
Seperti biasa, suasana kediaman Regan nampak sepi di malam hari. Sehabis makan malam, Regan dan Sarah lebih senang menghabiskan waktu di kamar untuk menonton televisi atau berbincang. Hanya jika Rain beserta suami dan Nanaz datang berkunjung, baru suasana rumah ramai. Sepertinya Ayunda dan Reyhan harus segera memiliki momongan agar pasangan tua ini mempunyai kesibukan baru.
Di lantai atas, keadaan tidak jauh berbeda. Suasana tenang meliputi kamar Reyhan, terlebih kamar ini sekarang lebih luas dari sebelumnya. Regan membobol dinding pembatas kamar dengan ruang tengah hingga kamar menjadi lebih luas. Di dalam kamar ditambah walk in closet serta ruang kerja Reyhan. Dia memang menginginkan ruang kerja yang menyatu dengan kamar, agar bisa tetap melihat wajah istrinya saat harus membawa pekerjaan ke rumah.
Seperti saat ini, Reyhan sedang mempelajari berkas yang dikirim Kaisar, sepupunya, tentang laporan perkembangan perusahaan. Secara bertahap, Regan mulai menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada Reyhan. Bayu sudah mundur dari jawabatan CEO dan kini digantikan oleh Ridho, dan Kaisar anaknya menggantikan tugasnya terdahulu, menjadi perpanjangan tangan Regan yang kini beralih pada Reyhan.
Awalnya Reyhan yang bidangnya bukan dari manajemen merasa kesulitan untuk mempelajari semua laporan. Namun dia banyak belajar dari Elang juga Farel, hingga sedikit demi sedikit mulai memahami sistematika kerja di perusahaan dan hal yang berkaitan dengan laporan keuangan.
Reyhan melirik jam di dinding, sudah pukul sembilan malam. Ayunda masih belum pulang dari rumah orang tuanya. Sehabis maghrib, istrinya itu ijin untuk menengok sang ayah yang sedang tidak sehat. Reyhan membereskan berkas-berkas di meja kemudian beranjak dari sana. Dia bermaksud menjemput sang istri.
Baru saja Reyhan hendak meraih gagang pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka. Ayunda cukup terkejut melihat Reyhan berdiri di depan pintu.
“Baru aja mas mau jemput.”
“Maaf ya mas lama.”
“Ngga apa-apa. Gimana ayah?”
“Alhamdulillah udah mendingan. Ayah cuma kecapean.”
“Apa perlu mas periksa?” Reyhan memandang intens ke arah sang istri. Matanya terlihat sedikit bengkak, seperti habis menangis.
“Ngga usah mas, tadi sore papa udah periksa. Aku ganti baju dulu.”
Ayunda buru-buru menuju walk in closet menyadari tatapan Reyhan padanya. Setelah mengambil satu stel piyama, Ayunda bergegas menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuknya berganti pakaian dan menggosok gigi. Ayunda memandangi wajahnya di cermin, matanya memang sedikit bengkak. Dia mengingat kembali percakapan dengan sang ayah yang membuatnya menangis.
Flashback On
Ayunda duduk di sisi ranjang sedang memijat tangan ayahnya yang duduk menyender ke headboard ranjang. Begitu mendengar Irzal sakit, Ayunda langsung minta ijin pada Reyhan untuk menjenguknya. Tadi baru saja dia selesai menyuapi Irzal dan kini memijatnya sambil berbincang.
“Ayah harus sudah mulai mengurangi pekerjaan. Cepetan pensiun, kan sekarang ada mas El sama bang Farel yang bisa ngurus perusahaan. Ayah mendingan menikmati masa tua aja sama bunda di rumah. Cari hobi baru yang ngga menghabiskan banyak tenaga, main sama Aslan atau pacaran sama bunda.”
Irzal terkekeh, anaknya ini memang bawel sekali. Ini nanti yang akan dirindukannya jika Ayunda jadi mengikuti Reyhan ke Munich. Sesaat pandangannya berubah menjadi sendu. Ayunda yang menyadari perubahan ekspresi sang ayah juga merasakan kesedihan yang sama.
“Kapan kalian akan berangkat ke Munich?”
“Ngga tahu yah. Mungkin dalam waktu dekat.”
Ayunda menundukkan kepalanya. Setiap membicarakan masalah kepergiannya ke Munich, dia selalu merasa sedih. Matanya saja kini sudah tergenang. Hanya dengan satu kedipan, cairan bening itu pasti akan meluncur turun dari matanya.
“Kenapa Yun?”
“Sebenarnya kalau boleh jujur, Yunda ngga mau ikut ke Munch. Yunda ngga mau jauh dari ayah sama bunda. Tapi Yunda juga tahu, sebagai istri, Yunda harus mengikuti langkah suami karena bakti istri kepada suami yang akan membawa orang tua ke surga. Walaupun berat Yunda akan tetap ikut mas Rey, menjalankan kewajiban Yunda sebagai istri dengan baik. Karena hanya dengan cara ini Yunda bisa membalas kebaikan dan kasih sayang ayah dan bunda. Semoga bakti Yunda pada suami bisa mengantarkan ayah dan bunda ke pintu surga.”
__ADS_1
“Oh anak ayah... sungguh ayah bersyukur dikaruniai putri seperti kamu nak.”
“Selama Yunda pergi, ayah harus jaga kesehatan. Jangan buat bunda cemas dengan sakit seperti ini. Yunda juga ngga bisa ngerawat ayah karena jauh. Ayah harus tetap sehat supaya bisa main sama anak Yunda nanti.”
Irzal hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat mendengar kata-kata sang putri. Ayunda menghambur dalam pelukan Irzal lalu menumpahkan tangis yang sedari tadi ditahannya. Irzal memejamkan mata, airmatanya juga turun membasahi wajah tuanya. Poppy yang mendengar percakapan mereka dari dekat pintu juga tak kuasa menahan airmatanya.
Flashback Off
Ayunda menghapus airmatanya yang kembali bercucuran. Dibasuhnya wajah yang telah bersimbah airmata itu dengan air. Setelah menenangkan diri, dia keluar dari kamar mandi. Reyhan terlihat sedang menerima panggilan di balkon kamar. Sayup-sayup Ayunda mendengar suaminya sedang berbicara dengan bahasa Jerman. Pasti sedang membicarakan keberangkatan dirinya ke negeri bavarian tersebut. Membuat hatinya kembali bersedih.
Ayunda berpura-pura membereskan tempat tidur ketika Reyhan masuk ke dalam kamar setelah mengakhiri panggilannya. Dia duduk di sisi ranjang, memperhatikan Ayunda yang tengah merapihkan bantal.
“Ayang...”
“Hmm...”
“Sini sayang.. ada yang mau mas bicarakan.”
Ayunda menghentikan aktivitasnya lalu berjalan mendekati suaminya. Reyhan menarik tangan Ayunda hingga duduk di pangkuannya. Dipandanginya mata sang istri yang memerah.
“Ay.. boleh mas tanya sesuatu?”
“Apa?”
Ayunda terdiam, mengapa lagi-lagi dia harus dihadapkan pada pertanyaan seputar Munich. Tiba-tiba saja dia tidak menyukai kota yang banyak memiliki bangunan bersejarah itu.
“Apa kamu keberatan mas meneruskan kuliah di sana? Jujurlah sayang.”
“Kalau boleh jujur, aku ngga mau ikut ke Munich. Tapi aku juga ngga mau ditinggalkan mas. Aku inginnya mas mengambil fellowship di sini tapi aku juga tahu kalau kuliah di sana adalah impian mas. Aku ngga mau menghalangi impian mas. Aku ingin menjadi istri yang bisa mendukung suaminya.”
Reyhan merapihkan rambut Ayunda lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Wajah istrinya begitu sendu. Reyhan menyesali mengapa tak menyadarinya lebih awal.
“Sayang... kamu tahu apa impian mas?”
“Mengambil fellowship di Munich seperti papa.”
“Bukan.. impian mas memiliki dirimu dan menghabiskan sisa umur hanya bersamamu. Satu impian mas sudah tercapai, Allah mengabulkan doa mas menjadikanmu istri. Kini hanya tinggal menjalani rumah tangga kita agar impian mas selanjutnya tercapai. Mas tidak menginginkan hal lain. Termasuk kuliah di Munich.”
“Maksud mas?”
“Mas akan mengambil fellowship di sini. Mas ngga mau kebahagiaan istri mas hilang hanya karena itu. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan mas juga.”
“Mas ngga menyesal?”
__ADS_1
“Ngga sayang. Lagi pula sebentar lagi papa pensiun, siapa yang akan menggantikan papa kalau bukan mas.”
“Makasih ya mas,” senyum terbit di wajah Ayunda.
“Terima kasihnya dalam bentuk lain dong.”
“Apa?”
Reyhan membisikkan sesuatu di telinga Ayunda, membuat wajahnya merona. Reyhan mencium bibir Ayunda dengan lembut. Melihat istrinya tersenyum bahagia seperti ini sungguh membuatnya bahagia.
🍁🍁🍁
Jarum pendek di jam dinding menunjuk ke angka satu. Waktu telah masuk lewat tengah malam, namun dua insan yang tengah dibakar gelora hasrat masih belum mengakhiri aktivitas panasnya. Bantal, guling, selimut serta pakaian mereka berserakan di lantai. Posisi seprai pun sudah tidak pada tempatnya lagi. Dibuat berantakan oleh sepasang suami istri yang tak terbalut apapun.
Ayunda men**sah panjang saat Reyhan ******* dan men**lum bukit kembarnya. Ini sudah kesekian kalinya Reyhan bermain dengan bulatan kenyalnya. Leher dan dadanya juga sudah dipenuhi bercak kemerahan yang dibuat suaminya.
Ayunda meremat rambut Reyhan ketika jari sang suami bermain di area bawahnya. Tubuhnya menggelinjang tak tentu arah. Pelepasan yang ke sekian kalinya dirasakan oleh wanita itu. Ayunda mendorong tubuh Reyhan hingga berbaring telentang di ranjang. Kini giliran dia yang akan bermain dengan milik suaminya.
Terdengar geraman Reyhan ketika Ayunda memegang miliknya kemudian memainkannya. Apalagi ketika Ayunda melakukan gerakan seperti makan es krim, menj**at dan men**lum miliknya. Reyhan meracau saat merasakan kenikmatan itu. Walau awalnya merasa jijik, tapi begitu melihat reaksi suaminya, Ayunda malah bersemangat untuk membuat suaminya tambah meracau.
Reyhan merasa miliknya sudah akan menyemburkan lahar panas. Dia segera membalikkan keadaan. Tubuh Ayunda kini sudah berada di bawah kungkungannya lagi. Adik kecilnya menerobos kembali lembah sang istri yang tak pernah bosan untuk dijelajahi.
Ayunda melenguh ketika pinggul Reyhan bergerak cepat di atasnya. Deru nafas mereka saling bersahutan di tengah keringat yang bercucuran. Tak berapa lama kemudian terdengar lenguhan Ayunda dan geraman Reyhan ketika gelombang hangat menghantam mereka bersamaan.
Reyhan menjatuhkan dirinya di samping Ayunda. Nafas keduanya nampak tersengal. Dari sekian malam yang telah mereka lalui bersama, harus Reyhan akui ini adalah malam terpanjang dan terpanas mereka. Mungkin karena efek film jahanam yang mereka tonton sebelum mulai bermain.
Reyhan membopong tubuh Ayunda yang sudah tidak bertenaga ke kamar mandi. Setelah membersihkan sisa-sisa percintaan, mereka kembali ke kamar. Reyhan membaringkan Ayunda di kasur kemudian mengambilkannya minum. Dengan santainya Reyhan mondar-mandir tanpa benang sehelai pun. Ayunda pun sudah tak malu-malu lagi melihat tubuh polos suaminya. Malah terlihat menggemaskan menurutnya, seperti melihat bayi versi dewasa.
Reyhan mengambil bantal, guling dan selimut yang tergeletak di lantai. Kemudian dia merangkak naik ke kasur. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Ayunda membalikkan tubuhnya ke arah Reyhan. Membenamkan kepala ke dada bidang yang menjadi favoritnya kemudian mulai tertidur.
Reyhan menarik tubuh Ayunda lebih rapat padanya. Kemudian mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke puncak kepala dan kening sang istri. Tak lupa membisikkan kata cinta di telinganya walaupun sang empu sudah lebih dulu terlelap.
“Love you Ayang.”
🍁🍁🍁
**Mamake sedih banget pas nulis part Ayunda and Irzal🥺🤧
Tapi jadi hareudang begitu menjelang ending episode ini. Maklum abis mejeng depan kompor🤣
Hayoo jangan pada traveling ya, masih siang ini...🙊
Senin waktunya vote.. kalau berkenan kasih vote-nya buat mamake ya sama like and comment-nya jangan lupa😉**
__ADS_1