda adalah orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih. Harusnya anda bersyukur suami saya mau datang tengah malam ke rumah sakit di masa cutinya untuk menyelamatkan nyawa anda. Tapi ternyata balasan seperti ini yang anda berikan.”
“Bagaimana saya bisa berterima kasih kalau ternyata dia malah memberikan luka baru untuk saya bahkan bisa mengancam nyawa saya.”
“Oh ya? Luka di bagian mana? Luka atau nominal di rekening anda yang membuat anda menuntut suami saya? Jangan anda kira saya tidak tahu anda berkonspirasi dengan dokter Burhan untuk menjatuhkan suami saya.”
Ahmad terkejut mendengar penuturan Ayunda. Tapi dia berusaha menyembunyikannya dan terus mengelak.
__ADS_1
“Tidak usah berbelit-belit. Bilang saja kamu ingin menyuap saya untuk tutup mulut dan menghentikan tuntutan.”
“Saya memang mampu membayar anda sepuluh kali lipat dari nominal yang diberikan dokter Burhan. Tapi saya tidak akan melakukannya, lebih baik saya berikan uang saya kepada yang lebih membutuhkan. Saya percaya suami saya tidak melakukan kesalahan seperti yang anda tuduhkan. Lihat saja, saya akan mencari buktinya. Setelah itu bersiaplah bersama dengan dokter Burhan mendekam di dalam penjara.”
Ahmad memandang tak suka pada Ayunda yang dinilainya terlalu sombong, padahal usianya masih sangat muda. Ayunda bangun dari duduknya, saat akan pergi dia kembali menoleh pada Ahmad.
“Oh ya saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Ayunda Chana Ramadhan, anak bungsu dari Irzal Ramadhan, CEO sekaligus pemilik Humanity Corp. Anda pasti tahu kan perusahaan itu karena perusahaan tempat anda bekerja mendapatkan suntikan modal dari ayah saya. Jadi anda pasti tahu apa yang bisa saya lakukan kepada anda. Pikirkan baik-baik di mana anda akan berpijak. Saya bukan orang yang bermurah hati memberikan kesempatan kedua pada orang tidak tahu diri seperti anda.”
Dengan santai Ayunda melenggang keluar dari ruang perawatan itu. Ayunda tak menyadari wajah Ahmad yang memucat setelah mengetahui identitas dirinya. Dengan tangan bergetar dia membuka ponselnya, mencari tahu tentang Ayunda. Tubuhnya lemas seketika mengetahui apa yang didengarnya barusan benar adanya.
🍁🍁🍁
“Apa kamu benar akan mengambil fellowship di Munich.”
“Sepertinya iya pa. Pengajuanku sudah diterima.”
Regan terdiam mendengar jawaban Reyhan. Keduanya masih berbincang di ruangan kerjanya setelah membahas tentang kasus pasien yang dioperasinya tempo hari.
“Bagaimana dengan Yunda?”
“Aku sudah bicara. Dia akan ikut ke Munich.”
“Lalu bagaimana dengan kuliahnya?”
“Dia akan cuti lebih dulu. Selama di Munich dia juga bisa ambil program ekstension yang sesuai dengan jurusannya. Ayunda tidak keberatan.”
Regan bangun dari kursi kerjanya kemudian berjalan menuju sofa. Reyhan pun ikut berpindah ke sofa. Sepertinya akan ada pembicaraan panjang dengan sang papa perihal keberangkatannya ke Munich.
“Apa itu benar keinginan Yunda atau ketaatannya padamu?”
“Maksud papa?”
“Yunda sedari kecil sudah dididik ilmu agama oleh kedua orang tuanya. Jadi, dia sudah paham betul apa hak dan kewajiban seorang istri. Salah satunya menaati suami dan mengikuti kemana suami membawanya. Kamu sekarang sudah jadi seorang suami, semua keputusan yang kamu ambil harus dipertimbangkan dengan matang. Termasuk harus memahami kondisi istrimu.
Sadarkah kamu kalau sudah bertindak egois? Kamu masih punya pilihan apakah meneruskan di Munich atau di sini tapi Yunda, kuliahnya sudah berjalan dan sebentar lagi akan selesai. Tega sekali kamu memintanya untuk cuti, belum lagi kalau dia hamil, maka waktunya menyelesaikan kuliah akan semakin lama. Jangan korbankan masa depannya demi masa depanmu. Apa kamu sudah pikirkan bagaimana dia di sana nanti. Kamu pasti akan disibukkan dengan kuliah dan pekerjaan, lalu Yunda? Kamu tahu sendiri kebanyakan orang di sana itu individualistis, apa kamu tidak memikirkan mungkin saja Yunda akan kesepian. Kalau di sini, ada papa, mama, keluarga dan sahabatnya yang bisa menemaninya di saat kamu sibuk.
Papa harap kamu tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Bicarakan baik-baik dengan Yunda, dengarkan apa yang menjadi keinginannya.”
Reyhan terdiam merenungi semua ucapan Regan. Ayunda memang menyetujui ikut ke Munich, tapi istrinya itu belum mengatakannya secara langsung. Reyhan menggiring Ayunda untuk menyetujui keputusan yang sudah diambilnya.
Lamunan Reyhan buyar ketika mendengar ketukan di pintu. Wajah Ayunda muncul dari balik pintu. Dengan senyum tercetak di wajah cantiknya, Ayunda masuk ke dalam lalu duduk di samping suaminya.
“Aku ganggu ngga?”
“Ngga.. kami sudah selesai bicara. Kamu bisa bawa pergi suamimu. Papa sudah bosan melihat mukanya,” canda Regan.
“Kita mau makan siang. Papa ikut ya.”
“Kalian makan berdua saja. Mamamu sebentar lagi ke sini.”
“Kita pergi dulu pa.”
Reyhan dan Ayunda bangun dari duduknya. Reyhan merangkul Ayunda begitu keluar dari ruangan Regan. Beberapa perawat yang melihat mereka hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama mereka masuk ke dalam lift.
Reyhan menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Tangannya masih merangkul Ayunda, bahkan menarik istrinya itu lebih dekat padanya. Pikirannya masih melayang pada ucapan Regan barusan. Ayunda memandangi Reyhan yang tampak melamun. Diusapnya rahang Reyhan hingga suaminya itu melihat padanya.
“Mas lagi mikirin apa-apa?”
“Cuma masalah kerjaan aja sayang,” Reyhan mencium kening Ayunda.
“Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran mas, cerita sama aku. Semua masalah akan lebih ringan jika diselesaikan bersama.”
“Iya sayang.”
Pintu lift terbuka, Reyhan melepaskan rangkulannya, berganti menggenggam tangan istrinya itu. Keduanya keluar dari lift kemudian melangkah menuju parkiran tempat mobilnya berada. Mereka akan makan siang di luar hari ini.
🍁🍁🍁
**Kira² kang dokter jadi kuliah di Munich ngga ya?
BTW neng Ay garang juga ya😁
Tinggalkan jejak kalian ya, like, comment and vote kalau masih bersisa. Selamat ber-hari Minggu, selamat berlibur, selamat berkumpul bersama keluarga**.
__ADS_1