
Berita tentang gagalnya pernikahan Akhtar dan Chalissa sudah sampai ke telinga Irzal, Ega dan Adit. Ketiga pria itu berkumpul di kantor Nino, begitu pula dengan Regan. Mereka berusaha mencari solusi yang dihadapi perusahaan Nino. Beberapa kali Ega meminta maaf pada Nino atas nama Tombak.
“Mas, aku benar-benar minta maaf.”
“Udahlah Ga, ini bukan salah kamu. Tombak memang kakakmu tapi bukan berarti kamu harus ikut menanggung kesalahannya.”
“Gue ngga habis pikir sama tuh orang, dari dulu ngga ada berubahnya. Ini dia sengaja buka masalah Akhtar supaya dia ngga dijadikan bulan-bulanan karena membatalkan pernikahan. Bener-bener licik dia bersikap seolah korban di sini,” geram Adit.
“Kamu ngga ada niatan bikin konferensi pers gitu buat klarifikasi? Akhtar memang bukan anak kamu tapi pernikahan anak-anak kalian murni karena kalian saling mencintai bukan karena ingin memanfaatkan keadaan,” Regan yang sedari tadi diam akhirnya membuka suaranya. Sejujurnya pikirannya masih tertuju pada ucapan Rain saat di rumah.
“Percuma mas, kalau pun Nino buat konferensi pers, Tombak pasti akan kasih serangan balasan lagi dan ujung-ujungnya kasus ini malah jadi konsumsi publik. Pikirkan bagaimana perasaan Akhtar, karena dia yang akan jadi bulan-bulanan di sini. Kondisi Akhtar bagaimana No?”
Irzal yang tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Nino bersama Disty dan mengenal Akhtar sejak masih kecil cukup mengkhawatirkan keadaan keponakannya itu. Nino menghela nafas panjang. Belum sempat dia menjawab, pintu ruangannya terbuka. Sosok yang menjadi pembicaraan kini muncul di hadapan mereka. Akhtar menghampiri keempat pamannya lalu mencium punggung tangannya satu per satu.
“Bagaimana keadaanmu Tar?” pertanyaan langsung meluncur dari mulut Irzal begitu Akhtar mendudukkan diri di sampingnya.
“Alhamdulillah baik Yah.”
“Apa kamu sudah bertemu Lissa?”
“Sudah pi, Lissa ikut keputusan papanya. Sudahlah pi, mungkin aku memang ngga berjodoh sama Lissa. Aku justru lebih cemas dengan kondisi perusahaan. Maafin aku pa, karena aku perusahaan jadi kacau. Aku janji akan cari solusi secepatnya. Aku juga akan menarik kembali klien yang membatalkan kerjasama dengan kita.”
“Kamu ngga usah pikirin soal perusahaan. Biar kita-kita yang cari solusinya. Lebih baik kamu cuti, refreshing, papa tahu ini semua berat untukmu,” Nino menepuk pelan pundak anaknya. Inilah yang dikhawatirkannya sejak kemarin.
“Ngga pa, aku ngga bisa liburan. Aku ngga mau lepas tanggung jawab. Semua kekacauan ini karenaku, jadi biarkan aku yang akan mencari solusinya. Kalau semua terus diatasi oleh papa kapan aku akan belajar bertanggung jawab dengan perusahaan. Semua karyawan di sini sekarang tanggung jawabku pa, jadi biarkan aku mencari solusi untuk semua ini. Aku permisi dulu, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nino menyandarkan punggungnya ke sofa, tangannya memijat pelipisnya. Adit merangkul sahabatnya ini. Regan kembali termenung, melihat kondisi Akhtar dan Nino, hatinya sedikit bimbang terlebih mengingat bagaimana tangis Rain saat dirinya pergi begitu saja meninggalkan pembicaraan yang belum usai.
“Ok kalau gitu kita pergi dulu No. Tenang aja, aku bakal bantu semampuku,” Irzal menepuk bahu sahabatnya itu.
“Iya No, ngga usah khawatir, gue sama Ega juga bantu kok.”
“Sabar No, kalau butuh sesuatu hubungi saja Bayu.”
“Terima kasih sebelumnya.”
Keempat pria itu meninggalkan ruangan Nino. Sepeninggal mereka, Nino kembali berkutat dengan pekerjaannya. Hampir semua karyawan di kantornya dibuat sibuk gara-gara ulah Tombak. Akhtar juga sudah meninggalkan kantor untuk bertemu dengan para klien yang membatalkan kontrak.
Sesampainya di depan gedung Regan mengajak Irzal untuk berbincang. Rasanya dia perlu bertukar pikiran terkait masalah Rain. Mereka memilih berbicara di cafe yang ada di sebrang kantor.
__ADS_1
“Ada apa mas?”
“Ini soal Rain.”
“Ada apa dengan Rain?”
“Dia ingin menggantikan Lissa menikah dengan Akhtar.”
Uhuk.. uhuk..
Irzal terbatuk, ucapan Regan terdengar ketika coffe latte nya baru saja masuk ke tenggorokannya. Dia meletakkan cangkir kopinya kemudian menatap Regan lekat-lekat. Wajah Regan sendiri terlihat bingung.
“Kenapa tiba-tiba Rain ingin menikah dengan Akhtar?”
“Rain mencintai Akhtar, sudah sejak lama. Dan konyolnya dia ingin menjadi pengganti Lissa demi menjaga nama baik Nino dan kelangsungan perusahaan.”
“Kalau Rain menikah dengan Akhtar, urusan perusahaan memang akan teratasi. Nama besar Rakan Putra Group di belakang nama Rain pasti memberikan dampak positif. Nama baik Nino juga akan terselamatkan.”
“Tapi hidup putriku yang akan jadi taruhannya. Akhtar tidak mencintainya. Bagaimana mungkin aku bisa menitipkan putriku pada lelaki yang memiliki wanita lain di hatinya. Aku lebih memilih menikahkan Rain dengan Elang atau Gara. Setidaknya dua anak itu tidak akan menyakiti Rain, tapi Akhtar.... aku tidak bisa mempercayainya. Aku tahu Akhtar adalah anak yang baik tapi bukan berarti dia tidak akan menyakiti anakku. Memikirkan anakku menatap padanya sedang dia menatap ke arah lain sudah membuat hatiku berdenyut nyeri.”
“Apa Akhtar tahu soal ini?”
“Sepertinya ngga Zal. Ini spontanitas Rain aja. Aku pusing Zal, bahkan Sarah juga menentangnya tapi anak itu benar-benar keras kepala. Tadi Sarah menelponku, Rain tidak mau keluar dari kamar. Coba kamu bicara padanya, biasanya dia selalu mendengarkanmu.”
Aku percaya Rain mengambil keputusan ini tentunya melalui pertimbangan matang. Dia juga sudah siap dengan resiko yang akan ditanggungnya. Rain tidak selemah itu mas, dia anak yang kuat. Bukannya aku mendukung keputusan Rain. Tapi cobalah bicara lagi dengannya, coba pahami situasinya dari sudut pandang anak itu, dengan begitu mungkin mas bisa menemukan solusinya.”
Regan merenungi ucapan Irzal. Tangannya meraih cangkir kopi lalu menyesap cairan hitam itu perlahan. Sepertinya dia akan mencoba usulan sahabatnya ini. Betapa merepotkannya berhadapan dengan anak gadis yang sedang dimabuk cinta.
🍁🍁🍁
Sejak pagi Rain hanya mengurung diri di kamar, tak ada niatan untuk keluar. Bahkan tawaran bi Mirna untuk membawakan makanan ke kamarnya ditolaknya mentah-mentah. Dalam pikirannya hanya ada satu nama Akhtar, Akhtar dan Akhtar. Tanpa Rain tahu lelaki yang dipikirkannya tak sedikit pun memikirkannya. Lelaki itu hanya fokus pada pekerjaannya sambil mencoba mengobati hatinya yang ditinggalkan Chalissa.
Sarah mengetuk pintu kamar namun tak digubris oleh Rain. Gadis itu benar-benar dalam mode keras kepala akut. Tak menyerah, Sarah terus mengetuk pintu seraya memanggil nama anaknya. Reyhan juga ikut membantu tapi semua sia-sia. Rain menulikan telinganya.
“Rain, buka pintunya sayang. Ayo kita bicara. Jangan bersikap kekanakan seperti ini. Ayo buka Rain. Apa kamu lebih peduli pada lelaki yang bahkan tidak mencintaimu dari pada ibumu sendiri?”
Ucapan terakhir sukses menyentil perasaan Rain. Gadis itu beranjak dari kasur lalu membukakan pintu. Dia berdiri di depan Sarah, tak memberi akses untuk mamanya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Aku sayang mama dan papa. Seperti yang papa bilang tadi, anggap saja pembicaraan tadi tidak pernah terjadi. Aku tidak akan menikah dengan siapa pun dalam waktu dekat, hanya akan fokus dengan kuliahku saja. Maaf kalau sudah membuat mama terkejut dan kecewa dengan perkataanku.”
“Kalau begitu kamu turun dulu, kamu belum makan dari siang.”
__ADS_1
“Aku belum lapar ma.”
Rain hendak menutup pintu kamarnya namun tangan Sarah menahannya. Digenggamnya tangan anak gadisnya ini. Hati Sarah mencelos melihat sorot mata anaknya yang penuh dengan kesedihan dan kekecewaan.
“Sepertinya papa sudah pulang. Ayo kita bicara Rain,” Sarah kembali membujuk sang anak.
“Ngga ada yang perlu dibicarain lagi ma. Sebagai anak yang berbakti aku akan mengikuti semua keinginan mama dan papa. Aku ngga akan menjadi pengantin pengganti untuk kak Akhtar. Aku juga ngga akan mengurus pekerjaan lagi di L’amour sampai kuliahku selesai dan aku akan menikah dengan siapa pun pilihan papa dan mama walau aku ngga mencintai orang itu. Sekarang aku mau istirahat ma.”
Rain melepaskan tangan mamanya lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Tubuh Rain luruh jatuh ke lantai. Tangannya membekap mulutnya rapat-rapat agar tangisnya tak terdengar.
“Rain, bukan seperti itu nak. Ayo kita bicara, ngga ada niatan sedikit pun mama dan papa untuk menyakitimu atau mengatur hidupmu. Kami hanya ingin kamu tidak mengambil keputusan yang salah, mama ngga mau kamu mengambil keputusan secara gegabah. Menikah itu tidak semudah yang dibayangkan. Hidup bersama dengan orang yang mencintai kita tidak selalu mudah apalagi dengan orang yang tidak mencintai kita. Mama hanya ngga mau hatimu terluka.”
Tak ada tanggapan dari Rain. Reyhan berusaha membawa sang mama pergi karena percuma berbicara dengan kakaknya saat ini. Namun Sarah bergeming. Dia justru terduduk di lantai dengan punggung bersandar pada daun pintu. Regan yang baru naik ke atas mendapati istrinya terduduk lesu dengan berlinang airmata.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Rain mas... sejak tadi dia tidak mau keluar kamar. Dia membenci kita mas hiks.. hiks..”
Regan menarik Sarah dalam pelukannya. Reyhan memilih menyingkir. Sebenarnya dia ingin sekali marah pada kakaknya yang telah membuat Sarah menangis. Tapi melihat wajah Rain yang begitu putus asa, hatinya pun tak tega. Regan membawa Sarah ke kamar mereka.
“Kamu istirahat saja, biar mas yang coba bicara pada Rain.”
“Mas tahu apa yang dikatakannya tadi? Dia ngga akan menikah dengan Akhtar, dia akan melakukan apa pun yang kita inginkan dan menikah dengan orang yang dipilih oleh kita. Dia mengatakan kalau seolah-olah kita memperlakukannya seperti robot. Dia menyindir seakan kita tidak peka dengan keinginannya. Aku takut mas, dia akan seperti Ily.”
Sarah kembali menangis. Lidah Regan seperti kelu, dia hanya mampu menenangkan sang istri dengan terus mendekapnya.
🍁🍁🍁
Waktu terus berlalu, hari semakin malam. Rain masih belum mau keluar dari kamarnya. Saat bi Mirna membawakan makanannya Rain menolak dengan alasan yang sama, belum lapar. Bujukan Rey pun tak membuahkan hasil. Sempat terlintas di pikirannya untuk menghubungi Nino, memintanya membujuk Rain. Karena awal dari masalah yang terjadi karena keinginan Rain untuk membantu Nino. Tapi diurungkannya niat itu, mengingat keluarga Nino sendiri tengah menghadapi persoalan yang tak kalah pelik.
Sementara itu Rain sedang duduk di lantai balkon kamarnya menikmati semilir angin yang berhembus menerpa kulitnya. Airmatanya sedari tadi tak berhenti mengalir.
Ya Allah apakah aku egois? Apakah salah kalau aku ingin memilikinya? Apakah keputusanku ini menyakiti banyak orang? Apa yang harus kulakukan ya Allah. Aku mencintainya dan ingin memilikinya tapi aku juga tidak mau menyakiti hati kedua orang tuaku. Mungkin dia memang bukan jodohku. Haruskah aku melupakannya? Tapi kenapa hati ini ngga rela. Aku harus bagaimana?
Rain terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Hatinya teramat kacau. Dia tahu apapun keputusan yang diambilnya hasilnya akan tetap sama. Mundur dari keinginannya atau maju mengejarnya tetap saja hatinya akan terluka. Bukannya gadis itu tak menyadari resiko yang akan diterimanya menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya. Tapi memilih mundur dan mencintai dalam diam juga menyakiti hatinya.
🍁🍁🍁
**Gara2 Tombak dua keluarga dalam kekacauan. Speechless deh klo udh berhubungan dengan Tombak.
Hai Readers terkecehku, mamake up lagi nih pagi2. Jangan lupa ya hari Senin loh, waktunya nge vote. Kalau bersedia tolong berikan vote kalian buat mamake ya, sama like and comment nya juga.
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti buat mamake biar tetap semangat berkarya dan up tiap harinya.
Makasih all😘😘😘**