Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE The Begining


__ADS_3

Dua tahun berlalu, kini Ayunda sudah berusia 21 tahun. Kuliahnya pun sudah memasuki tingkat akhir. Besok dia akan memulai masa magangnya. Selama dua tahun berjalan, tak bisa dipungkiri kalau perasaannya pada Firlan terus tumbuh berkembang tanpa dapat ditahan. Terlebih setahun belakangan ini dia mengetahui kalau Firlan sudah putus dari Salsa. Perasaan yang sempat hendak padam kembali berkobar. Namun Firlan sepertinya masih belum bisa move on dari mantan kekasihnya itu.


Atas saran Nara, Ayunda mengajukan diri magang di Gala Corp. Cinta itu butuh perjuangan, itu yang dikatakan Nara, sahabat sekaligus sepupunya. Selain itu, Gara juga berjanji akan membantunya. Dia tak ingin melihat sahabatnya itu terus terpuruk memikirkan sang mantan yang sudah terbang jauh.


Ayunda sedang menyiapkan pakaian untuknya besok. Beberapa stel pakaian teronggok di kasurnya. Dia masih bingung memilih pakaian yang akan dikenakannya. Di Gala Corp, pemagang memang diperkenankan memakai pakaian bebas, bukan hitam putih. Saking sibuknya, dia tak menyadari kehadiran Elang yang menatapnya sambil bersender di pintu.


Tahu adiknya tak kunjung sadar dengan kehadirannya, Elang masuk lalu mendudukkan diri di sisi ranjang. Ayunda terkejut melihat kedatangan sang kakak. Dia pun ikut duduk di samping Elang.


“Kamu udah mulai magang besok?”


“Iya mas.”


“Yakin mau magang di sana? Ngga mau magang di kantor bareng mas?”


“Iya mas. Yunda mau ngerasain kerja di tempat orang lain.”


“Ngerasain kerja di tempat orang lain atau mau pedekate sama Ilan?”


Ayunda hanya memperlihat cengiran kudanya. Kakaknya yang satu ini memang tidak mudah dikadali seperti Farel.


“Kamu ngga cape nungguin Ilan ngelihat kamu? Dia itu tipe orang yang susah move on. Kalau mau dia udah berapa kali ganti pacar, tapi dari SMA cuma satu cewek yang dia suka dan tunggu, Salsa. Mas cuma ngga mau kamu ngerasain sakit yang sama seperti mas atau Rain. Bersyukur akhirnya bang Akhtar membalas perasaan Rain. Tapi kalau Ilan ngga bisa ngebales perasaan kamu gimana coba?”


“In Syaa Allah aku akan baik-baik aja mas. Kalau setelah magang ini, mas Ilan masih belum sadar soal perasaanku, aku janji akan melupakannya. Walaupun sulit tapi aku akan berusaha move on secepatnya, seperti mas yang akhirnya bisa bahagia sama kak Kia.”


Elang mengusap puncak kepala adiknya ini. Ayunda menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. Semenjak Elang menikah, Ayunda sudah jarang bermanja pada kakaknya, demi menjaga perasaan kakak iparnya. Tapi malam ini, dia sangat ingin bermanja di bahu Elang. Seakan ingin mendapatkan kekuatan untuk esok hari dan seterusnya. Karena perjuangan yang sesungguhnya untuk mendapatkan Firlan dimulai besok.


“Mas harap kamu jangan hanya terpaku menatap Ilan. Lihatlah sekelilingmu, buka mata dan telinga lebar-lebar. Ada laki-laki lain yang mencintaimu dan menunggumu melihat ke arahnya.”


“Siapa mas?”


“Cari tahu sendiri.”


“Ish mas El. Kasih bocoran dikit napa, pelit amat.”


“Mas ngga berhak kasih tahu kamu. Tunggu sampai dia sendiri yang mengatakannya padamu atau kamu sendiri yang menyadarinya. Makanya jangan terus lihat Ilan, kamu jadi ngga ngeh dengan sekelilingmu.”


“Ganteng ngga mas? Kira-kira aku kenal ngga?”


“Yang pasti lebih ganteng dari mang Ihin.”


“Idih bandinginnya jangan sama mang Ihin dong.”


Ayunda protes ketika pengagum rahasianya disamakan dengan mang Ihin, tukang pijat langganan Irzal. Elang hanya tergelak melihat wajah cemberut adiknya.


“Dek, sabtu besok kamu ada acara ngga?”


“Ngga. Kenapa emang?”


“Nitip Aslan ya. Mas mau kencan sama bundanya Aslan.”


“Boleh, tapi DP dulu,” Ayunda menengadahkan tangannya ke arah Elang.


“Tar mas transfer.”


“Asik.”


Wajah Ayunda nampak berbinar. Walaupun dia sudah diberi uang bulanan yang cukup oleh kedua orang tuanya, namun mendapatkan jatah dari kedua kakaknya itu sesuatu yang menyenangkan. Elang dan Farel memang kerap mentransfer uang jajan untuk adiknya itu setiap bulannya.

__ADS_1


Elang bangun dari duduknya kemudian keluar dari kamar sang adik. Ayunda kembali ke kegiatannya semula. Setelah memilih pakaian yang akan dikenakannya esok hari, dia memasukkan kembali pakaian ke dalam lemari. Setelah itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya menatap langit-langit kamar, otaknya berputar memikirkan ucapan Elang barusan.


Siapa ya orang yang dibilang mas El. Oh My God gue punya pengagum rahasia juga ternyata. Tapi siapa ya? Apa bang Virza atau bang Jay. Dih ogah banget kalau bang Jay, cowok pecicilan gitu.


🍁🍁🍁


Di malam yang sama, Firlan juga sedang termenung di balkon kamarnya. Sebatang rokok menempel di sela-sela jarinya. Semenjak putus dengan Salsa, Firlan memang mulai menghisap barang bernikotin itu walau tidak terlalu sering. Ingatannya tertuju pada kejadian setahun lalu, di mana Salsa memutuskan secara sepihak menerima tawaran pekerjaan di negeri paman Sam. Firlan memilih mengakhiri hubungan karena Salsa tak ingin menjalin hubungan jarak jauh.


Flashback On


Tidak biasanya Salsa meminta menghabiskan waktu akhir pekan di apartemen milik Ega. Bahkan gadis itu juga membuatkan masakan istimewa untuk sang kekasih. Firlan menghampiri Salsa yang masih memasak. Dipeluknya tubuh ramping sang kekasih dari belakang. Salsa membalikkan badannya, tangannya melingkar di leher Firlan.


“Masak apa sih bi?”


“Udah ngga sudah banyak nanya, tunggu aja di sana.”


Salsa mengecup bibir Firlan lalu mendorong tubuhnya. Firlan mengikuti kemauan sang kekasih dengan berjalan menuju ruang tengah kemudian menyalakan televisi. Salsa dengan cepat menyelesaikan masaknya lalu menata di meja makan. Sepuluh menit kemudian dia memanggil Firlan untuk makan bersama.


Tak banyak pembicaraan yang dilakukan selama makan malam berlangsung. Hanya tangan keduanya yang saling menaut. Firlan begitu menikmati masakan Salsa yang rasanya terbilang enak.


Seusai makan malam, Salsa mengajak Firlan ke balkon. Ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan. Sepuluh menit berlalu, namun Salsa masih belum membuka mulutnya. Firlan memeluk bahu Salsa dari belakang. Menyandarkan kepala kekasihnya itu ke dadanya.


“Kamu mau bicara apa?”


Salsa terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan keberanian dan menguatkan hati mengatakan hal yang sedari tadi dipendamnya. Salsa berbalik menghadap ke arah Firlan. Ditangkupnya kedua pipi kekasihnya ini lalu mendaratkan ciuman di bibirnya. Firlan menarik tengkuk Salsa, bibirnya menyesap dalam bibir kekasihnya itu. Setelah beberapa saat Firlan mengakhiri ciumannya. Tangan Firlan melingkari pinggang Salsa.


“Ada apa hmm?”


“Lan.. aku... aku dapet tawaran kerjaan di LA.”


“LA? Lenteng Agung maksudnya?”


“Aku serius Lan. Aku dapet tawaran kerja di salah satu perusahaan besar di LA. Dan aku mutusin buat terima kerjaan itu.”


“Ok, terus?”


“Kamu ngga keberatan? Kita kan akan berjauhan.”


“Kamu bisa pulang saat libur atau aku yang ke sana. Atau aku juga bisa minta ke papi buat urus hotel yang ada di sana.”


“Emang papi bakal setuju?”


“Hmm.. tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“Kita nikah dulu baru papi ijinin aku pergi keluar negeri temenin kamu.”


Salsa melepaskan pelukannya di leher Firlan kemudian beranjak menjauh. Dia memilih berdiri di dekat pagar balkon. Pandangannya menatap jauh ke depan. Firlan jalan mendekat.


“Kenapa? Kamu ngga mau nikah sama aku?”


“Bukan begitu Lan. Tapi aku udah tanda tangan kontrak selama lima tahun ngga akan menikah dulu.”


“Kamu tanda tangan kontrak kerja tanpa bilang dulu ke aku? Kamu anggap apa aku selama ini Sa? Terus apa gunanya pembicaraan ini kalau ternyata kamu udah ambil keputusan?”


Emosi Firlan mulai tersulut. Sejak mereka duduk di bangku SMA, Firlan selalu menjadi orang yang menunggu Salsa. Bahkan ketika gadis itu memutuskan kuliah di Amerika, Firlan masih setia menunggunya. Baru dua tahun mereka menjalani masa pacaran, karena sebelumnya hanyalah hubungan tanpa status. Salsa yang masih berada di luar negeri enggan berkomitmen dengan alasan tak percaya dengan LDR.

__ADS_1


“Maaf Lan, tapi aku harap kamu mengerti keputusanku. Aku ingin mengejar karirku, aku harap kamu mau mendukungku.”


“Kapan aku tidak mendukungmu Sa? Kapan? Aku selalu mendukungmu. Setiap keputusan yang kamu ambil tanpa melibatkanku, aku selalu mendukungmu. Tapi sekarang sudah keterlaluan. Kamu setuju kontrak lima tahun tanpa menikah, sedangkan dua bulan lalu kita sudah membicarakan soal pernikahan. Kamu sama sekali ngga menghargai aku Sa!”


“Aku ngga tahu kalau akan mendapat penawaran seperti ini. Lagi pula umur kita masih terlalu muda untuk menikah.”


“Lalu sekarang apa maumu? LDR?”


“Kamu tahu aku ngga percaya dengan LDR. Kita break aja dulu Lan, seperti dulu.”


“Kamu mau kita menjalani hubungan tanpa status lagi? Membuatku menunggu lagi, begitu?”


“Kamu tidak mau menungguku Lan? Aku pikir kamu mencintaiku.”


“Aku mencintaimu Sa. Tapi kamu terlalu egois, kamu selalu memintaku untuk menunggumu. Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku.”


Firlan pergi dari balkon, otak dan hatinya benar-benar panas saat ini. Salsa mengejarnya lalu memeluknya dari belakang. Dia mulai terisak dibalik punggung Firlan. Sungguh perasaan Salsa masih dalam untuk Firlan tapi dia juga tak rela melepas impiannya begitu saja.


“Batalkan kontrak itu.”


“Aku akan kena penalty.”


“Aku yang akan membayar penalty-nya. Aku juga masih sanggup menghidupimu tanpa kamu harus bekerja.”


“Aku ngga mau. Aku ngga mau hanya menjadi ibu rumah tangga yang hanya diam di rumah menunggu suami pulang bekerja. Kamu tahu itu sejak dulu Lan."


Firlan menghela nafasnya panjang. Dilepaskannya pelukan Salsa di perutnya lalu berbalik ke arah kekasihnya itu. Wajah Salsa sudah basah dengan airmata. Hati Firlan sedikit melunak melihat tangisan Salsa. Jarinya terulur menghapus buliran bening di pipi Salsa.


“Kamu bisa bekerja di kantor bersamaku.”


“Tapi impianku di LA.”


“Lalu apa keputusanmu? LDR atau break? Kalau kamu memilih break, aku tidak akan menunggumu lagi. Kita akhiri semua malam ini.”


Salsa menatap intens pada Firlan. Airmatanya kembali menggenang. Salsa mendekatkan wajahnya pada Firlan kemudian memagut bibir kekasihnya dengan dalam. Awalnya Firlan hanya diam tak ingin membalas. Tapi sesapan dan l**at*n Salsa yang intens pada bibirnya membuat Firlan menyerah.


Firlan balas memagut bibir Salsa, bahkan kini lidahnya sudah masuk ke dalam rongga mulut kekasihnya itu. Lidah keduanya saling menaut dan membelit membuat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Tanpa sadar Firlan menelusupkan tangannya ke dalam blouse Salsa. Tangannya meremat bukit kembar yang ada di dalamnya. Sebuah ******* lolos dari bibir Salsa.


Situasi keduanya semakin memanas. Salsa mendongakkan kepalanya, memberikan ruang pada Firlan untuk menyesap leher jenjangnya. Tangan gadis itu kemudian bergerak ke arah bawah, menyentuh bagian paling sensitif kekasihnya. Firlan tersadar, kemudian mendorong tubuh Salsa menjauh darinya.


“Hentikan Sa!”


“Kenapa Lan? Ayo kita lakukan malam ini. Aku rela memberikannya padamu malam ini.”


“Kamu gila Sa. Kita ngga bisa ngelakuin ini.”


Salsa tak mendengar ucapan Firlan. Dia kembali mendekat lalu menyambar bibir Firlan lagi. Kali ini Firlan tak terbuai, dengan cepat dia mendorong tubuh Salsa. Gadis itu menatap nanar padanya.


“Jangan munafik Lan. Kamu juga menginginkannya!”


“Iya aku memang menginginkannya! Tapi bukan dengan cara seperti ini Sa. Aku tahu, kamu lakukan ini supaya aku mau menunggumu kan? Kamu benar-benar egois Sa. Pulanglah, aku membebaskanmu melakukan apapun yang kamu inginkan. Kamu bisa pergi ke LA untuk mengejar impianmu. Aku tidak akan menahanmu. Hubungan kita berakhir malam ini.”


Salsa hendak mendekat kembali tapi Firlan mengangkat tangannya, membuat langkah gadis itu terhenti. Kemudian Firlan masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu dengan kencang. Tangis Salsa pecah, sungguh bukan ini yang diinginkannya. Dia hanya ingin mengejar impiannya dan meminta Firlan menunggunya sampai kontraknya selesai.


Salsa mengambil tas dan mantelnya seraya melirik pintu kamar yang tertutup rapat, kemudian berjalan keluar apartemen. Dengan airmata berderai dia meninggalkan Firlan dengan sejuta kekecewaannya.


Flashback Off

__ADS_1


**Cerita dimulai dua tahun kemudian ya. Semuanya dalam posisi jomblo, baik Firlan atau Reyhan punya kesempatan yang sama buat berjuang. Tinggal Ayunda memantapkan hati mau melabuhkannya kemana.


Jangan lupa ya buat terus dukung mamake, like, comment, vote 😉**


__ADS_2