
Hai.. hai.. mamake mau promo lagi nih, novel mamake yg lain alias cerita dokter Arkhan sama Sena. Cuss mamake kasih bocoran episode 3👇
*********************************************
Selama seminggu berturut-turut Arkhan menghabiskan waktu makan siangnya di cafe Rembulan, baik sendiri atau ditemani oleh Fero. Tujuannya adalah mengamati lebih lanjut tentang Sena. Jujur saja, Arkhan memang tertarik dengan kecantikan Sena. Dia merasa tertantang untuk mendapatkan wanita itu sekaligus melakukan hal baru dalam hidupnya yang terkesan datar.
Siang ini Arkhan datang seorang diri. Dia memilih duduk di tempat favoritnya, di mana bisa mengamati dengan bebas pergerakan Sena. Seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Sebelum pergi Arkhan memberi pesan padanya.
“Katakan pada manajermu untuk menemuiku di sini.”
“Baik dok.”
Pelayan itu bergegas pergi dan menghampiri Sena yang sedang memeriksa stok barang di gudang. Setelah menerima pesan dari anak buahnya, Sena yang penasaran menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat kemudian kembali ke cafe. Dari kejauhan dia mengamati Arkhan yang sedang menikmati makanannya.
Seorang pria berusia awal tiga puluhan, memakai kemeja abu tangan panjang yang dilipat hingga ke siku. Kulitnya putih dan wajahnya juga tampan. Sena sudah beberapa kali melihatnya makan di cafe ini. Dia juga menebak kalau Arkhan adalah teman Fero karena kedapatan makan bersama dengan dokter anaknya beberapa kali.
Sena merapihkan penampilannya sebentar. Dipulas kembali wajahnya dengan bedak tipis, tak lupa membubuhkan lipstik di bibir seksinya. Setelah penampilannya dirasa sempurna Sena mendekati meja Arkhan.
“Permisi.”
Arkhan mendongakkan kepalanya, wajah tampan itu langsung terpampang nyata di hadapan Sena membuat dada wanita itu berdegup sedikit kencang.
“Apa tuan ingin bertemu dengan saya?”
“Silahkan duduk.”
Sena menarik kursi di depannya lalu duduk dengan anggunnya di hadapan Arkhan. Pria itu masih nampak tenang menikmati makanannya tanpa merasa tergganggu dengan kehadiran Sena.
“Minumlah, aku sengaja memesannya untukmu.”
“Maaf..”
“Minum saja, mubazir kalau tidak diminum.”
Dengan ragu Sena mengambil gelas di hadapannya lalu menyesapnya perlahan. Bagaimana pria itu bisa tahu kalau caramel machiato adalah minuman favoritnya. Itu yang ada dalam benak Sena.
“Sebenarnya tuan ada kepentingan apa dengan saya?”
Arkhan menyudahi makan siangnya. Dia mengusap sudut bibirnya dengan tisu, meneguk air mineral baru kemudian menanggapi pembicaraan Sena.
“Nama saya Arkhan Wijaya, saya salah satu dokter yang bertugas di rumah sakit sana,” Akhan menunjuk ke arah rumah sakit.
“Baik tuan Arkhan apa yang bisa saya bantu?”
“Jangan panggil tuan, saya tidak suka panggilan seperti itu.”
__ADS_1
“Baik pak Arkhan.”
“Saya punya penawaran untukmu.”
“Penawaran? Penawaran apa pak?”
“Yang pasti penawaran ini tidak hanya menguntungkan diriku tapi juga dirimu. Intinya kita berdua akan sangat menikmati hasil dari penawaran ini.”
“Oh ya? Penawaran seperti apa?”
Sena mulai tertarik dengan pembicaraan Arkhan. Terlebih Arkhan adalah sosok yang berbicara langsung pada inti masalahnya. Sena mengambil kembali gelas dihadapannya dan menyesapnya pelan.
“Aku menawarkanmu menjadi partner ranjangku.”
Sena hampir saja menyemburkan minuman dibaru saja disesapnya. Dengan pandangan penuh amarah dia melihat pada Arkhan. Ternyata tebakannya salah, wajah tampan itu hanyalah kedok dari kebejatannya.
“Apa anda bercanda pak Arkhan? Bapak pikir saya perempuan murahan yang bisa seenaknya anda booking untuk menuntaskan hasrat anda?”
“Jangan marah nona Sena. Sekali lagi saya tekankan kalau apa yang saya tawarkan adalah demi kepentingan kita berdua. Jadilah partner in bed saya dan saya akan memenuhi semua kebutuhanmu juga anakmu sampai kuliah nanti.”
“Cih, saya masih mampu untuk menghidupi diri dan anak saya dengan usaha sendiri tanpa harus menjual diri dengan pria mesum sepertimu.”
“Pikirkan sekali lagi penawaran saya ini. Selama menjalani hubungan ini, baik saya ataupun dirimu tidak diperkenankan menjalin hubungan apalagi berhubungan intim dengan orang lain. Kamu hanya perlu melayani diriku begitu pula dengan dengan diriku yang hanya akan menerima pelayananmu saja.”
“Apa kamu tidak merindukan sentuhan laki-laki nona Sena?”
“Kalaupun aku membutuhkan seorang pria untuk menyentuhku, aku akan memintanya untuk menikahiku bukan menjadikanku partner in bed seperti yang anda tawarkan. Maaf saya permisi.”
“Tunggu sebentar.”
Arkhan mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian mengambil sebuah kartu nama miliknya.
“Itu uang untuk membayar makananku dan ini kartu namaku. Simpan baik-baik, siapa tahu kamu berubah pikiran. Hubungi saja diriku.”
Arkhan bangun dari duduknya lalu melenggang pergi meninggalkan Sena yang masih dengan sejuta kekesalannya. Diremasnya kartu nama milik Arkhan hingga tak berbentuk.
“Dasar laki-laki gila!”
🍁🍁🍁
Sena kembali ke rumahnya dengan keadaan letih lahir dan batin. Terlebih pembicaraan dengan Arkhan benar-benar menguras emosinya. Dia masuk ke kamar Abi dan mendapati anaknya sudah tertidur pulas. Nadya mengabarkan kalau tubuh Abi sedikit hangat dan sudah diberi obat penurun panas.
Sena melangkahkan kakinya menuju kamar Nadya yang terletak di bagian belakang. Semenjak menjadi pengasuh tetap Abi, Nadya memang ikut tinggal di rumah warisan Winda. Setelah mengetuk pintu tak lama pintu terbuka, muncul Nadya yang sudah mengenakan piyamanya.
“Sudah makan Nad?”
__ADS_1
“Sudah kak. Kakak baru pulang?”
“Iya hari ini cafe ramai sekali. Apa tadi kang Bima ke sini?”
“Iya kak, dia mengajak Amira ke sini katanya istrinya sedang dinas keluar kota.”
“Hmm.. Nad, bisa kita bicara sebentar?”
“Boleh kak.”
Sena mengajak Nadya berbicara di teras belakang. Udara kota Bandung malam ini cukup panas, hingga Sena memilih berbicara di luar rumah sambil mencari udara segar.
“Ada apa kak?”
“Apa kamu berhubungan dengan kang Bima?”
“Hmm...”
Nadya tampak bimbang untuk menjawab. Jika dijawab jujur, dia takut kalau Sena marah tapi bohong pun rasanya percuma karena sepertinya Sena sudah mengendus hubungan terlarangnya dengan Bima.
Bima yang hampir tiap hari datang ke rumah dengan alasan melihat keadaan Abi sedikit demi sedikit mulai mendekati Nadya. Apalagi Amira, anaknya yang baru berusia tiga tahun cukup dekat dengan Nadya. Hingga terkadang Bima menggunakan Amira sebagai alasan untuk bertemu Nadya, gadis yang tahun ini genap berusia 20 tahun.
“Kakak ngga melarang dan ngga menyetujui hubungan kalian. Tapi kakak cuma mau berpesan sama kamu Nad. Jangan sampai kamu menyesal karena mengorbankan masa muda kamu untuk lelaki yang kamu tahu sudah berkeluarga. Jangan sampai kamu menyesal seperti kakak, yang harus hamil muda dan menghidupi sendiri Abi tanpa ayahnya. Kamu tahu kan jalan hidup kakak.”
“Iya kak, Nadya paham. Tapi Nadya juga ngga bisa nahan perasaan ini, kalau Nadya mencintai kang Bima.”
“Mencintai boleh tapi jangan sampai bertindak bodoh. Jaga kesucianmu, kang Bima itu pria yang sudah menikah, kebutuhannya berbeda dengan lelaki yang belum menikah. Kamu pasti mengerti kan maksud kakak?”
“Iya kak, makasih sudah mengingatkan Nadya.”
“Iya, buat kakak, kamu bukan pengasuh Abi tapi adik kakak. Kakak masuk dulu ya mau istirahat.”
“Iya kak, istirahat yang cukup.”
Sena tersenyum ke arah Nadya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Sena merebahkan tubuhnya ke atas kasur, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Ingatannya kembali tertuju pada pembicaraannya dengan Arkhan.
Apa kamu tidak merindukan sentuhan laki-laki.
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Sena hingga wanita itu bangun dan berteriak kesal. Sepertinya ucapan Arkhan sudah mengkontaminasi otaknya. Sena bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia perlu membersihkan pikirannya sebelum terpengaruh oleh ucapan Arkhan.
🍁🍁🍁
Kira² Sena terima penawaran gila dokter Arkhan ngga ya?
Yang mau tahu kelanjutannya cuss ikutin aja di Gonovel ya gaaeeesss. Di sana juga gratis, ngga perlu buka gembok, ngga perlu beli koin. Di sana kisah dokter Arkhan sudah 20 episode.
__ADS_1