Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Strategi Elang


__ADS_3

Elang keluar dari kamarnya sambil melihat layar ponselnya. Bundanya mengabarkan kalau Irzal sudah berangkat ke London dan mungkin sebentar lagi akan tiba. Dia berjalan menuju balkon kemudian mendudukkan dirinya di kursi. Entah mengapa Elang tiba-tiba ingin sekali mengecek keberadaan Rain. Dibukanya aplikasi yang menghubungkannya dengan alat pelacak yang tertanam di ponsel Rain. Matanya memicing melihat titik merah berada di area pemakaman keluarga. Dilirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul empat sore.


Elang berjalan mondar-mandir menunggu Rain menjawab panggilannya tetapi nihil. Baru pada panggilan ke sepuluh panggilannya terjawab. Tubuh Elang menegang ketika mendengar suara Rain yang terdengar bindeng ketika menjawab salamnya.


“Rain, lo di mana?”


“El... hiks.. hiks..”


Lemas tubuh Elang mendengar suara tangis Rain. Dia kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. Tanpa bicara dia terus mendengarkan tangisan Rain sampai akhirnya sahabatnya itu tenang dan mulai menceritakan apa yang dialaminya. Mulai dari sikap Akhtar di awal pernikahan, lalu ketika dirinya melihat suaminya bersama Chalissa di restoran sampai kejadian yang baru dialaminya tadi. Elang memejamkan matanya, matanya memegang sandaran kursi dengan erat, mencoba menahan gemuruh di dadanya.


“Hati gue sakit El.. hiks.. hiks.. gue ngga kuat lagi.”


“Rain... gue udah pernah bilang kalau sekarang lo adalah seorang istri yang harus menjaga kehormatan suami elo. Menjaga kehormatan salah satunya dengan tidak menceritakan permasalahan rumah tangga ke orang lain. Karena bisa jadi ada orang lain yang berusaha memanfaatkan masalah keluarga lo dengan tujuan ngga baik.”


“Tapi lo kan sahabat gue. Lo juga janji masih jadi kakak gue.”


“Iya Rain. Tapi untuk masalah seperti ini harusnya lo bicarain sama mahram elo bukan gue.”


“Siapa El? Papa? Mama? Atau papa Nino dan mama Kalila? Kalau gue curhat sama salah satu dari mereka yang ada mereka akan langsung misahin gue sama kak Akhtar. Kalau sama Rey, lebih parah. Ujung-ujungnya mereka bakal ribut. Gue cuma berani ke elo karena lo yang paling rasional di antara mereka.”


“Lo sendiri bilang kalau udah ngga kuat tapi lo juga ngga mau pisah sama suami lo. Terus lo maunya gimana Rain?”


Elang berusaha menahan kekesalannya. Sahabatnya ini benar-benar dibutakan oleh cintanya. Sudah tahu sakit tapi masih tetap bertahan.


“Kasih gue solusi El, gue harus gimana? Gue emang sakit tapi gue juga ngga mau pisah. Kalau gue nyerah, Lissa bakalan menang karena itu maunya dia. Terus kalau gue hamil gimana? Gue ngga mau jadi single parent.”


Gue yang bakalan jadi ayah anak lo. Teriak El, tapi hanya dalam hati saja mampu dia ucapkan. Pengecut? Bukan, Elang bukan pengecut tapi dia ngga mau menjadi orang ketiga dalam pernikahan sahabatnya.


“Jawab jujur Rain, lo masih mau pertahanin bang Akhtar?”


“Iya, gue cinta dia El.”


“Kalau gitu dengerin gue baik-baik. Kalau lo ngga mau lepasin dia, maka pertahankan. Inget, lo itu istri sahnya bang Akhtar, di mata agama dan hukum kedudukan elo kuat. Jangan mau kalah sama Lissa. Datangi Lissa dan bilang sama dia untuk menjauhi bang Akhtar, katakan dengan tegas.


Elo adalah Rain, perempuan pintar dan kuat. Kalau mau berhadapan dengan Lissa yang licik lo harus rubah mind set elo. Jangan berpikir kalau elo adalah istri yang coba membuat suaminya jatuh cinta, tapi elo adalah perempuan penggoda yang mau merebut bang Akhtar dari Lissa. Pikirkan gimana cara merebut bang Akhtar dengan cara yang elegan, buat dia bertekuk lutut sama elo dan sepenuhnya melupakan Lissa.


Lo istrinya, udah halal lo mau ngelakuin apa aja sama suami elo, kalau perlu lo jadi pelacur untuknya di ranjang. Jangan kasih kesempatan buat Lissa komunikasi apalagi ketemu sama bang Akhtar. Lo harus bisa putusin komunikasi mereka di tengah jalan. Jangan bersikap protektif apalagi posesif sama suami elo. Lo harus bisa bermain cantik. Jadikan orang-orang di sekeliling lo sebagai senjata buat ngelawan Lissa.”


“Gimana cara gue mutus komunikasi mereka?”


“Minta Jayden buat sadap dan pasang alat pelacak di hp suami lo. Lo bisa tahu pergerakan suami lo, dengan begitu lo bisa mencegah pertemuan mereka. Cari orang yang bernama Jordy, dia akan bantu elo buka kebusukan Lissa. Minta Jayden ngelacak orang itu.”

__ADS_1


“Siapa Jordy?”


“Partner in bed-nya Lissa.”


“Jadi selama ini dia selingkuh di belakang kak Akhtar?”


“Hmm.. harusnya bang Akhtar bersyukur bisa dapetin elo bukan perempuan sampah itu. Tapi kalau cara ini ngga berhasil dan dia masih nyakitin elo, gue bakal hajar dia dan bawa lo pergi dari dia. Sekarang lo pulang tapi jangan ke apartemen kalian. Biarkan dia cari elo seharian ini, matiin hp elo.”


“Gue harus pulang kemana?”


“Ke apartemen gue, lo tahu kan di mana? Passwordnya tanggal lahir gue. Lo boleh pulang kalau keadaan lo udah tenang, jangan biarin dia nyentuh elo sebelum dia sadar kesalahannya. Gue ngga rela lo cuma jadi pelampiasan nafsunya aja.”


“El.. makasih hiks.. hiks..”


“Rain jangan nangis, lo harus kuat. Inget lo adalah adek Elang Ramadhan, adek gue bukan perempuan lemah. Please jangan nangis lagi, gue sakit denger lo nangis kaya gini. Sekarang pulang, ok.”


“Iya, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Rain mengakhiri panggilannya. Elang menggenggam erat ponsel di tangannya. Telinganya kembali terngiang cerita Rain, Akhtar yang telah mendapatkan hal berharga dari istrinya justru membisikkan kata cinta untuk perempuan lain. Darah Elang mendidih mengingat itu semua. Dengan kesal dia melemparkan ponsel ke tembok.


PRAKK


“Aaaaaggghhh!!”


Elang memukulkan tangan kirinya beberapa kali ke tembok hingga buku-buku tangannya terluka. Farel yang sedang melintas terkejut melihat keadaan sang adik. Bergegas dia menghanpiri dan menenangkannya.


“El.. sadar El, istighfar.”


Elang kembali memukulkan tangannya ke tembok. Sekuat tenaga Farel mencoba menarik tubuh Elang menjauh. Tapi tenaga pemuda itu begitu kuat.


“ELANG!!!”


Suara bariton Irzal menggelegar memenuhi seisi ruangan membuat kedua pemuda itu terkejut. Elang menghentikan aksinya ketika melihat kedatangan sang ayah. Farel segera membimbing Elang masuk ke dalam lalu mendudukkannya di sofa. Irzal menatap tajam ke arah anaknya. Elang menundukkan kepalanya. Farel memilih membersihkan serpihan ponsel yang berserakan.


“Istighfar! Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Dzolimi bi nafsi!”


Elang beristighfar dengan suara pelan. Irzal duduk di samping anaknya. Tak lama Farel datang membawakan kotak P3K lalu meletakkannya di atas meja. Irzal menarik tangan Elang yang terluka lalu mulai membersihkan dan mengobati luka tersebut. Terakhir dia membalutkan perban ke atasnya.


“Ada apa? Apa yang membuatmu seemosional ini?” suara Irzal mulai melunak.

__ADS_1


“Maaf yah. Aku cuma kesal mendengar soal Rain.”


Irzal menarik nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia sudah sejak lama tahu perasaan anaknya pada Rain.


“El, kamu tahu kalau Rain sudah menikah. Tidak baik memikirkan wanita yang sudah bersuami.”


“Tapi suaminya ngga mencintainya yah. Lelaki bodoh itu malah menyia-nyiakan dan menyakitinya.”


“Tetap itu bukan alasan untukmu berbuat seperti tadi. Dia bukan tanggung jawabmu El, sudah ada Akhtar yang bertanggung jawab dan lebih berhak atas Rain bahkan dari orang tuanya sendiri. Kendalikan dirimu, sepelik apapun hubungan mereka, kamu ngga berhak ikut campur.”


“Aku hanya mendengarkan ceritanya dan memberi solusi untuk masalahnya. Lagi pula aku sudah janji yah akan terus menjadi bang Rakan untuknya.”


“Lebih penting mana janjimu pada Rain atau ketaatanmu pada perintah Allah? Kamu ingin terus menepati janjimu dengan resiko mendapat laknat Allah? Ayah membekalimu dengan pendidikan agama supaya kamu terhindar dari perbuatan dosa. Jangan karena rasa cinta kamu melanggar semua yang sudah kamu ketahui hukumnya.”


“Maaf yah. Aku ngga akan mengulanginya.”


“Ayah sudah menawarkan padamu melamar Rain sebelum kamu berangkat ke London, bahkan langsung menikahinya juga ayah setuju. Tapi apa yang kamu bilang waktu itu? Kamu masih ragu, kamu ngga mau menyakiti Gara. Dan sekarang melihat Rain bersama Akhtar kamu jadi ngga karuan seperti ini. Sadarkah kamu, keraguan kamu dan kegigihan Rain untuk menikah dengan Akhtar adalah pertanda kalau kamu tidak berjodoh dengannya.


Ayah ngga mau melihat kamu seperti ini lagi. Ayah tahu ini berat untukmu, tapi ayah percaya kamu bisa melalui ini semua. Doa ayah dan bunda akan selalu menyertaimu. Berusahalah menjadi manusia yang lebih baik lagi. In Sya Allah jodoh terbaik sudah Allah siapkan untukmu nanti.”


“Iya yah. Makasih udah ingetin El. Maaf kalau udah buat ayah kecewa.”


“Kamu tidak mengecewakan ayah. Percayalah, kamu tetap menjadi kebanggaan ayah,” Irzal memeluk Elang, menepuk pelan punggung anaknya.


“Hapus data Rain dari alat aplikasi pelacakmu. Mulai besok kamu tidak boleh lagi berurusan dengan rumah tangganya.”


“Baik yah.”


“Sekarang wudhu lalu shalat tobat.”


Elang segera bangun lalu berjalan menuju kamarnya. Dia bersyukur sang ayah memberikan nasehat dan dukungannya. Setibanya di kamar Elang bergegas melaksanakan shalat tobat. Dia memang perlu melakukan itu. Bisikan setan di hatinya yang mengharapkan Rain berpisah dari Akhtar telah membuatnya menjadi pendosa.


🍁🍁🍁


**Elang sabar ya, anak mamake masih kecil. Nunggu 10 tahun lagi mau kan?😁


Hai.. gimana kabar kalian semua? Kondisi mamake masih naik turun, tapi mamake usahakan up untuk kalian semua.


Jangan lupa ya ritualnya, like, comment and votenya.


Makaksih**..

__ADS_1


__ADS_2