Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Jadilah Ara yg Manis


__ADS_3

Ara memandang geram ke arah Farel. Keduanya saat ini tengah bersitegang di ruangan kerja Farel. Setelah mendapatkan rekaman suara kiriman dari Yama, Ara bergegas menemui Farel.


“Bang Farel berhenti mengurusi hidupku!”


“Kalau kamu ngga aneh-aneh, abang ngga akan mau pusing ngurusin hidup kamu.”


“Abang ngga ada hak ngurusin aku!”


“Ok, kalau gitu abang tinggal bilang sama papa kamu apa yang sudah kamu lakukan di belakangnya.”


“Dasar aduan! Ini hidupku, bang Farel ngga usah ikut campur. Apa maksud bang Farel ngancem Yama?”


Ara mengambil ponselnya lalu memutar rekaman suara dari Yama. Rekaman suara berisi suara Farel mengancam Yama saat di bioskop beberapa hari lalu.


Saya bisa membuatmu dikeluarkan dari sekolah dan tidak diterima di sekolah manapun. Kalau perlu saya akan membuat usaha ayahmu gulung tikar. Jadi pikirkan baik-baik, tinggalkan Ara atau saya akan membuatmu dan keluargamu sengsara.


“Karena dia sudah membuat kamu seperti ini. Dia sudah memberi pengaruh buruk sama kamu. Buka mata kamu Ra, dia itu ngga tulus sama kamu. Kenapa kamu jadi bodoh gini sih!”


“Bang Farel yang terlalu berpikiran negatif sama Yama! Aku benci bang Farel!!”


“Ngga masalah kamu benci sama abang yang peting laki-laki brengsek itu jauh dari kamu. Abang akan lakukan apapun biar dia ngejauh dari kamu.”


“Dengan menghancurkan usaha orang tuanya?”


“Iya kalau perlu.”


“Sombong banget bang Farel. Kalau bukan karena ayah Irzal, abang itu bukan siapa-siapa. Bang Farel itu cuma anak angkat!!”


“ARA!!!”


Ara terkesiap mendengar suara menggelegar dari arah belakangnya. Elang berdiri di depan pintu ruangan Farel. Matanya menatap gadis itu penuh amarah. Ucapan Ara sungguh membuat kakak sepupu Ara itu geram.


“Mas ngga pernah menyangka kamu akan berkata seperti itu. Harusnya kamu bersyukur bang Farel berusaha menjauhkanmu dari laki-laki brengsek seperti Yama. Apa kamu tahu kalau dia sudah membubuhkan obat perangsang di minumanmu? Apa kamu tahu kalau kamu hanya dijadikan bahan taruhan oleh laki-laki brengsek itu!!!”


Elang mengeluarkan ponselnya. Farel yang sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan adiknya itu berusaha mencegah. Biar bagaimana pun juga dia tak ingin perasaan Ara hancur. Yama adalah cinta pertama gadis itu.


“El.. jangan...”


“Biar bang. Biar dia dengar dengan telinganya sendiri apa yang dikatakan laki-laki yang begitu dipujanya,” Elang memutar rekaman suara di ponselnya.


Tenang aja, gue pastiin bakal dapetin si Ara. Cewek itu cuma perlu dikasih perhatian aja. Dimanisin dikit, pasti langsung klepek-klepek. Naikin taruhannya jadi seratus juta, gue bisa nidurin dia dalam waktu tiga bulan.


Farel memejamkan matanya, hal yang mati-matian dia sembunyikan bisa bocor juga ke tangan Elang. Tak hanya di situ Elang mengeluarkan lembaran foto dari saku jasnya lalu melemparkannya ke arah Ara. Lembaran foto itu berserakan di dekat kaki Ara. Dengan tangan bergetar gadis itu mengambil satu per satu foto. Di sana tercetak dengan jelas kebersamaan Yama dengan beberapa orang gadis, salah satunya adalah Rachel, sahabat baiknya.


“Demi bajingan itu kamu tega menyakiti perasaan orang yang menyayangi kamu dengan tulus. Aku benar-benar kecewa sama kamu Ra. Kamu sudah menyakiti bang Farel, itu sama saja kamu sudah menyakitiku. Jangan panggil aku mas El lagi. Aku ngga sudi punya adik sepertimu.”


Elang keluar dari ruangan Farel seraya membanting pintu. Jantung Ara seperti terlepas dari tempatnya mendengar suara pintu yang terbanting begitu keras. Ditambah dengan kata-kata Elang, membuat dadanya bertambah sesak. Perlahan buliran bening membasahi pipinya.

__ADS_1


Farel hanya terpaku di tempatnya melihat Ara berjongkok sambil menangis. Ingin rasanya dia merengkuh tubuh mungil itu. Namun kata-kata Ara sudah melukai harga dirinya. Farel memilih keluar ruangan. Dia perlu mendinginkan otak dan menenangkan hatinya.


Seperginya Farel, tangis Ara semakin keras. Mendapatkan kata-kata pedas dari Elang dan sikap tak acuh dari Farel benar-benar membuatnya sakit. Ditambah kenyataan tentang Yama, gadis itu hanya bisa menangis tersedu-sedu. Fitria berinisiatif menghampiri. Dibawanya Ara duduk di sofa kemudian coba menenangkan hati gadis itu.


🍁🍁🍁


Dimas termenung di depan meja kerjanya. Farel baru saja pulang setelah mengatakan semua kebenaran tentang Ara. Sekaligus memberikan bukti-bukti tentang Yama. Terdengar helaan nafasnya yang panjang. Sebagai ayah dia merasa gagal dalam mendidik putri semata wayangnya.


Dimas begitu tenggelam dalam pikirannya sampai tak menyadari Ringgo sudah berada di depannya. Ringgo mengetuk-ngetuk meja untuk menyadarkan sahabatnya dari lamunan panjangnya. Dimas terkesiap mendengar ketukan keras di mejanya.


“Akhirnya sadar juga lo,” Ringgo menghempaskan bokongnya di kursi depan meja kerja Dimas.


“Mikirin apa?”


“Ara.”


“Kenapa lagi anak itu?”


Dimas menceritakan semua yang terjadi pada putrinya akhir-akhir ini. Tak ada rahasia antara kedua sahabat ini, mereka selalu berbagi susah dan senang bersama. Ringgo cukup terkejut mendengar penuturan sahabatnya. Dia bergidik ngeri membayangkan Keisha, anak perempuannya bergaul seperti Ara.


“Jadi, lo mau apain si Ara?”


“Ngga tau Nggo. Mungkin dia seperti itu karena kurang perhatian dari gue. Semenjak ada Gemma dan Gavin ditambah kesibukan di kantor, gue jarang menghabiskan waktu sama Ara. Semua salah gue, gue ayah yang buruk.”


“Jangan nyalahin diri lo Dim. Sejauh ini lo udah jadi ayah yang baik buat dia. Apa yang ngga lo lakuin buat dia. Saat ini Ara dalam proses mencari jati diri dan sayangnya dia bertemu dengan teman-teman yang salah. Serapat-rapatnya kita menutup wadah gula, kadang ada aja semut yang masuk. Itu yang terjadi sama Ara. Tapi gue yakin kok tuh anak bakal sadar lagi. Asal kita tetap sabar menghadapinya.”


“Jangan gila lo Dim. Penalty yang dia ajuin bukan kaleng-kaleng loh. Lo bisa bangkrut Dim kalau sampai bayar penalty dari dia.”


“Gue lebih baik kehilangan ini semua dari pada kehilangan Ara. Gue kerja banting tulang buat anak-anak. Apa gunanya kalau Ara hancur karena gue lebih milih kerjaan.”


“Tapi anak lo bukan cuma Ara. masih ada Gemma dan Gavin yang harus lo penuhi kebutuhannya. Mereka juga butuh biaya untuk pendidikan dan yang lainnya. Lo ngga mungkin kan nyerahin mereka ke kakeknya. Pikirin lagi Dim. Selain itu, nasib semua karyawan lo gimana?”


“Gue bakal jual semua saham gue. Pasti kak Irzal atau mas Regan mau bantu gue beli semua saham ini. Dan hasil penjualan saham bisa dipakai buat bayar penalty, kalau masih kurang jual semua property yang gue punya.”


Ringgo meremat rambutnya dengan kesal. Kenapa masalah seperti ini harus kembali terulang. Dia berdiri dari duduknya. Tanpa berbicara lagi, Ringgo meninggalkan ruangan Dimas. Dia perlu suasana tenang untuk mencari solusi terbaik dari masalah ini.


🍁🍁🍁


Sedotan di tangan Ara sedari tadi tak berhenti bergerak. Terus saja berputar dalam gelas berisi iced moccachino. Sudah hampir setengah jam gadis itu menunggu kedatangan Ringgo. Sahabat papanya itu meminta bertemu, namun sampai sekarang belum juga nongol batang hidungnya.


Wajah Ara cemberut begitu melihat pria jangkung seusia sang papa berjalan memasuki cafe lalu duduk di hadapannya. Dengan wajah tanpa dosa Ringgo terkekeh melihat wajah Ara yang sudah seperti kertas lipat.


“Om Ringgo telat.”


“Maaf sayang. Jalanan macet, tadi ada si komo lewat.”


Ara hanya mendesis kesal. Ringgo melambaikan tangannya memanggil pelayan. Setelah itu dia memesan minuman dan camilan. Tak ada pembicaraan selama menunggu pesanan Ringgo datang. Pria itu sengaja menunda pembicaraan sampai pesanannya datang karena tidak mau ada interupsi dalam percakapan mereka nanti.

__ADS_1


Selang lima belas menit kemudian, iced americano dan bitterballen pesanannya datang. Setelah menata pesanan di meja, pelayan tersebut segera pergi. Ringgo menyeruput dulu minumannya sebelum mulai berbicara.


“Gimana kabar kamu Ra?”


“Alhamdulillah baik om.”


“Ra, om langsung bicara aja ya. Apa kamu kecewa sama papa kamu? Apa papa kamu kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini? Apa papamu mengabaikanmu?”


“Ngga om.”


“Siapa yang lebih penting untukmu Ra, papamu atau pacar kamu, Yama?”


Ara terkejut mendengarya. Jika Ringgo tahu soal Yama, sudah pasti dia tahu dari papanya. Itu artinya Farel sudah mengatakan tentang Yama pada Dimas. Wajah Ara langsung berubah panik.


“Om tahu Yama dari siapa? Apa papa?”


“Iya. Papamu belum bilang apa-apa sama kamu?”


Ara hanya menggelengkan kepalanya saja. Sikap Dimas memang tidak berubah, dia masih bersikap seperti biasanya, seolah belum mengetahui apapun soal kelakuannya bersama Yama.


“Farel sudah menceritakan semua tentang Yama juga kamu. Jujur, papamu sangat kecewa bahkan sangat terpukul. Dia merasa sudah menjadi ayah yang buruk untukmu. Dia merasa sudah gagal mendidikmu. Ara.. usiamu sekarang sudah 17 tahun, bahkan dalam beberapa bulan lagi akan 18 tahun. Om yakin kamu sudah bisa menilai mana yang baik dan buruk untuk kehidupanmu. Apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini, menurutmu salah atau benar? Jujur sayang, jawab dari hati kecilmu.”


“Salah om,” jawab Ara pelan.


“Ara apa kamu tahu kalau bulan depan papa harus pergi ke Madrid? Mungkin dia akan memboyong mama dan kedua adikmu. Apa kamu tahu soal itu?”


“Iya om.”


“Apa kamu ngga keberatan? Atau kamu merasa dikucilkan?”


“Ngga om. Ara ngerti kok kalau itu untuk urusan pekerjaan. Lagi pula cuma enam bulan kan om.”


“Tapi apa kamu tahu kalau papa kamu berencana membatalkannya? Dia memilih di sini bersamamu dengan resiko kehilangan semua yang dimilikinya.”


“Maksud om?”


Ringgo mengambil nafas panjang sebelum menjelaskan pada gadis belia itu situasi pelik yang dihadapi sahabatnya. Ara tercenung mendengar semua penuturan Ringgo. Hatinya dipenuhi sejuta penyesalan mengetahui sang papa berani mengambil resiko besar demi dirinya. Bahkan bersedia mengorbankan semua hasil kerja kerasnya. Dia mulai menangis tersedu.


“Ara.. om ngga ada maksud apa-apa bicara semua ini sama kamu. Om hanya ingin membuka mata kamu, kalau papamu sangat menyayangimu. Bahkan setelah kamu membuatnya kecewa, dia masih memilihmu. Itu karena kamu adalah harta yang paling berharga untuknya. Jadi om mohon hentikan semua tingkahmu yang tak masuk akal ini. Buktikan kalau kamu sayang pada papamu. Jadilah Ara yang dulu, Ara yang manis dan selalu jadi kebanggaan papa.”


“Iya om.”


Ringgo hanya memandangi Ara yang masih menangis tersedu. Dalam hatinya berharap gadis di hadapannya ini luluh dan berhenti membuat sahabatnya cemas.


🍁🍁🍁


**Jumat berkah untuk kita semua. Terima kasih buat semua yg selalu setia mengikuti kehaluan mamake dan memberikan dukungan. Jangan putus kasih dukungan sama mamake ya, karena ditinggal di tengah jalan sakitnya tuh di sini💔😁

__ADS_1


Ini intro buat bonchap Farel and Ara ya gaessss.. buat yg nunggu Firlan and Hanin, sabar.. Keuwuan Rey dan Ay juga masih ada kok😉**


__ADS_2