Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Ijab Kabul


__ADS_3

Warna putih mendominasi ballroom hotel The Ocean, tempat dilangsungkannya ijab kabul dan resepsi pernikahan Ayunda dan Reyhan. Staf banquet baru saja selesai menata ruangan untuk dijadikan tempat ijab kabul. Satu meja berukuran sedang ditaruh di depan panggung pelaminan dengan enam buah kursi. Empat saling berhadapan, dua berada di sisi kanan dan kiri meja.


Sepuluh meja bundar dengan enam buah kursi di tiap mejanya tertata rapih di bagian tengah. Di sebelah kanan meja prasmanan mulai dipenuhi aneka hidangan. Baik staf L’amour maupun karyawan hotel bergegas menyelesaikan pekerjaan karena acara akad akan diadakan setengah jam lagi. Bilqis menggantikan Rain mengecek semua persiapan. Sebentar lagi keluarga dari kedua mempelai akan memasuki ballroom.


Farel yang bertugas menjemput penghulu sudah datang. Penghulu beserta dua orang petugas KUA dipersilahkan menunggu terlebih dahulu. Ustadz yang akan memberikan tausyiah juga sudah tiba. Satu per satu keluarga dan kerabat dekat berdatangan. Mereka langsung mengisi meja yang telah disiapkan.


Tak lama Reyhan didampingi Regan dan Sarah memasuki ruangan. Semua mata langsung tertuju pada calon pengantin tersebut. Tubuh tegap Reyhan terbalut jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Lelaki yang terkenal dengan pembawaan tenangnya segera menempati kursi yang disediakan untuknya.


Selang beberapa menit Irzal beserta Elang memasuki ruangan. Irzal langsung menuju meja akad. Di sana sudah menunggu Reyhan, penghulu, Adit dan Ega yang berlaku sebagai saksi. Nino yang didaulat sebagai juru bicara pihak mempelai perempuan langsung membuka acara. Dia mempersilahkan ustadz Khairuddin untuk memberikan tausyiahnya sebagai pembuka acara akad nikah.


Ustadz Khairuddin hanya mengambil waktu sepuluh menit untuk menyampaikan tausyiahnya. Selanjutnya petugas KUA mulai memeriksa kelengkapan administratif kedua mempelai. Setelah semua dokumen lengkap, acara ijab kabul pun dimulai. Irzal menjabat tangan Reyhan dengan erat.


“Ananda Reyhan Fatansyah Vaughan, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Ayunda Chana Ramadhan binti Irzal Ramadhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Ayunda Chana Ramadhan binti Irzal Ramadhan dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Bagaimana para saksi? Sah?”


“SAH!!!”


Semua yang hadir mengangkat tangan seraya mengucapkan hamdallah. Reyhan menundukkan kepala, menenangkan jantungnya yang masih berdebar pasca ijab kabul tadi. Dia mengangkat kepalanya ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Nampak Ayunda yang kini sudah sah menjadi istrinya berjalan ke arahnya dengan diapit oleh Poppy juga Alea.


Ayunda menundukkan kepalanya. Dia masih malu-malu melihat Reyhan yang terus menatapnya tanpa berkedip. Poppy mendudukkan Ayunda di kursi sebelah Reyhan. Penghulu mempersilahkan pengantin pria memakaikan cincin pernikahan. Reyhan menyematkan cincin putih ke jari manis Ayunda. Disambung oleh Ayunda yang melakukan hal sama.


Ayunda mencium punggung tangan Reyhan dengan takzim. Dadanya berdesir ketika bibirnya bersentuhan dengan punggung tangan Reyhan. Sebuah ciuman yang menandakan bakti istri pada suami.


Reyhan memegang kedua bahu Ayunda kemudian mendaratkan ciuman di kening Ayunda. Meski ini bukan yang pertama untuknya mencium kening gadis itu. Namun tetap saja, sentuhan tersebut mampu menghadirkan getaran di hatinya.


Selesai dengan prosesi pemasangan cincin, kedua pengantin diminta menandatangi dokumen pernikahan. Sang fotografer sedari tadi tak henti mengabadikan momen bersejarah bagi pasangan pengantin tersebut.


Acara dilanjut dengan prosesi sungkeman pasangan pengantin dengan orang tua. Pertama-tama mereka menuju Poppy. Wanita yang masih terlihat cantik di masa tuanya, mulai memberikan nasehat kepada kedua pengantin. Baik Ayunda maupun Reyhan mendengarkan dengan seksama kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut sang bunda.


“Bunda percaya kalian akan bisa membina rumah tangga yang baik. Saling memahami dan menjalankan hak serta kewajiban masing-masing. Saling mendukung dan menguatkan di saat susah dan senang. Doa bunda selalu menyertai kalian,” Poppy mengakhiri wejangannya.


Keduanya kemudian menuju Irzal yang duduk di sebelah Poppy. Ayunda yang memang begitu manja pada sang ayah, langsung memeluk Irzal dan menangis. Untuk beberapa saat Irzal pun tak kuasa untuk berkata-kata. Tenggorokannya seakan tercekat. Kini tanggung jawabnya sudah beralih pada lelaki di hadapannya. Irzal mengusap sudut matanya yang basah.


“Ayah titip Yunda padamu Rey. Sayangi dan kasihi dia seperti kami menyayangi dan mengasihinya. Didiklah dia dengan lemah lembut, jika dia melakukan kesalahan, tegurlah dengan cara yang baik. Ayah percaya, kamu bisa menjadi imam yang baik untuknya.”


"In Syaa Allah yah."


“Yunda.. mulai hari ini tanggung jawab ayah sudah berpindah pada suamimu. Taatilah suamimu selama dia mengajakmu dalam kebenaran. Jadilah istri yang baik, yang mampu menjaga harkat dan martabat, baik saat dekat maupun berjauhan. Mulai saat ini ridho Allah bergantung pada ridho suamimu.”


Ayunda menganggukkan kepalanya dengan airmata bercucuran. Poppy menyodorkan tisu pada Reyhan. Dengan lembut Reyhan menghapus airmata di pipi Ayunda. Hati Poppy menghangat melihat sikap Reyhan pada putrinya.


Kini mereka menuju pada Sarah. Wanita itu memeluk Ayunda. Rasa bahagia tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doanya, menjodohkan anak bungsunya dengan gadis yang ada di pelukannya. Sarah mengurai pelukannya.


“Mama titip Rey ya sayang. Kamu harus banyak bersabar dengannya.”


“Iya ma.”


Kemudian Sarah melihat ke arah Reyhan. Anaknya itu langsung memeluk sang mama dengan erat. Tak terasa airmatanya mengalir. Selama ini, Sarah yang senantiasa memberikannya kekuatan. Di saat dirinya terluka dan putus asa saat hampir kehilangan Ayunda, Sarah yang selalu berada di sampingnya.


“Jangan sia-siakan Yunda. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya. Mama percaya kamu akan menjadi suami yang baik untuknya.”


“Terima kasih ma. Jangan putus untuk terus mendoakanku.”

__ADS_1


Sarah mengangguk lalu mencium kening Reyhan. Selanjutnya Reyhan menuju Regan. Senyum mengembang di wajah tampan Regan yang mulai dihiasi keriput. Ditepuknya pelan rahang sang anak.


“Jadilah suami yang baik untuk Yunda. Jangan pernah menutupi apapun dari istrimu. Bangunlah rumah tangga kalian dengan kepercayaan dan jangan sekali-kali berlaku kasar pada istrimu.”


“Iya pa.”


“Yunda.. anak papa yang cantik. Papa bersyukur akhirnya Allah memilihkanmu sebagai pendamping Reyhan. Papa doakan kalian senantiasa dinaungi kebahagian serta dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah.”


“Makasih pa.”


Prosesi sungkeman yang mengharu biru selesai sudah. Kini mereka menghampiri keluarga, kerabat dan para sahabat yang menjadi saksi janji suci mereka. Ucapan selamat tak henti mengalir untuk keduanya. Senyum bahagia juga tak henti tersungging di bibir sang pengantin.


Ayunda dan Reyhan berjalan menghampiri Firlan. Bagaimana pun juga, kebersamaan mereka saat ini berkat kebesaran hati Firlan merelakan Ayunda untuk Reyhan. Firlan menyambut mereka dengan senyuman. Dia memeluk Reyhan seraya menepuk pelan punggungnya.


“Makasih bang.. dan maaf.”


“Ngga ada yang perlu dimaafkan. Kalian memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Tolong jaga Yunda dengan baik. Jangan sakiti dia.”


“In Syaa Allah bang.”


Kini giliran Ayunda yang berhadapan dengan Firlan. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Dia tahu walaupun Firlan tersenyum, namun di hatinya menyisakan rasa sakit akibat kesalahannya.


“Bang Ilan..”


“Jangan nangis Yun, nanti make up kamu luntur. Kan ngga lucu pas difoto, pengantin perempuannya cemong mukanya.”


“Bang Ilan ish...”


Firlan tergelak lalu mengusap puncak kepala Ayunda. Kebiasaan yang belum bisa dia hilangkan hingga kini. Dia menoleh sebentar ke arah Reyhan.


“Rey.. aku boleh kan meluk Yunda untuk pertama dan terakhir?”


“Jangan nangis Yun. Kamu sedang berbahagia saat ini. Melihatmu bahagia, abang juga bahagia. Reyhan lelaki yang baik, dan dia juga sangat mencintaimu. Mungkin cintanya lebih besar dari pada abang. Doakan saja abang bisa mendapatkan perempuan yang baik seperti dirimu.”


Firlan mengurai pelukannya lalu mengembalikan Ayunda pada Reyhan, kemudian beranjak pergi. Jujur, hatinya masih sakit melihat kebersamaan mereka. Rehyan merangkul Ayunda yang masih belum berhenti menangis. Mengusap lembut lengannya seraya mencium puncak kepalanya berkali-kali.


Firlan baru saja mendaratkan bokongnya di salah satu kursi ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Di sampingnya sudah berdiri Hanin yang melihat ke arahnya sambil tersenyum lebar.


“Ngagetin aja.”


“Bang Ilan mau makan ngga? Aku ambilin.”


“What the maksud nih?”


“Kan hari ini aku ngga masakin buat bang Ilan. Jadi sebagai gantinya aku ambilin makanan. Biar honorku ngga hilang hahaha...”


“Dasar cewek matre.”


“Cewek kalau ngga matre ngga hidup bang. Gimana, mau ngga?”


“Ya udah ambilin sana.”


Dengan langkah lebar Hanin menuju meja prasmanan. Tak lama dia kembali dengan dua piring di tangannya. Setelah meletakkan piring di meja, Hanin pergi lagi untuk mengambil minuman. Dua gelas berisi air putih ditaruhnya di meja kemudian dia duduk di samping Firlan menikmati makanannya.


“Han.. tar pas resepsi, kamu jadi pendamping abang mau ngga?”

__ADS_1


Uhuk... uhuk..


Hanin yang sedang serius makan langsung terbatuk mendengar ucapan Firlan. Buru-buru Firlan menyodorkan minuman pada Hanin.


“Jadi pasangan gimana bang?”


“Ada beberapa kolega, teman dan karyawan di sini yang diundang saat resepsi. Mereka tahunya abang yang bakal nikah sama Yunda. Abang cuma khawatir berkembang gosip yang ngga enak soal Yunda nantinya. Jadi, selama resepsi kamu dampingi abang ya. Anggap aja kita pasangan gitu. Biar mereka nyangka kalau kami dijodohkan dan batal karena sudah punya pilihan masing-masing.”


“Dih bang Ilan, kaya lagi bikin adegan drama aja,” Hanin terkikik geli.


“Mau ngga?”


“Ada bayarannya ngga?”


“Dasar cewek bayaran,” gerutu Firlan.


“Ngga ada yang gratis di dunia ini bos.”


“Kamu mau bayaran berapa?”


“Ngga usah pake uang. Di kampusku mau adain gathering, pesertanya dosen, alumni juga para mahasiswa. Nah bang Ilan jadi pasanganku juga pas acara itu, biar aku ngga disangka jomblo. Soalnya udah ada tiga orang yang ngajak aku tapi aku tolak semua.”


“Masa? Ngga percaya kamu selaku itu.”


“Dih bang Ilan meragukan pesonaku ya. Makanya dateng aja, biar percaya. Anggap aja ini hubungan simbiosis mutualisme, gimana? Setuju ngga?”


“Deal!”


Firlan menyodorkan tangannya yang langsung disambut oleh Hanin. Keduanya tertawa sambil berjabat tangan. Setelah kesepakatan yang saling menguntungkan didapat, mereka mulai menikmati makan siang. Sesekali terdengar obrolan dan gelak tawa keduanya. Tanpa mereka sadari, Alea memperhatikan dari kejauhan. Sebuah senyum tersungging di wajah cantiknya.


🍁🍁🍁


**Alhamdulillah mas Rey sama Ay halal juga. Tinggal resepsi terus belah duren deh🙊


Bang Ilan ngajakin Hanin buat jaga nama baik Yunda apa modus ya🤔


Tuh mami Alea kenapa senyum² gitu ya, jadi curiga nih.


Jangan lupa tar malem, ditunggu ya ke resepsinya Rey & Ay. Dandan yang cetar, bulu mata anti badainya dipake sama gincu biar bibirnya merekah. Jiaaahhh gincu, jaman mana tuh mamake bahasa gincu🤣


Kalau sekarang gerakin dulu deh jempolnya buat like, comment and votenya.


Nih mamake bocorin pernak-pernik pernikahan mereka.


Cincin Kawin**



Hantaran Pernikahan



Mahar Seperangkat Alat Shalat


__ADS_1


Mahar Satu Set Perhiasan



__ADS_2