Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Your Love is Gone


__ADS_3

“Bang.. ada yang mau Yunda obrolin.”


DEG


Dada Firlan berdebar kencang, kegelisahan dan ketakutan seketika menyergapnya. Melihat wajah Ayunda yang juga tegang, dia sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan gadis itu.


“Soal apa?” Firlan mencoba berkata setenang mungkin.


“Soal...”


“Eh ada anak papi di sini.”


Ucapan Ayunda terhenti ketika tiba-tiba Ega masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk dan menginterupsi pembicaraan gadis itu. Ayunda berdiri kemudian mencium punggung tangan Ega. Ega merangkul Ayunda kemudian kembali mengajaknya duduk di sofa.


“Ada apa nih kamu ke kantor? Kangen sama Ilan?”


“Papi iihh..”


“Kangen juga ngga apa-apa, papi ngerti kok. Apalagi kalian jarang ketemu kan, karena Ilan lagi sibuk banget. Dia sengaja kerja lembur sampai malam beresin kerjaan supaya bisa meluangkan banyak waktu sama kamu sesudah nikah nanti. Coba aja kamu lihat, badannya tambah kurus kan.”


Firlan memutar bola matanya. Sang papi terus saja mengoceh tak tentu arah. Ayunda melihat ke arah Firlan. Dia tertegun, ternyata benar apa yang dikatakan Ega, tubuh Firlan memang sedikit kurus.


“Terus nih Yun, setiap dia keluar kota selalu aja ngerengek minta pulang, katanya ngga bisa jauh-jauh dari kamu. Setiap jam kerjanya lihatin hp mulu, nungguin wa atau telepon dari kamu. Sekarang dia juga udah berhenti merokok karena katanya kamu ngga suka cowok yang ngerokok.”


Ayunda tersenyum tipis. Tanpa dikomando perasaan bersalah menyusupi batinnya. Hatinya bimbang apakah keputusan yang diambilnya ini sudah benar. Ayunda tak sanggup membayangkan betapa terlukanya Firlan nantinya.


“Eh papi ganggu ngga nih? Apa ada hal serius yang mau kalian obrolin?”


“Ng.. ngga kok pi. Aku ke sini cuma mau bilang nanti aku mau masakin makan malam, tapi di rumah papi, boleh kan? Sekalian kita makan malam bareng.”


Ayunda meringis dalam hati. Hanya jawaban itu yang terlintas di pikirannya saat ini. Sepertinya dia harus menunda pembicaraan dengan Firlan. Menguatkan hatinya lagi sebelum mengatakan keinginannya.


“Ya boleh dong sayang. Anggap aja itu trial jadi mantu idaman.”


“Kalau cuma mau ngomong itu kenapa harus dateng ke kantor Yun, kan bisa via telepon aja.”


“Sekalian aku mau lihat bang Ilan.”


“Ck.. jual mahal kamu Lan, padahal seneng kan Yunda dateng ke sini.”


Firlan mendelik ke arah Ega, papinya ini memang sudah tidak bisa disaring lagi kalau berkata-kata. Tapi entah dia harus marah atau bersyukur dengan kedatangan Ega. Firlan yakin jawaban Ayunda tadi bukan tujuan sebenarnya dia datang ke kantor.


🍁🍁🍁


Suara angin terdengar mendesau-desau, membuat pepohonan yang berada di rooftop bergoyang-goyang. Reyhan berdiri di pinggir rooftop seraya bersedekap. Hembusan angin yang cukup kencang tak membuatnya bergeming. Berharap sang angin membawa pergi semua kerisauan hatinya.


“Dokter Rey...”


Reyhan hanya menoleh sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Memandangi deretan gedung yang menjulang di hadapannya. Helga menghampiri, kemudian berdiri tepat di samping pria itu.


“Apa dokter yakin dengan keputusan dokter?”


“Hmm..”

__ADS_1


“Tidak akan menyesal?”


“In Syaa Allah tidak.”


“Baiklah saya akan memprosesnya. Tapi jika dokter berubah pikiran, dokter bisa mengatakannya kapan pun.”


Tak ada jawaban dari Reyhan. Helga memandanginya cukup lama tapi lelaki itu seperti tak terusik. Reyhan bertahan dalam diamnya, tenggelam dalam pikiran dan perasaan yang berkecamuk hebat.


Helga memilih meninggalkan Reyhan, sepertinya lelaki itu sedang ingin sendiri. Dengan langkah pelan dia meninggalkan rooftop. Reyhan masih bertahan di tempatnya, sampai ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari IGD, mereka kedatangan pasien korban kecelakaan beruntun. Dengan langkah panjang Reyhan bergegas menuju IGD.


🍁🍁🍁


Ayunda menepati janjinya. Jam lima sore dia sudah berada di kediaman Ega. Semua bahan makanan yang akan dimasaknya sudah tersedia di meja dapur. Dibantu asisten rumah tangga Alea, Ayunda mulai memasak. Alea yang penasaran dengan apa yang akan dimasak oleh calon menantunya menghampiri ke dapur.


“Kamu mau masak apa Yun?”


“Masak iga asam manis buat bang Ilan. Beef teriyaki buat Ziel. Buat mami dan papi, ayam rica-rica, capcay sama perkedel kentang. Gimana mi?”


“Wah calon menantu mami hebat juga ya. Tapi mami ngga bisa bantuin nih.”


“Mami bantuin nyicip aja nanti,” Ayunda terkekeh, begitu pula dengan Alea. Sudah bukan rahasia lagi kalau Alea memang tidak bisa masak.


Setelah dua jam berkutat di dapur, akhirnya semua hidangan sudah tersedia di meja. Ayunda dibantu Alea menata makanan di meja makan. Ega dan Ziel dengan semangat empat lima menuju ruang makan.


Semua sudah berkumpul di meja makan, kecuali Firlan. Dia masih berada di kamarnya. Lelaki itu baru saja sampai ke rumah sepuluh menit yang lalu. Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Firlan telah selesai membersihkan diri, lalu langsung menuju ruang makan.


Firlan menarik kursi di samping Ayunda. Acara makan malam pun dimulai. Ayunda mengambilkan makanan untuk calon suaminya itu, membuat hati Firlan menghangat sekaligus miris jika mengingat mungkin saja gadis ini akan menjadi yang pertama dan terakhir untuknya.


Pujian langsung terdengar dari mulut Ega ketika makanan buatan Ayunda masuk ke dalam mulutnya. Demikian juga dengan Ziel yang mengangkat kedua jempolnya. Hanya Firlan yang tak berkomentar, walaupun dalam hatinya mengakui masakan Ayunda semakin bertambah lezat.


Selesai makan malam, Firlan membawa Ayunda ke taman belakang. Suasana hening sejenak, Ayunda hanya duduk di kursi taman sambil memandangi langit malam. Waktu baru pukul delapan malam tapi langit tampak begitu gelap, segelap hatinya saat ini. firlan menghampiri lalu duduk di sampingnya.


“Kamu pasti capek ya,” Firlan membuka percakapan.


“Capek kenapa?”


“Abis masak.”


“Ngga juga sih. Kan dibantuin juga ama bibi.”


Firlan menoleh ke arah Ayunda yang masih terus menatap ke depan. Jilbab instannya bergerak-gerak tertiup angin malam. Dengan matanya Firlan menelusuri wajah cantik Ayunda. Sanggupkah dia melepas makhluk cantik di sampingnya ini.


“Yun...”


“Hmm..”


“Kamu serius mau nikah sama abang?”


Pertanyaan Firlan sukses membuat gadis itu menoleh kepadanya. Ayunda terdiam memandangi Firlan. Harusnya ini jadi kesempatan untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya. Namun melihat mata sendu Firlan, Ayunda jadi tak tega. Dia benar-benar takut akan menyakiti lelaki yang dulu begitu dipujanya.


“Abang kok nanyanya gitu?”


“Cuma mau meyakinkan aja. Takutnya kamu berubah pikiran.”

__ADS_1


Suasana kembali menjadi hening. Ayunda kini menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah Firlan. Hatinya bertambah bimbang, apa yang harus dilakukannya kini. Meninggalkan Firlan untuk bersama dengan Reyhan atau meneruskan hubungan bersama Firlan dan melupakan Reyhan? Sungguh kepala Ayunda mau pecah rasanya.


“Abang lagi suka satu lagu. Rencananya lagu ini bakal dibawain Soul Castle pas perform minggu depan di The Citizen. Kamu mau denger?”


Ayunda mengangguk. Dari pada suasana hening seperti di kuburan, lebih baik mendengarkan lagu kan. Firlan mengeluarkan ponselnya, kemudian jarinya bergerak mencari lagu yang dimaksud. Tak lama terdengar lagu yang berirama slow, dimulai dengan dentingan piano.


Don’t go tonight


Stay here one more time


Remind me what it’s like


And let’s fall in love one more time


I need you now by my side


It tears me up when you turn me down


I’m begging please, just stick around


I’m sorry don’t leave me, I want you stay with me


I know that your love is gone


I can’t breathe, I’m so weak, I know this isn’t easy


Don’t tell me that your love is gone


That your love is gone


Dada Ayunda sesak mendengar lirik dari lagu yang diputar. Seakan Firlan tengah menyindirnya saat ini. Sekuat mungkin ditahan airmata yang hendak mengalir. Lagu berdurasi 2 menit 55 detik itu akhirnya selesai juga. Firlan mematikan ponselnya.


“Gimana Yun? Enak ngga lagunya?”


“Hmm.. enak bang, tapi sedih. Siapa yang bawain nanti? Mas El apa bang Za?”


“Aku.”


Ayunda terdiam, tenggorokannya semakin tercekat. Tak tahan dengan situasi yang tercipta, Ayunda bangun dari duduknya.


“Aku pulang dulu ya bang.”


“Aku antar.”


“Ngga usah bang, kaya rumahku jauh aja hehehe..”


Ayunda segera berlalu pergi. Firlan memilih kembali duduk di bangku taman, kembali bergelung dengan keresahannya. Saat melintasi ruang tengah, Ayunda berpamitan pada Ega juga Alea.


🍁🍁🍁


**Gagal maning gagal maning Ay... piye Iki...


Next episode mamake kasih bocoran... Rey yang ambil keputusan🙊

__ADS_1


Dukungannya jangan lupa ya gaessss, like, comment and vote😉**


__ADS_2