
Terdengar dengusan kasar nafas Firly sesaat setelah gadis itu mengakhiri panggilannya dengan Sisil. Sahabat barunya itu mengatakan hal yang tengah menimpa Dimas, perihal kerugian cafe dan restoran yang dialaminya. Perasaannya Firly tak enak, entah mengapa dia merasa maminya ada di balik ini semua. Setelah menimbang-nimbang sebentar, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kantor Dimas.
Firly berlari menuju mobilnya. Tak menunggu lama dia langsung tancap gas. Sekilas matanya melirik ke arah spion. Di belakangnya sebuah avanza hitam setia mengikutinya sedari tadi. Firly menambah kecepatan mobilnya, demikian pula kendaraan di belakangnya. Sesampainya di dekat pos gatur, mendadak dia menginjak rem. Suara berdecit langsung terdengar saat kendaraannya berhenti.
Firly turun dari mobil, setengah berlari dia menuju avanza hitam yang ikutan berhenti. Dia mengetuk keras kaca jendela. Tak ada reaksi dari penumpang di dalam. Firly kembali mengetuk, membuat dua orang polisi yang berjaga curiga. Kedua petugas itu mendekati Firly.
Tok.. tok.. tok..
“Buka!! Buka ngga??!! Atau mau gue hancurin nih kaca mobil!!”
Kedua penumpang itu bergeming. Firly yang sudah kesal mengambil batu berukuran cukup besar. Saat akan menabrakkan batu tersebut ke kaca jendela, kedua polisi itu segera menahannya.
“Eh.. dek.. dek.. sabar.. ada apa ini?” salah seorang petugas segera mengambil batu dari tangan Firly.
“Suruh orang itu keluar pak. Mereka buntutin saya dari keluar rumah, mereka pasti punya maksud jahat.”
Sadar situasi sudah tidak memungkinkan untuk mereka, kedua orang suruhan Alea segera menghidupkan mobilnya kembali. Namun Firly segera berlari ke arah depan mobil dan menghalanginya. Polisi yang masih bersama Firly mengetuk kaca mobil, meminta penumpang mobil untuk turun. Tak punya pilihan kedua orang itu turun dari mobil.
“Apa benar bapak mengikuti gadis ini?”
“Ngga pak. Kebetulan kita memang searah.”
“Bohong!! Dibayar berapa kalian sama mami buat mata-matain aku hah??!!”
“Maaf dek, kayanya adek salah paham.”
“Ok kalau kalian ngga mau ngaku. Awas aja kalau kalian berani ngikutin gue lagi!”
Firly bergegas kembali ke mobilnya lalu melesat meninggalkan orang suruhan Alea yang masih berhadapan dengan polisi. Melihat Firly telah pergi, kedua orang itu hendak menyusul tapi ditahan oleh petugas.
“Kalian mau kemana? Urusan kita belum selesai.”
“Maaf kami ada keperluan.”
“Mengejar gadis tadi begitu?”
“Ti.. tidak pak.”
“Kalau tidak pinggirkan mobil kalian dan perlihatkan surat-surat kendaraan beserta SIM.”
Untungnya sang petugas melihat gelagat mencurigakan dari dua lelaki ini hingga menahan mereka lebih lama. Kedua orang itu hanya pasrah mengikuti kemauan petugas. Sudah bisa terbayang mereka akan kembali menerima amukan Alea.
Setelah terbebas dari penguntitnya, Firly mengarahkan kendaraannya ke kantor Dimas. Setelah menyerahkan kunci mobil pada satpam untuk diparkirkan, Firly bergegas naik ke lantai 9. Firly nampak tidak sabar berada di dalam lift yang terasa bergerak begitu lambat. Begitu pintu lift terbuka, dia segera menghambur keluar. Saking terburu-burunya dia tak menghiraukan sapaan Arini padanya. Dihentakkannya pintu ruangan dengan cukup keras, mengejutkan Dimas dan Ringgo yang tengah berbicara.
“Ily.”
“Om, apa bener kalau sekarang om lagi ada masalah di perusahaan?”
“Kamu dapet kabar dari mana?” Dimas berusaha untuk santai walaupun dia cukup terkejut Firly mengetahui permasalahannya.
__ADS_1
“Jawab om, apa bener?”
“Iya, Ly,” bukan Dimas yang menjawab tetapi Ringgo. Dimas menatap kesal pada Ringgo yang tak bisa menjaga mulutnya.
“Seberapa besar masalahnya om?”
“Besar banget Ly, kalau begini terus bisa-bisa dia bangkrut.”
“Nggo!!” Dimas membentak Ringgo. Firly mendekat pada Dimas, menatapnya lekat seraya memegang kedua tangannya.
“Apa ini semua ada hubungannya sama mami?”
“What?? Serius Dim ini semua gara-gara maminya dia?” kini Ringgo yang terkejut dengan ucapan Firly.
“Nggo, mendingan lo keluar dulu deh. Pusing gue denger ocehan lo dari tadi. Ly, duduk dulu, kita bicara.”
Walau enggan tapi Ringgo menyeret juga kakinya keluar dari ruangan itu. Firly menuruti perintah Dimas, dia duduk di sofa diikuti oleh Dimas.
“Om tolong jujur, apa bener mami ada dibalik ini semua?”
“Kamu tahu dari mana soal masalah om? Apa Sisil yang kasih tahu kamu?” Firly terdiam, melihat itu Dimas yakin sekali kalau tebakannya benar.
“Om, tolong jujur sama Ily, apa benar mami yang melakukan ini semua? Om bilang kita harus berjuang bersama, jadi tolong jujur om. Kalau memang mami yang melakukannya, maka tugas Ily untuk mengingatkan mami. Apa papi tahu soal ini?”
“Sepertinya papi kamu ngga tau Ly.”
“Papi harus tahu om. Dia harus tahu apa yang udah mami lakuin. Sebagai suami, papi wajib mengingatkan istrinya kalau berbuat salah.”
“Janji om? Kalau om diam itu sama aja om membiarkan mami terjerumus dalam kesalahannya.”
“Iya Ily, om akan urus ini secepatnya. Tapi masalah ini ngga sesederhana yang kamu pikirkan. Ada orang lain yang terlibat di dalamnya. Dan tujuan orang itu bukan kita, tapi mami kamu. Kalau om bertindak gegabah tanpa bukti, yang ada mami kamu malah akan semakin terikat dengan orang itu.”
“Siapa om? Siapa orang itu?”
“Tamara Handoyo, dia mantan istri om Andika.”
“Om Andika kakaknya mami?” Dimas mengangguk, Firly bertambah bingung.
“Sekarang kamu pulang dan jangan mikir apa-apa. Om harus pergi, ada yang harus om bereskan.”
“Tapi om...”
“Pulang sayang, tolong jangan tambah beban pikiran om.”
Firly mengalah, dengan enggan dia bersiap untuk pulang. Dimas mengambil kunci mobilnya dan beberapa berkas, kemudian merangkul Firly keluar dari ruangan. Ringgo dan Arini sudah bersiap dan segera bergabung dengan pasangan itu.
Dimas menunggu Firly pergi dengan kendaraannya, baru kemudian masuk ke mobilnya. Hari ini dia berencana mendatangi cafenya yang mengalami kerugian. Sedangkan Firly tidak langsung pulang. Dia memutuskan untuk bertemu dengan Elang, Farel dan Jayden di suatu tempat. Hanya ketiga orang itu yang dianggapnya dapat membantu masalah yang dihadapinya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Sebuah Toyota Camry putih memasuki pekarangan rumah bercat putih. Poppy dan Ara turun dari dalamnya. Wanita cantik itu baru saja menjemput keponakannya pulang sekolah. Ara bergegas masuk ke dalam rumah karena sudah tak kuat menahan panggilan alam yang sedari tadi ditahannya.
Tak berapa lama BMW M3 milik Alea melintas kemudian berhenti di depan rumahnya. Poppy mengurungkan niatnya masuk ke dalam rumah. Dia memilih menghampiri Alea terlebih dulu. Semenjak Dimas mengungkapkan perasaannya tentang Firly, Poppy belum sempat bertemu Alea.
“Al,” langkah Alea tertahan ketika mendengar panggilan Poppy.
“Kamu sibuk banget ya, sampe jarang ketemu padahal rumah kita sebelahan,” Poppy melemparkan senyum manisnya.
“Iya, aku sibuk.”
“Bisa bicara sebentar Al? Ada yang ingin kubicarakan soal Dimas dan Ily.”
“Wah kebenaran banget kak, aku juga mau bicara soal itu. Tolong katakan pada Dimas berhenti mengharapkan Ily, sampai kapan pun aku ngga akan merestui mereka. Sampai sekarang aku ngga habis pikir, bagaimana Dimas bisa tidak tahu malunya jatuh cinta pada Ily. Tolong sadarkan dia, apa pantas Ily yang masih muda bersanding dengan dirinya yang sudah berumur, belum lagi dia duda beranak satu. Apa dia tidak bisa menemukan perempuan lain atau dia punya kelainan.”
Poppy mengepalkan tangannya erat. Sebelumnya dia sudah memprediksi kalau akan ada penolakan dari Alea juga Ega. Tapi mendengarnya berbicara secara langsung dan terang-terangan menghina adiknya, rasa marah dan sakit tak bisa dihindarinya.
“Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, like mother like daughter. Aku sarankan, bercerminlah Al. Kelakuanmu saat ini mengingatkanku pada seseorang. Aku harap sikapmu ini tidak menyakiti anakmu. Harusnya kamu beruntung Ily dicintai oleh lelaki seperti Dimas, kamu dan Ega tahu persis bagaimana kepribadiannya.
Aahh.. ya, semua nilai plus dia saat ini tidak berarti di mata kalian. Karena yang nampak bagi kalian saat ini adalah usia dan statusnya saja. Jika sekali lagi kudengar kamu menghina Dimas, maka aku akan merobek mulutmu dengan tanganku sendiri.”
Sambil menahan marah, Poppy kembali ke rumahnya. Namun baru saja beberapa langkah suara Alea kembali terdengar.
“Katakan juga pada Dimas, apa yang terjadi pada cafe dan restorannya adalah permulaan. Jika dia masih terus bersikeras dengan Ily, maka aku akan menghancurkannya tanpa bersisa.”
“Lakukan saja jika kamu berani. Jika itu terjadi, maka aku yang akan menghancurkanmu terlebih dulu. Ingat Al, aku bisa dengan mudah membuat Gala Corp hancur. Dengan kemampuanku dan dukungan suamiku, aku akan membuat kalian hancur berkeping-keping, camkan itu!” Poppy balik mengancam Alea, kemudian berlalu meninggalkannya.
Poppy masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal. Diambilnya ponsel yang berada di tas kemudian menghubungi Arini. Dia harus mencari tahu apa yang terjadi dengan Dimas. Setelah deringan ketiga, Arini mengangkat panggilannya.
“Halo Rin, kakak mau tanya apa ada masalah dengan cafe dan restoran Dimas?”
Terdengar suara Arini dari seberang menceritakan permasalahan yang dialami Dimas. Poppy bertambah geram begitu mendengar penjelasan Arini. Setelah mengakhiri panggilannya, Poppy memutuskan menelpon Katrina.
“Halo Kat, apa Dimas meminta tolong pada Bimo soal masalah di cafenya?”
“Iya kak, mas Bimo sudah mengatakannya pada Dimas.”
“Ya sudah. Tolong hubungi Bimo, aku akan ke kantor sekarang. Minta dia bawa semua data yang sudah didapat dan temui saya di lobi kantor.”
“Baik kak.”
🍁🍁🍁
**Nah loh macan betina udah bangun tuh. Poppy mulai menabuh genderang perang, siap2 ya Al. Kalian ada di team mana nih? Poppy atau Alea?
Jangan lupakan ya
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Love you all😍😍😍**