Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
BONCHAP : NINO & KALILA Rumah Baru Opa


__ADS_3

Sudah setahun lamanya Regan berpulang. Keluarga dan para sahabat sudah mengikhlaskan pria berkharisma itu. Rain yang paling terpukul atas kepergian sang papa, sudah kembali seperti semula. Wajahnya sudah mulai tersenyum kembali. Suami dan anak-anak terus saja menghiburnya. Begitu pula dengan Reyhan, walaupun hatinya sedih kehilangan sosok panutan. Namun dia berusaha kuat demi ibu, istri, anak dan kakaknya.


Begitu pula dengan Sarah. Wanita itu menepati janjinya pada mendiang suaminya. Dia sudah mengikhlaskan kepergian belahan jiwanya itu dan menata hidupnya kembali. Kini dia fokus menjaga diri demi bisa terus bersama dengan anak, menantu dan para cucu. Dukungan sahabat juga terus mengalir untuknya. Poppy dan Debby selalu menjadi teman untuk mencurahkan kerinduannya pada Regan.


Tapi sepertinya mendung duka masih belum lepas dari keluarga ini. Dua hari setelah keluarga besar Ramadhan menggelar acara Haul untuk mendiang Alea juga Regan, Nino mendapat kecelakaan tunggal. Kondisinya tidak terlalu parah, karena mobil yang dikemudikannya melaju dalam kecepatan rendah dan menabrak trotoar jalan. Namun pemicu dibalik kecelakaan yang membuat kondisi Nino kritis.


Nino mendapat serangan jantung saat sedang berkendara. Mobil yang dikendarainya oleng lalu menabrak trotoar. Orang-orang yang berada di lokasi kejadian segera menolong dan membawanya ke rumah sakit. Nino sempat mengalami henti jantung, namun kondisinya masih bisa diselamatkan.


Ruang perawatan VVIP sudah dipenuhi keluarga dan sahabat. Bayu dan Pandu juga datang untuk menjenguk sang sahabat. Begitu pula dengan Fahri, besan Nino. Kalila tidak pernah sedetik pun meninggalkan Nino, Putri terus menemani wanita itu di sisinya. Disti juga datang menjenguk, walau sudah tak bersama, tapi hubungan keduanya tetap baik, demi Akhtar.


Setelah berpisah dari Nino, kehidupan Disty terpuruk. Dia bahkan sempat menjadi simpanan pengusaha demi menutupi semua hutangnya. Namun setelah sang pengusaha membuangnya, hidupnya kembali susah. Nino menawarkan bantuan padanya. lewat seorang kenalannya, Disty bisa bekerja di sebuah restoran. Hanya berlangsung selama tiga tahun. Setelah itu, dia memilih tinggal di pondok pesantren. Menimba ilmu, sambil membantu pengurus di sana. Hitung-hitung untuk menebus dosa.


Kalila pernah menawari Nino untuk menikahi Disty kembali. Namun ditolak tegas oleh pria itu. Selain takut tak bisa bersikap adil, Nino juga memang tidak mencintai Disty. Pria itu khawatir justru akan melukai Disty. Dia lebih memilih memberikan nafkah bulanan saja. Tak lama hal itu pun diambil alih oleh Akhtar.


Disty menghampiri Kalila lalu memeluknya. Pandangannya kemudian beralih pada Nino yang tengah terbaring lemah di ranjang. Disty tak kuasa menahan airmatanya, melihat pria yang pernah menjadi bagian hidupnya.


Perlahan mata Nino terbuka. Kalila segera mendekat lalu meraih tangan suamimu itu. Menyadari sang sahabat sudah sadar, semua segera mendekat. Bilqis yang sedari tadi berada dalam pelukan Zahran segera menghambur ke arah sang papa.


“Mas.. bagaimana keadaanmu?”


“Aku ngga apa-apa sayang. Maaf sudah membuatmu cemas.”


“Papa..”


Bilqis memeluk Nino yang masih terbaring lemah. Ditepuknya punggung anak perempuan satu-satunya itu. Akhtar dan Fikri ikut mendekat, keduanya nampak cemas melihat kondisi Nino. Akhtar menekan bel untuk memanggil suster.


Tak berapa lama dokter dan suster datang memeriksa kondisi Nino. Semua hanya diam memperhatikan, berharap selesai pemeriksaan sang dokter akan memberikan kabar bagus. Irzal langsung mendekati dokter begitu selesai memeriksa.


“Bagaimana keadaannya dok?”


“Pak Nino harus menjalani operasi. Tapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan. Jujur kondisinya sangat lemah. Kalau beliau bisa melewati malam ini, In Syaa Allah ada peluang untuk operasi.”


Irzal terhenyak, dengan langkah pelan dia menghampiri Nino. Melihat wajah sang sahabat yang terlihat syok, Nino sadar kalau ada yang tak beres dengannya. Samar, dia melihat bayang-bayang kedua orang tuanya yang telah tiada mendekat.


“Pa..”


Suara Akhtar membuyarkan lamunan Nino. Dia melihat ke arah Akhtar yang nampak cemas. Ingin rasanya dia bangun namun tubuhnya terasa lemah, dada bagian kiri juga terasa nyeri. Rasa sesak mulai melandanya.


“La... aku mencintaimu.”


“Aku juga mas.”


“Akhtar, Iqis, Fikri, papa juga sangat menyayangimu.”

__ADS_1


Tak ada dari ketiganya yang mampu membalas ungkapan sayang sang papa. Bilqis kembali menangis. Zahran terus berada di sampingnya untuk menguatkannya.


“Kalian di sini juga.”


Nino melihat ke arah Fahri, Bayu dan Pandu. Perasaan mereka mulai tak enak. Ega dan Adit yang baru datang juga langsung mendekat.


“Ri.. aku titip Iqis. Takutnya aku sakit terlalu lama.”


“Iya No. Iqis juga anakku sekarang.”


“Fikri... jangan terus-terusan menggantung perasaan perempuan. Papa ingin melihatmu menikah.”


“Iya pa. Aku janji akan menikah secepatnya.”


“Tar.. ingat.. kamu punya tiga orang ibu. Kamu harus menyayanginya dan memperlakukannya dengan baik. Papa bersyukur kamu hadir dalam hidup papa.”


Disty meneteskan airmatanya mendengar penuturan Nino. Mantan suaminya itu sangat menyayangi Akhtar, walaupun tak setetes darahnya ada dalam tubuh anak itu. Akhtar merangkul Disty yang terisak.


“Zal.. maaf kalau aku ngga bisa meneruskan amanat mas Regan. Maaf kalau harus merepotkanmu lagi.”


“No.. ngomong apa sih? Udah mending istirahat, jangan kebanyakan ngomong,” sela Pandu. Dia sungguh benci situasi seperti ini.


Sesuai keinginan Pandu, Nino tidak berbicara lagi. Dia hanya memandangi satu per satu yang ada di dekatnya. Tiba-tiba nafasnya terasa sesak, Kalila segera memencebat bel beberapa kali. Tak sabar, Akhtar pun berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Irzal mengusap airmatanya yang sudah membasahi pipi. Dia mendekat tapi bibirnya tak mampu mengucap dua kalimat syahadat untuk membimbing sahabatnya. Fahri mendekat lalu mengambil alih tugas Irzal. Dengan sisa nafasnya, Nino mengikuti arahan Fahri. Selesai itu dia tersenyum pada semuanya. Akhtar yang datang bersama dokter langsung menerobos kerumunan.


“Pa.. jangan tinggalin aku...”


Nino mengangkat tangannya, Akhtar langsung menyambut uluran tangan Nino. Tak lama pria itu terkulai. Dokter bergegas memeriksa keadaan Nino. Jantungnya sudah tak berdetak lagi. Saat dokter akan memberikan kejutan, Kalila melarangnya.


“Jangan dok. Biarkan suami saya pergi dengan tenang.”


“Ma..”


“Papamu yang minta sayang. Jika kondisinya sudah tak memungkinkan, dia tak ingin tubuhnya tersentuh alat medis apapun.”


Sang dokter pun menghormati keptusan Kalila. Dia segera menyebutkan waku kematian Nino. Pandu jatuh terduduk, Bayu menangis tersedu di pinggir ranjang, Irzal mematung di tempatnya. Rasanya masih tak percaya, sahabat yang sudah menemaninya sejak menggunakan seragam putih-abu meninggalkannya lebih dulu. Kembali terbayang kebersamaan mereka sejak jaman sekolah, kuliah hingga sekarang telah menjadi kakek.


Sambil memeluk Fikri, Kalila menangis tersedu. Untuk kedua kalinya dia kehilangan imam hidupnya. Namun kali ini terasa lebih berat. Janjinya pada Nino yang membuatnya berusaha untuk tegar.


🍁🍁🍁


Rain tak kuasa menahan tangisnya ketika Nanaz dan Shaina terus saja memanggil opanya. Bahkan Raisya yang belum bisa berbicara dengan benar, ikut memaggil sang kakek, ketika jenazahnya diturunkan ke liang lahat.

__ADS_1


“Pa.. pa..” Raisya menunjuk ke arah makam.


Fahri turun membantu Akhtar, Fikri dan Zahran memasukkan Nino ke pembaringan terakhirnya. Irzal, Bayu dan Pandu hanya melihat dari sisi makam. Sebenarnya mereka juga ingin mengantarkan sang sahabat, namun ketiganya menghormati keinginan anak, menantu dan besan Nino.


Poppy memeluk pinggang Irzal erat. Matanya tak berhenti menangis. Terlebih jika membayangkan dirinya ditinggal selamanya oleh Irzal. Jika boleh meminta, dia ingin dipanggil lebih dulu. Hingga tidak akan merasakan beratnya perpisahan lagi.


Semua yang hadir meninggalkan area pemakaman. Fikri terus merangkul sang mama yang kakinya mulai goyah untuk melangkah. Akhtar juga membimbing Disty yang terlihat limbung. Bilqis masih belum berhenti menangis, berkali-kali Zahran coba menenangkannya.


Sehabis pengajian Kalila duduk termenung. Disty menghampirinya, dibawanya Kalila ke dalam pelukannya. Mereka sama-sama mencintai Nino dan saat ini berusaha saling menguatkan.


Akhtar memandang haru ke arah mereka. berkat Nino, dia bisa memiliki dua orang ibu yang menyayanginya dengan tulus.


“Sejak kapan Nino mempunyai sakit jantung?”


“Sudah dua tahun yang lalu. Mas Nino selalu mengingatkanku, jika dia yang lebih dulu pergi, aku harus kuat dan mengikhlaskannya. Tapi setelah menjadi kenyataan, rasanya aku ngga sanggup.”


“Jangan seperti itu La. Kamu harus mengikhlaskannya supaya jalannya tenang. Dulu aku pun sulit untuk merelakannya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa menerimanya.”


“Maafkan aku kalau hadir di antara kalian.”


“Ngga La. Hubungan kami memang sudah rusak. Aku yang merusak hubungan itu. Aku menyesal tidak bisa menjadi istri yang baik. Tapi aku tidak menyesal sudah membohonginya perihal Akhtar. Katakan saja aku tidak tahu malu, tapi berkat kebohonganku Akhtar mendapatkan ayah yang hebat. Aku juga bersyukur kamu mau menyayangi Akhtar seperti anak sendiri. Terima kasih La.”


“Aku ngga mau mendengarmu mengatakan itu. Akhtar itu anakku, anak kita.”


Kedua wanita itu kembali berpelukan. Jika ada orang lain yang melihatnya, bisa saja mereka mengira kalau kedua wanita itu istri tua dan istri muda Nino.


Akhtar mengalihkan pandangannya pada Shaina yang memanggilnya. Anak itu mendekat pada Akhtar lalu duduk di pangkuannya. Mata Shaina nampak bengkak, sedari tadi dia tak berhenti menangis. Setelah kepergian Regan, dia memang lebih sering bersama dengan Nino. Seminggu sekali opanya itu akan mengajaknya ke taman bermain.


“Pa.. opa tidur ngga bangun lagi ya? Sekarang opa udah pindah rumahnya.”


“Iya sayang. Sekarang rumah opa dekat dengan rumah kakek.”


“Sha lihat opa sama kakek boleh?”


“Boleh sayang. Nanti kita tengok opa sama kakek. Sha juga jangan lupa doakan opa dan kakek setiap habis shalat.”


Shaina mengangguk lalu memeluk leher sang papa. Biasanya setiap akhir pekan ada opa yang mengajaknya bermain dan jalan-jalan. Ada yang membacakan dongeng sebelum tidur jika anak itu menginap di sini. Tapi mulai malam ini Shaina harus mulai terbiasa tanpa kehadiran opa Nino. Opa tersayangnya sudah kembali kepada sang pencipta.


🍁🍁🍁


**Selamat jalan Nino, walau part-mu tidak banyak, tapi kamu tetap menjadi bagian keluarga besar Ramadhan.


Banyak yang nanya kenapa menuju ending justru tokohnya dimatikan satu per satu. Ya karena ini alur yang mamake buat. Untuk yang ngga sreg dengan alur endingnya, mamake minta maaf. Tapi mamake memang sudah membuat alurnya seperti ini jauh hari. So please ikuti alurnya, sampai menuju ke ending. Bukan hal mudah juga mamake buat part seperti ini🙏**

__ADS_1


__ADS_2