Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Pria Otoriter


__ADS_3

Pasca akad nikah, kedua pengantin masih tinggal terpisah. Farel tetap di kediaman Irzal, dan Ara masih tinggal di rumah Dimas. Ara ingin menghabiskan waktu bersama kedua adiknya, Gemma dan Gavin sebelum keberangkatan mereka ke Madrid esok hari. Mereka makan malam bersama dengan formasi lengkap yang akhir-akhir ini jarang mereka lakukan.


Malamnya, Ara memilih tidur bersama Gemma dan Gavin. Dalam waktu enam bulan, Ara akan kehilangan dua adiknya yang selalu membuatnya gemas. Gemma dan Gavin juga sangat menyayngi Ara, terbukti seharian ini mereka enggan berada jauh dengan kakaknya itu.


Pagi harinya mereka sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Irzal meminjamkan jet pribadinya karena ingin kedua keponakannya merasa nyaman selama perjalanan panjang menuju benua putih itu.


Suasana haru kembali terjadi di bandara. Ara tidak mau melepaskan pelukannya dari Dimas. Aslan bahkan menangis begitu tahu kedua paman kecilnya itu akan berpisah darinya. Elang menggendong Aslan untuk menenangkan anaknya.


Sementara itu, Farel memandangi Ara yang sedari tadi tidak mau melihat ke arahnya. Ayunda mengusap lengan Farel yang hanya dibalas senyuman tipis dari pria itu.


Waktu keberangkatan telah tiba. Dengan berat hati Ara melepaskan keluarganya pergi. Sebisa mungkin gadis itu menahan tangisnya. Biasanya di saat seperti ini ada Farel yang akan menenangkannya. Namun status yang berubah di antara keduanya otomatis membuat hubungan keduanya juga berubah. Ada kecanggungan yang meliputi keduanya.


Setelah pesawat yang ditumpangi Dimas tinggal landas, semua yang mengantar kembali pulang. Ara yang awalnya akan ikut dengan Poppy segera ditarik Farel masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu tak punya kuasa untuk menolaknya. Bagaimana pun juga Farel sudah menjadi suaminya sekarang.


Suasana sunyi melingkungi atmosfer di dalam mobil. Baik Farel maupun Ara tak ada yang berniat membuka suara. Ara hanya mengarahkan wajahnya ke jendela samping. Setelah beberapa menit berjalan, dia mulai menyadari kalau jalan yang dilalui bukanlah jalan menuju kompleks rumahnya.


Ingin rasanya Ara bertanya, tapi nyatanya dia tetap bungkam sampai akhirnya mobil yang dikendarai Farel memasuki area town house yang di dalamnya hanya terdapat 20 unit rumah saja. Semua bangunan di kompleks ini hampir serupa, dengan mengedepankan tipe bangunan minimalis. Mobil Farel berhenti di depan sebuah rumah bercat abu.


Tanpa bicara, Farel turun dari mobil dan setelahnya Ara ikut menyusul. Ara hanya memandangi Farel yang tengah memasukkan anak kunci kemudian memutarnya. Ketika pintu terbuka, nampaklah satu set sofa tertata rapi di ruang tamu yang ukurannya tidak terlalu besar.


Mata Ara memandangi seisi rumah. Sebuah rumah bergaya minimalis yang memiliki tiga buah kamar tidur. Satu di bawah yang merupakan kamar utama, lalu dua lainnya berada di lantai atas. Ruang tengah menyatu dengan ruang makan dan dapur yang hanya dibatasi oleh nakas setinggi pinggang orang dewasa. Di sisi kanan ruang tengah terdapat sebuah pintu geser yang terbuat dari kaca. Pintu ini terhubung pada taman kecil di belakang rumah.


“Ini rumah siapa?” akhirnya pertahanan Ara jebol juga. Dia tak bisa menahan rasa keingintahuannya karena Farel tak kunjung berbicara.


“Rumah kita.”


Sontak Ara melihat ke arah Farel ketika mendengar kata rumah kita. Ada sedikit kehangatan menjalari hatinya.


“Kita bakal tinggal di sini?”


“Iya.”


“Berdua aja?”


“Iya. Apa kamu mau ngajak satpam di depan sana tinggal sama kita?”


Ara mendesis sebal mendengar jawaban asal Farel. Mendadak hati Ara mulai resah. Dia harus tinggal berdua dengan Farel, yang artinya mereka akan tidur sekamar dan mungkin laki-laki itu akan menuntut haknya sebagai suami.


“Ara.. mari kita bicara.”


Farel melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di ruang tengah lalu mendaratkan bokongnya di sana. Ara mengikutinya duduk di sana, namun dengan jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


“Sekarang abang suamimu, yang artinya abang yang akan bertanggung jawab akan kehidupanmu mulai sekarang. Kamu tetap bisa beraktivitas seperti biasa tapi harus seijin abang. Kamu bisa bersekolah seperti biasanya.”


“Kita beneran cuma tinggal berdua? Kenapa ngga ajak bi Parmi aja?”


“Siapa yang akan menjaga rumah papa kalau bi Parmi diajak ke sini.”


“Terus siapa yang bakal bersihin rumah ini dan masak.”


“Ya kamulah.”


“Apa???”


Seumur hidupnya Ara belum pernah mengepel. Kalau menyapu atau cuci piring, sudah sering dilakukan. Tapi mengepel, itu adalah pekerjaan yang paling dihindarinya. Baru membayangkannya saja, sudah membuat Ara bergidik. Dan memasak, oh Ara tidak pernah melakukannya. Bahkan untuk memasak air saja, gadis itu mungkin akan membuat panci gosong.


“Dengar Ara, tugas kamu membersihkan rumah, memasak, mencuci, menyetrika dan menyiapkan pakaian untuk abang.”


“Ara bukan pembantu!”


“Kamu memang bukan pembantu, tapi kamu adalah istri abang. Semua yang abang sebutkan tadi adalah tugasmu sebagai seorang istri. Lagi pula rumah ini tidak besar, kamu bisa melakukannya seorang diri. Kalau libur, abang juga akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah.”


“Tapi Ara ngga mau tidur sekamar. Ara mau pisah kamar!”


“Abang juga ngga boleh nyentuh Ara!”


“Ngga masalah. Tapi kamu juga ngga boleh nyentuh abang.”


Ara berdecih, untuk apa dia menyentuh Farel, membayangkannya saja tidak. Ara menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan kegugupannya. Berada berdua saja di rumah bersama Farel membuatnya sedikit tak nyaman.


“Terus buat uang sakuku gimana?”


Ara sebenarnya enggan menanyakan hal ini. Tapi apa boleh buat, bisa apa dia tanpa uang sepeser pun. Sebelum pergi, Dimas sudah mencabut semua fasilitasnya, termasuk ATM yang berisi uang saku bulanannya.


“Setiap harinya abang akan kasih kamu uang saku seratus ribu, di luar uang belanja. Itu untuk kamu jajan dan ongkos ke sekolah. Kamu ngga akan diantar jemput supir, kamu bisa pergi naik angkot atau ojek online. Kalau kamu butuh sesuatu atau ingin membeli sesuatu, bilang sama abang.”


Ara ternganga dibuatnya, kenapa hidupnya jadi seperti ini. Keuangannya dibatasi, ditambah harus melakukan pekerjaan rumah, membuat Ara semakin membenci Farel. Ingin rasanya dia mencakar-cakar wajah suaminya itu.


“Kenapa? Kamu mau protes? Harusnya kamu bersyukur abang tidak memintamu melayani abang di ranjang.”


Memerah wajah Ara mendengar ucapan frontal Farel. Dengan cepat dia memalingkan wajah ke arah lain. Sungguh Ara tidak mengenali lagi laki-laki di sampingnya ini. Farel yang biasanya selalu lembut padanya, kini bersikap dingin. Dan satu lagi, suaminya ini berubah menjadi pria otoriter.


“Sekarang bereskan pakaianmu. Bi Parmi sudah mengirimkan pakaianmu,” Farel menunjuk dua buah koper yang terletak di dekat tangga.

__ADS_1


“Kamu mau tidur di kamar mana?” sambung Farel.


“Di atas aja.”


“Ya sudah, bawa kopermu ke kamar. Setengah jam lagi kita belanja untuk makan siang.”


“Aku ngga bisa masak.”


“Untuk sekarang abang yang masak. Tapi mulai besok kamu sudah harus belajar untuk masak. Masa anak chef terkenal ngga bisa masak, malu-maluin,” sungguh Ara ingin memasukkan sendal ke dalam mulut Farel yang selalu bicara seenaknya.


Farel berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kaki menuju kamar dengan santainya. Ara memandang sebal ke arahnya. Gadis itu kemudian berdiri lalu menuju kopernya. Dengan susah payah Ara membawa kopernya naik ke lantai atas. Dia menahan diri meminta bantuan Farel, gengsinya terlalu tinggi meminta bantuan dari suaminya itu.


🍁🍁🍁


Usai berbelanja kebutuhan sehari-hari, pasangan pengantin baru itu terlihat sibuk di dapur. Ara diminta untuk menata belanjaan ke dalam lemari juga kulkas, sedang Farel memasak makan siang. Ara melirik ke arah Farel, suaminya itu cukup mahir menggunakan pisau. Dengan cepat dia memotong sayuran juga ayam.


Kemampuan memasak Farel memang lebih baik dibanding Elang. Selama kuliah di London, dia yang bertugas memasak, sedang Elang bertugas membersihkan apartemen. Selesai dengan semua bahan masakan, Farel mulai bergerak ke arah kompor. Pria itu memulai kegiatan memasaknya.


Kurang dari satu jam, semua masakannya telah matang. Ara meneguk air liurnya melihat menu yang tersaji di meja makan. Ayam goreng, tumis buncis, tempe goreng serta sambal tertata apik di meja. Ara mengambil piring, gelas dan sendok.


Dia menyendokkan nasi ke dalam piring lalu menyerahkannya pada Farel kemudian mengambil untuk dirinya. Didorong rasa lapar, Ara makan dengan lahap. Walaupun masakan Farel belum seenak masakan sang papa, tapi rasanya sudah cukup enak di lidah Ara. Bahkan gadis itu sampai menambah porsi makannya. Rasa lapar membuatnya harus menyingkirkan rasa malunya.


“Besok kamu yang masak. Untuk sarapan dan makan malam.”


“Tapi aku kan belum bisa.”


“Belajar. Ngga usah masak yang ribet, yang mudah aja kaya tadi.”


“Tapi aku ngga tahu bumbunya apa.”


“HP kamu bagus kan? Ada kuotanya kan? Searching resepnya di mbah google. Gunakan hp kamu buat hal yang bermanfaat, jangan cuma buat main medsos.”


Ara menyebikkan bibirnya. Farel benar-benar berubah menjadi sosok laki-laki yang menyebalkan. Entah berapa lama Ara bisa bertahan dengan suaminya ini. Belum ada sehari, dia sudah merindukan Dimas, Firly dan kedua adiknya. Padahal yang dirindukan masih belum sampai ke tujuan.


🍁🍁🍁


**Syukurin Ara, siap² bengek ya jadi istrinya Farel. Ternyata setelah jadi suami, Farel ngga semanis dulu🤣


Hai readers tercintaku.. apa kabar? Ngga kerasa ya udah Senin lagi. Mudah²an cerita ini bisa nambah semangat kalian buat menjalani hari ini😘😘😘


Like, comment and vote please😉**

__ADS_1


__ADS_2