Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Panggil Aku Mas...


__ADS_3

Ketika Irzal dan Poppy kembali ke ruang rawat Ayunda, gadis itu sudah bangun dan tengah disuapi bubur oleh Elang. Irzal melihat Farel yang cemberut di ujung sofa. Dihampirinya Farel lalu mendudukkan bokong di samping sang anak.


“Kenapa kamu?”


“Anak ayah tuh bener-bener ya. Aku udah ngerayu sampe berbusa ini mulut minta dia makan, bilangnya ngga enak lah, belum laperlah. Pas si El dateng, ngadu katanya ngga dikasih makan sama aku,” gerutu Farel. Irzal dan Poppy hanya tersenyum saja.


“Lagian bang Farel ngerayunya ngga asik. Gimana mau punya istri coba. Makanya bang, belajar ngerayu dulu, supaya si....”


“Eeeehhh... bisa diem ngga dek? Mau abang sumpel mulut kamu pake lap pel?”


Farel langsung menghentikan ucapan Ayunda, ketika gadis itu hendak menyebutkan nama perempuan yang disukainya.


“Coba aja kalau berani! Tar aku aduin sama...” Elang langsung menyuapkan sendok berisi bubur ke mulut Ayunda.


“Kalau lagi makan jangan banyak ngomong.”


“Ish...”


Ayunda hanya mendesis sebal ke arah kakaknya itu. Tiba-tiba ponsel Elang berdering. Virzha menghubungi dan memintanya juga Farel segera ke kantor. Meeting dengan salah satu klien akan segera dimulai. Elang menaruh mangkok bubur yang sudah kosong di atas nakas, kemudian berdiri.


“Bang, ayo ke kantor lagi. Meeting mau dimulai.”


Farel berdiri dari duduknya kemudian mencium punggung tangan Irzal dan Poppy, disusul oleh Elang. Lalu keduanya segera meninggalkan kamar. Irzal mendekati Ayunda.


“Kamu mau jalan-jalan ngga? Kita ke rooftop yuk, cari udara segar.”


Ayunda mengangguk antusias. Irzal mengambil kursi roda lalu membantu Ayunda duduk di sana. Bersama Poppy, dia membawa Ayunda ke rooftop. Untuk menuju rooftop, sekeluarnya dari lift, masih harus menaiki tangga lagi. Irzal membopong tubuh Ayunda. Sedang kursi roda disimpan di sudut dekat lift. Ayunda melingkarkan tangannya ke leher sang ayah.


“Ayah ngga berat apa gendong Yunda? Ayah kan udah tua.”


“Kalau cuma gendong badan kurus kamu ayah masih kuat. Mungkin ini terakhir kalinya ayah gendong kamu. Besok-besok suami kamu yang bakal lakuin ini.”


Ayunda terdiam lalu menyembunyikan wajahnya di dada Irzal. Sesampainya di rooftop, Irzal mendudukkan Ayunda di salah satu kursi. Kemudian dia dan Poppy duduk di sisi kanan dan kiri anaknya itu.


“Yun.. tadi ayah sama bunda sudah bertemu dengan papi, mami dan Ilan. Kami membicarakan soal pernikahan kalian.”


Ayunda terdiam, hatinya mendadak cemas. Tanpa sadar dia meremas jari-jari tangannya. Poppy yang menyadari itu, memegang tangan anaknya. Ayunda menoleh pada Poppy. Bundanya itu hanya tersenyum padanya.


“Ilan sudah membatalkan pernikahan kalian.”


“Bang.. I..lan batalin pernikahan yah?”


“Hmm.. tadinya ayah yang akan membatalkannya tapi dia sudah lebih dulu bicara.”


“Maafin Yunda yah.. bunda.. hiks.. hiks.. ini salah Yunda hiks.. hiks.. pasti mami sama papi kecewa sama Yunda. Bang Ilan juga pasti sakit hati.”


Poppy memeluk Ayunda dari samping. Tangis Ayunda kembali pecah dalam pelukan sang bunda. Poppy mengusap lengan dan punggung Ayunda, mencoba untuk menenangkannya.


“Yun.. apa kamu tahu penyebab nenek ummi meninggal?” Ayunda menggeleng.


“Nenek ummi meninggal karena menyelamatkan ayah. Waktu itu ayah dan nenek sedang dalam perjalanan sepulang dari rumah sakit. Kami mengalami kecelakaan beruntun. Ada sebuah mobil yang membawa pipa paralon, sebuah pipa paralon meluncur ke arah ayah, lalu ummi menghalangi dengan tubuhnya. Ayah koma pasca kecelakaan, nyawa nenek sempat terselamatkan namun akhirnya nenek meninggal setelah beberapa hari dirawat. Bahkan ayah masih belum sadar saat nenekmu meninggal.”


Ayunda menghapus airmatanya. Dia melepaskan diri dari pelukan Poppy kemudian memeluk Irzal.


“Itu pengorbanan nenek untuk anaknya. Orang tua akan melakukan apapun untuk menyelamatkan dan membahagiakan anaknya. Begitu juga ayah dan bunda akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu. Kamu tidak perlu takut soal reaksi mami dan papi, ada ayah dan bunda yang akan menjaga dan melindungimu.”


“Makasih ayah.. bunda.. maafin Yunda... tapi semuanya udah terlambat, kak Rey udah berangkat ke Munich hiks.. hiks.. dia pasti berangkat sama si blacan. Kan si blacan yang bujukin kak Rey kuliah di Munich hiks.. hiks..”


“Blacan siapa?”

__ADS_1


“Itu... blasteran cantik yang dibawa kak Rey ke nikahannya Nara. Kak Rey pasti bakal ngelupain Yunda kalau terus dipepet sama si blacan hiks.. hiks..”


Ingin rasanya Poppy menjitak kepala anak gadisnya ini. Di suasana melow seperti ini bisa-bisanya dia melawak seperti anggota srimulat. Irzal hampir saja tertawa terpingkal mendengarnya.


“Jadi Rey udah berangkat ke Munich?”


“Iya yah... aku susulin kak Rey boleh yah? Takutnya dia keburu kepincut si blacan.”


“Kalau Rey berangkat ke Munich terus yang di sana siapa? Apa itu kloningannya Rey?”


Irzal menunjuk seseorang yang sedang berdiri di dekat pembatas rooftop. Mata Ayunda mengikuti pergerakan jari Irzal. Matanya membelalak melihat Reyhan di sana. Sedetik kemudian lelaki itu berjalan ke arahnya. sesampainya di dekat mereka, Reyhan segera mencium punggung tangan Irzal dan Poppy.


“Ayah kapan pulang?”


“Tadi pagi.”


“Kak Rey bohong ya? Katanya tadi berangkat ke Munich.”


“Rencananya begitu. Tapi ada salah satu pasienku yang harus dioperasi dan dia maunya aku yang operasi.”


“Kak Rey jahat.. jahat.. kalau ngga ada operasi kakak bakalan tetep pergi ke Munich kan bareng si blacan.”


Ayunda memukuli lengan Reyhan, membuat dokter itu meringis karena pukulan Ayunda cukup kuat. Kalau tidak ada Irzal dan Poppy, sudah ditangkapnya tangan itu lalu membungkam mulut Ayunda dengan bibirnya.


“Yunda!” Ayunda menghentikan pukulannya mendengar suara Poppy.


“Ayo kembali ke kamar. Kamu masih ada pasien Rey?”


“Ngga yah.”


Irzal berdiri kemudian membopong tubuh Ayunda. Irzal mendudukkan Ayunda di kursi roda. Reyhan memencet tombol lift. Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka. Reyhan mendorong kursi roda ke dalamnya.


“Kamu ngga apa-apa sayang?”


“Mami hiks.. hiks.. maafin Yunda.”


“Eh anak mami kenapa nangis? Udah jangan nangis.”


Alea memeluk Ayunda seraya mengusap punggung gadis itu perlahan. Ayunda melepaskan diri dari pelukan Alea kemudian memandang ke arah Ega dan Firlan bergantian.


“Papi.. maafin Yunda. Bang Ilan.. maafin Yunda juga.”


“Apa yang harus dimaafkan? Kamu tetap akan menikah dengan anak papi. Rey juga anak papi dan mami,” Ega mengusap puncak kepala Ayunda. Firlan berjongkok di depan Ayunda.


“Yun.. maaf ya kalau abang terlalu lama menyadari perasaanmu, membuatmu banyak menangis. Harusnya abang melepasmu lebih awal.”


“Abang jangan ngomong gitu hiks.. hiks.. Yunda yang harusnya minta maaf karena udah nyakitin abang hiks.. hiks..”


“Abang baik-baik aja. Kamu jangan nangis lagi. Lihat Rey, dia kelihatan tenang tapi dalam hatinya pasti cemburu lihat kamu nangisin laki-laki lain. Ya ngga Rey?”


“Sa ae kang cendol.”


“Dia mah ngga akan cemburu, orang punya ban serep si blacan.”


“Astaga Ay.. aku ngga ada hubungan sama Helga.”


“Dokter Helga yang diajak ke pesta nikahnya Gara? Wah dia kan emang cantik, hati-hati Yun. Kalau Rey berani selingkuhin kamu bilang sama abang, biar abang hajar dia.”


“Astaga!” Reyhan menepuk keningnya.

__ADS_1


“Bunda sama ayah pulang dulu ya. Ayah pasti cape. Rey, bunda titip Yunda.”


“Mami sama papi pulang juga deh. Lan, kamu mau tetep di sini?”


“Ngga mi, ngapain jadi kambing conge di sini dengerin pasangan yang lagi ribut. Yun, abang pulang ya. Oh iya, pas kamu lagi dirawat tadi, si Rey lagi asik berduaan di kantin sama Helga alias si blacan.”


Reyhan sontak melotot ke arah Firlan. Sang pemantik kerusuhan hanya terkekeh saja. Dengan wajah tanpa dosa dia berlalu meninggalkan Ayunda dan Reyhan.


Sepeninggal yang lain, Reyhan bermaksud membantu Ayunda kembali ke ranjang. Namun tangannya ditepis oleh gadis itu. Sepertinya Ayunda termakan ocehan Firlan. Kini dia melihat Reyhan dengan mata lasernya.


“Oh jadi gitu ya kelakuan kak Rey di belakang aku. Pantes tadi waktu di IGD kak Rey ngga nemuin aku padahal kakak ada di rumah sakit. Ternyata aku ngga penting ya buat kak Rey. Cih di bibir bilang cinta tapi ngga ada khawatir-khawatirnya sama aku. Ternyata cinta kak Rey itu cuma lip service doang. Kalau emang si blacan lebih menarik, udah sana pergi aja ke Munich. Aku ngga mau nikah sama laki-laki tukang tebar pesona kaya kak Rey. Dasar playboy...”


CUP


Sebuah kecupan mendarat di bibir Ayunda, membuat pidato kenegaraannya terhenti. Reyhan memegang kedua sisi kursi roda dengan tangannya, sehingga Ayunda berada dalam kungkungannya.


“Aku ngga ada hubungan apapun dengan Helga. Di hatiku selamanya cuma ada kamu. Hanya kamu yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku dan menemaniku sampai ajal menjemput. Jangan berpikir macam-macam, fokus saja pada kesehatanmu. Kamu harus cepat sembuh, karena aku akan segera melamarmu.”


Wajah Ayunda merona mendengar kata demi kata yang dilontarkan oleh Reyhan. Dia hampir saja menjerit ketika tiba-tiba Reyhan mengangkat tubuhnya kemudian membaringkannya ke bed.


“I love you Ayang.. love you so much.”


“I love you kak Rey.”


“Mas.. panggil aku mas mulai sekarang. Aku suka saat kamu memanggilku seperti itu.”


“I love you... mas Rey.”


Reyhan tersenyum, tangannya terulur mengusap puncak kepala Ayunda. Kemudian perlahan wajahnya mendekat. Jantung Ayunda berdegup kencang ketika merasakan hembusan nafas Reyhan menyentuh pipinya. Saat jarak bibir mereka semakin dekat, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sontak Reyhan menjauhkan tubuhnya. Elang bersama dengan Azkia masuk ke dalam ruangan.


Azkia menghampiri Ayunda kemudian memeluknya. Setelah mendengar kabar dari Elang kalau Firlan telah membatalkan pernikahan, Azkia merengek pada Elang untuk mengantarnya bertemu dengan Ayunda.


“Selamat ya Ay, akhirnya kamu bisa bersatu dengan Rey.”


“Makasih kak. Aslan mana?”


“Aslan masih di rumah kakeknya.”


“Rey.. si Yunda ngga rewel kan?” tanya Elang.


“Ngga mas. Cuma ya itu bawel banget.”


“Sumpel aja mulutnya pake kain pel.”


“Mas El!!”


Elang dan Reyhan tergelak. Ayunda memanyunkan bibirnya ke arah dua lelaki yang sangat disayanginya itu.


“Inget ya, kalian belum sah, belum muhrim. Awas aja kalau berani pegang-pegang apalagi cium.”


Reyhan meneguk kasar ludahnya seraya mengusap tengkuknya. Bisa berabe kalau Elang tahu dia dan Ayunda sudah pernah beradu bibir. Ayunda pun langsung diam, dia memilih berbicara dengan Azkia. Kalau Elang tahu perbuatan nekadnya mencium Reyhan, bisa-bisa kepalanya langsung digunduli.


🍁🍁🍁


Sekarang mas Rey udh berani ya cium² Ay..ang


**Ayo Rey Ama Ay mau kasih sogokan berapa ke mamake biar ngga ngadu sama mas El?


Readers juga berani kasih berapa banyak like and comment biar mamake up lagi😉**

__ADS_1


__ADS_2