
13 tahun kemudian
Kediaman Dimas dan Firly tampak ramai. Saat ini anak dan cucunya tengah berkumpul. Dimas memang mewajibkan anak-anaknya datang berkumpul satu bulan sekali. Waktunya sehari sebelum waktu kumpul keluarga besar Ramadhan. Ini memudahkan agar Gemma yang tinggal di Singapura tidak perlu bolak-balik.
Ara sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Tapi bukan dia yang memasak, melainkan dua adiknya Gavin dan Gibran. Ara sepertinya tidak memiliki bakat memasak. Walau pun terus belajar namun rasa masakannya hanya standar saja. Dan lidah Farel sudah terbiasa dengan masakan sang istri.
Farel dan Ara dikaruniai empat orang anak. Anak pertama diberi nama Najwa, yang kedua Naufal, ketiga Naima dan keempat Nalendra. Jangan harap ada yang berkarakter kalem dari keempat anak tersebut. Karena pencetak mereka saja sudah seperti Tom and Jerry. Meski begitu mereka saling menyayangi dan kompak. Apalagi kalau sedang mengerjai kedua orang tuanya.
Najwa baru saja selesai wisuda, Naufal masih kuliah sedang Naima dan Nalendra masih duduk di bangku SMA. Masing-masing hanya berjarak dua tahun. Para omnya kerap menjodohkan Najwa dengan Desta, anak Firlan karena kedekatan keduanya. Najwa dan Desta memang seumuran, mereka kuliah di kampus dan jurusan yang sama. Tak heran kalau gosip keduanya langsung berkembang.
Gemma saat ini berusia 30 tahun, dia sudah menikah dan dikarunia dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Gemma kuliah di Singapura dan mengelola Orchad Company warisan sang uyut. Setelah menyelesaikan studi masternya, dia mempersunting Nanaz. Gadis yang menjadi cinta pertamanya. Anak pertamanya Rivan berumur lima tahun dan anak keduanya, Rayyi baru menginjak 2 tahun.
Gavin yang terpaut empat tahun darinya juga sudah menikah dua tahun lalu dengan Shakira, anak dari Deski dan Helga. Dari Shakira, Gavin memperoleh anak perempuan yang diberi nama Shazia. Saat ini Shazia baru berumur 9 bulan. Gavin mengikuti jejak Dimas sebagai chef profesional. Dia juga mengelola Sekolah Tata Boga yang didirikan Dimas sekaligus menjadi pengajar di sana.
Gibran saat ini berusia 23 tahun, dia belum menikah. Gibran masih fokus dengan karirnya sebagai chef sekaligus mengelola Artha Boga, perusahaan yang didirikan Dimas. Bersama Firas, anak dari Ringgo, mereka mengelola perusahaan tersebut.
Anak bungsu Dimas, Ghea saat ini masih kuliah. Dia mengambil jurusan yang sama dengan sang mama, komunikasi. Dia nantinya akan diminta Gibran untuk membantunya di perusahaan. Awalnya Firly meminta Ghea membantunya mengelola butik warisan Alea. Tapi anaknya itu tak tertarik dengan dunia fashion, jadi Disti, kembaran Desta yang membantu mengelolanya.
“Benar-benar ya perempuan di keluarga ini ngga ada yang bisa masak,” celetuk Gavin saat mereka sedang menyantap makan siang.
“Kalau ada kalian, buat apa kita belajar masak,” jawab Ghea cuek.
Gemma dengan gemas menjitak kepala adik bungsunya ini. Kakak sulung dan adik bungsunya yang berjenis kelamin perempuan sama sekali tidak memiliki bakat memasak. Ghea hanya mencebikkan bibirnya ke arah sang kakak.
“Najwa, Naima, kalian jangan tiru tante-tante kalian.”
“Kalian boleh ngga pinter masak, tapi harus pintar di ranjang,” celetuk Ara tanpa saringan.
Sontak Gemma melotot ke arah kakaknya itu karena anaknya masih di bawah umur. Farel dengan gemas menjewer telinga Ara. Dimas hanya tertawa melihat kelima anaknya. Dia bahagia dikarunia banyak anak dari dua pernikahannya.
Usai makan siang, Farel mengusulkan mereka mengunjungi salah satu tempat wisata yang baru saja dibuka di daerah Ciumbuleuit. Tentu saja usul Farel disambut baik oleh anak-anak Gemma. Mereka pun berangkat dengan menggunakan tiga buah mobil. Dimas dan Firly memilih diam saja di rumah. Kondisi Dimas yang sudah berumur, tak memungkinkan untuk banyak beraktivitas di luar. Maklum saja kini usia Dimas sudah 68 tahun.
Dimas berbaring di kasur ditemani oleh Firly. Mereka saling berhadapan dan memandang. Walaupun perjalananan rumah tangga mereka sudah 31 tahun lamanya, namun momen kemesraan selalu tercipta jika mereka sedang berduaan.
“Ngga kerasa ya sayang. Anak-anak sudah semakin besar. Bahkan kita sudah punya tujuh orang cucu. Mas berharap masih bisa melihat Gibran dan Ghea menikah bahkan sampai memiliki anak.”
“Aamiin.. mudah-mudahan aja ya mas.”
“Terima kasih ya sayang. Kamu masih mau bertahan dengan pria tua ini, di saat banyak lelaki mengejarmu.”
“Laki-laki yang muda dan tampan memang banyak mas. Tapi yang mau menerima semua kekurangan dan sifat burukku hanya kamu. Mas juga sudah memberikanku empat orang anak dan cucu yang menggemaskan. Mau cari apalagi.”
“Seandainya mas pergi lebih dulu. Kamu boleh menikah lagi sayang, mas ngga mau kamu kesepian nantinya.”
“Ngga mau. Aku mau menikmati hidupku bersama anak dan cucuku kalau mas sudah tidak di sisiku lagi. Tapi kalau aku yang pergi duluan, mas jangan nikah lagi ya.”
“Hahaha... ada-ada aja kamu. Siapa juga yang mau sama aki-aki kaya aku.”
“Eh perempuan jaman sekarang bukan umur yang dilihat tapi warisan,” Firly terkikik.
Dimas menarik pinggang Firly hingga tubuh mereka tak berjarak. Diciumnya bibir yang tak pernah bosan untuk disesapnya. Bibir yang selalu mengeluarkan kalimat-kalimat nyeleneh yang terkadang membuat Dimas geleng-geleng.
“Mas bahagia hidup bersamamu. Tidak sia-sia perjuangan kita dulu untuk bersama. Mas akan menyesal kalau dulu menyerah untuk menggapaimu.”
“Aku juga mas. Aku bahagia hidup bersamamu. I love you mas Dimas, so much.”
“I love you too Ily-ku.”
Sekali lagi Dimas mencium bibir sang istri. Kini dia memberikan l**atan dan pagutan nan lembut yang penuh dengan kemesraan. Cinta mereka yang awalnya mendapat tentangan keras kini berbuah manis dengan kehadiran anak dan cucu di antara mereka. Pasangan berbeda usia namun tetap mesra hingga kakek nenek. Happily ever after, Dimas-Ily. Kisah cinta kalian menggambarkan kalau cinta tak pernah memandang usia. Jika dua hati sudah menyatu, maka usia hanyalah deretan angka belaka.
🍁🍁🍁
“Mama!!”
__ADS_1
Rain terlonjak mendengar suara nyaring di belakangnya. Hampir saja serokan di tangannya terjatuh saking terkejutnya. Tanpa menoleh pun dia sudah tahu siapa yang menjahilinya. Pasti Shaina, anak keduanya.
Di antara ketiga putrinya, hanya Shaina yang sering menjahilinya dan kadang membuatnya naik darah. Dia juga senang sekali mengganggu kakak dan adiknya. Setelah Nanaz menikah dengan Gemma, Raisya yang selalu jadi sasaran kejahilannya.
Shaina memeluk tubuh Rain dari belakang, lalu meletakkan dagunya di pundak sang mama. Begini kalau dia sudah bermanja. Padahal Shaina sudah memilki seorang anak berusia satu tahun. Bisa dipastikan Lana saat ini sedang bersama suaminya.
“Mana Lana?”
“Lagi sama mas Aslan.”
“Ya udah, mumpung Aslan lagi pegang Lana. Kamu bantuin mama. Tuh bahan buat sapi lada hitamnya udah mama siapin.”
“Siap nyonya Akhtar,” Shaina menaruh tangannya di pelipisnya persis seperti sedang memberi hormat.
Rain hanya geleng-geleng saja. Shaina walau tidak bisa diam, jahil, tapi di antara ketiga anaknya, dia yang paling pintar masak. Apalagi sekarang setelah menjadi menantu Azkia, kemampuan masaknya semakin bertambah saja.
Aslan menikahi Shaina dua tahun lalu, saat wanita itu masih di bangku kuliah. Setahun kemudian Shaina hamil dan dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang diberin nama Alana. Rain bersyukur Shaina menikah dengan Aslan. Karena hanya lelaki itu yang bisa menjinakkan kuda lumping model putrinya.
Akhtar keluar dari kamarnya kemudian menghampiri Aslan yang sedang duduk di ruang tengah sambil bermain dengan Lana. Melihat sang kakek, anak cantik itu segera menghambur ke arah Akhtar.
“Eh cucu kakek sudah datang.”
Akhtar menggendong Lana lalu mendudukkan diri di samping Aslan. Delapan puluh persen wajah Aslan condong ke Elang, sedang sisanya mirip Azkia. Tapi secara sikap dia tak sedingin sang ayah namun tetap tegas.
“Sha mana As?”
“Di dapur pa, lagi bantuin mama.”
“Gimana Sha? Masih suka bikin kamu pusing?”
“Ngga kok pa.”
“Papa bersyukur dia menikah dengan kamu. Setidaknya kamu bisa meredam kebrutalannya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Akhtar dan Aslan bersamaan.
Nanaz dan Gemma datang bersama kedua anak mereka, Rivan dan Rayyi. Nanaz dan Gemma mencium punggung tangan Akhtar, disusul oleh kedua cucunya. Mendengar kedatangan Nanaz, Rain keluar dari dapur untuk menyambut mereka. Nanaz mencium punggung tangan sang mama kemudian memeluknya. Gemma juga menyalami ibu mertuanya.
Tak lama Shaina muncul. Dengan heboh dia memeluk Nanaz. Walau mereka selalu bertemu sebulan sekali, namun Shaina selalu menyambutnya seolah bertahun-tahun tak bertemu.
“Oouch.. kakakku tersayang akhirnya pulang juga. Betapa aku sangat merindukanmu.”
“Lebay.”
Nanaz menoyor kepala sang adik yang hanya dibalas kekehan saja darinya. Nanaz duduk di samping suaminya. Shaina turut mendaratkan bokongnya di samping Aslan.
“Lan.. lo masih sehat kan?”
“Alhamdulillah, kenapa emang?”
“Ya syukur deh. Gue kirain lo kena penyakit mematikan setelah nikah ama adek gue.”
“Dih kakak nyumpahin suamiku cepet mati.”
“Bukannya aku nyumpahin, tapi kelakuan kamu yang bisa bikin Aslan pendek umur.”
“Hush.. sudah.. sudah kalau bertemu selalu saja ribut,” lerai Akhtar.
Shaina kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya. Tak lama Nanaz menyusul, bukan untuk membantu tapi untuk mencicipi masakan yang dibuat adik dan mamanya. Lima belas menit berlalu, semua makanan sudah tertata di meja makan. Kini tinggal menunggu Raisya pulang. Gadis itu sedang ke kampusnya untuk perwalian.
Tak lama yang ditunggu-tunggu datang. Raisya segera menghampiri Akhtar dan Rain lalu mencium punggung tangan mereka. Dia juga menghampiri Nanaz, kemudian dua orang wanita cantik itu saling berpelukan.
__ADS_1
“Kok gue ngga dipeluk,” celetuk Shaina.
“Males,” jawab Raisya datar.
“Dasar Rais!!”
Raisya mendelik ke arah sang kakak. Dia paling sebal dipanggil dengan sebutan itu. Pasalnya di kampus ada teman sekelasnya bernama Rais. Perawakan temannya itu, tinggi seperti tiang listrik, rambut seperti Edi Brokoli dan hobinya mengupil. Rais sering menggoda Raisya dengan menyebut diri mereka kembar.
“Sumpah ya kak, empet banget gue denger lo manggil kaya gitu,” geram Raisya.
“Weis santuy, kaga usah ngegas gitu dong. Perlu gue panggilin Alan nih,” Shaina kembali menggoda sang adik. Kali ini raut wajah Raisya berubah jadi semu kemerahan.
“Ais.. kamu beneran sama Alan?”
“Yoi ka Naz. Nih anak palingan juga abis ngedate ama Alan. Ngaku lo,” sambar Shaina.
“Au ah..” Raisya memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Sha..” tegur Aslan.
Shaina auto mingkem begitu ditegur oleh Aslan. Pasalnya jika Aslan sudah memanggilnya dengan sebutan Sha, berarti itu sudah alarm. Kalau masih memanggil sayang, Aslan hanya mengingatkan saja. Nanaz dan Raisya tersenyum melihat Shaina berubah kalem, persis seperti ular yang bertemu pawangnya.
🍁🍁🍁
Kediaman Akhtar kembali sepi. Semua sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Tinggal Raisya yang masih tinggal bersama mereka. Anak gadisnya itu sudah masuk ke kamarnya.
Rain menutup pintu kamar lalu berjalan menuju balkon kamar. Sang suami tengah menikmati udara malam di sana. Rain memeluk Akhtar dari belakang. Akhtar tersenyum lalu mengurai pelukan Rain. Dia menarik Rain berdiri di depannya, gantian kini dia yang memeluk pinggang Rain dari belakang. Kepalanya menempel manja di pundak istrinya.
“Ngga kerasa ya mas. Anak-anak kita sudah besar bahkan sudah memberi kita tiga orang cucu.”
“Iya. Sekarang tanggung jawab mas tinggal Ais.”
“Kayanya Ais serius sama Alan.”
“Iya. Alan sudah menemui mas dan mengutarakan niatnya melamar Ais akhir tahun ini.”
“Alhamdulillah. Ngga nyangka besanku semua sahabatku. Ily, El dan sekarang Gara. Aku tenang menitipkan anak-anak pada mereka.”
“Hmm.. iya mas juga bahagia. Terima kasih sudah mendampingi mas selama ini. memberikan tiga orang anak yang cantik. Terima kasih tetap bertahan dengan pernikahan kita di tengah badai yang menghantam. Maaf atas semua perlakuan mas yang membuatmu sakit hati.”
“Aku juga bukan istri yang sempurna. Aku juga sering membuatmu marah, kesal, sedih. Terima kasih sudah menerima segala kekuranganku.”
Akhtar membalikkan tubuh Rain hingga menghadapnya. Ditangkupnya wajah sang istri dengan kedua tangannya. Kemudian mencium semua bagian di wajah cantik itu tanpa terlewat. Terakhir dia memagut bibir Rain dengan mesra.
“Aku mencintaimu Rain. Istriku yang cantik dan paling baik hati.”
“Aku juga mencintaimu.”
“Kamu bidadari tak bersayap yang Tuhan kirimkan untukku.”
“Hilih gombal, pasti ada maunya.”
Akhtar tergelak, lalu meraih pinggang sang istri. Mereka masuk ke dalam kamar. Ditutupnya pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Setelah itu keduanya naik ke atas kasur. Akhtar bersiap untuk membuat istrinya berkeringat di malam yang dingin ini.
Pernikahan mereka yang diawali dengan derai airmata kini berubah menjadi kebahagiaan. Kesabaran Rain mampu meluluhkan hati sang suami hingga akhirnya tak mampu berpaling lagi darinya. Rain mampu merubah kisah cintanya dari pahit menjadi manis.
🍁🍁🍁
**Dimas & Ily biar udah kakek nenek mesra terus ya. Anaknya yang paling banyak lagi😁
Rain & Akhtar langgeng terus ya. Itu besannya Rain, yang dulu naksir berat Ama dia😁
Dua pasangan di season 1 & 2 sudah bahagia ya. Tinggal kita intip dua pasangan lainnya. Makasih sudah terus mengikuti kisah mereka hingga berakhir bahagia😘**
__ADS_1